Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Tangan adalah saksi bisu yang paling jujur tentang siapa sebenarnya pemiliknya. Ia tidak bisa berbohong seperti lidah, tidak bisa bersandiwara seperti raut wajah, dan tidak bisa bersembunyi di balik kata-kata diplomasi yang manis. Di Aethelgard, ada tangan-tangan yang hanya tahu cara menggenggam gelas kristal dan menandatangani perintah eksekusi, namun ada pula tangan-tangan yang tahu persis bagaimana rasanya gesekan batu yang kasar atau panasnya uap semen yang baru diaduk. Selama bertahun-tahun, Arlo Valerius memiliki tangan jenis pertama. Namun, di bawah langit Sayap Utara yang mulai memucat, ia menyadari bahwa tangan yang terluka dan penuh noda justru jauh lebih mampu menggenggam harapan daripada tangan yang terbungkus sarung tangan sutra.
Arlo terbangun sebelum suara denting logam pertama terdengar. Ia tidak butuh pelayan untuk membukakan gorden; celah-celah papan di barak pekerja sudah cukup untuk memberitahunya bahwa malam telah menyerah pada fajar. Tubuhnya berteriak protes saat ia mencoba duduk. Nyeri di bahunya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum, dan punggungnya seolah-olah telah membeku menjadi satu balok kaku selama ia tertidur di atas dipan kayu yang keras.
Ia menatap telapak tangannya dalam keremangan. Kapalan itu kini sudah mengeras, membentuk lapisan pelindung yang baru di atas kulit yang dulunya sangat lembut. Arlo mengepalkan tangannya perlahan, merasakan setiap sendi jari-jarinya yang kaku. Ini adalah rasa sakit yang ia pilih sendiri, dan anehnya, ia menikmatinya. Rasa sakit ini adalah bukti bahwa ia tidak lagi berhutang pada siapa pun.
Arlo bangkit, melangkah melewati rekan-rekannya yang masih mendengkur halus. Bau napas yang berat, aroma pakaian yang belum dicuci, dan sisa bau tembakau murahan memenuhi ruangan sempit itu. Ia tidak merasa jijik. Justru, aroma ini terasa jauh lebih manusiawi daripada aroma parfum cendana di kamar pengantinnya yang ditinggalkan.
Di luar, kabut pagi masih menyelimuti perancah besi Sayap Utara seperti selimut abu-abu yang dingin. Arlo berjalan menuju sumur tua, tempat yang kini menjadi saksi bisu transformasinya. Ia menimba air, suara derit katrol kayu itu memecah kesunyian fajar. Begitu ember sampai di atas, ia tidak menggunakan gayung. Arlo langsung membenamkan wajahnya ke dalam air dingin yang jernih.
Sensasi dingin itu menyentak saraf-sarafnya, mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menggelayut. Ia menyeka wajahnya dengan lengan kemeja katun kasarnya, lalu menatap pantulannya di permukaan air yang bergoyang. Wajah di sana tampak lebih kurus, tulang pipinya lebih menonjol, dan ada janggut tipis yang mulai tumbuh di dagunya. Ia tampak seperti orang asing bagi dirinya yang dulu, namun ia menyukai apa yang ia lihat sekarang.
"Kau terlihat seperti pria yang siap meruntuhkan gunung, Arlo."
Mandor Thomas berdiri di dekat tumpukan batu bata, memegang dua buah ubi rebus yang masih mengepulkan uap. Pria tua itu tampak tidak tidur sama sekali; matanya merah namun sorotnya tetap tajam. Ia melemparkan satu ubi pada Arlo.
Arlo menangkapnya dengan tangan kanan, merasakan panas kulit ubi itu di telapak tangannya yang kapalan. "Gunung adalah masalah nanti, Thomas. Pagi ini, aku hanya ingin memastikan perancah di sisi utara cukup kuat untuk menahan beban kita."
Thomas duduk di atas balok kayu, mengupas ubinya dengan tangan yang gemetar halus karena dingin. "Pengintai Marcus baru saja kembali. Pasukan Vandellia sudah mulai mendirikan tenda-tenda mereka di perbatasan Bukit Hitam. Itu hanya dua jam perjalanan dari sini jika mereka memacu kuda mereka."
Arlo mengigit ubi rebusnya. Rasanya hambar dan seratnya terasa kasar di tenggorokan, namun ia mengunyahnya dengan tekun. Ia butuh energi. "Helena tidak akan menyerang saat fajar. Dia terlalu mencintai drama. Dia akan menunggu sampai matahari tepat di atas kepala agar semua orang bisa melihat kemegahan pasukannya saat mereka masuk."
"Atau dia akan menunggu sampai kita kelelahan," Thomas menunjuk ke arah para pekerja yang mulai keluar dari barak, menggosok mata mereka dan mulai memungut alat-alat mereka. "Mereka siap bertarung, Arlo. Tapi mereka bukan prajurit. Mereka hanya punya nyali dan palu."
"Dan itulah yang membuat mereka berbahaya, Thomas," Arlo menelan suapan terakhirnya. "Prajurit bertarung untuk gaji dan perintah. Orang-orang ini bertarung untuk tanah yang sudah mereka sentuh dengan tangan mereka sendiri. Kekuatan itu tidak ada di dalam buku panduan militer mana pun."
Arlo berjalan menuju perancah tertinggi. Ia memanjat tangga besi itu dengan gerakan yang kini jauh lebih gesit daripada hari pertama. Begitu sampai di tingkat paling atas, ia berdiri di atas papan kayu yang bergoyang, menatap ke arah utara. Di sana, jauh di garis cakrawala, ia bisa melihat kilatan cahaya yang terpantul dari zirah-zirah perak. Pasukan Helena. Mereka tampak seperti barisan semut logam yang perlahan namun pasti sedang mendekat.
Ia merogoh saku kemejanya, menyentuh pita biru pemberian dari kapal Solandis semalam. Ia melilitkan pita itu di pergelangan tangan kirinya, mengikatnya dengan simpul mati. Pita itu adalah jangkarnya. Selama pita itu ada di sana, ia tahu bahwa ia sedang bertarung untuk sesuatu yang nyata, bukan sekadar ego politik.
Jenderal Marcus muncul di bawah perancah, mendongak menatap Arlo. "Kita punya waktu kurang dari empat jam, Arlo! Raja mengirim utusan lagi. Beliau memintamu masuk ke istana utama untuk 'pembicaraan terakhir'."
Arlo menunduk, menatap Marcus dari ketinggian. "Katakan pada Ayah, pembicaraan terakhirku sudah selesai di depan altar katedral. Jika beliau ingin bicara lagi, biarkan beliau berdiri di gerbang ini bersamaku."
Marcus menghela napas, namun ia tidak membantah. Ia berbalik dan mulai memberikan instruksi pada sekelompok kecil prajurit elit yang memilih untuk tetap setia padanya. Arlo melihat Marcus mulai mengatur barikade dari tumpukan kayu renovasi dan kaleng-kaleng cat yang sudah dikosongkan.
"Kita akan menggunakan debu kapur di pintu masuk aula utama!" teriak Arlo dari atas perancah. "Siapkan karung-karung itu di atas balkon dalam! Begitu mereka masuk, jatuhkan semuanya!"
Para pekerja mulai bergerak mengikuti instruksi Arlo. Ada semacam sinkronisasi yang aneh antara para buruh bangunan dan para prajurit. Mereka sedang membangun sebuah pertahanan dari puing-puing kemewahan. Arlo turun dari perancah, kakinya mendarat mantap di atas tanah yang berdebu.
Ia berjalan menuju gudang logistik, tempat ia menyimpan "senjata" rahasianya. Di sana, terdapat puluhan kaleng cat biru tua—warna yang sama dengan noda di kain kusam milik Kalea. Arlo mengambil sebuah kuas besar, mencelupkannya ke dalam cat, lalu ia berjalan menuju gerbang utama Sayap Utara yang terbuat dari kayu jati tebal.
Dengan gerakan yang tenang dan penuh perasaan, Arlo mulai mengecat gerbang itu. Ia tidak peduli jika ini bukan waktu yang tepat untuk estetika. Ia sedang memberikan sebuah simbol. Ia melukis sebuah garis melintang yang besar, sebuah retakan biru di tengah kayu yang kaku.
"Apa yang kau lakukan, Nak?" tanya Thomas yang menghampirinya dengan dahi berkerut.
"Memberi mereka sambutan," jawab Arlo tanpa menghentikan gerakannya. "Agar Helena tahu, bahwa di balik gerbang ini, tidak ada lagi pangeran yang dia kenal. Hanya ada retakan yang dia ciptakan sendiri."
Saat matahari mulai naik lebih tinggi, suhu udara di Aethelgard mulai memanas. Debu-debu konstruksi beterbangan tertiup angin, menciptakan kabut tipis yang menyesakkan. Arlo berdiri di tengah lapangan, linggis tajamnya ia sandarkan di bahu. Di belakangnya, tiga ratus pekerja berdiri dalam formasi yang tidak rapi namun solid. Mereka memegang sekop, palu, dan pahat batu.
Suara terompet Vandellia tiba-tiba terdengar. Suaranya melengking tajam, memotong keheningan pagi. Suara itu berasal dari gerbang kota bawah. Mereka sudah masuk.
Arlo bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, namun ia tidak gemetar. Ia menelan ludah, merasakan sisa rasa pahit kopi di tenggorokannya. Ia menoleh ke arah Marcus yang kini sudah mengenakan helm zirahnya.
"Siap, Jenderal?" tanya Arlo.
Marcus menghunuskan pedang tuanya, membiarkan cahaya matahari berkilat di bilahnya. "Aku tidak pernah sesiap ini untuk mati sebagai pengkhianat, Arlo."
Kereta kencana Helena terlihat muncul di ujung jalan istana, dikawal oleh ratusan ksatria berkuda yang mengenakan jubah ungu. Mereka bergerak perlahan, seolah-olah sedang dalam sebuah parade kemenangan. Helena ingin menunjukkan bahwa perlawanan rakyat ini hanyalah gangguan kecil bagi kemegahannya.
Begitu kereta itu berhenti di depan barikade Sayap Utara, pintu terbuka. Helena turun dengan gerakan yang sangat anggun. Ia mengenakan baju tempur emas yang baru, lengkap dengan jubah ungu yang panjang. Matanya menyapu barisan pekerja dengan jijik, lalu pandangannya terkunci pada Arlo.
"Kau benar-benar memilih untuk menjadi pemulung sampai akhir, Arlo?" suara Helena bergema di lapangan yang sunyi. "Lihatlah orang-orang ini. Mereka akan mati karena keegoisanmu. Hanya perlu satu perintah dariku, dan tempat ini akan menjadi kuburan massal."
Arlo melangkah maju, melewati barikade kayunya. Ia berdiri sendirian di tengah ruang kosong antara dua pasukan. "Tempat ini sudah menjadi kuburan sejak kau menyiramkan cairan kimia itu ke dinding kami, Helena. Kami hanya sedang memastikan bahwa kami tidak akan terkubur sendirian."
Helena tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin. Ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada pasukan pemanahnya untuk membidik. "Aku tidak butuh izinmu untuk mengambil tanah ini. Ayahmu sudah menyerahkannya padaku sebagai kompensasi atas penghinaanmu."
"Tanah ini bukan milik Raja untuk diberikan!" teriak Arlo, suaranya menggelegar mengalahkan suara angin. "Tanah ini milik mereka yang berkeringat di atasnya! Dan kau tidak akan pernah bisa memiliki keringat itu, Helena!"
Tepat saat itu, sebuah getaran terasa lagi dari arah pelabuhan. Namun kali ini bukan getaran hentakan kaki. Itu adalah suara ledakan dari meriam kapal.
Semua orang menoleh ke arah laut. Di sana, tiga buah kapal perang besar dengan bendera biru laut—bendera Solandis—terlihat sedang memposisikan diri di mulut pelabuhan. Mereka tidak mengarahkan meriam ke kota, melainkan ke arah kapal-kapal patroli Vandellia yang sedang mengepung pelabuhan.
Arlo tersenyum lebar. Pesannya sampai. Solandis tidak tinggal diam melihat jalur perdagangannya terancam oleh monopoli Vandellia.
"Sepertinya aliansimu sedang mengalami sedikit masalah teknis, Helena," ucap Arlo, ia mengangkat linggisnya tinggi-tinggi.
Wajah Helena memucat. Ia menatap kapal-kapal Solandis itu dengan pandangan tidak percaya. "Berani-beraninya mereka..."
"Mereka berani karena mereka tahu bahwa Aethelgard yang baru adalah mitra yang lebih jujur daripada kau!" Arlo berbalik ke arah pekerjanya. "SEKARANG! JATUHKAN DEBUNYA!"
Para pekerja di balkon dalam aula serentak menjatuhkan karung-karung kapur yang sudah disiapkan. Awan putih raksasa meledak di depan gerbang, menutupi pandangan pasukan Vandellia seketika. Di tengah kekacauan itu, Arlo dan para pekerjanya mulai bergerak mundur menuju pintu-pintu jebakan yang sudah disiapkan.
"Marcus! Pimpin evakuasi ke lorong bawah!" perintah Arlo sambil menahan barikade depan.
"Lalu kau?!" Marcus berteriak di tengah debu yang pekat.
"Aku punya satu hal lagi yang harus diselesaikan dengan singa itu!" Arlo berlari menembus awan kapur menuju aula Sayap Utara yang penuh dengan kenangannya bersama Kalea.
Ia sampai di depan ukiran singa yang sudah ia bersihkan. Di sana, di tengah kegelapan aula yang dipenuhi debu putih, Arlo mengeluarkan pisau kecilnya. Ia tidak merusak ukiran itu. Ia justru menggoreskan satu kata di bawah kaki singa itu, sebuah kata yang ia tujukan untuk siapa pun yang akan menemukan tempat ini nanti.
MEREKA.
Bukan aku, bukan dia. Tapi Mereka. Orang-orang yang membangun ini.
Suara langkah kaki pasukan Helena terdengar semakin dekat di koridor. Arlo bisa mendengar teriakan Helena yang murka memerintahkan para prajuritnya untuk masuk ke dalam aula yang penuh debu itu. Arlo segera melompat ke balik tumpukan kain penutup debu tua, lalu menyelinap ke lubang rahasia di bawah lantai yang langsung tembus ke lorong pembuangan.
Begitu ia masuk, ia menutup penutup kayunya dan menguncinya dari bawah. Ia berada di kegelapan total sekarang, hanya ditemani oleh suara detak jantungnya sendiri dan aroma tanah basah yang akrab.
Arlo berjalan merangkak di dalam lorong yang sempit itu. Ia merasa setiap inci tubuhnya dipenuhi oleh debu kapur, namun ia merasa sangat bersih. Ia menuju ke arah pelabuhan, ke arah di mana kapal-kapal Solandis sedang menunggunya.
Tiga puluh menit kemudian, Arlo keluar dari mulut lorong di tebing karang bawah pelabuhan. Ia menghirup udara laut yang segar dengan rakus. Di depan sana, sebuah perahu nelayan kecil sedang menunggunya di bawah bayang-bayang tebing.
Dan di atas perahu itu, seorang gadis sedang berdiri memegang lampu minyak, mengenakan kemeja tukang cat yang kusam dan memiliki noda biru tua di pipinya.
Kalea.
Arlo terpaku di tempatnya berdiri. Air mata yang selama ini ia tahan sejak di altar katedral akhirnya jatuh membasahi pipinya yang berdebu. Ia tidak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap gadis itu yang kini sedang tersenyum tipis ke arahnya.
"Kau terlambat sepuluh menit, Pangeran Bodoh," suara Kalea terdengar serak namun merdu, beradu dengan suara deburan ombak. "Dan kemejamu... itu benar-benar harus dicuci."
Arlo tertawa di tengah isak tangisnya. Ia berlari menerjang air laut yang dingin, menuju ke arah perahu itu. Begitu ia sampai di depan Kalea, ia tidak memeluknya. Ia hanya menatap mata cokelat itu dengan kejujuran yang paling murni.
"Aku sudah merobek naskahnya, Kalea," bisik Arlo.
Kalea mengulurkan tangannya yang kasar, menyentuh pipi Arlo yang penuh debu. "Aku tahu. Singanya memberitahuku lewat burung merpati semalam."
Arlo memanjat ke atas perahu. Mereka perlahan mendayung menjauhi tebing Aethelgard, menuju ke arah kapal-kapal Solandis yang sudah siap membawanya pergi. Di belakang mereka, asap putih dari debu kapur masih terlihat membumbung tinggi dari istana Sayap Utara, sebuah tanda bahwa panggung sandiwara lama telah benar-benar runtuh.
Aethelgard mungkin masih akan menghadapi perang. Ayahnya mungkin akan kehilangan tahtanya. Tapi bagi Arlo Valerius, pria yang baru saja melepaskan segalanya demi satu menit kejujuran, kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai di atas perahu nelayan yang kecil ini.
Ia meraba koin perunggu di tangannya, lalu ia menyerahkannya kembali pada Kalea.
"Ini hutangku padamu," ucap Arlo.
Kalea menerima koin itu, lalu ia melemparkannya ke tengah laut. "Hutangmu sudah lunas saat kau berani mengotori kemeja sutramu untuk membantuku menggosok lantai, Arlo. Sekarang, kau hanya berhutang padaku satu hal."
"Apa itu?"
"Membantuku mengecat dinding rumah kita di Solandis. Dan kali ini, jangan berani-berani protes soal warnanya."
Arlo tertawa, sebuah tawa yang paling jujur yang pernah ia miliki seumur hidupnya. Ia menatap garis cakrawala yang mulai berwarna merah keemasan. Fajar yang sesungguhnya telah tiba, bukan hanya untuk Aethelgard, tapi untuk dua retakan yang akhirnya menemukan cara untuk menjadi utuh kembali.
Di tengah lautan yang luas, sebuah kisah baru sedang ditulis—bukan dengan tinta emas, melainkan dengan noda cat biru tua yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh badai mana pun.