Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA BERDUA
"Aku pulang!"
Seruan itu adalah komando bagi Yasmin. Ia yang tadinya berdiam di area belakang, segera beranjak dari bangku taman dan bergerak cepat menuju ruang depan. Langkahnya ringan, hampir berlari kecil menuju pintu depan dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan.
Di ambang pintu, Arya berdiri dengan jas yang sudah tersampir di lengan kiri dan dasi yang sedikit dilonggarkan. Wajahnya yang semula tampak lelah karena tekanan pekerjaan, mendadak cerah seolah baru saja melihat pelangi.
"Ma-Mas Arya..." Yasmin tergagap, suaranya bergetar antara rasa terkejut yang menghantam jantungnya dan kelegaan yang tiba-tiba menyerbu. "Bu-bukannya tadi kita baru saja..."
Yasmin menggantung kalimatnya, jemarinya masih meremas ponsel yang baru saja ia genggam. Pikirannya mendadak kacau. Baru beberapa menit yang lalu, layar ponselnya menyala menampilkan pesan WhatsApp dari pria ini. Sebuah pesan yang mengatakan bahwa Arya masih berkutat dengan tumpukan berkas pasien dan jadwal operasi dadakan di rumah sakit.
Arya menarik senyum tipis, lalu melangkah maju hingga jarak di antara mereka menyempit. Aroma maskulin khas parfumnya yang bercampur sedikit bau antiseptik rumah sakit langsung memenuhi indra penciuman Yasmin.
"Katanya masih sibuk mengurus pasien yang membeludak? Katanya pulang larut malam?" cecar Yasmin dengan napas yang masih tersengal. "Mas Arya, kok..."
Memang, sejak hubungan mereka mencair, Arya bukan lagi sosok gunung es yang kaku. Di balik sikap diamnya yang terkadang masih terlihat dingin di depan orang lain, Arya ternyata pria yang gemar memberikan kejutan tak terduga—kejutan yang sering kali membuat jantung Yasmin bekerja dua kali lebih cepat.
Pria itu menatap lekat-lekat manik mata Yasmin, seolah sedang menikmati kebingungan wanita di hadapannya itu. Lalu, dengan nada datar yang sangat meyakinkan, ia berbisik.
"Tapi bohong," celetuk Arya pendek, dibarengi dengan kedipan mata yang jenaka.
"Maaas!" seru Yasmin terbelalak. Rasa kesal langsung naik ke ubun-ubunnya, namun di saat yang sama, ada rasa haru yang membuncah karena menyadari pria ini rela membohonginya hanya demi pulang lebih awal untuk menemuinya. Ia mengepalkan tangan kecilnya dan memukul pelan bahu kokoh Arya, sebuah tindakan spontan yang lahir dari rasa gemas yang luar biasa. "Aku sudah khawatir, tahu! Aku pikir Mas kecapean di sana, ternyata malah ngerjain aku!"
Arya tertawa rendah, sebuah suara yang sangat jarang terdengar di rumah yang kaku ini. Ia menangkap tangan Yasmin yang baru saja memukulnya, lalu menggenggamnya erat, menolak untuk melepaskan. "Habisnya, kalau aku bilang mau pulang sekarang, aku nggak bisa lihat wajah kagetmu yang menggemaskan ini, kan?" godanya, tatapannya kini berubah menjadi sangat lembut, melenyapkan sisa-sisa kekesalan Yasmin dalam sekejap. "Kamu udah makan?"
Yasmin menggeleng. "Belum, Mas."
"Ngapain aja tadi di rumah?"
Yasmin tertegun. Ia merasakan lidahnya mendadak kelu, seolah ada batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Pertanyaan Arya sebenarnya sangat sederhana—sebuah bentuk perhatian kecil dari seorang pria yang baru pulang kerja—namun bagi Yasmin, itu adalah pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab dengan jujur.
"Hey?" Seru Arya. Tangannya terangkat, dengan lembut merapikan sehelai anak rambut Yasmin yang lepek karena keringat. Sorot matanya begitu tulus, penuh selidik yang sarat akan rasa sayang. "Kamu kayaknya capek banget."
Yasmin membisu. Logikanya berputar cepat, mencari alasan yang paling aman. Ia tak mungkin menjawab kalau sepanjang hari tadi, dari detik mobil Arya keluar gerbang hingga sebelum ia masuk kembali, Yasmin diperlakukan layaknya pelayan tanpa upah oleh Maura. Ia tak mungkin menceritakan bagaimana jemarinya perih karena cairan pembersih lantai, atau bagaimana telinganya panas mendengar sindiran tajam dari Freya.
Jika ia jujur, ia tahu persis apa yang akan terjadi. Arya—dengan segala sifat protektifnya yang baru mekar—pasti akan langsung melabrak Maura dan Freya.
Pertengkaran hebat akan meledak di rumah ini, dan Yasmin tidak ingin menjadi api yang membakar hubungan darah antara Arya dan satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.
Ia lebih memilih menelan pahitnya sendiri daripada melihat Arya harus berteriak pada Ibunya demi membelanya.
"Yasmin?" Arya menggumam, menanti jawaban sembari menatap wajah Yasmin yang mendadak pucat.
Yasmin memaksakan sebuah senyum tipis, mencoba mengusir kabut kesedihan di matanya. "Tadi... tadi aku cuma bantu Mbok Sari di dapur, Mas. Terus lanjut merapikan beberapa sudut rumah yang agak berdebu. Rasanya nggak enak kalau cuma duduk diam sementara Mbok Sari sibuk sendiri."
"Hey, kan udah ada Bik Erna, Sayang. Kamu itu calon istri aku, bukan pekerja di sini," potong Arya dengan nada yang sedikit tegas namun tetap lembut. Ia meraih kedua tangan Yasmin, merasakan telapak tangan yang biasanya halus itu kini terasa sedikit kasar.
Yasmin segera menarik tangannya perlahan, menyembunyikannya di balik punggung. "Nggak apa-apa, Mas. Aku justru senang ada kegiatan. Jadi nggak merasa jadi tamu asing di sini. Lagipula... aku gak biasa bersantai-santai lama kalau ada di rumah."
Di lantai atas, dari balik bayangan balkon, Maura berdiri mematung. Ia menyaksikan sandiwara "ketidaktahuan" Arya dan "ketabahan" Yasmin dengan tatapan yang dingin. Maura tahu Yasmin sedang berbohong demi menjaga kedamaian, dan bagi Maura, itu adalah titik lemah yang sangat mudah untuk ia eksploitasi di kemudian hari.
Arya terdiam sejenak, menatap lekat-lekat wajah wanita di hadapannya. Ada rasa haru yang menjalar di dadanya mendengarkan jawaban itu. Baginya, Yasmin adalah sosok yang terlalu bersahaja, meski ia tahu bahwa wanita itu adalah sosok yang mandiri.
Arya menghela napas panjang, lalu kembali meraih bahu Yasmin dan menariknya sedikit lebih dekat, mengabaikan jarak yang mungkin saja sedang dipelototi oleh mata-mata dari lantai atas.
"Kamu ini memang keras kepala ya kalau soal bekerja," bisik Arya dengan suara yang sangat dalam, sarat akan kekaguman. Ia menunduk, menatap jemari Yasmin yang masih bersembunyi di balik punggung wanita itu.
"Dengar, Yasmin..." Arya menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh kesungguhan. "... kalau nanti kita sudah menikah dan punya rumah kita sendiri... Aku akan mengambil pembantu dan biar dia yang urus semuanya. Jangan kamu."
Yasmin tertegun, matanya sedikit membulat mendengar penegasan itu. "Tapi Mas, aku—"
"Tidak ada tapi," potong Arya cepat dengan senyum yang meneduhkan. "Aku ingin rumah kita nanti jadi tempat kamu beristirahat, tempat kamu merasa paling dihargai. Aku tidak ingin melihatmu kelelahan atau merasa harus 'membayar' tempat tinggalmu dengan tenaga. Kamu itu ratunya, bukan pekerjanya."
Kata-kata itu menghantam relung hati Yasmin begitu telak. Di tengah tekanan mental yang ia terima dari Maura dan Freya sepanjang hari, janji Arya terasa seperti oase di padang gurun. Rasanya sangat kontras, di rumah ini ia dianggap noda, namun di masa depan yang dirancang Arya, ia adalah pusat segalanya.
"Mas terlalu berlebihan," bisik Yasmin, matanya kini sedikit berkaca-kaca karena haru yang tak lagi bisa ia bendung.
"Aku serius, Yasmin. Aku hanya ingin memberikan dunia yang lebih baik untukmu," pungkas Arya sembari mengelus pipi Yasmin dengan ibu jarinya.
Tanpa mereka sadari, di balik pilar ruang tengah lantai atas, Maura yang berdiri mematung, segera bergerak cepat turun ke bawah. Setiap kata yang diucapkan Arya tentang rumah sendiri dan menghargai Yasmin bagaikan belati yang menusuk harga dirinya. Baginya, janji Arya adalah ancaman nyata bagi otoritasnya sebagai kepala keluarga besar ini.
"Apa maksud kamu, Arya?!" pekik Maura, suaranya melengking tajam, memantul di dinding-dinding tinggi rumah mewah itu.
Keduanya tersentak hebat. Yasmin refleks melepaskan pegangan tangannya dari lengan Arya, tubuhnya gemetar kecil saat menyadari sosok Maura sudah berdiri hanya beberapa meter di hadapan mereka dengan napas yang memburu.
"Ma..." gumam Arya, mencoba menenangkan diri meski keterkejutannya masih terlihat jelas di garis wajahnya.
****