NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TRIK CIUMAN PAKSAAN

Pagi itu, apartemen nomor 1205 sedang dalam kondisi "Siaga Satu". Bukan karena ada kebocoran gas, melainkan karena sebuah pesan singkat yang masuk ke grup keluarga besar setengah jam yang lalu.

Mama Sinta: "Mama dan Papa Jingga sudah di depan lobi apartemen kalian. Mau kasih kejutan sarapan bareng! Buka pintunya, Sayang!"

"JINGGA! BANGUN, ANJING! DARURAT!" teriakan Sinta menggelegar, meruntuhkan mimpi indah Jingga tentang kemenangan tim sepak bola favoritnya.

Jingga meloncat dari tempat tidur, hanya mengenakan kaos kutang dan celana pendek garis-garis. "Apaan sih, Sin?! Masih jam tujuh!"

"Orang tua kita di lobi! Sekarang!" Sinta menarik paksa selimut Jingga. "Beresin kamar lu! Jangan sampai mereka lihat kamar kita misah! Pindahin bantal lu ke kamar gue, cepet!"

Dalam waktu lima menit yang paling kacau dalam sejarah hidup mereka, Jingga dan Sinta melakukan "operasi kamuflase". Bantal, guling, dan aroma maskulin Jingga dipindahkan secara paksa ke kamar Sinta. Sinta menyemprotkan parfum ruangan aroma lavender secara membabi buta untuk menutupi bau apek kamar pria yang jarang dibuka jendelanya itu.

Tepat saat Jingga mengunci pintu kamarnya yang kini kosong, bel pintu berbunyi. Ting-nong!

Sinta mengatur napas, memaksakan senyum paling manis, dan membuka pintu. "Mama! Papa! Kok nggak bilang-bilang mau ke sini?"

Mama Sinta masuk dengan heboh, membawa rantang susun, diikuti oleh Papa Jingga yang tampak gagah dengan kemeja batiknya. "Surprise! Mama kangen banget lihat pengantin baru. Mana suamimu?"

Jingga muncul dari balik lorong, sudah memakai kaos polo yang rapi (meski dia lupa menyisir rambut bagian belakang). "Pagi, Ma. Pagi, Pa. Wah, tumben banget nih."

"Tumben gimana? Mama mau lihat progres kalian. Sudah tiga bulan, masa apartemennya masih rapi-rapi saja? Nggak ada foto mesra yang baru?" selidik Mama Sinta sambil berkeliling seperti inspektur upacara.

Mereka duduk di ruang makan. Suasana terasa sangat kaku. Jingga berusaha menuangkan teh, tapi tangannya gemetar setiap kali Papa-nya menatapnya dengan tajam.

"Jingga, Papa lihat kamu makin kurus. Sinta nggak masak buat kamu?" tanya Papa Jingga berat.

"Masak kok, Pa! Sinta jago banget bikin... anu... telur ceplok!" jawab Jingga asal. Sinta menyikut rusuk Jingga dengan keras di bawah meja.

Setelah sarapan yang penuh dengan pertanyaan interogasi seputar "kapan punya momongan", Mama Sinta tiba-tiba mengeluarkan ponselnya.

"Eh, Mama hampir lupa! Kemarin temen-temen Mama di arisan tanya, mana foto kemesraan kalian yang paling baru. Katanya mereka nggak percaya kalian itu pasangan paling serasi tahun ini. Ayo, kalian berpose mesra sekarang. Mama mau foto!"

Jingga dan Sinta membeku.

"Pose gimana, Ma? Kan tadi udah pas makan," sahut Sinta, mencoba menghindar.

"Nggak! Itu biasa banget. Mama mau yang... yang sweet. Jingga, rangkul Sinta dari belakang. Sinta, pegang pipi Jingga. Ayo!"

Dengan perasaan geli yang luar biasa, Jingga berdiri di belakang Sinta dan melingkarkan lengannya di bahu Sinta. Sinta memegang tangan Jingga dengan kaku, seperti sedang memegang ikan mati.

"Duh, kaku banget! Kayak foto ijazah!" keluh Mama Sinta. "Papa, coba lihat mereka. Masa suami istri posenya kayak orang lagi antre sembako?"

Papa Jingga mengangguk setuju. "Kalian ini kenapa? Lagi berantem?"

"Enggak, Pa! Kami... kami cuma malu aja ada Papa sama Mama," dalih Jingga.

"Malu apa? Sudah sah ini," sahut Mama Sinta gemas. "Gini aja. Mama mau foto kalian lagi... ciuman pipi. Itu lho, Jingga cium pipi Sinta, terus Sinta merem bahagia. Biar temen-temen Mama pada iri!"

Mata Sinta hampir keluar dari kelopaknya. Cium pipi? Terakhir kali mereka bersentuhan sedekat itu adalah saat Sinta mendorong Jingga masuk ke bilik toilet di restoran, dan itu pun penuh dengan sumpah serapah.

"Ayo, Jingga! Tunggu apa lagi? Masa cium istri sendiri harus disuruh-suruh?" desak Papa Jingga.

Jingga menelan ludah. Dia menatap Sinta. Sinta menatapnya balik dengan tatapan "Kalau-lu-berani-lakukan-ini-gue-potong-gaji-kontrak-lu". Tapi di sisi lain, tatapan Sinta juga menyiratkan ketakutan: "Kalau kita nggak lakukan ini, Mama bakal curiga."

"Oke... Ma," ucap Jingga pasrah.

Jingga mendekatkan wajahnya ke wajah Sinta. Sinta memejamkan matanya rapat-rapat, giginya bergelatuk pelan. Jingga bisa mencium aroma sabun muka Sinta yang harum buah persik. Semakin dekat, Jingga merasa dunianya mendadak menjadi sangat sunyi. Dia bisa merasakan panas dari kulit pipi Sinta.

Cup.

Bibir Jingga menyentuh pipi Sinta. Bukan cuma sekadar tempel, tapi Mama Sinta berteriak, "Tahan! Tahan! Mama belum fokus kameranya! Ulangi, Jingga! Lebih lama sedikit!"

Jingga harus menempelkan bibirnya di pipi Sinta selama hampir sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun. Di detik kelima, Jingga merasa sesuatu yang aneh. Pipi Sinta terasa sangat lembut, dan entah kenapa, dia tidak merasa ingin segera menjauh. Ada desiran aneh yang mengalir dari bibirnya menuju jantungnya.

Sinta, di sisi lain, merasa seluruh tubuhnya mati rasa. Sentuhan bibir Jingga di pipinya terasa hangat dan... nyata. Ini bukan seperti akting di telepon kemarin. Ini fisik. Ini kontak kulit. Dan yang paling mengerikan adalah: Sinta tidak merasa jijik. Dia malah merasa... terlindungi?

"Oke! Dapet! Wah, bagus banget! Lihat nih, Pa!" Mama Sinta menunjukkan hasil fotonya dengan bangga.

Di foto itu, Jingga tampak sangat tulus mencium pipi Sinta, dan Sinta tampak tersenyum tipis (yang sebenarnya adalah ekspresi menahan napas).

"Nah, gitu dong. Kan enak dilihatnya," puji Papa Jingga. "Ya sudah, Mama sama Papa mau langsung ke bandara, ada urusan ke Singapura sebentar. Cuma mau mampir sebentar lihat kalian."

Begitu pintu apartemen tertutup rapat dan suara langkah kaki orang tua mereka menjauh, suasana di ruang tamu mendadak menjadi sangat canggung. Lebih canggung daripada saat mereka pertama kali menandatangani kontrak pernikahan.

Sinta segera berdiri dan menjauh tiga meter dari Jingga. Dia mengusap pipinya berkali-kali dengan punggung tangannya.

"LU... LU NGAPAIN CIUMNYA LAMA BANGET?!" teriak Sinta, suaranya agak pecah karena gugup.

Jingga mengusap bibirnya dengan lengan kaosnya, wajahnya merah padam. "Lah! Kan Mama yang suruh tahan! Lu pikir gue mau?! Bibir gue berasa nempel di aspal tahu nggak!"

"Aspal?! Pipi gue selembut ini lu bilang aspal?!" Sinta tidak terima. Dia berjalan menuju cermin di ruang tamu untuk memeriksa pipinya.

Lalu, Sinta tertegun. Di pipi kirinya, terdapat jejak merah samar yang membentuk pola bibir. Karena Sinta sedang tidak pakai make-up tebal, dan bibir Jingga tadi mungkin agak basah atau menekan terlalu keras, jejak itu terlihat jelas.

"JINGGA! LIHAT NIH! LU NINGGALIN BEKAS!" Sinta menunjuk pipinya.

Jingga mendekat, mencoba melihat. "Mana? Ah, itu mah paling karena lu-nya aja yang kulitnya sensitif kayak pantat bayi. Lagian lu juga sih, kenapa nggak pakai bedak yang tebel pagi-pagi!"

"Mana ada orang bangun tidur langsung pakai bedak sepuluh senti, bego!" Sinta mengambil tisu basah dan menggosok pipinya dengan kasar. "Duh, kalau bekas ini nggak hilang sampai kantor gimana? Nanti Mas Adrian nanya!"

"Ya bilang aja lu digigit nyamuk raksasa!" sahut Jingga asal, padahal dalam hati dia merasa bersalah—dan sedikit bangga? Entahlah, pikirannya kacau.

"Nyamuk raksasa nggak punya bibir sekede lu, Jingga!" Sinta melempar bantal kursi ke arah Jingga.

Jingga menangkap bantal itu, lalu terdiam sejenak. "Eh, Sin."

"Apa lagi?!"

"Tadi... pas gue cium... lu kok nggak berontak?" tanya Jingga pelan, suaranya mendadak serius.

Sinta membeku. Dia tidak berani menatap mata Jingga. "Ya... ya kan ada orang tua kita. Gue profesional lah! Gue nggak mau rencana kita gagal cuma gara-gara satu ciuman pipi doang."

"Oh. Profesional ya." Jingga mengangguk-angguk kecil, ada sedikit rasa kecewa yang dia sendiri tidak mengerti kenapa harus ada di sana. "Ya udah. Gue mau mandi. Pipi lu... bersihin yang bener. Gue nggak mau dituduh macem-macem sama pacar manajer lu itu."

Jingga berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang tidak se-mantap biasanya. Sementara itu, Sinta kembali menatap cermin. Jejak merah itu mulai memudar, tapi sensasi hangat di pipinya seolah tidak mau hilang.

Dia menyentuh pipinya sendiri dengan ujung jarinya.

"Cuma akting, Sinta. Cuma akting," bisiknya pada bayangannya di cermin.

Namun, di dalam hatinya, Sinta tahu. Satu "ciuman paksaan" tadi telah merobek satu lapisan lagi dari tembok permusuhan mereka. Dan sekarang, dia harus pergi ke kantor, bertemu Adrian, dan berpura-pura bahwa pipinya tidak pernah disentuh oleh pria lain—pria yang secara hukum adalah suaminya, tapi secara hati seharusnya adalah musuhnya.

Hari itu, suasana di kantor akan terasa jauh lebih berat bagi Sinta. Terutama saat Adrian memuji betapa "segar" wajah Sinta pagi ini, tanpa tahu bahwa kesegaran itu berasal dari kepanikan setelah dicium paksa oleh Jingga.

Kontrak mereka masih berlaku, tapi aturan mainnya mulai terasa semakin buram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!