NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: REKAMAN DARI MASA LALU

Asap hitam mulai merayap masuk melalui celah pintu, membawa aroma plastik terbakar yang menyesakkan dada. Suara alarm kebakaran meraung-raung, memekakkan telinga, menciptakan simfoni kekacauan di tengah malam yang seharusnya sunyi. Sasmita terbatuk, ia menekan kain sapu tangan ke hidungnya, sementara tangan kirinya mendekap erat buku harian ibunya dan flashdisk berharga itu.

"Rena gila! Dia benar-benar ingin membakar rumah ini!" teriak Sasmita di tengah kebisingan.

Bramasta Aditya tidak membuang waktu. Ia menarik sebuah buku tebal bersampul kulit dari rak paling atas di sudut ruang kerja. Terdengar suara mekanisme besi yang bergeser, dan seketika rak buku raksasa itu berputar, menyingkap sebuah lorong gelap yang sempit.

"Masuk! Cepat!" perintah Bramasta.

Sasmita ragu sejenak. "Bagaimana denganmu?"

"Aku di belakangmu. Ayo!"

Mereka melompat masuk tepat saat kobaran api mulai menjilat daun pintu ruang kerja. Rak buku itu berputar kembali, menutup akses dan mengunci mereka dalam kegelapan yang pengap. Sasmita menyalakan senter kecilnya. Cahayanya menyapu dinding beton yang lembap dan dingin.

"Ini adalah jalur darurat yang dibangun ayahmu saat renovasi besar sepuluh tahun lalu," bisik Bramasta, suaranya bergema di lorong sempit itu. "Dia tahu suatu saat rumah ini tidak akan lagi menjadi tempat yang aman."

Mereka menuruni tangga spiral yang curam. Sasmita merasa seolah-olah ia sedang turun ke perut bumi. Di atas mereka, ia masih bisa mendengar suara kayu yang berderak terbakar dan teriakan sayup-sayup Rena yang memanggil-manggil pelayan.

"Kenapa dia membakar rumahnya sendiri, Bram? Itu tidak masuk akal," tanya Sasmita sambil terus melangkah.

"Dia tidak membakar seluruh rumah, Sasmita. Dia hanya membakar bagian yang menurutnya menyimpan bukti-bukti keterlibatannya. Dengan kebakaran ini, dia bisa mengklaim bahwa dokumen-dokumen penting hancur karena kecelakaan, sekaligus mencoba melenyapkanmu di dalam kamar yang terkunci," jawab Bramasta tenang, namun ada nada kemarahan dalam suaranya.

Setelah beberapa menit berjalan dalam kesunyian yang mencekam, mereka sampai di sebuah pintu besi kecil. Bramasta mendorongnya kuat-kuat. Mereka keluar di sebuah paviliun kecil yang terletak di ujung paling belakang taman, jauh dari jangkauan api yang kini mulai terlihat membumbung tinggi dari bangunan utama mansion Janardana.

Sasmita menoleh ke belakang. Mansion megah itu kini tampak seperti raksasa yang sedang sekarat, dilalap api di bagian sayap barat—wilayah kekuasaannya. Hujan gerimis yang turun tidak cukup kuat untuk memadamkan amuk si jago merah.

"Garis merah itu... sekarang sudah jadi abu," bisik Sasmita pedih.

"Tapi buktinya ada di tanganmu," Bramasta menunjuk ke arah flashdisk yang digenggam Sasmita. "Kita harus segera melihat isinya sebelum mereka menyadari kita selamat."

Bramasta membawa Sasmita ke sebuah gudang penyimpanan alat taman yang tersembunyi di balik semak-semak. Di sana, ia mengeluarkan sebuah laptop tangguh dari dalam tas ranselnya yang tadi ia sembunyikan di sana.

"Gunakan ini," kata Bramasta.

Dengan tangan yang masih gemetar dan kotor oleh lumpur serta jelaga, Sasmita memasukkan flashdisk tersebut ke lubang USB. Jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari saat ia menghadapi Vano di taman tadi. Di layar laptop, muncul sebuah folder terenkripsi.

"Password-nya," kata Bramasta. "Ayahmu bilang kamu pasti tahu."

Sasmita terdiam sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat pesan terakhir ayahnya lewat surat-surat lama. Selalu ingat hari di mana kebahagiaan kita dimulai.

Ia mengetikkan sebuah tanggal: 1402—14 Februari, hari ulang tahun ibunya, sekaligus hari pernikahan orang tuanya.

Enter.

Folder itu terbuka. Hanya ada satu file video berdurasi sepuluh menit dengan judul: "MALAM TERAKHIR".

Sasmita menekan tombol play. Rekaman itu berwarna hitam putih, berasal dari kamera CCTV tersembunyi yang diletakkan di sudut tinggi kamar utama—kamar yang baru saja ia tinggalkan.

Video itu memperlihatkan ibunya, Ratna Pratiwi, terbaring lemah di tempat tidur. Ia tampak sangat kurus, pucat, dan terus terbatuk. Kemudian, pintu kamar terbuka. Rena masuk membawa nampan berisi segelas air dan beberapa butir obat.

Di dalam rekaman, suara mereka terdengar samar namun jelas.

"Minumlah, Ratna. Ini akan membuatmu merasa lebih baik," ujar Rena dengan nada yang dibuat-buat lembut.

"Kenapa... kenapa obat ini rasanya pahit sekali, Rena? Aku merasa semakin sesak setiap kali meminumnya," suara Ratna terdengar sangat lemah, nyaris seperti bisikan.

Rena tersenyum miring—senyum yang sama dengan yang ia tunjukkan pada Sasmita di taman tadi. "Itu hanya perasaanmu saja. Wirya sudah setuju agar aku yang merawatmu sepenuhnya. Dia tidak ingin melihatmu menderita lagi."

Ratna meminum air itu. Beberapa menit kemudian, ia mulai mengalami kejang ringan. Rena hanya berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan tanpa melakukan apa pun. Ia tidak memanggil dokter, tidak berteriak minta tolong. Ia justru mengambil sebuah bantal dari kursi dan menatap wajah Ratna yang sedang berjuang bernapas.

Sasmita menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras di pipinya. "Jangan... tolong jangan..."

Di dalam video, sebelum Rena sempat melakukan tindakan lebih jauh, pintu kamar terbuka. Wirya Janardana masuk. Rena dengan cepat meletakkan kembali bantal itu dan berakting panik.

"Wirya! Ratna tiba-tiba sesak napas! Aku sudah memberikan obatnya tapi dia tidak membaik!" teriak Rena berpura-pura menangis.

Wirya tampak panik, ia memeluk istrinya yang sudah mulai kehilangan kesadaran. Namun, ada satu momen dalam video itu di mana Wirya menatap ke arah gelas yang dibawa Rena. Ia mengambil gelas itu, mencium aromanya, dan ekspresi wajahnya berubah menjadi kaget sekaligus ngeri. Ia menatap Rena dengan tatapan yang sangat tajam, seolah baru saja menyadari iblis yang ia pelihara di dalam rumahnya.

Rekaman itu berakhir tepat saat Wirya mencoba menelepon ambulans.

"Ayah tahu," bisik Sasmita dengan suara serak. "Ayah tahu Rena meracuni Ibu. Tapi kenapa... kenapa dia diam saja selama sepuluh tahun?! Kenapa dia malah membuangku?!"

Bramasta Aditya menghela napas panjang. Ia mengambil sebuah dokumen lain dari tasnya. "Ayahmu tidak diam, Sasmita. Dia mencoba mengumpulkan bukti untuk menjatuhkan Rena. Tapi Rena tidak sendirian. Dia bekerja sama dengan sindikat pencucian uang yang menggunakan perusahaan ayahmu sebagai kedok. Jika ayahmu melaporkan Rena saat itu, perusahaan akan hancur, dan kamu... kamu akan menjadi target pembunuhan mereka selanjutnya."

"Jadi dia membuangku untuk melindungiku?" Sasmita tertawa pahit, air matanya bercampur dengan kotoran di wajahnya. "Dia membiarkanku hidup seperti gelandangan hanya untuk 'melindungiku'?"

"Dia pengecut, Sasmita. Dia mengakui itu dalam surat-suratnya kepadaku. Dia terlalu takut kehilangan hartanya, sekaligus terlalu takut kehilanganmu. Dia pikir dengan menjauhkanmu, kamu akan aman sampai dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi dia gagal. Kecelakaan mobil yang menimpanya minggu lalu... itu bukan kecelakaan. Itu sabotase rem."

Sasmita tertegun. "Jadi mereka membunuh Ayah juga?"

"Ya. Karena Wirya akhirnya memutuskan untuk menyerahkan seluruh bukti ini ke kepolisian. Rena mengetahuinya, dan dia bergerak lebih cepat."

Sasmita berdiri, ia menatap mansion yang masih terbakar di kejauhan. Amarahnya kini sudah melampaui batas. Ia bukan lagi hanya ingin membagi rumah itu menjadi dua. Ia ingin meruntuhkan seluruh dunia Rena Janardana hingga tidak ada lagi yang tersisa selain debu.

"Bram," Sasmita menatap pria itu dengan tatapan yang berapi-api. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengirim rekaman ini ke pihak berwenang dan semua media massa di negara ini?"

"Hanya butuh satu klik. Tapi kita harus keluar dari sini dulu. Vano dan para penjaga Rena sedang menyisir area taman."

Tiba-tiba, suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke arah gudang. Cahaya senter dari luar menembus celah-celah kayu dinding gudang.

"Aku tahu kalian di dalam!" teriak Vano. Suaranya terdengar serak karena asap dan amarah. "Sasmita! Keluar sekarang atau aku akan membakar gudang ini juga!"

Bramasta Aditya segera menutup laptopnya dan menyelipkannya kembali ke tas. Ia menarik Sasmita ke sudut gudang yang paling gelap. "Tetap di belakangku. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan flashdisk itu."

Pintu gudang ditendang hingga terbuka. Vano berdiri di sana, pakaiannya kotor dan wajahnya penuh jelaga. Ia tidak lagi memegang tongkat bisbol, melainkan sebuah pistol kecil di tangannya.

"Permainan selesai, Kakak," Vano menodongkan senjata itu tepat ke arah dada Sasmita. "Mama bilang, rumah ini harus benar-benar bersih dari sampah. Dan kamu adalah sampah terakhir yang tersisa."

Sasmita tidak mundur. Ia justru melangkah maju, menatap langsung ke lubang laras senjata itu. "Tembak saja, Vano. Tembak aku seperti ibumu membunuh ibuku. Tapi ingat, setiap tetes darahku yang jatuh malam ini akan menjadi paku terakhir untuk peti mati ibumu. Rekaman itu sudah terkirim secara otomatis ke email sepuluh media terbesar jika aku tidak memasukkan kode pembatalan dalam lima menit."

Vano tertegun. Tangannya sedikit gemetar. "Kamu bohong!"

"Coba saja kalau berani," tantang Sasmita, suaranya tetap stabil meskipun ia tahu nyawanya sedang di ujung tanduk.

Di tengah ketegangan itu, sirine polisi terdengar mendekat dari arah gerbang depan. Lampu biru dan merah berkedip-kedip, menerangi langit malam yang kelabu. Bramasta Aditya telah memanggil bantuan jauh sebelum mereka sampai di gudang.

Vano panik. Ia melihat ke arah gerbang, lalu kembali ke arah Sasmita. "Kalian... kalian menjebakku!"

"Bukan menjebak, Vano," ujar Bramasta Aditya sambil melangkah maju dengan tenang. "Hanya memastikan bahwa garis merah yang dibuat Sasmita benar-benar ditegakkan. Dan kamu... baru saja melintasi garis itu terlalu jauh."

Vano mencoba menarik pelatuknya, namun Bramasta bergerak lebih cepat. Ia menendang tangan Vano hingga pistol itu terlepas dan meledak ke arah atap gudang. Dalam hitungan detik, Bramasta sudah melumpuhkan Vano di lantai.

Polisi menyerbu masuk ke area taman. Rena, yang mencoba melarikan diri melalui pintu samping, juga berhasil diamankan di depan mansion yang masih menyala apinya.

Sasmita melangkah keluar dari gudang, membiarkan rintik hujan membasahi wajahnya yang panas. Ia melihat ke arah rumah Janardana yang kini mulai dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran. Rumah itu rusak parah, namun fondasinya masih berdiri kokoh.

"Sudah berakhir, Nona Janardana," ujar Bramasta Aditya sambil berdiri di sampingnya, menyerahkan kembali laptopnya.

"Belum, Bram," Sasmita menatap kepulan asap yang membubung ke langit. "Ini baru akhir dari sebuah rumah yang terbagi. Besok, aku akan membangun kembali rumah ini. Tanpa garis merah, tanpa rahasia, dan tanpa bayang-bayang mereka."

Sasmita meremas flashdisk di tangannya. Keadilan memang datang terlambat, tapi malam ini, ia telah memastikan bahwa kebenaran tidak akan ikut terbakar menjadi abu.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!