AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Ren, pemuda itu malah mengambil bagian leher kucingnya, kemudian dilemparkannya olehnya.
"Miau!" teriak sang kucing, yang kali ini terjatuh entah ke mana. Mungkin tidak sejauh sebelumnya.
"Jadi Nona ingin memanfaatkan kedua belah pihak untuk bertarung, kemudian jika ada yang selamat nona Sarah akan membunuhnya? Kenapa?" tanyanya tidak mengerti kepada orang ini.
"Kelvin adalah orang yang ditakdirkan untuk membunuhku dan keluargaku. Dan pria berambut putih itu, orang yang mungkin akan membunuh seluruh umat manusia yang tersisa, termasuk aku." Sebuah jawaban dari Sarah.
"Orang itu memberikanmu sesuatu yang dapat melindungimu. Mungkin saja sebenarnya dia tidak bermaksud akan untuk membunuhmu." Kembali Ren bertanya tidak mengerti, berusaha keras untuk tersenyum.
Darimana manusia ini dapat berpendapat demikian. Pertemuan pertama saja dirinya bahkan sama sekali tidak melukai Sarah. Malah...malah... memberikan mutiara kehidupan. Walaupun dengan cara yang lumayan menyenangkan.
Sarah menghentikan langkahnya. Menghela napas kasar."Ren, untuk hidup di dunia yang kejam ini, kamu tidak boleh terlalu polos. Dia itu antagonis, jahat...jangan terlalu percaya pada orang sepertinya. Mengerti!? Bisa saja yang ditanamkan dalam tubuhku adalah bom atau racun untuk mengendalikanku."
Wanita yang berucap sembari memegang kedua bahu sang pemuda. Mengucapkannya dengan kalimat menggebu-gebu dan bersungguh-sungguh.
"Tapi..." Lagi-lagi Ren mencoba untuk membantah.
"Tidak ada tapi-tapian, di dunia ini bahkan manusia bisa saling memakan. Apalagi orang itu yang menganggap manusia sebagai makhluk rendah!" Kembali Sarah meyakinkan.
Ren berusaha keras untuk tersenyum, memang sulit untuk menyakinkan wanita cerewet ini. Dirinya adalah makhluk absurb yang tidak berdaya, kebetulan saja lewat. Sudah memberikan keuntungan, tapi malah dianggap orang jahat.
"Ren, kamu tidak lihat! Pertama kali terlihat saja orang itu sudah dapat begitu kejam. Menyerang tanpa henti, tidak memiliki perikemanusiaan. Dan sekarang kamu mengira mungkin dia bukan orang yang berbahaya---" Kalimat Sarah terhenti. Pria ini kembali tiba-tiba saja mengecup bibirnya.
Benar-benar sebuah serangan tidak terduga dari sang pemuda. Membuat Sarah menutup mulutnya sendiri.
"Kamu terlalu berisik. Hingga aku ingin mengigitmu." Batin Ren.
"Kenapa kamu menciumku!" Bentak Sarah.
"A...aku cuma... merasa Sarah cantik." Beberapa kalimat dari pemuda rupawan yang menunduk. Matanya terlihat berkaca-kaca tidak berdaya. Pesonanya menyengat, walaupun tubuhnya sedikit kurus, tapi serangan wajah tampan benar-benar tidak main-main.
"Lain kali tidak boleh lagi cium sembarangan. Atau aku akan meninggalkanmu!" Tegas Sarah dengan wajah semerah tomat. Kemudian melangkah cepat meninggalkannya.
"Tunggu aku!" Dengan cepat Ren berjalan mengikutinya."Nona Sarah...aku minta maaf! Tadi hanya refleks!"
"Jadi kamu akan refleks mencium semua wanita yang cantik!?" Tanya Sarah terdengar kesal.
"Tidak...hanya nona Sarah yang menurutku tercantik." Pemuda yang kembali mengambil ayam hidup. Dimana kaki ayam itu telah diikat olehnya. Mengikuti langkah Sarah, itulah yang dilakukan olehnya.
Pemuda yang benar-benar menyenangkan? Entahlah, tapi juga terkadang begitu menyebalkan dan membuatnya malu.
Masih berpikir tentang apa yang dilakukan Kelvin dulu, sebelum dunia kiamat. Tidak mencintai Kelvin, tapi berusaha untuk mencintainya, mengingat alur cerita novel di mana Kelvin adalah pemilik sistem yang dapat membuatnya bertahan hidup di dunia kiamat. Tapi pada akhirnya semuanya berakhir dengan pengkhianatan.
Apa dirinya boleh menyukai seseorang lagi? Sarah menggeleng, tentu tidak, tidak satu orang pun dapat dipercayai di dunia kiamat ini. Ren dapat dipercayai olehnya, tapi untuk mencintai dan hidup bersama, segalanya terlalu jauh.
Atau mungkin, terlalu meragukan...
***
Cukup lama melangkah dalam perjalanan. Hanya ingin mengetahui bagaimana perkembangan Kelvin. Dirinya harus benar-benar mengontrol pria yang akan membunuhnya dalam cerita novel.
"Hah...haah... Nona Sarah sampai kapan kita akan harus berjalan, aku sudah tidak kuat lagi, kakiku benar-benar sakit." Ren tersengal-sengal, memegang tongkat kayu kesulitan berjalan.
Sedangkan kedua ekor ayam kini dibawa oleh Sarah.
"Sabar sebentar lagi kita akan sampai." Ucap Sarah mendengar suara pertarungan semakin dekat.
Bagaimana Kelvin akan bertarung dengan monster sedangkan tubuhnya terluka? Dirinya ingin mengetahui dan menyaksikan segalanya.
Langkah Sarah terhenti, bersamaan dengan itu Ren memeluknya dari belakang. Dagunya bersandar pada bahu Sarah."Aku benar-benar sudah tidak sanggup berjalan lagi rasanya mau mati." Keluhnya yang hanya baru berjalan beberapa jam.
Sarah sedikit mendorong kepala Ren yang berada di bahunya."Kita beristirahat di tempat ini."
Ren menoleh ke arah atas, menatap ke arah monster berbentuk banteng. Namun besar ukurannya seukuran gajah, matanya berwarna merah menjerit mengerikan.
Kelvin berada di atas monster tersebut, pendarahan terlihat di perut area operasi sebelumnya. Pria yang menancapkan pedang tepat pada bagian leher monster.
Terlihat gagah dengan tubuh tegapnya seperti menahan rasa sakit. Mungkin karena lukanya memang belum benar-benar sembuh. Tapi nekat untuk bertarung demi mendapatkan poin.
Sarah tertegun menatapnya."Inilah kemampuan keteguhan dan tekad dari pemeran utama pria." Gumamnya mengepalkan tangan, dirinya harus berhasil mengalahkan kemampuan Kelvin jika ingin hidup tenang bersama dengan keluarganya nanti.
Ren menatap ke arah Sarah, beralih menatap ke arah kelvin yang tengah berjuang, kemudian kembali menatap ke arah Sarah lagi.
"Sarah menyukai Kelvin lagi? A...apa aku harus sebaik Kelvin agar Sarah menyukaiku?" Tanya Ren dengan tatapan mata berkaca-kaca mengundang simpati.
Pemuda yang begitu lembek, baik hati, dan hanya ingin perlindungan. Itulah yang terlihat dari sosok Ren. Sarah hanya menghela nafas, mengingat betapa rapuhnya sosok ini. Mungkin pemuda ini trauma akibat ditinggalkan oleh teman-temannya.
"Aku hanya mengamati pertarungan mereka. Dengar! Kekuatan bukanlah segalanya, tapi kesetiaan dan hati yang tulus itu penting. Seperti Ren saat ini..." Sarah mencoba menenangkan kegelisahannya.
Pemuda ini sedikit menunjuk kemudian mengangguk, kembali tersenyum tidak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk memeluk Sarah.
Ingin rasanya menjitak pemuda ini? Itulah ekspresi Sarah saat ini. Berusaha keras untuk tersenyum, perlahan dirinya melepaskan pelukan Ren. Kemudian menariknya untuk tetap diam dan menyaksikan pertarungan Kelvin. Tidak ikut membantu atau melakukan apapun.
Dua orang yang mengamati dengan seksama, semua hal yang dilakukan oleh Kelvin. Sarah menelan ludahnya, inilah protagonis pria yang akan memiliki 9 selir. Benar-benar tidak dapat dianggap remeh ketika bertarung.
Kelvin masih menancapkan katananya di area leher monster. Rasa sakit terasa di area perutnya yang sempat dioperasi oleh Sofia. Semua ditahan olehnya.
Layar sistem berwarna merah, memberikan peringatan kepadanya.
"Peringatan kerusakan di area organ dalam, harap Host, menghentikan pertarungan untuk sementara waktu!"
"Tidak! 120 poin, cukup untuk memulihkan diri!" gumamnya menarik katana kembali.
Kemudian lagi-lagi menancapkan ke area leher monster. Hingga darah hitam terciprat ke mana-mana. Berusaha bertahan di posisi ini bukanlah hal yang mudah.
Matanya melirik ke arah Sarah, yang mengamati apa yang dilakukan olehnya. Dirinya mengepalkan tangan, kala Ren bermanja-manja pada Sarah. Sembari diam-diam terlihat tersenyum mengejeknya.
"Teh Hijau!" Pemuda yang hanya dapat menahan kekesalannya. Pada akhirnya menggunakan seluruh tenaganya dan amarahnya, untuk menebas leher sang monster hingga hampir terputus.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...