NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kota Patahan Es

Angin kosmik berhembus membawa kristal es sebesar bilah pisau. Di tengah badai yang mampu membekukan meridian kultivator fana hingga hancur itu, dua sosok berjubah perak tebal berjalan menembus tumpukan salju.

Shen Yu memegang erat bahu kanannya. Darah yang merembes dari lukanya telah membeku, membentuk lapisan es merah gelap di balik jubah rampasannya. Hukum Alam di Tiga Puluh Tiga Surga sangat kejam; luka yang ditimbulkan oleh senjata Alam Atas mengandung Dao Es Ekstrem yang secara aktif menolak penyembuhan alami tubuhnya.

Di sebelahnya, Lin Xue berjalan dalam diam. Tudung jubah peraknya ditarik rendah, menyembunyikan wajah cantiknya dan menekan habis-habisan sisa aura teratai di dalam Dantian-nya.

"Kita hampir sampai," gumam Shen Yu, napasnya mengepul menjadi kabut putih.

Dari balik tirai badai, siluet hitam raksasa mulai terlihat. Itu bukan istana yang melayang di atas awan, melainkan sebuah kota kumuh yang dibangun secara kasar di dalam retakan ngarai es raksasa. Bangunan-bangunannya terbuat dari tulang binatang kosmik dan balok es hitam, saling bertumpuk seperti sarang serangga yang putus asa.

Ini adalah Kota Patahan Es (Fractured Ice City).

Tempat pembuangan bagi para pelarian, penjahat, dan kultivator Alam Bawah yang tidak memiliki fraksi pelindung di Surga Pertama.

Tidak ada gerbang megah. Hanya ada dua menara pengawas reyot yang dijaga oleh kultivator berwajah tirus. Saat Shen Yu dan Lin Xue mendekat, tombak es langsung disilangkan di depan mereka.

"Pajak masuk! Sepuluh Kristal Dao per kepala!" bentak salah satu penjaga, memamerkan giginya yang berkarat. Auranya berada di Dewa Fana Tahap Awal, sama seperti Shen Yu saat ini.

Shen Yu tidak menjawab. Dia hanya mengangkat sedikit kepalanya, membiarkan simbol pedang patah di dada jubah peraknya terlihat jelas oleh penjaga tersebut.

Mata penjaga itu seketika melebar. Warna wajahnya yang pucat menjadi semakin pias.

"A-Aliansi Asal Leluhur..." penjaga itu menelan ludah, buru-buru menarik tombaknya dan membungkuk dalam-dalam. "Mohon ampun, Tuan! Hamba yang buta ini tidak mengenali jubah kebesaran Anda! Silakan masuk, tidak ada pajak untuk anggota Aliansi!"

Shen Yu mendengus dingin, melangkah masuk tanpa menoleh. Lin Xue mengikuti di belakangnya, menundukkan kepala.

Begitu mereka melewati pos penjagaan, pemandangan di dalam kota membuat Lin Xue menahan napas.

Di Alam Bawah, seorang kultivator tingkat Ascendant dipuja seperti raja. Di sini, para Dewa Fana berkeliaran dengan pakaian compang-camping. Beberapa dari mereka meringkuk di sudut jalan yang beku, tubuh mereka perlahan mengeras menjadi patung es karena kehabisan energi untuk melawan Kalpa Angin Salju. Ada yang memohon-mohon menawarkan pil murahan, ada pula yang menjual artefak berkarat demi segenggam kristal.

Inilah keabadian. Sebuah keabadian untuk menderita kedinginan.

"Jangan menatap mereka, Xue'er," bisik Shen Yu melalui telepati jiwa. "Belas kasihan di tempat ini akan mengundang sekawanan anjing lapar."

Shen Yu memandu Lin Xue menyusuri gang-gang sempit yang berbau darah kering dan lumut beku. Dia mencari sesuatu yang spesifik: tempat di mana barang berdarah tidak akan dipertanyakan.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan batu hitam tanpa papan nama. Hanya ada ukiran timbangan timah yang patah di pintunya.

Shen Yu mendorong pintu itu. Bunyi lonceng usang bergemerincing.

Ruangan di dalamnya remang-remang, dihangatkan oleh perapian yang membakar tulang-tulang aneh. Di balik meja konter kayu yang tergores tebasan pedang, duduk seorang lelaki tua bungkuk dengan satu mata palsu dari batu giok merah. Auranya tersembunyi, namun insting Shen Yu mengatakan lelaki tua ini berada di Dewa Fana Tahap Akhir.

"Toko ini tidak menjual teh penyejuk hati," kata lelaki tua itu tanpa mengangkat wajahnya dari sempoa yang terbuat dari tengkorak kecil. "Apa yang Aliansi inginkan dari gubuk tua ini?"

Shen Yu berjalan ke meja. Dia tidak repot-repot berbasa-basi. Dari balik jubahnya, dia melemparkan tiga cincin penyimpanan dan satu pedang es yang masih berlumuran darah ke atas konter.

CLANG.

Mata tunggal lelaki tua itu melirik pedang tersebut. Ekspresinya sedikit menegang saat mengenali ukiran gagangnya. Itu adalah pedang standar patroli perbatasan Aliansi Asal Leluhur.

Lelaki tua itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap Shen Yu dari ujung kaki hingga ke tudung kepalanya yang tertutup. Tatapannya kemudian beralih ke Lin Xue yang berdiri diam di belakang.

"Jubah bisa dicuri. Pedang bisa dirampas. Tapi bau darah fana yang baru saja melewati tabir dimensi... itu sulit dihilangkan," kekeh lelaki tua itu, suaranya terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Kalian punya nyali yang besar, pendatang baru. Membunuh anjing penjaga Aliansi, memakai kulit mereka, dan masuk ke kota ini."

Otot-otot Lin Xue menegang, bersiap menyerang. Namun Shen Yu hanya mengetukkan jarinya ke atas meja.

"Aku tidak datang untuk mendiskusikan aroma darahku, Pak Tua. Aku datang untuk berdagang," kata Shen Yu datar. "Di dunia manapun, pedagang pasar gelap tidak peduli dari mana barang itu berasal, selama ada keuntungan. Sebut harganya."

Lelaki tua itu terdiam sejenak, lalu tawa seraknya kembali terdengar. Dia menyapu barang-barang itu ke bawah meja dengan gerakan sangat cepat.

"Sikap yang bagus. Aku suka pendatang baru yang praktis. Orang-orang bodoh yang baru naik ke sini biasanya masih sibuk berteriak tentang kebanggaan dan kehormatan Alam Fana mereka sebelum akhirnya mati kedinginan di selokan," kata lelaki tua itu.

Dia melemparkan sebuah kantong kulit kecil ke atas meja. Kantong itu bergemerincing dengan suara yang jernih.

"Enam puluh Kristal Dao. Itu harga maksimal untuk barang-barang rendahan Aliansi ini."

Shen Yu tidak menyentuh kantong itu. "Seratus Kristal Dao. Ditambah informasi."

Mata giok merah lelaki tua itu menyipit. "Informasi apa?"

"Cara menyembuhkan luka dari pedang es keparat ini," Shen Yu menunjuk bahunya. "Dan peta distribusi kekuasaan di Surga Pertama saat ini."

Lelaki tua itu menimbang-nimbang. Dia menyadari pria berambut putih di depannya ini memiliki kekejaman yang terasah tajam. Pada akhirnya, dia melemparkan tambahan empat puluh kristal dan sebuah gulungan perkamen usang ke atas meja.

"Untuk menyembuhkan luka Dao Es itu, kau butuh Rumput Api Sumsum. Sayangnya, rumput itu hanya tumbuh di dasar Jurang Ratapan, wilayah berburu favorit kelompok bandit kota ini," jelas lelaki tua itu.

Dia kemudian menunjuk ke luar jendela, ke arah badai salju. "Adapun Kalpa Angin Salju... ia menyedot sisa-sisa umur kita. Satu-satunya cara agar Dantian-mu tidak membeku adalah dengan terus menyerap Kristal Dao, atau mencari pusaka elemen api murni. Tanpa kristal, kalian tidak akan bertahan sebulan."

Shen Yu mengambil kantong kristal dan gulungan peta tersebut. "Satu hal lagi. Apa langkah Pengadilan Langit Taiyi setelah tabir dimensi robek kemarin?"

Lelaki tua itu menghentikan gerakannya. Dia menatap Shen Yu dan Lin Xue dengan tatapan yang sangat dalam dan mengintimidasi. Tangannya perlahan merogoh ke laci di bawah mejanya, lalu mengeluarkan selembar perkamen hitam yang dicap dengan stempel emas.

Dia menggeser perkamen itu ke hadapan Shen Yu.

Itu adalah poster buronan.

Tidak ada gambar wajah yang jelas, hanya deskripsi yang ditulis dengan tinta darah: Dicari: Anomali Fana. Seorang pria pengguna Dao Ketiadaan dan seorang wanita dengan Jiwa Teratai Murni. Hadiah: Wilayah di Bintang Utara dan Pil Penunda Kehancuran kelas atas.

"Surat perintah ini baru turun dua jam yang lalu dari Ibukota Surga," bisik lelaki tua itu, suaranya kini dipenuhi peringatan. "Seluruh faksi, pembunuh bayaran, dan tikus-tikus di Surga Pertama sedang mencium udara mencari jejak teratai. Jika aku jadi kalian, aku tidak akan tidur di kota ini... atau di kota manapun."

Lin Xue menahan napasnya. Tangan gadis itu mencengkeram ujung jubah Shen Yu. Mereka baru saja tiba, dan seluruh dunia ini sudah mengincar nyawa mereka.

Shen Yu menatap poster buronan itu tanpa mengubah ekspresinya. Dia memasukkan kantong kristal ke dalam bajunya, lalu berbalik.

"Simpan saja wejanganmu, Pak Tua. Aku tidak berencana untuk tidur."

Shen Yu mendorong pintu, membawa Lin Xue kembali ke dalam pelukan badai salju yang membeku.

Melihat punggung mereka menghilang ditelan badai, lelaki tua itu menggelengkan kepalanya pelan. Dia membakar poster buronan itu di perapian. "Orang mati yang berjalan... sayang sekali. Pemuda itu memiliki mata seorang tiran."

Di luar toko, badai semakin mengganas.

"Guru," bisik Lin Xue, suaranya sedikit bergetar menahan dingin. "Ke mana kita sekarang? Peta itu..."

"Kita ke Jurang Ratapan," jawab Shen Yu dingin, pandangannya menembus salju. "Luka ini memperlambat pergerakanku. Kita akan mencari Rumput Api Sumsum itu. Dan jika ada bandit yang menghalangi... kita akan merampok mereka semua untuk tambahan Kristal Dao."

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!