NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

♦♦

"Lebih baik aku belajar dari pada ngelamun ga jelas kaya gini," gumam Khaira, pelan.

Seraya bangkit dari tempat tidurnya, menuju meja belajar yang ada di sudut kamarnya.

Dinding kamarnya dipenuhi dengan poster motivasi dan jadwal kegiatan yang telah dia susun rapi.

Dia duduk di sudut kamar itu yang penuh dengan nuansa putih, diapit oleh tumpukan buku-buku

pelajaran dan laporan organisasi yang harus dia periksa dan dia kerjakan kerjakan dalam waktu yang masih cukup lama.

Namun dia memilih untuk segera menyelesaikan lebih awal, selagi dia bisa.

"Ternyata banyak juga laporan yang belum aku periksa."

Dia menghitung jumlah map yang berisi laporan yang belum dia periksa, kemudian memisahkannya, supaya tidak tercampur dengan map lain.

Sebagai sekretaris OSIS di Glory High School, tanggung jawabnya begitu besar dan dia harus memastikan semua berjalan dengan baik.

'Besok ada tugas. Galvin sudah mengerjakan tugas ini atau belum, ya?' batinnya, begitu membuka catatan di salah satu buku pelajarannya.

Entah mengapa dia tiba-tiba mengingat Galvin yang sama sekali bukan urusannya, dan seharusnya dia tidak memikirkannya. Bahkan mereka sepakat untuk tidak saling peduli.

'Aku harap, tugas ini sudah dia kerjakan,' batinnya kembali, tidak peduli dengan kesepakatan mereka untuk tidak saling memikirkan satu sama lain.

'Dia pasti sudah mengerjakan tugas ini. Selama ini dia tidak pernah lupa sama tugas sekolahnya,' batinnya, meyakinkan dirinya sendiri tentang Galvin.

Walaupun sebenarnya dia merasa ragu, karena seharian ini dia melihat kesibukan Galvin, yang kemungkinan besar tidak memiliki waktu untuk mengerjakan tugas.

Apalagi saat ini, Galvin belum pulang dari bengkel. Dia juga tidak tahu kapan Galvin akan pulang. Galvin tidak memberitahunya dengan pasti.

Malam ini, dia benar-benar tidak bisa tidur. Pikirannya terus mengkhawatirkan Galvin. Padahal dia sendiri sudah tahu jika Galvin sudah terbiasa keluar di malam hari. Namun, dia tetap mengkhawatirkannya.

"Fokus belajar, Khaira. Tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia pasti baik-baik saja," ucap dengan tegas, meyakinkan dirinya sendiri jika Galvin akan baik-baik saja.

Ingin rasanya dia mengubungi Galvin dan menanyakan sedang apa Galvin saat ini. Namun semua itu hanya angan-angan, karena pada kenyataannya, dia tidak mungkin berani menghubungi Galvin apalagi sampai bertanya seperti itu.

Detik berikutnya, dia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Sudah-sudah, Khaira. Fokus saja belajar."

Perintah itu dia tujukan kepada dirinya sendiri. Dia berusaha keras menghilangkan bayangan Galvin dari benaknya, supaya dia bisa mulai untuk belajar.

Matanya fokus membaca setiap halaman buku, mencatat poin-poin penting dalam buku catatannya.

Untuk membantu konsentrasinya, dia memakai headphone yang memainkan instrument piano yang menenangkan.

Musik lembut itu membawanya ke dunia yang damai, di mana dia merasa lebih mudah untuk menghadapi semua tugas yang menumpuk.

Setiap jari lentiknya menari di atas papan ketik laptopnya, mengetik laporan dengan cepat dan efisien.

Wajahnya yang berseri indah, mulai tampak lelah. Semangatnya kian pudar, seiring dengan berjalannya waktu malam.

 

Di sisi lain, Galvin dan Fardan masih berada di dalam bengkel Aratula, suasana di dalam bengkel terasa penuh semangat dan konsentrasi.

Dinding-dinding bengkel dipenuhi dengan berbagai macam peralatan yang mereka gunakan untuk memodifikasi kendaraan.

Keringat mengucur deras membasahi pakaian mereka, tetapi tak satu pun di antara mereka yang menghentikan aktivitasnya.

Mereka terus bekerja keras, saling berkoordinasi, dan memastikan setiap detail pekerjaan terpasang dengan sempurna.

Galvin, yang tengah menenggelamkan dirinya di bawah mobil balap berwarna merah, tengah memasang dan mengganti beberapa komponen penting agar mobil tersebut memiliki kekuatan yang maksimal.

Sementara itu, Fardan sedang sibuk mencermati mesin motor yang menampilkan performa motor tersebut.

Dia berusaha untuk mengoptimalkan setelan mesin agar mencapai performa terbaik.

Keduanya sesekali berkomunikasi, menanyakan satu sama lain mengenai progres pekerjaan mereka dan memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.

Terdengar suara mesin-mesin berputar dan alat-alat yang beradu di lantai bengkel, menciptakan harmoni yang khas dalam suasana bengkel.

Di tengah pekerjaan mereka, tiba-tiba pintu bengkel terbuka dan muncul Izzan beserta Dafa di sana.

Galvin dan Fardan langsung menghentikan aktivitas dan berjalan menghampiri kedua sahabatnya itu.

Jarang sekali mereka masuk ke ruangan itu, jika tidak ada hal yang benar-benar mendesak.

"Ada apa?" tanya Galvin, to the point.

Dia sudah bisa menebak jika ada hal penting yang akan mereka sampaikan kepadanya.

"Kita ada sedikit masalah di data. Risikonya cukup besar jika tidak kita selesaikan sekarang, karena ini menyangkut data para klien," jawab Izzan, menjelaskan permasalahan mereka secara singkat tetapi jelas. Karena dia langsung menjelaskan kepada intinya.

"Kira-kira kalian bisa, ga, handle masalah ini sampai gue dan Fardan selesai nyusun mesin mobil dan motor itu?" tanya Galvin, sambil menunjuk ke arah mobil dan motor yang sedang mereka kerjakan.

Izzan dan Dafa saling pandang, kemudian mereka mengangguk secara bersamaan.

"Bisa-bisa. Kita akan coba," jawab Dafa, dengan percaya diri.

Galvin dan Fardan langsung mengangguk cepat. Mereka kembali mengerjakan pekerjaan mereka supaya cepat selesai, sehingga mereka bisa menangani masalah yang baru saja muncul.

Tangan Galvin dengan cekatan memainkan peralatan bengkel, menggantikan rem cakram, suspensi, dan turbin agar bisa meningkatkan performa mobil balap itu.

Namun, gerakan tangannya yang begitu cepat itu, tiba-tiba berhenti begitu saja, saat dirinya teringat akan sesuatu.

"Mau ke mana lo?" tanya Fardan, begitu melihat Galvin yang melangkah meninggalkan area perbaikan.

Galvin melepaskan sarung tangan yang sudah hitam berlumur oli mesin.

"Ngabarin orang rumah," jawabnya, sambil menyambar sebuah ponsel di dalam saku jaket yang dia lepas sebelumnya.

"Biasanya juga lo ga ngabarin. Mereka ga masalah, kan, kalau lo bakal pulang telat?" tanya Fardan, tanpa menghentikan aktivitasnya yang tengah fokus meningkatkan performa mesin motor.

"Setidaknya gue kasih kabar supaya mereka ga khawatir," jawab Galvin, tampak cuek.

Walaupun Fardan merasa ada yang berbeda dengan sikap Galvin kali ini, tetapi Fardan memilih untuk tidak memikirkannya, karena dia harus fokus pada pekerjaannya.

"Bagus. Berusaha menjadi anak yang baik dan ga bikin keluarga khawatir," ucap Fardan sambil tertawa kecil, karena sebenarnya ucapannya itu adalah sebuah cibiran untuk Galvin.

Galvin sadar jika Fardan sedang mengejeknya, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya.

Memang benar apa yang Fardan katakan, jika orang rumah sudah biasa dengan aktivitasnya, sehingga mereka tidak mengkhawatirkannya, walaupun dia tidak pulang di malam itu.

Namun, yang akan dia hubungi saat ini bukanlah orang-orang yang sudah menjadi keluarganya, tetapi orang yang baru saja masuk menjadi anggota keluarga.

Dan orang yang dimaksud tidak lain adalah Khaira.

Fokusnya saat ini hanya kepada layar ponselnya saja.

Khaira.

Sebuah nama di kontak ponselnya yang ingin dia hubungi saat ini.

Walaupun dia sudah meminta Khaira untuk tidak menunggunya pulang, tetapi dia tidak yakin jika Khaira benar-benar tidak menunggunya.

Sehingga dia akan kembali mengingatkan Khaira supaya jangan sampai menunggunya, seperti hari-hari sebelumnya.

Selain itu, dia juga ingin memberitahu Khaira bahwa dia akan pulang lebih terlambat lagi.

Derztt... Derztt... Derztt...

Getaran ponsel terasa olehnya. Dia juga bisa melihat dari layar panggilan, jika panggilannya terhubung dengan nomor Khaira.

Namun, setelah menunggu beberapa saat, panggilan itu tidak kunjung mendapat jawaban.

Hal itu pertanda bahwa Khaira tidak menerima panggilannya.

'Mungkin dia udah tidur?' batin Galvin, bertanya kepada dirinya sendiri.

Tidak hanya berhenti sampai di situ, dia memikirkan cara lain untuk menghubungi Khaira.

— Galvin —

"Lo udah tidur?"

"Gue cuma mau bilang."

"Gue bakal pulang telat banget."

"Bagus kalau lo udah tidur."

Ke-empat pesan itu Galvin kirimkan dalam waktu yang berbeda-beda.

Namun sayangnya, tidak ada satu pun pesan yang dia kirimkan mendapatkan jawaban dari Khaira.

Dia sampai rela menunggu selama beberapa saat, berharap jika Khaira akan membaca pesannya.

Namun setelah cukup lama menunggu, dia tidak kunjung mendapat balasan apa pun dari Khaira.

Jangankan mendapat balasan, membaca pesannya saja tidak Khaira lakukan.

"Sebenarnya lo lagi ngapain? Perasaan lama banget," tanya Fardan, yang sedang sibuk mengutak-atik mesin motor sport yang berasal dari klien luar negeri.

Klien yang menggunakan motor ini memiliki keinginan untuk merasakan kualitas mesin yang lebih baik.

Dia mencoba menggali potensi mesin motor tersebut dengan memasang beberapa komponen baru, seperti piston, kampas kopling, dan sistem pendingin yang lebih efisien.

Sementara itu, Galvin tidak menjawab pertanyaan Fardan. Dia dibayangkan," ucap Daris tertawa senang, penuh kemenangan.

"Makanya jangan overthinking dulu sebelum tahu pasti apa akar permasalahannya," timpal Faiz, mengejek.

Tring!

Sebuah notifikasi pesan tiba-tiba masuk ke ponsel Galvin.

Galvin segera melihat ponselnya, sementara teman-temannya masih melanjutkan perbincangan asik mereka.

'Khaira,' batin Galvin, begitu membaca nama kontak yang baru saja mengirimkannya pesan.

— Khaira —

"Maaf, Gal. Aku baru balas pesan kamu. Tadi aku ketiduran."

Begitu dia terbangun dan melihat ponselnya, dia terkejut karena ada beberapa pesan yang Galvin kirimkan. Sehingga dia dengan cepat membaca, kemudian membalas pesan itu.

Bukan sengaja dia mengabaikan pesan dari Galvin, tetapi karena dia benar-benar tertidur.

— Galvin —

"Kenapa bangun sekarang?"

Galvin bertanya seperti itu, karena jam masih menunjukkan pukul satu dini hari. Seharusnya Khaira masih terlelap dalam tidurnya.

— Khaira —

"Aku ga sengaja kebangun."

Dia tidak sengaja tertidur dan dia juga tidak sengaja terbangun. Bahkan saat ini dia masih duduk di kursi belajarnya, dengan buku yang digunakan sebagai alas wajahnya selama tidur.

— Galvin —

"Tidur lagi. Masih malam."

Galvin sedikit memicingkan kedua matanya, begitu dia menyadari pesan apa yang baru saja dia kirimkan kepada Khaira.

— Galvin —

-pesan telah dihapus-

Dengan cepat, dia langsung menghapus pesan itu.

Walaupun percuma saja dia menghapus pesannya, karena Khaira terlanjur membacanya.

Pesan itu membuat Khaira tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya.

Dia juga menggelengkan kepalanya dengan pelan, melihat tingkah Galvin yang menurutnya lucu.

Padahal Galvin tidak perlu menarik kembali pesan itu, karena dia juga tidak akan berpikir yang tidak-tidak.

— Khaira —

"Kenapa pesannya di hapus?"

"Aku memang mau tidur lagi, karena aku masih ngantuk."

Khaira sengaja membalas pesan yang sudah Galvin hapus. Dia sungguh penasaran, seperti apa ekspresi Galvin sekarang.

"Oh, ya. Kamu kapan pulang?"

Sebelum tadi dia tertidur, dia memikirkan hal ini hingga menganggu fokus belajar. Dan akhirnya sekarang dia mendapat kesempatan untuk bertanya kepada Galvin.

— Galvin —

"Nanti."

Jawab Galvin singkat, menyembunyikan rasa malunya. Dia masih teringat dengan pesan yang sebelumnya dia kirimkan.

Dia menyesal mengirimkan pesan itu yang meminta Khaira untuk tidur kembali.

Padahal mau Khaira tidur kembali ataupun tidak, itu sama sekali bukan urusannya.

— Khaira —

"Yaudah. Hati-hati pulangnya, ya."

Dia memutuskan untuk langsung mengirimkan pesan itu, tanpa menanyakan secara spesifik kapan Galvin akan pulang.

— Galvin —

"Hm."

— Khaira —

"Aku pamit tidur lagi."

"Assalamu'alaikum."

'Wa'alaikumsalam.'

Galvin menjawab salam itu tidak dengan mengetiknya lewat pesan, tetapi dia cukup menjawab di dalam hatinya saja.

Dia berpikir bahwa Khaira juga akan paham, jika dia sudah menjawab salamnya di dalam hati.

"Hey! Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Kesambet, ya?" tanya Faiz, sedikit mengagetkan Galvin.

Namun untung saja Galvin masih bisa mengontrol dirinya, hingga rasa terkejutnya tidak bisa diketahui oleh mereka.

"Dia kesambet apa? Dan sejak kapan bengkel kita ada setannya?" tanya Daris, yang mulai heboh sendiri.

"Mana gue tau. Tanya aja sama setannya," balas Faiz dan langsung mendapat geplakkan ringan dari Daris.

"Lo lagi chat-an sama siapa? Sampai lo senyum-senyum kaya gitu?" Ezar ikut bertanya, karena penasaran.

Tanpa Galvin sadari, teman-temannya mengamati ekspresi wajahnya, selama dia saling berbalas pesan dengan Khaira.

"Lo udah punya pacar dan ga bilang sama kita, ya?" selidik mereka, dengan penuh tatapan intimidasi.

"Bukan pacar, tapi istri!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!