NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Balik Porselen

​Apartemen Cindy yang biasanya menjadi tempat pelarian panas bagi Indra, malam itu terasa seperti medan perang yang pengap. Suara teriakan melengking memantul di dinding-dinding beton. Indra, dengan kemeja yang sudah berantakan dan napas memburu, menatap Cindy dengan tatapan penuh kejijikan. Tatapan yang dulu ia simpan hanya untuk musuh bisnisnya.

​"Kamu pikir kamu siapa, hah?!" bentak Indra, suaranya menggelegar. "Datang ke proyekku, teriak-teriak seperti perempuan murahan! Kamu sudah menghancurkan reputasiku dalam satu sore!"

​Cindy, yang matanya sembap namun masih menyala oleh amarah, membalas dengan sengit. "Aku melakukan itu karena kamu mencampakkanku! Kamu lebih memilih wanita dingin itu daripada aku!"

​Indra tertawa sinis, tawa yang menusuk tulang. "Dingin? Gendis itu berkelas! Dia perempuan kelas atas, Cindy. Setiap inci tubuhnya, cara dia bicara, cara dia menatap, itu sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu capai seumur hidupmu. Kamu hanya LC, Cindy. Kamu hanyalah mainan yang bisa diganti kapan saja. Jangan pernah bermimpi untuk setara dengan dia!"

​Wajah Cindy memerah padam. Harga dirinya yang paling dalam diinjak-injak. Dengan suara gemetar, ia membalas dengan racun yang sudah lama ia simpan.

"Kelas atas? Berkelas? Kamu memuja dia seolah dia dewi, Indra. Tapi ingat satu hal, istrimu itu cacat! Dia perempuan tidak berguna yang sampai detik ini tidak bisa memberimu anak! Dia rahim kering, Indra! Apa gunanya berlian kalau tidak bisa membuahkan hasil?"

​PLAK!

​Tamparan keras mendarat di pipi Cindy hingga wanita itu tersungkur ke sofa. Suara tamparan itu menyisakan denging panjang. Cindy memegang pipinya, menangis tersedu-sedu, menatap Indra dengan ketakutan yang nyata.

​"Jaga mulutmu," desis Indra, suaranya rendah dan mengancam. "Jangan pernah sebut dia cacat lagi."

​Melihat Indra yang begitu mengerikan, nyali Cindy menciut. Ia merangkak mendekat, memeluk kaki Indra dengan isak tangis yang memilukan.

"Daddy,maafkan aku, aku hanya cemburu. Tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon, tetaplah jadi Daddy-ku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu..."

​Indra menarik kakinya dengan kasar. Ia tidak menjawab, namun ia merampas ponsel Cindy dari atas meja. Dengan jempol yang gemetar karena amarah, ia menghapus paksa semua folder video dan foto mesra mereka.

"Jika aku mendengar video ini tersebar, atau jika kamu mencoba mengancamku lagi, aku pastikan kamu berakhir di sel penjara paling gelap. Mengerti?"

​Setelah memberikan ancaman terakhir, Indra melangkah keluar dan membanting pintu. Namun, begitu deru mobil Indra menjauh, tangis Cindy mereda seketika. Ia menyeka air matanya, lalu bangkit berdiri dengan senyum licik yang mengerikan. Ia berjalan ke arah laci riasnya, mengambil sebuah flashdisk kecil yang tersembunyi di balik lipatan kain.

​"Kamu pikir aku sebodoh itu, Indra? Aku sudah menyalin semuanya di memori lain," bisik Cindy sambil mengelus pipinya yang masih panas. "Lihat saja, siapa yang akan merangkak memohon nanti."

​Di sisi lain kota, di sebuah kantor pusat perbankan yang megah, Gendis sedang duduk di ruang rapat yang berdinding kaca transparan. Di hadapannya, tiga petinggi bank mantan atasannya dulu, menatapnya dengan binar kekaguman.

​"Gendis, jujur saja, kami merasa kehilangan besar saat kamu memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh waktu lima tahun lalu," ujar sang Direktur Utama. "Dunia perbankan merindukan 'Rising Star' sepertimu. Portfolio yang kamu pegang dulu masih menjadi standar emas di sini. Kami ingin kamu kembali sebagai Senior Vice President of Wealth Management."

​Gendis menyesap tehnya, memberikan senyum yang sangat tenang. Keputusannya sudah bulat. Seiring dengan rencananya untuk bercerai, ia harus memiliki fondasi ekonomi yang tak tergoyahkan. Ia tidak boleh hanya menjadi janda yang menerima harta gono-gini, ia harus kembali menjadi wanita yang berkuasa.

​"Saya menerima tawarannya," ujar Gendis mantap. "Saya rasa, saya sudah cukup lama 'beristirahat'. Saya merindukan adrenalin di lantai bursa dan meja negosiasi."

​Kabar kembalinya Gendis bekerja sampai ke telinga Indra sore itu juga. Saat ia pulang ke rumah, ia mendapati Gendis sedang merapikan beberapa berkas kerja dan sebuah setelan blazer baru dari perancang ternama.

​"Bekerja lagi? Tanpa izin dariku?" Indra bertanya dengan nada uring-uringan, mencoba merebut kembali otoritasnya yang mulai luntur.

​Gendis menoleh, wajahnya berseri-seri namun tatapannya tetap tidak terjangkau. "Mas, aku sudah bosan hanya diam di rumah menunggumu pulang. Aku butuh tantangan baru untuk menjaga kewarasanku. Dan tenang saja," Gendis mendekat, merapikan kerah kemeja Indra dengan gerakan lembut yang justru terasa mencekik bagi pria itu. "Aku tidak akan membatasi apa pun yang kamu lakukan di luar sana. Kamu bebas, Mas. Sama seperti aku yang sekarang bebas mengejar karierku lagi."

​Kata-kata itu membuat Indra ketar-ketir. "Kebebasan" yang ditawarkan Gendis tidak terasa seperti anugerah, melainkan seperti pengusiran secara halus dari hidup wanita itu. Ia merasa Gendis sedang membangun tembok tinggi yang tidak bisa ia panjat.

​Malam harinya, sesuai janji, mereka berangkat menuju Jakarta Utara untuk memenuhi undangan makan malam keluarga besar Indra. Perjalanan di dalam mobil dilalui dengan keheningan yang menyesakkan. Gendis tampak sibuk dengan ponselnya, membalas email-email kantor, sementara Indra hanya bisa menatap jalanan dengan pikiran kalut.

​Sesampainya di restoran mewah di kawasan Pantai Indah Kapuk, keluarga besar Indra sudah menunggu. Begitu Gendis melangkah masuk, suasana seketika hening. Gendis terlihat memukau dengan dress brokat berwarna navy dan rambut panjang bergelombang yang tergerai indah. Ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, namun sepuluh kali lebih berwibawa.

​"Gendis! Ya ampun, cantik sekali menantu Mama," seru ibu mertuanya, memeluk Gendis dengan hangat meski ada sedikit kecanggungan.

​Namun, seperti yang sudah diduga, suasana hangat itu hanya bertahan sebentar. Saat hidangan utama disajikan, ibu mertua Indra mulai melancarkan serangan klasiknya.

​"Indra, Gendis... Mama dengar Gendis mulai kerja lagi ya? Apa tidak sebaiknya fokus program hamil saja dulu? Usia kalian ini sudah sangat matang untuk punya cucu buat Mama. Mama sudah malu ditanya terus oleh teman-teman arisan, " ujar sang mertua dengan nada menuntut.

​Indra hanya diam, melirik Gendis dengan rasa bersalah. Ia teringat kata-kata kasar Cindy tadi siang tentang "rahim kering".

​Gendis meletakkan garpu dan pisaunya dengan sangat elegan. Ia tidak tersinggung, tidak juga marah. Ia menatap ibu mertuanya dengan senyum yang sangat tulus, namun di dalam hatinya, ia sudah menutup pintu itu rapat-rapat.

​"Ma, untuk saat ini, fokus saya adalah memberikan yang terbaik bagi karier dan... kebahagiaan batin saya sendiri," jawab Gendis dengan tenang. "Masalah anak, biarlah menjadi rahasia Tuhan. Saya tidak ingin memaksakan sesuatu yang mungkin memang tidak ditakdirkan untuk ada dalam pernikahan ini."

​Mendengar kata "pernikahan ini" dengan penekanan yang halus, Indra merasa jantungnya mencelos. Gendis bicara seolah-olah pernikahan mereka memiliki tanggal kedaluwarsa.

​Di bawah meja, Gendis mengepalkan tangannya. Ia sama sekali tidak menginginkan anak dari benih pria yang telah mengkhianatinya. Baginya, rahimnya terlalu berharga untuk mengandung keturunan dari seorang penipu seperti Indra.

Ia sedang menikmati pemandangan keluarga besar yang masih memuja citra palsu mereka, sementara di kepalanya, ia sudah menghitung mundur detik-detik menuju ledakan besar yang akan menghancurkan segalanya.

1
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!