Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.
Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.
Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberontakan Pertama
Kabar tentang titah Raja di pelabuhan telah sampai lebih dulu ke kediaman utama Duke Falkenhayn. Di ruang duduk utama yang berlapis emas dan penuh dengan potret leluhur yang kaku, Grand Duchess Sophie, nenek Matthias, duduk dengan punggung tegak. Wajahnya yang keriput namun angkuh memancarkan kegembiraan yang jarang terlihat. Bagi Sophie, menyatukan darah Falkenhayn dengan keluarga Kerajaan adalah pencapaian tertinggi dalam hidupnya.
"Akhirnya," gumam Sophie sambil menyesap tehnya. "Gadis Isabella itu sempurna. Dia cantik, patuh, dan yang terpenting, dia adalah darah biru murni. Matthias tidak akan punya alasan untuk menolak."
Tak lama kemudian, pintu besar ruang duduk itu terbuka dengan kasar. Matthias masuk tanpa memberi salam protokol. Seragamnya masih sama dengan yang ia kenakan saat memeluk Shaneen tadi sore—masih ada sedikit aroma mawar yang tertinggal di jubahnya, dan itulah yang memberinya kekuatan untuk berdiri tegak malam ini.
"Nenek," suara Matthias berat dan dingin.
"Ah, Matthias! Jenderal kita sudah pulang," Sophie tersenyum tipis. "Raja sudah mengirimkan utusan. Persiapan pertunanganmu dengan Putri Isabella akan dimulai minggu depan. Ini adalah kehormatan besar bagi keluarga kita."
Matthias mengepalkan tangannya di samping tubuh. Tatapannya yang selama ini selalu menunduk patuh di hadapan Sophie, kini menatap langsung ke mata wanita tua itu.
"Batalkan semuanya," ujar Matthias tenang namun mematikan.
Sophie tertegun, cangkir tehnya berdenting keras saat ia letakkan di meja. "Apa kau bilang? Kau ingin mempermalukan Raja? Dan mempermalukan aku?"
"Saya tidak peduli dengan siapa pun lagi," Matthias melangkah maju, auranya sebagai Jenderal pemenang perang meledak di ruangan itu. "Nenek, dengarkan saya baik-baik. Selama tiga puluh dua tahun saya hidup, saya telah menjadi Duke yang Anda inginkan. Saya menjadi mesin perang yang Anda bentuk. Saya tidak pernah mengeluh saat Anda mengatur jadwal tidur saya, pendidikan saya, bahkan karir saya."
Matthias mengambil napas dalam, matanya berkilat penuh tekad. "Tapi untuk kali ini... untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya mohon. Urusan siapa yang akan menghabiskan malam bersama saya, urusan siapa yang akan tidur di ranjang saya dan menjadi ibu dari anak-anak saya... biarkan saya yang menentukannya. Tolong Anda hargai keputusan saya sebagai seorang pria, bukan sebagai bidak catur Anda."
Sophie berdiri dengan gemetar karena marah. Tongkatnya menghantam lantai marmer. "Hanya karena gadis Asturia itu?! Apa yang kau lihat darinya, Matthias? Kehebatan apa yang dimiliki perempuan pemberontak itu sampai kau berani membantahku?!"
Sophie tertawa meremehkan. "Apakah dia bisa membidik panah untuk berburu bersama bangsawan? Apakah dia sekadar tahu tata krama kerajaan yang rumit? Ataukah dia hanya gadis yang tahu cara bersolek dan menghabiskan uang ayahnya di Oxford?"
Matthias tersenyum sinis. Dia teringat bagaimana Shaneen memegang kendali kuda dengan telaten, bagaimana Shaneen mengatur agensi musik raksasa dalam bayang-bayang, dan bagaimana Shaneen memiliki kecerdasan yang melampaui para menteri Raja.
"Dia tahu lebih banyak dari yang Anda bayangkan, Nenek," balas Matthias dengan nada bangga. "Hanya saja, dia terlalu berkelas untuk memamerkan kehebatannya pada dunia yang tidak layak melihatnya. Dia tidak perlu membidik panah untuk membuktikan kekuatannya, karena hanya dengan kata-katanya, dia bisa membuat saya bertekuk lutut."
"Matthias!" Teriak Sophie.
"Keputusan saya sudah bulat. Jika Raja ingin menghukum saya, biarkan dia mengambil gelar Duke ini. Saya lebih baik menjadi pria biasa daripada menjadi Duke yang kehilangan satu-satunya alasan saya untuk pulang ke rumah ini," Matthias berbalik, jubah militernya berkibar.
"Kau akan menyesal!" ancam Sophie dari belakang.
"Penyesalan terbesar saya adalah tidak memeluknya lebih awal dua tahun lalu," sahut Matthias tanpa menoleh, meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang sangat ringan.
Matthias berjalan menuju mobilnya. Pikirannya kembali ke pelukan Shaneen di depan paviliun. Balasan pelukan dan tepukan lembut di punggungnya tadi sore adalah "ijin" baginya untuk berperang melawan siapa pun, termasuk keluarganya sendiri.
Dia tahu, Shaneen adalah wanita yang punya segalanya—dia adalah "Nin" yang menguasai melodi dunia, dia adalah otak di balik bisnis besar, dan dia adalah seorang perfeksionis yang bisa membidik tepat ke jantung Matthias tanpa perlu busur panah.
Dunia tidak perlu tahu kehebatan Shaneen, cukup Matthias yang mengetahuinya setiap kali dia menutup mata.