NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

BAB 6

FRAGMEN YANG HILANG

​Adrian Aratama selalu bangga akan kemampuannya membaca orang. Baginya, wajah manusia adalah peta jalan yang transparan. Dalam setiap negosiasi bisnis, ia mengandalkan kedutan kecil di sudut bibir lawan bicaranya, pelebaran pupil yang menandakan ketakutan, atau kerutan dahi yang membocorkan keraguan. Ia adalah seorang predator sosial yang memenangkan setiap pertempuran karena ia tahu apa yang dipikirkan lawannya bahkan sebelum mereka mengatakannya.

​Namun, di hadapan Aisha Humaira, "kemampuan super" itu lumpuh total.

​Satu minggu telah berlalu sejak insiden di lokasi proyek. Kini, mereka berada di ruang kerja Adrian yang luas untuk meninjau revisi cetak biru. Aisha duduk di seberang mejanya, fokus pada layar tablet, sementara Adrian—untuk pertama kalinya dalam karier profesionalnya—sama sekali tidak fokus pada pekerjaan.

​Ia justru sedang mengamati kain hitam itu.

​Kain itu tidak hanya menutupi hidung dan mulut Aisha; ia menutupi seluruh algoritma berpikir Adrian. Ia merasa seperti sedang mencoba memecahkan teka-teki silang dengan separuh petunjuk yang dihapus. Hanya ada mata itu—dua jendela hitam jernih yang tampak selalu tenang, namun sangat sulit ditembus.

​"Pak Adrian? Apakah Anda setuju dengan perubahan material pada fasad barat?" suara Aisha memecah lamunan Adrian.

​Adrian tersentak kecil, sebuah gerakan yang jarang ia lakukan. "Apa? Oh, ya. Fasad barat. Lanjutkan."

​Aisha berhenti menggeser layarnya. Ia sedikit memiringkan kepalanya, sebuah gestur yang Adrian terjemahkan sebagai tanda keheranan. "Pak, saya sudah menjelaskan tentang penggunaan panel aluminium komposit selama lima menit terakhir. Apakah ada yang mengganggu pikiran Anda?"

​"Tidak ada," jawab Adrian cepat, terlalu cepat. Ia menyandarkan punggungnya, mencoba terlihat santai. "Aku hanya sedang berpikir tentang efisiensi komunikasi kita, Aisha."

​"Efisiensi komunikasi?"

​"Ya. Aku terbiasa bekerja dengan orang-orang yang bisa kulihat reaksinya secara penuh. Di duniaku, wajah adalah jaminan kejujuran. Tapi denganmu... aku merasa seperti sedang berbicara dengan dinding yang sangat cerdas," Adrian berkata dengan nada yang ia usahakan tetap santai, meski ada nada frustrasi yang terselip.

​Aisha meletakkan tabletnya di atas meja. Untuk sesaat, ia hanya menatap Adrian. "Dinding, Pak? Saya rasa saya selalu menjawab semua pertanyaan Anda dengan sangat transparan."

​"Secara data, ya. Tapi secara manusiawi? Aku tidak tahu apakah kau sedang marah, sedang bosan, atau mungkin sedang menertawakan skeptisismeku di balik kain itu," Adrian berdiri, berjalan ke arah jendela, lalu berbalik mendadak. "Kenapa kau harus memakainya di ruang tertutup seperti ini? Tidak ada laki-laki lain di sini selain aku. Apakah aku begitu berbahaya?"

​Aisha menarik napas halus. "Ini bukan tentang Anda berbahaya atau tidak, Pak Adrian. Ini tentang batasan yang saya tetapkan untuk diri saya sendiri. Cadar ini adalah ruang privasi saya, bentuk pengabdian saya. Ia tidak menghalangi saya untuk mendengar atau berbicara dengan Anda. Jadi, bagian mana yang sebenarnya membuat Anda terganggu?"

​Segalanya, jawab Adrian dalam hati. Karena aku tidak bisa mengendalikanmu.

​"Aku hanya tidak suka merasa buta," ucap Adrian lantang. "Aku merasa kehilangan banyak informasi non-verbal darimu."

​"Mungkin itu masalahnya, Pak," balas Aisha tenang. "Anda terlalu bergantung pada apa yang terlihat. Di dunia saya, substansi lebih penting daripada penampilan. Jika kata-kata saya jujur dan perhitungan saya akurat, bukankah itu seharusnya sudah cukup bagi Anda?"

​Adrian tidak menjawab. Ia justru semakin terobsesi. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya ia abaikan. Ia memperhatikan bagaimana mata Aisha akan sedikit menyipit saat ia sedang berpikir keras, bagaimana jemarinya yang terbungkus sarung tangan akan mengetuk pelan tepi tablet saat ia merasa ragu, dan bagaimana bahunya akan turun sedikit saat ia merasa lega.

​Adrian mulai mencatat "mikro-ekspresi" baru itu dalam otaknya. Ia merasa seperti seorang penjelajah yang sedang memetakan wilayah asing. Rasa penasarannya berubah menjadi obsesi yang mengganggu tidurnya. Di malam hari, ia akan mendapati dirinya membayangkan wajah di balik kain itu. Apakah ia memiliki lesung pipi? Apakah bibirnya tipis atau penuh? Apakah ia sedang tersenyum saat mereka berdebat tentang estetika minimalis?

​Keesokan harinya, obsesi itu membawa Adrian pada perilaku yang tidak biasa. Ia sengaja menjadwalkan pertemuan di kafe lantai bawah kantornya yang ramai, berharap keramaian akan memicu reaksi atau mungkin memaksa Aisha membuka cadarnya untuk makan atau minum.

​"Kau tidak memesan apa pun?" tanya Adrian sambil menyeruput espresso-nya.

​"Hanya air mineral, terima kasih," jawab Aisha. Ia menggunakan sedotan untuk minum dari balik bawah cadarnya, sebuah gerakan yang sangat mahir sehingga Adrian tetap tidak bisa melihat apa-apa.

​Adrian mendengus pelan, merasa kalah dalam permainan yang ia ciptakan sendiri. "Kau sangat ahli dalam hal ini, bukan? Bersembunyi."

​"Saya tidak bersembunyi, Pak Adrian," suara Aisha terdengar sedikit lebih tegas. "Saya ada di sini. Saya nyata. Saya bekerja. Yang 'bersembunyi' mungkin adalah ketidakmampuan Anda untuk menerima bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak perlu Anda lihat untuk Anda pahami."

​Adrian terdiam. Kata-kata Aisha menusuk egonya.

​Tiba-tiba, seorang pelayan yang tampak terburu-buru tersandung di dekat meja mereka. Nampan berisi kopi panas meluncur ke arah Aisha.

​"Aisha, awas!" teriak Adrian.

​Refleks Adrian bekerja lebih cepat dari logikanya. Ia melompat dari kursinya dan menarik bahu Aisha menjauh. Namun, sisa kopi panas tetap mengenai lengan baju Aisha.

​"Kau tidak apa-apa?" tanya Adrian cemas. Tangannya masih memegang bahu Aisha—sebuah kontak fisik yang jarang terjadi.

​Aisha segera menarik diri dengan sopan namun tegas. "Saya tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit terkena kainnya. Terima kasih."

​Adrian menatap tangannya yang baru saja menyentuh bahu Aisha. Ada sengatan aneh yang ia rasakan, sesuatu yang lebih panas dari kopi yang tumpah tadi. Ia menatap Aisha, dan untuk pertama kalinya, ia melihat mata itu bergetar. Ada kilatan rasa terkejut, mungkin juga rasa tidak nyaman karena sentuhan mendadak itu.

​"Maaf," gumam Adrian. "Aku hanya refleks."

​"Terima kasih atas bantuannya," jawab Aisha pelan. Ia merapikan pakaiannya yang basah. "Jika Anda tidak keberatan, saya harus ke toilet untuk membersihkan ini."

​Saat Aisha pergi, Adrian duduk kembali dengan perasaan kacau. Ia benci pada fakta bahwa ia merasa begitu khawatir. Ia benci pada fakta bahwa ia ingin melihat wajah Aisha saat dia merasa terkejut tadi. Dan yang paling ia benci: ia menyadari bahwa ia mulai tidak peduli lagi pada "Green Oasis". Fokusnya telah bergeser sepenuhnya pada wanita misterius yang telah mengacaukan seluruh sistem operasinya.

​Adrian memanggil Sarah melalui ponselnya. "Sarah, cari tahu alamat rumah Aisha Humaira. Dan cari tahu semua informasi tentang keluarganya."

​"Pak? Apakah ada masalah keamanan?" tanya Sarah heran.

​"Bukan masalahmu, Sarah. Lakukan saja," perintah Adrian dingin.

​Ia tahu ia sudah melampaui batas profesionalisme. Ia tahu ini tidak sehat. Namun, bagi pria yang terbiasa memiliki segalanya, rasa penasaran yang tidak terjawab adalah siksaan terberat. Ia merasa seperti seorang ateis yang mulai terobsesi pada konsep Tuhan—bukan karena ia percaya, tapi karena ia tidak bisa menjelaskan mengapa fenomena itu ada di depannya.

​Saat Aisha kembali dari toilet, ia tampak sudah tenang seperti semula. Tapi bagi Adrian, ketenangan itu kini terasa seperti tantangan.

​"Kita lanjutkan besok," kata Adrian sambil berdiri, mengambil tasnya.

​"Tapi kita belum selesai membahas struktur podium, Pak," protes Aisha.

​"Pikiranku sedang tidak di sini," jawab Adrian jujur, sebuah kejujuran yang langka baginya. Ia menatap mata Aisha untuk terakhir kalinya hari itu. "Dan kurasa kau juga butuh istirahat setelah insiden tadi."

​Adrian berjalan keluar dari kafe dengan langkah cepat. Ia butuh udara segar. Ia butuh melarikan diri dari perasaan aneh yang mulai mengakar di dadanya. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa ia hanya ingin "membaca" Aisha agar kerja sama mereka lebih lancar.

​Tapi jauh di dalam hatinya, sebuah kebenaran yang lebih gelap mulai muncul: ia tidak hanya ingin membaca ekspresi wajahnya. Ia ingin menjadi alasan di balik ekspresi itu. Ia ingin tahu apakah ia bisa membuat mata tenang itu berkaca-kaca karena rindu, atau bersinar karena bahagia.

​Dan itu adalah pikiran paling berbahaya yang pernah dimiliki oleh seorang Adrian Aratama.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!