Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam yang kelam itu menjadi saksi bisu hancurnya kesombongan Fauziah.
Pukul dua pagi, Fauziah kembali ke pondok melalui jalan tikus yang sama. Namun, kali ini langkahnya tidak lagi angkuh.
Ia berjalan mengendap-endap dengan tubuh yang kotor, kerudungnya koyak, dan wajahnya sembab oleh sisa tangis yang tertahan.
Rasa perih di lengannya akibat cengkeraman Tony tak sebanding dengan rasa hina yang kini merayap di hatinya. Namun, alih-alih bertaubat, hatinya justru semakin menghitam.
Ia meraba amplop cokelat yang ia dekap erat di balik bajunya.
"Semua ini karena pelacur itu. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan sudi menginjak tempat terkutuk itu," desisnya pelan.
Ia segera masuk ke kamar agar tidak ada yang tahu, mencuci luka-lukanya dengan air mata kebencian yang masih menyala.
Keesokan harinya, Adnan berangkat ke pondok dengan perasaan yang sangat ringan.
Luka-lukanya sudah hampir sembuh total, dan ia sangat bersemangat untuk memberikan pelajaran tafsir pertamanya di kelas pagi ini.
Sebelum berangkat, ia sempat mencium kening Kinan dan membisikkan doa agar hari istrinya menyenangkan.
Sementara itu, Kinan menuju ke pasar untuk membeli cumi pesanan untuk besok hari Minggu.
Dengan ditemani Mbak Siska, Kinan memilih bahan-bahan terbaik di pasar induk.
Ia tampak begitu bahagia, menyapa para pedagang dengan ramah.
Di pikirannya hanya ada satu: ia ingin memberikan hidangan terbaik untuk keluarga Ustadz Yusuf agar martabat suaminya semakin terjaga.
Di kantor pengajar pondok Tuan Aris, Adnan duduk di kursinya setelah menyelesaikan satu jam pelajaran.
Ia hendak merapikan kitab-kitabnya di atas meja kayu yang bersih. Namun, tangannya terhenti saat melihat sebuah benda asing yang terselip di antara buku-bukunya.
Saat akan duduk, ia melihat amplop cokelat polos tanpa nama pengirim.
Jantung Adnan berdesir aneh. Dengan perlahan, ia menarik amplop itu.
Saat membukanya, ia membelalakkan matanya saat melihat foto istrinya.
Darah Adnan seolah berhenti mengalir. Di tangannya, terpampang foto Kinan dengan pakaian terbuka, sedang tertawa di sebuah klub malam dengan latar belakang botol-botol minuman. Foto itu tampak sangat nyata dan tajam.
Tepat saat itu, ponsel Adnan bergetar di atas meja. Sebuah pesan misterius masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
"Apakah kamu percaya kalau istrimu tidak kembali lagi ke dunianya yang dulu?" tulis pesan itu.
"Jangan tertipu dengan mukena dan wajah polosnya. Saat ia ke pasar kemarin, ia menjual tubuhnya lagi. Dia hanya butuh uangmu untuk menutupi hutang-hutangnya di klub."
Pesan yang dikirimkan oleh Fauziah dengan nomor misterius itu bagaikan racun yang langsung merasuk ke dalam pikiran Adnan.
Tangan Adnan gemetar hebat hingga foto-foto itu terjatuh ke lantai.
Ia teringat kejadian kemarin saat Kinan memang pamit ke pasar dalam waktu yang cukup lama. Logikanya mencoba menolak, namun foto-foto di depannya seolah berteriak mengonfirmasi fitnah keji tersebut.
Adnan menatap ke arah jendela, ke arah jalanan yang menuju ke rumahnya.
Rasa percaya yang ia bangun dengan taruhan nyawa di pesantren lama, kini sedang diuji oleh badai yang jauh lebih besar.
Keheningan di kantor guru pondok Tuan Aris mendadak terasa mencekam. Adnan menatap foto-foto di lantai itu dengan napas yang memburu.
Logikanya berperang hebat dengan rasa cintanya, namun pesan misterius tentang pengkhianatan di pasar kemarin benar-benar menghujam ulu hatinya.
Tanpa membuang waktu, Adnan meminta izin untuk pulang lebih awal kepada Tuan Aris, beralasan ada urusan keluarga yang sangat mendesak.
Tuan Aris yang melihat wajah pucat Adnan hanya bisa mengangguk cemas.
Sesampainya di rumah, ia menunggu kedatangan istrinya di ruang tamu.
Adnan duduk di sofa dengan lampu yang sengaja dipadamkan, hanya menyisakan keremangan.
Di tangannya, amplop cokelat itu ia remas hingga lecek.
Setiap detak jam dinding seolah mengejek kesetiaan yang selama ini ia banggakan.
Dua jam kemudian, Kinan melangkah masuk dengan wajah berseri, membawa kantong plastik besar berisi cumi segar dan rempah-rempah untuk pesanan lima puluh porsi besok.
Ia tampak lelah namun bahagia, butiran keringat di dahi yang tertutup hijab membuatnya tampak sangat tulus sebagai seorang istri.
"Mas? Sudah pulang?" tanya Kinan lembut saat melihat bayangan Adnan di ruang tamu.
"Kok gelap-gelapan, Mas? Aku baru saja dari pasar, untung dapat cumi yang ukurannya—"
Kalimat Kinan terputus. Tanpa sepatah kata pun, Adnan berdiri.
Wajahnya yang biasa teduh kini mengeras seperti batu karang.
Mata yang biasanya menatap Kinan dengan penuh perlindungan, kini berkilat penuh kekecewaan dan amarah.
Adnan menarik tangan istrinya dengan kasar, menyeretnya ke tengah ruangan.
"Mas, sakit, Mas! Ada apa?" rintih Kinan ketakutan.
Kantong belanjaannya jatuh berserakan di lantai. Cumi-cumi segar yang ia pilih dengan hati-hati kini kotor di atas granit.
Tanpa penjelasan, Adnan merobek amplop di tangannya.
Ia melempar foto ke wajah Kinan. Lembaran-lembaran kertas mengkilap itu mengenai pipi Kinan sebelum akhirnya berhamburan di lantai.
"Apakah kamu melakukannya lagi?!" bentak Adnan, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
"Jawab aku, Kinan! Uang yang aku berikan padamu apa kurang, hah?!"
Kinan terpaku. Tubuhnya bergetar hebat saat matanya menangkap gambar-gambar di lantai. Itu adalah foto dirinya, bertahun-tahun lalu, di tempat yang sangat ingin ia lupakan. Namun, pesan fitnah yang masuk ke ponsel Adnan membuat foto itu seolah-olah baru saja diambil kemarin.
"Mas, apa ini? Ada apa?" isak Kinan. Ia berlutut di lantai, mencoba mengumpulkan foto-foto itu dengan tangan yang gemetar.
"Ini foto lama, Mas. Ini masa laluku yang sudah aku ceritakan semua padamu. Kenapa Mas semarah ini?"
"Foto lama?" Adnan tertawa sinis, tawa yang penuh luka.
"Ada saksi yang melihatmu di pasar kemarin tidak hanya belanja sayur, tapi menjual dirimu lagi! Kamu memanfaatkan kepercayaanku, kamu memanfaatkan rumah ini untuk menutupi busukmu!"
Kinan menggeleng histeris. "Demi Allah, Mas! Kemarin aku hanya ke pasar bersama Mbak Siska dan Mbak Tia! Mas bisa tanya mereka! Aku tidak pernah mengkhianatimu!"
Namun, kemarahan telah menutup mata hati Adnan. Bayangan Fauziah yang tersenyum licik di kejauhan tak terlintas di benaknya.
Ia hanya melihat seorang wanita yang ia anggap telah mengotori martabatnya sebagai seorang suami sekali lagi.
Ketegangan di ruang tamu itu memuncak hingga ke titik nadir.
Napas Adnan masih memburu, matanya menatap tajam ke arah Kinan yang bersimpuh di lantai di antara ceceran foto masa lalunya. Namun, sebelum kalimat kasar lainnya keluar dari bibir Adnan, pintu depan terbuka dengan terburu-buru.
Kedatangan Mbak Siska dan Mbak Tia yang baru saja memarkirkan mobil pengantar barang di depan, langsung menghentikan keributan itu.
Mereka tertegun melihat suasana rumah yang kacau balau; belanjaan berserakan dan Kinan yang menangis histeris di lantai.
"Ustadz Adnan? Ada apa ini?" tanya Mbak Siska dengan wajah pucat, ia segera berlari menghampiri Kinan dan merangkul bahunya.
"Saya hanya ingin tahu apa yang dilakukan istri saya di pasar kemarin selama berjam-jam!" bentak Adnan, suaranya masih bergetar karena amarah.
Mbak Siska ternganga, lalu ia menatap Adnan dengan tatapan tidak percaya.
"Ustadz, apa yang Anda bicarakan? Kemarin kami belanja terus langsung pulang. Kami bertiga tidak pernah berpisah sedetik pun!"
Mbak Tia ikut melangkah maju, ia memungut salah satu foto yang berceceran dan menatap Adnan dengan tegas.
"Kalau Ustadz bertanya kenapa lama, itu karena kami harus memilih cumi yang bagus untuk sepuluh porsi pesanan Ustadz Yusuf kemarin. Kami harus berpindah dari satu pelapak ke pelapak lain karena Bu Kinan ingin memastikan semua bahannya segar dan sempurna untuk menjaga nama baik Ustadz!"
Mbak Siska menambahkan dengan nada kecewa, "Kami saksinya, Ustadz. Bu Kinan bahkan tidak sempat beristirahat. Setelah dari pasar, beliau langsung berkutat di dapur bersama kami. Bagaimana mungkin Ustadz bisa berpikir sekeji itu pada istri sendiri?"
Deg!
Jantung Adnan seolah berhenti berdetak. Penjelasan jujur dari kedua asisten itu bagaikan siraman air es yang mematikan api amarahnya seketika.
Ia menatap Kinan yang masih tergugu, lalu menatap foto-foto kusam di lantai.
Ia baru menyadari betapa jahatnya tuduhan yang baru saja ia lemparkan.
Kinan perlahan bangkit dengan sisa kekuatannya. Ia tidak menatap Adnan, tidak juga membalas bentakannya.
Dengan sisa martabat yang terkoyak, Kinan masuk ke kamar dan menangis sesenggukan.
Suara pintu kamar yang tertutup rapat dan bunyi kunci yang diputar dari dalam terdengar begitu memilukan di telinga Adnan.
Kinan menjatuhkan dirinya di balik pintu, memeluk lututnya erat-erat.
Ia tidak menyangka jika suaminya sendiri yang selama ini ia anggap sebagai pelindung, sebagai satu-satunya orang yang memercayainya saat dunia menghujatnya, justru menjadi orang pertama yang merobek luka lamanya kembali hanya karena selembar foto dan pesan misterius.
"Mas, setega itu kamu padaku?" bisik Kinan di tengah isak tangisnya yang menyayat hati.
"Ternyata di matamu, aku tetaplah wanita kotor itu, setinggi apa pun aku mencoba mendaki untuk pulang."
Di ruang tamu, Adnan mematung. Ia jatuh terduduk di sofa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Penyesalan yang luar biasa besar mulai merayap di dadanya, lebih perih daripada lemparan batu warga pesantren tempo hari.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅