NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Rantai yang Dipilih untuk Diputus

...— ✦ —...

Pagi itu hujan turun sejak subuh.

Bukan hujan deras yang dramatis — hanya gerimis yang gigih, yang menempel di kaca jendela dan membuat dunia di luar tampak seperti lukisan cat air yang belum kering. Kirana duduk di tepi jendela kamar dengan secangkir teh yang sudah mulai dingin di tangannya, menatap taman yang basah.

Ia tidak tidur banyak semalam. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak mau — ada sesuatu yang terasa sayang untuk ditiduri, semacam keheningan yang berharga setelah percakapan panjang dengan Xavier di perpustakaan. Percakapan yang, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, tidak pernah ia bayangkan akan terjadi ketika menciptakan karakter-karakter ini. Xavier dalam novelnya adalah sosok yang ada tapi tidak benar-benar hadir — suami yang memuja istrinya dari jarak yang nyaman, yang memilih tidak tahu karena tidak tahu terasa lebih aman dari pada tahu dan harus bertindak.

Tapi Xavier yang duduk di seberangnya semalam bukan itu.

Atau mungkin ia memang selalu lebih dari itu, dan Kirana yang menulis terlalu cepat untuk melihatnya.

Ia meneguk tehnya yang dingin dan membiarkan pikiran itu tinggal tanpa mencoba menyelesaikannya.

...✦  ✦  ✦...

Amethysta turun ke dapur pukul tujuh kurang sepuluh.

Ia masih mengenakan piyama — kaos panjang bergambar konstelasi yang Xavier belikan minggu lalu, celana panjang biru muda — dengan rambut yang belum disisir dan jejak bantal yang samar di pipi kanannya. Ia berjalan ke arah kulkas dengan mata yang setengah terbuka, membuka pintunya, menatap isinya beberapa detik tanpa ekspresi, lalu menutupnya kembali dan berbalik.

Dan mendapati Kirana sudah berdiri di dapur, sedang merebus air.

"Mama sudah bangun?" katanya, suaranya masih serak pagi.

"Sudah dari tadi." Kirana menoleh. "Mau sarapan apa?"

Amethysta menatapnya dengan mata yang masih mengantuk. "Roti bakar."

"Dengan telur?"

"Dan keju."

"Duduk sana."

Amethysta duduk di kursi bar di meja dapur — bukan di meja makan formal yang besar, tapi di meja kecil yang lebih kasual, yang biasanya hanya digunakan oleh staf dapur. Kirana sadar ini hal kecil, tapi hal-hal kecil adalah yang paling sulit diubah dan paling bermakna ketika akhirnya berubah.

Dapur itu sunyi kecuali suara hujan di luar dan suara mentega mencair di atas wajan. Kirana memecahkan telur dengan satu tangan — keahlian yang rupanya sudah tertanam dalam ingatan otot tubuh Gwyneth — dan Amethysta menopang dagunya dengan kedua tangan, mengamati dengan mata yang perlahan-lahan semakin terbuka.

"Mama bisa masak?" tanyanya.

Kirana hampir tersenyum. "Sedikit."

"Biasanya Bi Lastri yang masak."

"Bi Lastri libur hari Minggu." Kirana meletakkan roti di atas pemanggang. "Dan aku merasa ingin memasak hari ini."

Amethysta mempertimbangkan ini. "Kenapa?"

Kirana memikirkan jawaban yang jujur — bukan yang aman, bukan yang mudah, tapi yang mendekati kebenaran. Semalam ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mulai lebih sering memilih yang jujur, meski jujur lebih sulit dari yang seharusnya.

"Karena dulu," kata Kirana pelan, sambil mengaduk telur di wajan, "aku jarang melakukan hal-hal biasa. Dan hal-hal biasa rupanya yang paling berharga."

Amethysta tidak menjawab. Tapi ia juga tidak mengalihkan pandangannya.

...✦  ✦  ✦...

Mereka sarapan berdua — Xavier masih tidur, dan Kirana membiarkannya.

Roti bakar dengan telur orak-arik dan keju, disajikan di meja kecil dapur bukan di ruang makan besar, dengan gerimis sebagai latar belakang dan lampu dapur yang hangat sebagai satu-satunya pencahayaan. Tidak ada yang istimewa dari itu. Justru karena tidak istimewa, rasanya tepat.

"Mama," kata Amethysta di tengah gigitan keduanya.

"Hm?"

"Kemarin Mama bilang surat Nenek membuatmu berpikir banyak." Gadis kecil itu meletakkan rotinya. Matanya menatap meja sebentar sebelum akhirnya naik ke wajah Kirana — kontak mata yang semakin hari semakin sering datang, semakin hari semakin tidak perlu dipaksakan. "Mama berpikir tentang apa?"

Kirana meletakkan garpunya juga.

Ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan setengah hati. Amethysta berusia tujuh tahun, tapi tujuh tahun yang diisi dengan pengalaman-pengalaman yang membuat anak-anak belajar membaca ruangan lebih cepat dari yang seharusnya. Ia akan tahu kalau Kirana memberikan jawaban yang mudah. Dan jawaban yang mudah bukan yang ia butuhkan.

"Tentang rantai," kata Kirana akhirnya.

Amethysta mengernyit sedikit. "Rantai?"

"Nenekku punya cara tertentu dalam bersikap. Cara yang tidak selalu baik. Dan ia mengajarkannya padaku — bukan dengan sengaja, tapi karena itu yang ia tahu. Karena itu yang diajarkan padanya juga." Kirana memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti berjalan di atas batu-batu yang tersebar di sungai. "Seperti rantai. Sesuatu yang diteruskan dari satu orang ke orang berikutnya, bahkan ketika tidak ada yang bermaksud meneruskannya."

Amethysta mendengarkan dengan serius. Ia adalah pendengar yang baik — Kirana sudah menyadari ini sejak hari-hari pertama. Bukan karena ia tidak punya pendapat, tapi karena ia belajar sejak dini bahwa mendengarkan adalah cara bertahan, dan kebiasaan itu, meski berasal dari tempat yang tidak seharusnya, menghasilkan sesuatu yang berharga.

"Dan Mama dapat rantai itu?" tanya Amethysta pelan.

"Ya."

"Dan aku..." Gadis kecil itu berhenti. Ia cukup cerdas untuk menyelesaikan kalimat itu sendiri, dan mungkin justru itu yang membuatnya berhenti — karena menyelesaikannya berarti mengucapkan sesuatu yang sudah ia rasakan tapi belum pernah punya kata-kata untuk menamakannya.

"Rantai itu berhenti di sini," kata Kirana, sebelum Amethysta harus menyelesaikan kalimatnya. "Itu yang ingin Mama pastikan. Bahwa kamu tidak mewarisinya."

Keheningan.

Gerimis di luar.

Amethysta menatapnya dengan bola mata ungu yang — Kirana perhatikan, bukan untuk pertama kali tapi untuk pertama kali dengan kesadaran penuh — tidak lagi menyimpan ketakutan sebagai lapisan pertamanya. Masih ada di sana, jauh di dalam, karena ketakutan yang tumbuh selama tahun-tahun tidak hilang dalam hitungan hari. Tapi di atasnya sekarang ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sedang belajar mengambil ruang.

"Mama berjanji?" tanya Amethysta. Suaranya kecil tapi bulatnya jelas — ini bukan pertanyaan basa-basi.

Kirana tidak menjawab segera. Karena janji adalah hal yang berat, dan ia sudah cukup lama menjadi penulis untuk tahu bahwa karakter yang membuat janji tanpa menanggung beratnya adalah karakter yang kosong.

"Aku berjanji untuk terus mencoba," kata Kirana akhirnya. "Setiap hari. Bahkan di hari-hari yang sulit. Itu yang bisa Mama janjikan dengan jujur."

Amethysta mempertimbangkan ini. Lalu, sangat pelan, ia mengangguk.

"Oke," katanya. Dan mengambil rotinya kembali.

...✦  ✦  ✦...

Xavier turun pukul sembilan dengan rambut yang masih agak berantakan dan wajah seseorang yang tidur lebih lelap dari biasanya.

Ia menemukan Kirana dan Amethysta di ruang keluarga — Amethysta sudah berganti pakaian dan kini berbaring di karpet lagi dengan atlas bintangnya, sementara Kirana duduk di sofa dengan buku yang ia temukan di perpustakaan tadi pagi, buku tentang astronomi yang ia ambil karena terasa relevan.

"Kalian sudah sarapan?" tanya Xavier dari ambang pintu.

"Sudah," jawab Amethysta tanpa mengangkat kepalanya. "Mama yang masak."

Xavier menatap Kirana dengan ekspresi yang tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan keterkejutannya. Kirana hanya mengangkat bahu sedikit — gerakan yang ia pinjam dari kepercayaan diri Gwyneth tapi isinya adalah sesuatu yang jauh lebih ringan.

"Ada sisa?" tanya Xavier.

"Di oven, masih hangat."

Ia masuk ke dapur. Dan Amethysta, yang tadi tidak mengangkat kepalanya, kini melirik ke arah pintu yang Xavier lewati dengan ekspresi yang tidak bisa Kirana artikan sepenuhnya — tapi yang terasa seperti seseorang yang sedang, dengan sangat hati-hati, mulai mempercayai bahwa sesuatu yang baik mungkin boleh bertahan.

...✦  ✦  ✦...

Sore harinya, hujan berhenti.

Matahari keluar dengan ragu-ragu, seperti seseorang yang tidak yakin apakah selamat datang, menyinari genangan-genangan kecil di taman dan membuat segalanya tampak seperti baru dicuci. Amethysta yang pertama menyadarinya — ia berlari ke jendela, menempelkan hidungnya ke kaca, dan berteriak bahwa hujannya sudah berhenti dengan nada yang tidak berbeda dari anak tujuh tahun mana pun di manapun di dunia yang melihat bahwa mereka akhirnya boleh keluar.

Mereka pergi ke taman bertiga.

Tidak ada agenda. Tidak ada rencana. Xavier membawa bola kecil yang entah dari mana ia temukan, Amethysta langsung berlari ke arah pohon pir kesayangannya untuk memeriksa apakah ada yang jatuh setelah hujan, dan Kirana berjalan di antara keduanya dengan tangan di dalam saku dan udara basah setelah hujan di paru-parunya.

Pak Wirawan — tukang kebun — melambaikan tangan dari pojok taman. Amethysta membalas dengan semangat. Kirana ikut melambaikan tangan, dan Pak Wirawan tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya membalas dengan senyum yang lebih lebar dari biasanya.

Hal-hal kecil. Selalu hal-hal kecil.

"Orion!" seru Amethysta tiba-tiba dari bawah pohon pir. Ia menunjuk ke langit yang masih biru keunguan di ujung timur, tempat matahari belum sepenuhnya mengusir warna sore. "Mama, Papa — Orion! Kelihatan!"

Kirana dan Xavier berjalan ke arahnya. Mereka berdiri di bawah pohon pir, kepala mendongak, mencari apa yang Amethysta tunjuk.

"Itu?" tanya Xavier, menunjuk ke sekelompok bintang yang mulai tampak di langit yang perlahan menggelap di sisi yang berlawanan dari matahari.

"Bukan, Papa. Yang itu Cassiopeia." Amethysta melangkah ke samping, mengubah sudut pandangnya, lalu menunjuk lagi dengan lebih yakin. "Itu. Lihat tiga bintang yang sejajar? Itu sabuk Orion."

Kirana mencari. Menemukan. Tiga bintang yang berbaris rapi di langit yang belum sepenuhnya gelap, begitu jelas dan begitu tepat seperti yang Amethysta bilang.

"Dapat," katanya.

"Aku juga," kata Xavier.

Amethysta tersenyum — bukan senyum yang kecil dan hati-hati seperti yang pertama kali Kirana lihat di sudut bibirnya di taman ini beberapa hari lalu. Ini senyum yang lebih penuh, yang naik juga ke matanya, yang mengubah seluruh wajahnya menjadi wajah anak tujuh tahun yang lupa sejenak bahwa ia pernah belajar untuk tidak tersenyum terlalu lebar.

"Kata atlas," kata Amethysta, masih menatap langit, "Orion itu pemburu. Tapi ada juga yang bilang dia bukan cuma pemburu — dia juga pelindung. Tergantung mitosnya."

"Pelindung dari apa?" tanya Xavier.

Amethysta berpikir sebentar. "Dari yang gelap. Dari yang berbahaya." Jeda kecil. "Dari hal-hal yang bisa menyakiti."

Xavier melirik ke arah Kirana di atas kepala Amethysta. Kirana melirik balik. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan di antara keduanya — ada pemahaman yang berpindah tanpa bahasa, tentang gadis kecil di antara mereka yang memilih konstelasi pelindung sebagai favoritnya, yang mungkin sejak lama mencari sesuatu atau seseorang yang bisa ia percayai untuk menjadi itu.

Kirana menggerakkan tangannya — perlahan, memberi ruang untuk Amethysta melihat dan memilih — dan meletakkannya di bahu gadis kecil itu dengan sentuhan yang ringan. Tidak mencengkeram. Tidak memaksa. Hanya ada.

Amethysta tidak bergerak menjauh.

Ia tetap berdiri di tempatnya, kepala masih mendongak ke langit, bahu masih terasa kecil dan nyata di bawah tangan Kirana, dan menunjukkan sabuk Orion dengan jarinya kepada ayahnya seolah itu adalah harta yang ia temukan sendiri dan ingin dibagikan.

...✦  ✦  ✦...

Malam itu, Kirana duduk di meja tulisnya.

Bukan meja miliknya — meja Gwyneth, yang besar dan terbuat dari kayu walnut gelap dan penuh dengan hal-hal yang milik kehidupan orang lain. Tapi ia duduk di sana dengan selembar kertas kosong di depannya dan pena di tangannya, dan untuk pertama kali sejak ia terbangun di tubuh ini, ia tidak memikirkan plot. Tidak memikirkan titik-titik alur yang harus diubah. Tidak memikirkan akhir cerita yang sudah ia tulis dan yang ingin ia hindari.

Ia hanya duduk.

Dan mulai menulis — bukan fiksi, bukan perencanaan, hanya kata-kata yang mengalir keluar karena sudah terlalu lama ditahan di dalam.

Aku tidak tahu bagaimana cerita ini berakhir,* tulisnya. *Aku yang menulis novelnya, tapi aku tidak tahu bagaimana ini — kehidupan nyata di dalamnya — akan selesai. Mungkin tidak ada akhir yang rapi. Mungkin tidak ada momen katarsis yang terasa seperti babak penutup yang memuaskan.

Tapi hari ini Amethysta makan roti bakar di dapur dan menunjukkan Orion kepada kami berdua. Dan itu cukup. Lebih dari cukup.

Rantai itu panjang. Mungkin tidak putus dalam satu hari, satu minggu, satu tahun. Mungkin ada hari-hari di mana aku akan gagal — di mana Gwyneth yang lama akan lebih mudah daripada Kirana yang baru belajar. Mungkin ada langkah mundur di antara langkah maju.

Tapi ada bintang kutub di langit. Selalu ada, kata Amethysta. Untuk yang tersesat, petunjuk arahnya selalu ada — kalau tahu cara melihatnya.

Aku sedang belajar cara melihatnya.

Kirana meletakkan penanya.

Di kamar sebelah, ia bisa mendengar suara tipis — Amethysta yang rupanya belum tidur, bergumam pelan, mungkin sedang membaca atlasnya lagi atau menggambar konstelasi baru di buku catatannya. Suara kecil yang biasa. Suara yang tidak takut untuk ada.

Kirana menutup matanya sebentar.

Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan ada di sini. Ia tidak tahu apakah suatu hari ia akan terbangun kembali di apartemen sempitnya di depan laptop, dengan novel yang selesai dan kehidupan yang sama seperti sebelumnya. Ia tidak tahu apakah Gwyneth yang asli akan kembali, atau ke mana jiwa itu pergi, atau apa artinya semua ini dalam skema hal-hal yang lebih besar dari pemahamannya.

Yang ia tahu adalah ini: malam ini, di rumah ini, ada seorang gadis kecil yang tidur tanpa ketakutan sebagai lapisan pertamanya. Ada seorang suami yang sedang belajar untuk benar-benar hadir, bukan hanya ada. Dan ada seorang wanita yang duduk di meja kayu walnut gelap, dengan selembar kertas yang penuh kata-kata jujur, yang memilih untuk percaya bahwa perubahan — meski lambat, meski tidak sempurna, meski penuh dengan hari-hari yang sulit — adalah mungkin.

Rantai itu panjang.

Tapi setiap rantai punya titik pertama di mana ia bisa dipilih untuk diputus.

Dan malam ini, Kirana Seo — yang terjebak dalam tubuh monster yang ia ciptakan sendiri, di dalam cerita yang ia tulis dengan tangannya sendiri, di antara karakter-karakter yang perlahan-lahan menjadi lebih nyata dari fiksi — memilih titik itu.

Di luar jendela, langit sudah sepenuhnya gelap dan bintang-bintang muncul satu per satu, seperti selalu. Seperti yang selalu mereka lakukan, tanpa peduli apa yang terjadi di bawah mereka — tetap ada, tetap bersinar, menunggu untuk ditemukan oleh siapa pun yang mau mendongak dan melihat.

...✦  ✦  ✦...

...— Bersambung —...

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!