NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19: simfoni merah di kota kabut

London, Inggris – Puncak Menara Big Ben, Pukul 22.00 Waktu Setempat.

Langit London malam itu tertutup kabut tebal yang tidak biasa—kabut yang terasa berat dan berbau besi. Di bawah sana, di dalam gedung parlemen yang terhubung dengan markas rahasia Dewan Penatua, sepuluh Hunter Kelas S dari berbagai negara Eropa sedang berkumpul. Mereka sedang merencanakan langkah selanjutnya setelah hilangnya Benedict Vane secara misterius di Seoul.

"Kita tidak bisa membiarkan Sovereign terus mengintimidasi kita!" teriak Lord Abernathy, pemimpin Dewan Penatua. "Jika satu tim Kelas SSS gagal, kita kirim sepuluh tim! Kita memiliki sumber daya dunia!"

Namun, sebelum kalimatnya selesai, seluruh kaca di ruangan itu bergetar hebat. Sensor mana di pusat kota London mendadak menjerit dengan nada frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.

"Peringatan! Fluktuasi mana skala SSS terdeteksi di atas Westminster!" teriak operator melalui interkom.

Lord Abernathy berlari ke jendela. Ia menatap ke arah Big Ben, dan jantungnya hampir berhenti berdetak. Di atas puncak menara jam legendaris itu, berdiri seorang pria dengan jubah hitam kemerahan yang berkibar diterpa angin kencang. Arkan tidak memakai kacamatanya. Matanya yang merah delima menyala menembus kabut, menatap langsung ke arah gedung Dewan Penatua.

Di belakangnya, empat bayangan berdiri dengan aura yang menghancurkan langit. Bastian, Hana, Rehan, dan Elara.

'Tuan, seluruh jalur komunikasi London telah saya ambil alih,' suara Julian terdengar di pikiran Arkan. 'Siaran langsung sedang berjalan di seluruh stasiun televisi Eropa. Dunia sedang menonton kehancuran mereka.'

'Bagus,' Arkan melambaikan tangannya ke depan. "Mulai perjamuannya."

Bastian (Vanguard) adalah yang pertama melompat. Ia jatuh dari puncak Big Ben seperti meteor merah. Saat ia menyentuh tanah di depan gerbang markas Dewan Penatua, sebuah ledakan gravitasi tercipta, menghancurkan seluruh aspal dan melempar tank-tank penjaga militer ke udara seperti mainan plastik.

"Siapa yang ingin mencoba menahan tinjuku?!" raung Bastian.

Sepuluh Hunter Kelas S Rusia dan Inggris menyerang Bastian secara bersamaan dengan sihir api dan pedang mana. Namun, Bastian hanya berdiri diam. Ia membiarkan semua serangan itu mengenai tubuhnya yang sekeras porselen ilahi. Saat debu mereda, ia bahkan tidak berkedip.

"Giliranku," Bastian menghantamkan tinjunya ke udara kosong.

Sanguine Art: Pressure Wave.

Gelombang tekanan udara yang dimanipulasi dengan kepadatan darah menghantam kesepuluh Hunter tersebut, membuat zirah mereka hancur berkeping-keping dan mereka terlempar sejauh tiga blok gedung.

Di sisi lain, Hana (Phantom) bergerak melewati koridor-koridor rahasia Dewan Penatua. Ia tidak membunuh penjaga biasa; ia hanya memutus urat tendon mereka dengan kecepatan yang tak terlihat. Ia mencari arsip-arsip rahasia tentang eksperimen manusia yang selama ini disembunyikan London.

"Terlalu banyak rahasia kotor di sini," bisik Hana sambil membakar seluruh dokumen tersebut dengan api darah.

Rehan (Plague) berdiri di tengah alun-alun kota. Ia tidak menyerang manusia secara langsung, namun ia melepaskan 'Sanguine Mist'—kabut ungu yang menetralisir seluruh energi mana di radius satu kilometer. Seluruh Hunter yang mencoba mengeluarkan sihir mendadak merasa energi mereka tersumbat, membuat mereka lumpuh total dalam kebingungan.

Dari atas Big Ben, Elara (Seer) terus memberikan navigasi. "Tuan, Lord Abernathy sedang mencoba melarikan diri melalui terowongan bawah tanah menuju Sungai Thames. Jaraknya dua ratus meter dari posisi Anda."

Arkan menghilang dalam kilatan cahaya merah. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di depan Abernathy yang sedang berlari ketakutan di terowongan bawah tanah.

"Kau ingin pergi ke mana, Penatua?" suara Arkan bergema di dinding terowongan yang sempit.

Abernathy jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi. "Tolong... ampuni aku! Kami hanya ingin melindungi dunia dari kekuatan yang tidak terdaftar!"

"Kalian ingin melindungi dunia, atau ingin memiliki kekuatan itu untuk diri kalian sendiri?" Arkan mencengkeram leher Abernathy, mengangkatnya hingga kaki pria tua itu menendang-nendang udara. "Kau mengirim algojo ke sekolahku. Kau mencoba menyentuh anak-anak yang sedang belajar kedamaian. Itu adalah kesalahan terakhir yang akan pernah kau lakukan."

Arkan menatap mata Abernathy. "Sanguine Art: Memory Erasure."

Arkan tidak membunuhnya. Ia menghapus seluruh ingatan Abernathy tentang kekuatan Hunter, tentang Dewan Penatua, dan tentang kekuasaannya. Ia membiarkan pria itu menjadi sosok pikun yang tidak tahu siapa namanya sendiri.

Tiga puluh menit berlalu. London masih berdiri, namun pusat kekuasaan Hunter-nya telah runtuh total. Sepuluh Hunter Kelas S internasional ditemukan tergeletak tak berdaya di jalanan tanpa luka luar yang fatal, namun inti mana mereka telah disegel secara permanen oleh Rehan.

Arkan kembali berdiri di puncak Big Ben, menatap kota yang kini sunyi karena ketakutan. Ia menoleh ke arah kamera helikopter berita yang berani mendekat.

"Ini adalah peringatan kedua," ucap Arkan. Suaranya dipancarkan Julian ke seluruh penjuru Inggris. "Jika kalian masih mencoba mencari tahu siapa aku, aku tidak akan hanya menghapus ingatan pemimpin kalian. Aku akan menghapus kota ini dari peta bumi."

Dalam satu kedipan mata, Crimson Eclipse menghilang dari langit London.

Seoul, Apartemen Arkan – Pukul 07.00 Pagi.

Arkan terbangun oleh alarm ponselnya. Ia menguap, merapikan tempat tidurnya, dan mengenakan seragam SMA Gwangyang. Matanya sedikit lelah, namun ia merasa puas. London tidak akan lagi mengirimkan agen ke sekolahnya dalam waktu dekat.

Saat ia berjalan ke sekolah, ia melihat Liora sedang menunggu di depan halte bus. Gadis itu tampak sangat pucat, matanya menatap layar ponsel yang menyiarkan berita "Malam Merah di London".

"Arkan... kamu lihat ini?" Liora menunjukkan ponselnya dengan tangan gemetar. "Crimson Eclipse baru saja menghancurkan Dewan Penatua di London. Hanya dalam waktu tiga puluh menit! Mereka... mereka benar-benar bukan manusia, kan?"

Arkan mengambil ponsel Liora, menatap gambar Bastian yang berdiri di atas reruntuhan. "Mereka hanya melakukan apa yang benar, Liora. Penatua London itu jahat, aku pernah membaca di internet kalau mereka suka melakukan eksperimen ilegal."

Liora menatap Arkan dengan sangat intens. "Arkan, semalam... saat aku pingsan di gudang... aku bermimpi melihatmu memakai jubah seperti pemimpin mereka. Di mimpi itu, matamu merah menyala dan kamu sangat menyeramkan."

Arkan tertawa kecil, meskipun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Itu pasti pengaruh film yang kita tonton minggu lalu, Liora. Lihat aku, apa aku terlihat seperti orang yang bisa menghancurkan London?"

Liora memperhatikan wajah Arkan yang polos, kacamatanya yang sedikit miring, dan tas sekolahnya yang penuh dengan buku latihan. Ia menghela napas panjang. "Iya, kamu benar. Mimpi itu terlalu gila. Tapi... aku senang kamu baik-baik saja."

Mereka masuk ke dalam bus bersama. Di perjalanan, Arkan merasakan sebuah kehadiran baru di dalam bus tersebut. Seorang siswi pindahan baru—Alice Pendragon—duduk di barisan depan. Alice menoleh dan menatap Arkan dengan mata birunya yang tajam.

Alice baru saja kehilangan kekuasaan kakaknya dan pengaruh keluarganya di London semalam. Kini, ia tidak memiliki apa pun kecuali kecurigaannya pada Arkan.

'Julian,' batin Arkan.

'Ya, Ayah?'

'Awasi Alice Pendragon. Dia tidak lagi memiliki Dewan Penatua untuk didengarkan. Dia sekarang seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja.'

'Dimengerti, Sovereign. Seer juga mencatat bahwa ada pergerakan monster Abyss tingkat SSS yang mulai merayap di bawah tanah Seoul. Tampaknya mereka tertarik pada energi ledakan yang Ayah lepaskan di London semalam.'

Arkan menatap ke luar jendela bus. "Pekerjaan sebagai siswa SMA benar-benar tidak pernah membosankan," gumamnya.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!