Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
" Meja kerja di ruangan bos!"
Keesokan paginya, Syren sudah siap dengan blouse biru soft dan celana putih, rambutnya dikuncir seperti biasa. Hari ini dia tidak dijemput oleh Julian, Syren bilang ingin berangkat bareng Gaby.
Gaby sudah berada di depan rumahnya menunggu Syren dengan motor Scoopy-nya yang setia.
"Rennn, Lo pake motor Lo sendiri apa nebeng gue?" tanya Gaby pada Syren.
"Nebeng Lo aja," jawab Syren.
"Oke, ayo naik!"
Mereka pun akhirnya berangkat, membelah jalanan pagi yang mulai padat.
"Ren, Lo udah denger belum?" tanya Gaby, sedikit berteriak karena suara angin. "Tentang acara kantoran?"
"Belum, kapan emangnya, By?"
"Kalau nggak salah sih tiga hari lagi. Family gathering gitu, ke Puncak. Nginep dua hari," jelas Gaby.
Syren hanya mengangguk, pikirannya masih terpecah antara Julian yang posesif dan Gio yang romantis. Ia tidak tahu kalau drama yang menunggunya di kantor lebih heboh daripada family gathering manapun.
Mereka sudah dalam perjalanan dan mulai membahas acara kantor! Syren dan Gaby siap menghadapi hari, tapi Syren belum tahu rencananya Julian.
Sesampainya di kantor, Syren dan Gaby langsung menuju area meja kerja mereka. Langkah Syren terhenti mendadak.
"Lahhh, By, meja gue ke mana?!" seru Syren, matanya liar mencari-cari keberadaan meja kerjanya yang kosong melompong.
Gaby pun segera melangkah menyusul Syren, ikut terkejut melihat kekosongan itu.
"Lahhh, kok nggak ada, Ren?!"
Tiba-tiba, Leo datang menghampiri mereka dengan senyum tipis yang mencurigakan.
"Nona Syren, maaf. Meja Anda sekarang berada di ruangan Pak Julian," kata Leo.
"Apaaaaaa?!" pekik Syren terkejut, suaranya naik satu oktaf. "Kenapa, Pak? Diganti di sana?!"
"Maaf, itu sudah kemauan Pak Julian," jawab Leo diplomatis, tidak mau ikut campur dalam drama bosnya.
Gaby langsung menyenggol lengan Syren. "Ya udahlah, Ren, sana lo pergi ke tempat bos tercinta. Lagian kan calon suami lo!" bisik Gaby jahil.
"By, mulut lo ya!" desis Syren kesal. Tanpa membuang waktu lagi, Syren pun akhirnya meninggalkan mereka dan menuju lift, siap menghadapi sang Bos Posesif di ruangan atas.
Syren baru saja menghilang dari pandangan, Gaby langsung berkacak pinggang di depan Leo.
"Pak Leo, ngapain masih di sini? Mau ngapelin gueeee?" sewot Gaby pada Leo.
"Ya ampun, Gaby, ya kali saya mau ngapelin kamu, mending sama yang lain," balas Leo tak kalah sewot.
"Udah, hus hus sana daripada gue timpuk sandal!" sungut Gaby, pura-pura mau melempar sandalnya.
Mereka berdua memang selalu bertengkar setiap kali bertemu, seolah itu adalah ritual wajib pagi hari mereka.
"Tok tok tok," Syren mengetuk pintu ruangan Julian dengan keras, menunjukkan sedikit kekesalan di nada ketukannya.
"Masuk, sayang," jawab Julian dari dalam dengan nada menggoda.
Idihhh, ciuhhh, najis, najis, batin Syren geram dengan bosnya itu. Ia membuka pintu dengan sedikit kasar dan melenggang masuk.
"Pagi, Pak Bos Julian," sapa Syren formal. "Kenapa ya meja kerja saya diganti di ruangan Bapak?" tanyanya langsung ke inti masalah, tangannya sudah berkacak pinggang di depan meja besar Julian.
Julian tersenyum miring, puas melihat reaksi Syren yang kesal. Dia menunjuk ke sudut ruangan di mana meja Syren sudah rapi terpasang.
"Biar saya gampang mengawasi kamu, Syren. Dan memastikan boneka terkutuk itu nggak ada di sini," jawab Julian santai.
Julian terang-terangan bilang kalau dia memindahkan meja Syren biar gampang mengawasi dan nyingkirin boneka Gio! Syren pasti makin kesal dengan sikap Julian yang posesif dan cemburuan ini.
"Ya ampun, Pak Bos, kenapa sih nyebelin banget jadi orang? Nggak bisa apa terus gangguin saya?" jawab Syren dengan sedikit merengek, nada suaranya terdengar putus asa.
"Nggak bisa, Syren. Saya harus mengawasi calon istri saya," balas Julian santai, mengabaikan rengekan Syren.
"Hahh, terserah Pak Bos lah," jawab Syren yang sudah muak berdebat, ia pun berjalan menuju meja kerjanya yang kini ada di pojok ruangan Julian. "Oh ya, Pak Bos, katanya mau ada acara, ya?" Syren mencoba mengalihkan pembicaraan.
Julian tersenyum tipis, puas karena Syren akhirnya mengalah. "Iya, family gathering kantor. Kamu dan Ardi harus ikut," jawab Julian.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui