Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Lisa membuka mata, entah kenapa meski tidur di atas kursi tapi Lisa merasa begitu nyaman, jujur dua hari ini dia susah tidur memikirkan penolakan perceraian yang dia ajukan ke Angga.
Apalagi insiden Angga semalam juga membuat dia begadang semalaman.
Tapi anehnya kenapa Lisa merasa kursi yang dia duduki terasa empuk? Kakinya juga tidak di tekuk.
"Apa ini mimpi? Kenapa rasanya aku seperti tidur di atas ranjang?" Gumam Lisa pelan.
Dia mulai membuka mata dan hal pertama yang dia lihat adalah wajah Angga yang tengah tersenyum di atas wajahnya.
"Kamu ngapain mas?" Tanya Lisa sambil mendorong wajah Angga agar menjauh.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berusaha membangunkan putri tidur"
Lisa mencibir, jika memang ingin membangunkan, kan bisa dengan cara lain, tidak harus mendekatkan wajahnya, apalagi tadi hampir saja Angga menciumnya.
"Kamu sedang tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan kan mas?" Tanya Lisa penuh selidik.
"Tidak" Jawab Angga cepat.
Tapi dia hanya berbohong, tentu saja Angga mengambil kesempatan itu, kapan lagi bisa mencium istrinya sesuka hati tanpa gengsi? Apalagi Lisa bak putri tidur, meski sudah di cium di mana-mana dia tetap diam, hanya sesekali melenguh saat dia menyentuh di bagian sensitif. Sungguh ini membuat Angga ingin mengulanginya lagi, tapi keburu Lisa terbangun.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Lisa saat menyadari dia berada di atas ranjang pasien.
"Kamu merebut tempat tidurku, lihat sekarang sudah jam berapa?"
Lisa membekap mulutnya saat melihat ke arah jam dinding, dia tidak menyangka bisa tidur selama dan senyaman ini.
"Jam satu siang? Aku harus ke kantor" Gumam Lisa sambil buru-buru turun dari ranjang.
"Sudah aku izinkan, tugas mu hari ini adalah menjadi Istri yang baik, jadi layani suamimu"Ucap Angga penuh perintah. Lagaknya sudah seperti saat di kantor, tapi kata-katanya sedikit berubah, Angga jadi banyak bicara.
"Kamu tidak terbentur apapun kan?" Tanya Lisa sambil mengecek kepala Angga. Angga menepis tangan itu, menggenggam tangan Lisa dengan posesif.
Keduanya saling menatap tajam, Angga tersenyum melihat wajah garang itu. Dulu dia jatuh hati juga karena sifat galaknya.
Enam tahun lalu
Angga memakai masker lengkap, topi, jaket lengkap dengan kaca mata hitam. Angga sudah seperti penyusup, tapi sebenarnya dia sedang menunggu Ibunya yang tengah berbelanja di pasar itu.
Angga hawatir dengan Ibunya yang suka blusukan di pasar tradisional padahal di Mall juga lebih banyak sayur dan ikan segar. Tapi Ibunya selalu bilang.
"Di Mall nggak ada jajanan pasar, Ibu kangen Ngga"
Jadi Angga tidak bisa menolak kemauan Ibunda tercintanya itu. Di saat menunggu sang ibu keluar dari pasar itu. Mata Angga tertuju pada seorang gadis yang tengah marah-marah kepada lelaki paruh baya, mungkin seusia ayahnya. Angga awalnya tidak suka melihat itu, dia mendekat ingin membela lelaki itu, namun begitu mendengar percakapan mereka Angga tak jadi ikut campur.
"Lain kali jangan biarin anak bapak kerja! Dia masih kecil, jangan di ajak minta-minta, ajari anak bapak buat kerja keras, jual apa gitu. Jangan biasakan anak sekecil ini minta-minta!"
Lelaki paruh baya itu diam menunduk takut kena libas oleh Lisa.
"Udah Lisa, Kita nanti kesorean, besok kita ada interview di perusahaan Pratama"
Mendengar ucapan sahabat Lisa, Angga langsung menelfon bagian HRD agar menerima perempuan bernama Lisa sebagai sekertaris pribadinya.
Angga sudah menyimpan rasa sukanya sejak lama, tapi sikap dinginnya membuat dia kalah dengan sang adik yang terang-terangan mengatakan jika dia suka dengan Lisa. Angga mengalah, dia melihat Lisa juga menyukai adiknya.
Namun siapa menyangka jika usia adiknya begitu singkat, kini sang adik ipar sah menjadi istrinya. Namun Angga tidak mau di anggap lelaki yang berbahagia di atas penderitaan Lisa yang kala itu masih bersedih atas kematian adiknya Jadi Angga memutuskan untuk menyembunyikan rasa sukanya. Dia tidak tidak mau tidur satu ranjang dengan Lisa, karena tidak akan bisa mengendalikan dirinya.
Angga selalu diam, karena Angga tidak ingin Lisa tahu betapa dia begitu menyukai wanita itu.
"Mas Angga! Kenapa diam?"
"Ha?" Angga tersadar dari lamunannya dan menjelaskan jika dia baik-baik saja.
"Aku sehat, aku tidak terbentur apapun"
Lisa mengerutkan dahi, ini bukan sifat Angga, Angga tidak pernah minta di layani sebelumnya. Apalagi meninggalkan pekerjaan untuk berdua saja di rumah, itu sama sekali bukan Angga. Meski lelaki itu memakai infus sekalipun, Angga selalu bekerja dan bekerja. Hingga Lisa harus wara-wiri dari kantor ke rumah sakit untuk membawakan berkas yang di butuhkan Angga. Tapi hari ini Angga bilang dia hanya perlu jadi istri yang baik untuk melayaninya?
"Sepertinya dia benar-benar terbentur tembok deh" batin Lisa menerka.
"Sudah jangan melihatku seperti itu, cepat bersihkan diri kamu, ayo kita sarapan sekaligus makan siang, aku tidak suka masakan di sini"
Lisa memilih mengagguk saja, meski dia masih heran dengan sikap aneh Angga hari ini.
Begitu Lisa masuk ke kamar mandi, Bik Sumi tersenyum dan memuji Angga.
"Nah gitu dong tuan, kalau suka tunjukkan saja, jangan di pendam, nanti Non Lisa minta cerai lagi"
Angga hanya tersenyum menatap ke arah pintu kamar mandi, mulai sekarang dia akan merubah sikapnya agar Lisa tidak pergi. Sudah lama dia ingin memilikinya, setelah di dapat, tentu Angga tidak akan melepas Lisa begitu saja.
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏