melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anak ini bukan kesalahan
Pintu ruang rapat tertutup pelan di belakang Wulan.
Langkahnya terdengar tenang di lorong kantor yang luas, tetapi di dalam dadanya sesuatu terasa bergetar tidak stabil. Setiap langkah seperti membawa beban yang lebih berat dari sebelumnya.
Ia keluar dari gedung kantor itu tanpa menoleh kembali.
Udara sore menyambutnya dengan angin yang lembap. Kota masih sibuk seperti biasa, kendaraan berlalu-lalang, orang-orang berjalan dengan urusan mereka masing-masing.
Dunia tetap bergerak.
Seolah tidak ada yang berubah.
Namun bagi Wulan, semuanya terasa berbeda.
Ia memanggil ojek daring dan duduk di kursi belakang motor dengan tubuh sedikit membungkuk. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata.
Tiga bulan.
Tidak ada yang tahu.
Namun kini Agung tahu.
Dan reaksi lelaki itu terus berputar di kepalanya seperti rekaman yang tak bisa dihentikan.
“Tidak.”
Satu kata itu terasa jauh lebih tajam daripada penolakan panjang.
Malam itu Wulan duduk sendirian di kamar kecilnya.
Lampu kamar redup. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil di meja rias.
Wajahnya masih sama.
Tubuhnya masih sama.
Tidak ada yang terlihat berubah.
Namun pikirannya mulai dipenuhi bayangan yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan terlalu jauh.
Tetangga.
Pelanggan kedai.
Karyawan.
Orang-orang yang mengenalnya.
Bagaimana jika suatu hari perutnya mulai terlihat?
Bagaimana jika seseorang bertanya?
Bagaimana jika mereka tahu bahwa ia hamil… tanpa suami?
Pikirannya terasa semakin sempit.
Ia membayangkan bisikan-bisikan kecil di belakang punggungnya.
Tatapan orang-orang.
Kalimat yang diucapkan dengan nada pura-pura iba.
“Kasihan…”
“Ternyata seperti itu…”
“Pantas saja sering dekat dengan Agung dulu…”
Wulan menutup matanya kuat-kuat.
Ia bukan perempuan yang mudah takut pada omongan orang.
Selama ini ia selalu hidup dengan kepala tegak.
Namun sekarang ia tidak sendiri lagi.
Ada anak di dalam dirinya.
Dan dunia sering kali jauh lebih kejam kepada perempuan.
Tangannya menekan perutnya pelan.
“Aku harus bagaimana…” bisiknya hampir tak terdengar.
Malam itu ia hampir tidak tidur.
Pagi datang dengan langit yang pucat.
Wulan datang ke kedai seperti biasa, tetapi pikirannya terus melayang.
Beberapa kali Melda memanggilnya karena pesanan pelanggan hampir salah ia masak.
“Kak, kamu benar-benar tidak apa-apa?” tanya Melda khawatir.
Wulan tersenyum kecil.
“Cuma kurang tidur.”
Namun senyum itu terasa tipis.
Hari itu berjalan lambat.
Semakin lama ia berpikir, semakin kuat satu perasaan muncul.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Melainkan tekanan.
Ia membayangkan masa depan anaknya.
Ia membayangkan nama keluarga.
Ia membayangkan bagaimana dunia akan memandang anak yang lahir tanpa pengakuan ayah.
Sore harinya, setelah kedai mulai sepi, Wulan akhirnya mengambil keputusan.
Ia menatap layar ponselnya lama.
Nama Agung muncul di sana.
Beberapa detik ia ragu.
Namun akhirnya ia menekan tombol panggil.
Telepon itu berdering beberapa kali.
Lalu tersambung.
“Ya?” suara Agung terdengar datar seperti biasa.
“Agung,” kata Wulan pelan.
Ada jeda kecil.
“Ada urusan bisnis?” tanya Agung.
“Bukan.”
Sunyi beberapa detik.
“Apa?”
Wulan menarik napas dalam.
“Kita perlu bicara lagi.”
Malam itu mereka bertemu di kantor Agung.
Gedung itu lebih sepi dibanding siang hari. Lampu-lampu masih menyala, tetapi hanya beberapa ruangan yang digunakan.
Agung berdiri di dekat meja kerjanya ketika Wulan masuk.
Ia terlihat sama seperti sebelumnya.
Rapi.
Terkontrol.
Seolah percakapan kemarin tidak meninggalkan jejak apa pun.
“Kamu bilang ada hal penting,” kata Agung.
Wulan berdiri beberapa langkah darinya.
Ruangan itu terasa terlalu besar.
“Ya.”
“Kalau soal kemarin, kita sudah membahasnya.”
“Belum selesai.”
Agung menatapnya lebih serius.
“Apa lagi?”
Wulan menggenggam tasnya sedikit lebih erat.
“Aku sudah memikirkan semuanya.”
“Dan?”
“Anak ini akan lahir.”
Agung tidak bereaksi.
“Keputusanmu.”
Wulan menatapnya lurus.
“Tapi aku tidak bisa melakukannya sendirian.”
Agung menghela napas pendek.
“Kita sudah membicarakan solusi.”
“Itu bukan solusi.”
“Itu solusi paling masuk akal.”
Wulan menggeleng pelan.
“Agung, dengarkan aku dulu.”
Agung tidak menjawab, tetapi ia tidak menghentikannya.
“Aku tidak takut membesarkan anak ini,” lanjut Wulan. “Aku juga tidak meminta uangmu.”
“Lalu apa?”
Suara Wulan sedikit bergetar untuk pertama kalinya.
“Aku hanya meminta kamu bertanggung jawab.”
Agung langsung menjawab.
“Aku sudah menolak.”
“Kamu bahkan tidak memikirkannya.”
“Aku sudah memikirkannya dengan sangat jelas.”
Wulan menatapnya, matanya mulai dipenuhi emosi yang sulit ia tahan.
“Kamu tahu bagaimana dunia melihat perempuan yang hamil tanpa menikah?”
Agung tidak menjawab.
“Mereka tidak akan menyalahkan laki-lakinya,” lanjut Wulan. “Mereka akan menyalahkanku.”
Ia menarik napas dalam.
“Mereka akan menyebutku perempuan murahan. Mereka akan bertanya siapa ayahnya. Mereka akan menertawakan anakku nanti.”
Agung tetap berdiri diam.
“Apa kamu benar-benar tidak peduli?” tanya Wulan.
Agung menjawab dengan tenang.
“Itu bukan masalahku.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Wulan menatapnya tidak percaya.
“Bukan masalahmu?”
“Kamu memutuskan untuk mempertahankan kehamilan itu. Itu pilihanmu.”
“Pilihan kita berdua.”
“Tidak,” kata Agung tegas. “Kesalahan kita berdua mungkin. Tapi keputusan setelahnya adalah milikmu.”
Wulan merasakan dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.
“Kesalahan?” ulangnya lirih.
Agung tidak menarik kembali kata itu.
Wulan menunduk sebentar.
Ketika ia mengangkat wajahnya lagi, ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
“Jadi ini hanya kesalahan bagimu.”
Agung tidak menjawab.
Wulan melangkah lebih dekat.
“Agung, aku tidak meminta kamu mencintaiku lagi.”
Sunyi.
“Aku hanya meminta kamu mengakui anakmu.”
Agung menatapnya lama.
Kemudian ia berkata pelan,
“Itu tidak akan terjadi.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu.
“Kenapa?” tanya Wulan hampir berbisik.
Agung menjawab tanpa ragu.
“Karena aku tidak akan menghancurkan masa depanku untuk satu kesalahan.”
Ruangan itu terasa membeku.
“Anakmu adalah masa depanmu juga,” kata Wulan.
“Tidak.”
Satu kata lagi.
Pendek.
Dingin.
Wulan merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
Ia menatap lelaki di depannya seperti melihat orang asing.
“Jadi reputasimu lebih penting daripada darah dagingmu sendiri.”
“Reputasi menentukan segalanya.”
“Termasuk harga dirimu?”
Agung tidak terpancing.
“Jika kamu khawatir soal omongan orang,” katanya datar, “aku bisa memastikan kamu hidup nyaman jauh dari sini.”
Wulan tertawa kecil.
Tawa yang pahit.
“Kamu masih mencoba membeli masalahmu.”
“Aku mencoba menyelesaikannya.”
“Bukan menyelesaikan. Menghapus.”
Sunyi kembali turun.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Akhirnya Wulan berkata pelan,
“Aku datang malam ini karena aku berharap masih ada sedikit hati di dalam dirimu.”
Agung tidak bergerak.
“Sekarang aku tahu jawabannya.”
Ia berbalik menuju pintu.
Namun sebelum keluar ia berhenti.
Tanpa menoleh ia berkata,
“Suatu hari nanti kamu mungkin akan melihat wajah anak ini.”
Agung tidak menanggapi.
Wulan melanjutkan,
“Dan ketika hari itu datang…”
Ia menarik napas panjang.
“Aku harap kamu cukup kuat untuk menatapnya.”
Kemudian ia membuka pintu.
Dan pergi lagi.
Kali ini tanpa kembali.
Agung tetap berdiri di tengah ruangan itu.
Lampu kantor memantulkan bayangannya di kaca jendela.
Ia terlihat tenang.
Tetap dingin.
Namun di meja kerjanya masih ada satu benda kecil.
Foto USG hitam putih itu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
Agung tidak langsung memasukkannya kembali ke dalam laci.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.