Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran
“Bukan perhatian yang aku cari, Cuma pengertian kecil kalua aku juga manusia yang bisa Lelah dan ingin didengar”
***
Angka tunggakan itu terus terbayang.
Lima puluh juta per bulan.
Batas waktu.
DO.
Setiap bunyi notifikasi mesin kasir seperti mengingatkannya bahwa hidup tetap berjalan… meski dunianya barusan runtuh.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu jalan di luar mulai redup. Pelanggan terakhir pulang. Kursi-kursi disusun kembali. Nala melepas apron pelan-pelan. Gerakannya lambat, seolah ia menunda sesuatu.
“Lo gapapa?” akhirnya Deby berani bertanya lirih.
Nala tersenyum tipis.
Senyum yang dipaksakan.
“Gapapa.”
Jawaban paling sederhana untuk kebohongan paling besar. Deby tidak memaksa lagi. Beberapa menit kemudian, Nala keluar dari cafe. Udara malam menyentuh wajahnya. Lebih dingin dari biasanya.
Ia berjalan sendirian menyusuri trotoar yang sepi. Biasanya ia pulang sambil memikirkan belanja besok, atau bercanda lewat chat dengan Kala.
Malam ini tidak ada ponsel di tangannya.
Tidak ada pesan.
Hanya sunyi.
Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Seakan setiap tapak kaki membawa beban tak terlihat.
Bukan hanya soal uang.
Bukan hanya soal pernikahan.
Tapi soal identitas.
Soal siapa dirinya sebenarnya. Angin malam menerpa rambutnya yang berantakan. Ia menatap jalanan kosong di depannya. Ia ingin marah. Ingin menangis. Ingin berteriak bahwa ini tidak adil. Tapi yang keluar hanya napas panjang yang tertahan. Untuk pertama kalinya, Nala merasa benar-benar sendirian di antara dua dunia. Dunia yang membesarkannya dengan cinta sederhana. Dan dunia yang tiba-tiba menuntutnya dengan harga mahal.
Langkahnya terus berjalan. Namun malam ini, pundaknya terasa jauh lebih berat daripada tas yang tadi dijambret. Karena yang ia bawa sekarang bukan barang. Melainkan pilihan.
Pintu kontrakan berderit pelan saat Nala membukanya.
Ruangan kecil itu gelap, hanya diterangi lampu dapur yang redup.
Kala sudah tertidur di kasur tipisnya. Wajahnya terlihat tenang. Jauh dari bayangan ancaman DO yang kini menggantung di atas namanya.
Nala berdiri lama memandang adiknya.
Hatinya mencelos.
Ia masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tidak mampu menenangkan pikirannya.
Lima puluh juta.
Tunggakan.
Kontrak.
“Pilihan.”
Kata itu terus berputar di kepalanya bersama wajah pria yang mengaku ayah kandungnya. Setelah mandi, ia membaringkan tubuhnya di kasur sederhana yang sudah bertahun-tahun menjadi saksi lelahnya. Langit-langit kamar tampak kosong. Sama kosongnya dengan perasaannya.
Ia memejamkan mata.
Tapi pikirannya tidak ikut beristirahat.
Pagi datang terlalu cepat.
Belum sempat ia benar-benar terlelap, suara ketukan terdengar di pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Nala? Nala?”
Itu suara ibu kontrakan.
Nala bangun dengan tubuh terasa berat. Ia membuka pintu perlahan. Ibu kontrakan berdiri dengan wajah tak biasa lebih tegas dari biasanya.
“Bu, pagi…”
“Nala, ibu mau tanya. Kontrakan bulan ini kok belum dibayar?” suaranya tidak galak, tapi jelas menagih. “Kamu biasanya nggak pernah telat.”
Kata-kata itu seperti jarum kecil yang menusuk harga dirinya lagi.
Nala menunduk.
“Maaf, Bu… saya kemarin kena jambret. Dompet sama HP saya hilang. Gaji juga belum cair semua. Bisa minta waktu sedikit lagi?”
Ibu kontrakan terlihat terkejut.
“Ya ampun… dijambret? Kamu nggak apa-apa?”
“Enggak, Bu. Cuma barangnya aja.”
Wanita itu menghela napas panjang.
“Ibu ngerti kamu anak baik. Tapi ibu juga ada setoran. Jangan lama-lama ya, Nak.”
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Pintu tertutup kembali.
Nala bersandar di baliknya.
Satu lagi.
Satu lagi tekanan datang.
Kontrakan.
Tunggakan kuliah Kala.
Batas waktu yang semakin dekat.
Ia berjalan pelan ke arah Kala yang masih tertidur. Wajah itu terlihat polos. Tidak tahu apa-apa tentang surat DO yang bisa menghancurkan masa depannya.
Nala menggenggam ujung selimut.
Pikirannya kembali ke kartu nama yang kini tersimpan di dalam tas lamanya.
Baskara Andhikara.
Ia teringat kalimat itu.
“Semua tunggakan akan saya lunasi besok.”
Besok.
Sesederhana itu bagi pria itu. Bagi Nala, besok terasa seperti jurang yang semakin dekat. Ia menutup mata sejenak. Apakah harga diri lebih penting dari masa depan Kala? Apakah menolak berarti membiarkan adiknya hancur? Atau menerima berarti mengkhianati dirinya sendiri? Pagi itu, untuk pertama kalinya, Nala menyadari Hidup tidak selalu memberi waktu untuk sembuh sebelum meminta keputusan.
Pagi itu Nala tetap melakukan rutinitasnya.
Ia memasak nasi goreng sederhana dengan telur satu butir dibagi dua. Menyeduh teh hangat. Meletakkan piring Kala di meja kecil dekat jendela. Sebelum berangkat, ia menatap adiknya yang masih mengucek mata.
“Makan ya. Jangan lupa masuk kampus,” ucapnya pelan.
Kala hanya mengangguk, belum menyadari badai yang sedang mengitari hidup mereka. Nala berbalik sebelum hatinya goyah. Langkahnya cepat menuju minimarket tempat kerja pertamanya. Seragam sederhana itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena kainnya—tapi karena keputusan yang mulai mengeras di dalam dadanya.
Sepanjang jalan, ia terus berpikir.
Kontrakan.
Tunggakan.
Batas waktu.
Ia tidak punya kemewahan untuk menunggu keajaiban.
Sesampainya di minimarket, ia langsung bekerja seperti biasa. Menyusun barang, mengecek stok, melayani pelanggan dengan senyum profesional yang terlatih. Namun pikirannya tetap terpaku pada satu nama.
Saat toko sedikit sepi, ia mendekati pemilik minimarket.
“Pak… boleh saya pinjam ponsel sebentar? HP saya kemarin dijambret.”
Pemilik itu mengernyit prihatin. “Ya ampun. Iya, pakai aja.” Tangannya sedikit gemetar saat menerima ponsel itu.
Ia mengeluarkan kartu nama dari saku tasnya.
Baskara Andhikara.
Nomor itu terasa seperti garis tipis antara dua kehidupan. Ia menarik napas dalam. Lalu menekan angka satu per satu. Nada sambung terdengar. Setiap bunyinya membuat jantungnya berdetak lebih keras.
Klik.
Suara berat di seberang sana terdengar tenang, seolah ia sudah tahu siapa yang menelepon.
“Ya?”
Nala menelan ludah.
“Ini… Nala.”
Hening sepersekian detik.
“Saya tahu,” jawabnya singkat.
Tentu saja dia tahu.
“Saya ingin bertemu,” lanjut Nala, memaksa suaranya tetap stabil. “Untuk membicarakan… tawaran Bapak.”
Nada di ujung sana berubah sedikit. Bukan hangat—tapi puas.
“Kapan kamu bisa?”
“Hari ini. Setelah saya selesai kerja.”
“Baik. Datang ke kantor saya pukul enam sore. Saya kirim alamatnya ke nomor ini.”
“Tidak perlu,” Nala cepat menjawab. “Saya catat.”
Ia tidak ingin nomor pemilik minimarket itu menerima pesan apa pun Baskara menyebutkan alamatnya dengan jelas. Gedung perkantoran di pusat kota. Dunia yang sangat jauh dari kontrakan sempitnya.
“Saya tunggu,” katanya.
Telepon terputus.
Nala menurunkan ponsel perlahan.
Tangannya dingin.
Bukan karena ia sudah setuju.
Tapi karena ia sadar
Dengan menelepon tadi, ia sudah melangkah satu langkah mendekati dunia yang mungkin tidak bisa ia tinggalkan dengan mudah. Ia mengembalikan ponsel pada pemilik toko.
“Terima kasih, Pak.”
“Udah beres?”
“Iya.”
Ia kembali ke rak minuman. Namun kali ini, ada sesuatu yang berubah. Bukan lagi kebingungan. Melainkan keputusan yang perlahan terbentuk. Bukan demi pria yang mengaku ayahnya. Tapi demi satu orang yang tertidur tanpa tahu betapa tipisnya masa depannya sekarang. Dan untuk pertama kalinya, Nala menerima kenyataan pahit itu Kadang seseorang memilih bukan karena ingin. Tapi karena tidak punya ruang untuk tidak memilih.