NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Baru saja aku hendak menyuap gudeg yang ia bawa, tawa Arlan terhenti seketika. Genggaman tangannya yang tadi hangat mendadak berubah menjadi dingin dan licin karena keringat.

"Lan? Kamu kenapa?" tanyaku, senyumku memudar melihat perubahan drastis di wajahnya.

Arlan tidak menjawab. Wajahnya yang tadi segar kini memucat seputih kertas. Ia mencoba menarik napas panjang, namun dadanya tampak naik turun dengan berat. Sebelah tangannya mencengkeram pinggiran meja kerjaku begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Lan! Jangan bercanda!" Aku bangkit dari kursi, menghampirinya dengan jantung yang mulai berpacu liar.

"Kepalaku... tiba-tiba berputar, Ran," bisiknya parau. Matanya sempat terpejam erat sebelum akhirnya ia kehilangan keseimbangan.

Tubuh Arlan limbung. Beruntung aku sempat menahan bahunya sebelum ia terjatuh dari kursi. Aku segera memapahnya ke sofa panjang di sudut ruangan. Napasnya pendek-pendek, dan bibirnya mulai membiru—pemandangan yang seketika melempar traumaku kembali ke koridor ICU beberapa bulan lalu.

"Maya! Panggil ambulans! Sekarang!" teriakku histeris ke arah interkom.

Aku berlutut di samping sofa, menggenggam tangannya yang gemetar. "Lan, lihat aku! Jangan tutup matamu. Arlan!"

"Maaf... Ran... sepertinya aku terlalu... lelah," gumamnya sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Pikiranku berkecamuk. Apakah ini efek samping dari syok sistem saraf yang dulu ia alami? Ataukah kerja keras membangun Arania Group tiga bulan terakhir ini telah melampaui batas kekuatan fisiknya yang belum pulih total?

Pintu ruanganku terbuka kasar. Bang Haris yang kebetulan sedang berada di kantor langsung berlari masuk. Ia segera memeriksa denyut nadi Arlan.

"Nadinya lemah sekali, Ran. Dia kolaps," ujar Bang Haris tegang.

Rasa mual yang sudah lama hilang itu mendadak muncul lagi. Bukan karena pengkhianatan, tapi karena ketakutan luar biasa akan kehilangan pria yang baru saja kembali ke pelukanku. Di atas meja, kotak gudeg dari Jogja masih terbuka, menebarkan aroma rumah yang kini terasa menyesakkan.

Saat petugas medis masuk dengan tandu, aku teringat pesan Ibu di Jogja: "Jaga hati kalian." Aku sadar, dalam ambisi kami membersihkan sisa-sisa Harva, kami lupa menjaga satu hal yang paling berharga—kesehatan Arlan.

"Kamu harus kuat, Lan. Kita baru saja mulai," bisikku di telinganya saat tandu itu mulai didorong keluar.

Bau rumah sakit yang tajam kembali menusuk indra penciumanku, membawa memori kelam yang seharusnya sudah terkubur. Aku duduk di kursi tunggu yang dingin, menatap pintu putih bertuliskan "Ruang Tindakan" dengan pandangan kosong. Bang Haris berdiri di sampingku, sesekali meremas bahuku mencoba memberi kekuatan yang ia sendiri pun tampak kesulitan mencarinya.

Setelah dua jam yang terasa seperti selamanya, dokter spesialis yang menangani Arlan keluar. Wajahnya tampak sangat serius, membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

"Bu Rania, kondisi Pak Arlan kali ini cukup kompleks," ujar dokter itu sambil membuka rekam medis. "Syok hebat yang dialaminya beberapa bulan lalu ternyata meninggalkan jejak permanen. Ditambah dengan pola kerja yang sangat keras dan tekanan psikis yang ia simpan sendiri, komplikasi lambung kronisnya pecah."

Aku menutup mulut dengan tangan, menahan isak tangis.

"Tidak hanya itu," lanjut dokter, suaranya merendah. "Hasil tes menunjukkan adanya gangguan pada fungsi ginjalnya. Pak Arlan didiagnosis gagal ginjal stadium awal. Tubuhnya tidak lagi mampu menyaring racun dengan sempurna karena kelelahan yang luar biasa dan konsumsi obat-obatan pasca-kritis kemarin yang ternyata berdampak keras pada ginjalnya."

Duniaku runtuh untuk kedua kalinya. Gagal ginjal? Stadium awal? Pria yang baru saja melamarku di Borobudur, pria yang baru saja merencanakan masa depan Arania Group, kini harus bertarung lagi dengan tubuhnya sendiri.

"Ini salahku, Bang..." bisikku pada Bang Haris. "Aku membiarkannya bekerja terlalu keras. Aku membiarkannya memikul beban perusahaan ini demi membuktikan diri pada Ayah."

"Bukan salahmu, Ran. Arlan yang ingin melakukan ini untukmu," hibur Bang Haris, meski matanya juga berkaca-kaca.

Aku diizinkan masuk ke ruang perawatan setelah kondisinya stabil. Arlan terbaring dengan berbagai selang yang lebih banyak dari sebelumnya. Wajahnya yang tirus tampak begitu rapuh. Bau obat-obatan menggantikan aroma gudeg yang tadi siang kami nikmati bersama.

Perlahan, Arlan membuka matanya. Ia melihatku dan mencoba memberikan senyum tipis, meski bibirnya masih pucat pasi.

"Ran... jangan nangis," suaranya hampir tak terdengar, tenggelam di balik masker oksigen.

"Bodoh," makiku pelan sambil menggenggam tangannya yang kini terasa sangat kurus. "Kenapa kamu nggak bilang kalau sakit? Kenapa kamu paksakan semua rapat itu?"

Arlan menggeleng lemah. "Aku cuma mau... jadi laki-laki yang pantas buat kamu. Aku nggak mau Ayahmu menyesal sudah memilihku."

Aku mencium punggung tangannya, air mataku jatuh membasahi sprei rumah sakit. "Kamu sudah lebih dari pantas, Lan. Bahkan tanpa Arania Group, kamu adalah duniaku. Sekarang, lupakan kantor. Lupakan target. Kita akan fokus pada kesembuhanmu. Kalau perlu, kita kembali ke Jogja sekarang juga. "

Arlan memejamkan mata, setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Diagnosa ini berarti hidup kami akan berubah total. Tidak ada lagi lembur sampai malam, tidak ada lagi kopi pahit yang ia gemari, dan mungkin perjalanan panjang menuju cuci darah atau transplantasi jika kami tidak berhati-hati.

Takdir benar-benar sedang menguji seberapa kuat "persatuan" kami. Setelah badai pengkhianatan Harva, kini kami harus menghadapi badai yang jauh lebih nyata: perjuangan melawan raga yang mulai menyerah.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!