NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Labirin Tulang

Ranah Antara adalah tempat di mana waktu berhenti berdetak dan harapan menjadi barang yang sangat mahal.

Di sini, langit tidak berwarna biru maupun hitam, melainkan abu-abu pekat yang menyesakkan, seolah-olah seluruh debu dari kehancuran dunia dikumpulkan di atas sana.

Tanah tempat Wira Wisanggeni berpijak bukanlah tanah biasa, melainkan hamparan fosil makhluk purba dan reruntuhan senjata para dewa yang telah patah.

Wira terbatuk, memuntahkan sisa-sisa energi emas yang masih terasa panas di tenggorokannya.

Rambutnya yang kembali hitam tampak berantakan, dan jubah putih keemasannya kini compang-camping, ternoda oleh darah dan debu Ranah Antara. Namun, seiring dengan kembalinya warna matanya yang jernih, ingatannya pun mulai tersusun kembali seperti kepingan teka-teki yang jatuh dari langit.

"Ubi bakar... Hutan Terlarang... Guru... dan Sekar," gumam Wira, suaranya parau namun mantap.

Ia mencoba berdiri, namun lututnya terasa lemas. Menghancurkan inti kedewaan di Paviliun Sunyi adalah tindakan gila yang nyaris merenggut nyawanya.

Secara fisik, ia kembali menjadi manusia, namun ia bisa merasakan bahwa sisa-sisa energi dewa dan iblis masih bersembunyi di dalam sumsum tulangnya, menunggu untuk dipicu.

Grrrr...

Seketika, suara geraman rendah terdengar dari balik bukit tulang di depannya. Satu per satu, sepasang mata merah menyala muncul dari kegelapan.

Mereka adalah Ghouls Kelaparan, makhluk-makhluk yang dulunya adalah pendekar sakti namun terjebak di Ranah Antara dan kehilangan akal budi mereka.

"Aduh, paman-paman semua," ucap Wira sambil menyeringai tipis, mencoba membangkitkan gaya konyolnya meski tubuhnya remuk.

"Saya baru saja jatuh dari langit, badan saya masih pegal semua. Bisa tidak kalau kita tunda acara makannya sampai saya menemukan tukang pijat di sekitar sini?"

Makhluk-makhluk itu tidak menjawab. Mereka melompat serentak, kuku-kuku panjang mereka berkilau tajam di bawah cahaya abu-abu.

Wira dengan sigap meraih sepotong tulang paha raksasa yang tergeletak di dekatnya.

Meski tanpa pedang hitam-birunya, insting bertarung yang ditempa Dewi Shinta selama bertahun-tahun masih mengalir di otot-ototnya.

Plak! Duk! Brakk!

Wira bergerak seperti bayangan, menggunakan tulang raksasa itu untuk memukul mundur para Ghoul. Setiap gerakannya efisien, tanpa tenaga yang terbuang sia-sia. Namun, jumlah mereka terus bertambah.

"Wah, wah, sepertinya kalian benar-benar lapar ya? Sayangnya, dagingku agak pahit karena kebanyakan makan jamur hutan!"

Tiba-tiba, sebuah ledakan energi perak menghantam kerumunan Ghoul dari arah belakang.

Makhluk-makhluk itu terpental, hancur menjadi debu hitam. Wira menoleh dan melihat sesosok pria tua dengan jubah abu-abu compang-camping berdiri di atas bongkahan batu besar.

Pria itu memegang sebuah tongkat kayu yang bentuknya sangat mirip dengan milik Wira dulu.

"Berhenti bermain-main, Bocah Wisanggeni. Ranah Antara bukan tempat untuk melucu," ucap pria tua itu dengan nada dingin.

Wira mengernyitkan dahi. "Siapa kau, Paman Tua? Dan bagaimana kau tahu namaku?"

Pria tua itu melompat turun dengan ringan, mendarat tepat di depan Wira.

"Namaku tidak penting. Tapi kau bisa memanggilku Sang Penjaga Sisa. Aku adalah mereka yang dibuang karena menolak mematuhi tirani Brahma Wijaya ribuan tahun lalu." jawabnya menjelaskan.

Wira menatap pria itu dengan saksama.

"Jadi kau juga musuh kakek-kakek sombong itu? Baguslah, setidaknya seleraku dalam memilih musuh tidak pernah salah." jawab Wira masih tidak serius.

"Jangan senang dulu," potong Sang Penjaga Sisa.

"Kau menghancurkan inti kedewaanmu, itu tindakan berani namun bodoh. Kau sekarang berada di ambang kematian. Jika kau tidak segera menyatukan kembali energi yang tercerai-berai di dalam tubuhmu, kau akan menjadi salah satu dari Ghoul itu dalam hitungan jam."

Wira terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil. "Menjadi Ghoul sepertinya membosankan. Mereka tidak bisa membedakan mana ubi mana batu. Jadi, bagaimana caranya agar aku tetap menjadi manusia tampan ini, Paman?"

Sang Penjaga Sisa menunjuk ke sebuah lembah yang diselimuti api biru di kejauhan. "Di sana terdapat Sumur Jiwa. Kau harus masuk ke dalamnya dan mengambil kembali inti sukmamu yang sempat tercecer saat kau jatuh. Tapi ingat, di dalam sumur itu, kau akan menghadapi ketakutan terbesarmu. Jika jiwamu goyah, kau akan tenggelam selamanya."

Sementara itu, di batas antara Alam Bumi dan Alam Dewa, terdapat sebuah tempat yang disebut Tangga Pendakian Pertama.

Tempat ini adalah gerbang yang dijaga oleh ribuan prajurit surgawi berpangkat rendah.

Sekar Arum berdiri di depan gerbang raksasa itu. Rambut peraknya berkibar ditiup angin kencang yang berasal dari tekanan aura gerbang tersebut.

Di tangannya, Pedang Pemutus Takdir memancarkan cahaya biru yang sangat tajam, seolah haus akan darah para dewa.

"Berhenti, Manusia!" teriak seorang komandan penjaga gerbang yang mengenakan zirah perunggu.

"Ranah ini tidak terbuka bagi makhluk fana! Kembali ke bumimu sebelum kami menghapus keberadaanmu dari sejarah!"

Sekar tidak berhenti melangkah. Setiap pijakannya di tangga batu menciptakan retakan kecil.

"Aku tidak datang untuk bicara. Aku datang untuk menjemput seseorang yang kalian culik."

"Lancang! Serang dia!" perintah sang komandan.

Ratusan prajurit meluncur turun dari langit, senjata mereka memancarkan cahaya emas yang menyilaukan. Sekar menarik napas dalam, membiarkan energi Ranah Emas-nya meledak.

"Jurus Tebasan Bulan Sabit, Pemutus Awan!"

Sekar mengayunkan pedangnya dalam satu lingkaran lebar. Gelombang energi biru menyapu barisan prajurit surgawi tersebut, mementalkan mereka seperti daun kering yang diterjang badai. Kecepatan dan kekuatan Sekar kini benar-benar telah melampaui batas kemanusiaan.

"Wira... tunggu aku," bisik Sekar di tengah denting senjata yang beradu.

"Aku akan menghancurkan gerbang-gerbang ini satu per satu sampai aku menemukanmu. Dan saat itu terjadi, kau tidak akan punya pilihan selain mengingat siapa aku!"

Kembali ke Ranah Antara, Wira telah sampai di tepi Sumur Jiwa. Api biru yang keluar dari sumur itu tidak terasa panas, melainkan sangat dingin, hingga membuat tulang-tulang Wira terasa membeku.

"Paman Penjaga, kalau aku tidak keluar lagi, tolong buatkan nisan yang bagus ya. Tulis di sana, 'Di sini berbaring pendekar paling tampan yang pernah ada'," ucap Wira sambil bersiap melompat.

Sang Penjaga Sisa hanya menatapnya dengan pandangan datar. "Lompatlah, atau Ghoul-Ghoul itu yang akan melakukannya untukmu."

Wira melompat ke dalam pusaran api biru. Seketika, dunianya berubah. Ia tidak lagi berada di Ranah Antara, melainkan kembali ke malam tujuh tahun yang lalu. Ia melihat rumahnya yang terbakar. Ia melihat ayah dan ibunya tergeletak di tanah. Dan ia melihat dirinya sendiri yang masih kecil, menangis ketakutan di bawah semak-semak.

"Ini hanya ilusi... ini hanya ilusi..." gumam Wira, mencoba memejamkan mata.

Namun, bayangan itu berubah. Ia melihat Adipati Kalingga berdiri di atas mayat orang tuanya, tertawa dengan suara yang sangat nyaring. Lalu, sosok Kalingga berubah menjadi Mahesa, lalu berubah menjadi Brahma Wijaya.

"Kau lemah, Wira! Kau hanya bisa melucu karena kau takut menghadapi kenyataan!" suara Brahma Wijaya bergema di dalam kepalanya.

"Kau membiarkan semua orang yang kau sayangi menderita karena kau pengecut! Kau lebih memilih melupakan mereka daripada menanggung rasa sakitnya!"

Wira berteriak, memegangi kepalanya. Api biru mulai merambat ke tubuhnya, mencoba melahap jiwanya.

Di tengah keputusasaan itu, ia mendengar suara lain. Suara yang lembut, suara yang pernah ia dengar di perbatasan Hutan Terlarang.

"Wira... jangan dengarkan mereka."

Itu adalah suara Sekar.

"Rasa sakit itu bukan kelemahanmu. Rasa sakit itu adalah bukti bahwa kau memiliki sesuatu yang berharga untuk diperjuangkan. Bangunlah, Bocah Hutan... ubi bakarnya sudah matang."

Wira membuka matanya. Cahaya biru langit di matanya meledak dengan kekuatan yang luar biasa. Ia melihat sebuah bola cahaya kecil yang melayang di dasar sumur, itu adalah inti sukmanya yang hancur.

"Aku bukan pengecut... aku adalah Wira Wisanggeni!"

Wira mencengkeram bola cahaya itu. Energi murni kembali mengalir ke dalam tubuhnya, namun kali ini ia tidak membiarkan energi itu menguasainya. Ia menyatukan energi dewa, energi iblis, dan kemanusiaannya menjadi satu kesatuan yang baru.

BUM!

Wira melesat keluar dari Sumur Jiwa. Tubuhnya kini dikelilingi oleh aura putih transparan yang sangat stabil. Ia tidak lagi memiliki sayap hitam, ia tidak lagi memiliki rambut perak. Ia tampak seperti manusia biasa, namun setiap gerakannya kini membawa berat dari tiga alam yang berbeda.

Sang Penjaga Sisa tampak terkejut.

"Kau... kau berhasil menyelaraskannya? Tanpa menjadi dewa maupun iblis?" ucap Penjaga itu dengan terkejut.

Wira mendarat dengan tenang, ia merenggangkan otot-ototnya.

"Yah, ternyata berdamai dengan masa lalu itu lebih melelahkan daripada bertarung dengan ribuan prajurit, Paman." jawab Wira dengan santai.

"Sekarang, tunjukkan padaku jalan keluar dari tempat abu-abu ini. Aku punya janji makan siang yang sudah sangat terlambat."

Sang Penjaga Sisa menunjuk ke arah sebuah menara tinggi yang tampak seperti fatamorgana di ujung cakrawala.

"Itu adalah Menara Kesunyian. Di puncaknya terdapat lubang cacing yang terhubung langsung dengan batas tabir Bumi. Tapi, menara itu dijaga oleh Penjagal Ranah Antara, makhluk yang memakan dewa-dewa yang jatuh."

Wira tersenyum lebar, senyum yang kali ini terasa sangat tulus dan penuh percaya diri. "Penjagal, ya? Baguslah, aku butuh sedikit latihan sebelum kembali ke istana kakek sombong itu."

Namun, di Bumi, ritual Adipati Kalingga telah mencapai puncaknya. Tanah Galuhwati terbelah, dan dari dalamnya keluar sebuah tangan raksasa berwarna merah darah yang memegang sebuah gada berduri yang sangat besar. Raja Iblis purba telah bangun, dan target pertamanya adalah Tangga Pendakian Pertama tempat Sekar Arum sedang bertarung.

Adipati Kalingga tertawa di atas bukit. "Hancurkan gerbang surga! Biarkan darah para dewa membasahi bumi!"

Wira, yang mulai berlari menuju Menara Kesunyian, tiba-tiba berhenti. Ia merasakan guncangan hebat di bawah kakinya. Instingnya mengatakan bahwa Sekar dalam bahaya besar.

"Sekar... bertahanlah sedikit lagi!"

Wira mempercepat larinya, berubah menjadi kilatan cahaya putih yang membelah kegelapan Ranah Antara. Namun, di depannya, sesosok makhluk raksasa setinggi sepuluh meter dengan empat lengan dan mata yang memenuhi seluruh wajahnya menghalangi jalan. Itulah Sang Penjagal.

"Kau... tidak boleh... lewat..." suara Penjagal itu meruntuhkan bukit-bukit tulang di sekitarnya.

Wira menggenggam tulang raksasanya erat-erat, yang kini perlahan berubah menjadi bentuk pedang akibat dialiri energinya. "Paman Penjagal, maaf ya. Aku sedang buru-buru. Kalau Paman tidak mau minggir, terpaksa aku jadikan Paman sebagai jembatan!"

Di saat yang sama, di gerbang surga, Sekar Arum terdesak oleh kedatangan pasukan iblis dari arah belakangnya dan pasukan dewa dari arah depannya. Ia terjepit di tengah-tengah dua kekuatan besar yang saling membenci.

"Wiraaaaa!" teriak Sekar saat sebuah gada raksasa iblis hampir menghujamnya.

Tepat pada saat kritis itu, langit di atas gerbang surga retak. Sebuah lubang cahaya putih terbuka, dan sesosok pemuda meluncur turun dengan kecepatan yang membelah udara.

BOOM!

Debu beterbangan, menutupi seluruh pandangan. Saat debu menipis, terlihat Wira Wisanggeni berdiri tegak di depan Sekar Arum, menahan gada raksasa iblis hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang sebuah tulang yang memancarkan cahaya biru langit.

"Maaf ya, Kak Sekar. Ubi bakarnya mungkin sudah agak dingin sekarang," ucap Wira sambil menoleh ke arah Sekar dan memberikan kedipan mata yang konyol.

Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Di belakang mereka, gerbang Alam Dewa terbuka sepenuhnya, dan Dewa Brahma Wijaya muncul dengan kemarahan yang bisa menghancurkan dunia.

"Wisanggeni! Kau kembali hanya untuk mati di tangan kami!"

Wira menatap ke depan ke arah pasukan Iblis, lalu menatap ke belakang ke arah pasukan Dewa. Ia terjebak di tengah kiamat yang sesungguhnya.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!