NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Detak Baru di Menara Mahesa

Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca besar gedung Mahesa Group, memberikan rona keemasan pada lobi yang dulu terasa dingin dan kaku. Suasananya telah berubah. Tidak ada lagi bisik-bisik sinis. Saat Shafira melangkah masuk, ia tidak lagi disambut dengan pandangan merendahkan, melainkan dengan anggukan hormat dari rekan-rekan sejawatnya.

Namun, bagi Shafira, tantangan sebenarnya bukanlah menghadapi musuh, melainkan menghadapi perubahan sikap sang CEO.

Dave Mahesa berdiri di balkon kantornya, memperhatikan Shafira dari kejauhan. Ia bukan lagi pria yang mengukur segala sesuatu dengan angka. Sekarang, ia memiliki variabel baru dalam hidupnya yang tidak bisa dipecahkan dengan rumus kalkulus manapun: Rasa.

Dave mulai menerapkan "strategi" baru. Ia tidak lagi memanggil Shafira melalui interkom dengan suara dingin. Ia memilih untuk berjalan sendiri menuju meja Shafira di divisi keuangan—sebuah tindakan yang membuat satu lantai menahan napas.

"Shafira," panggil Dave lembut. Ia berdiri di depan mejanya, menjaga jarak satu meter yang sangat ia hormati. "Laporan Rumah Belajar yang kau susun... ada satu bagian yang belum saya mengerti."

Shafira mendongak, merapikan jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi. "Bagian mana, Pak? Saya rasa rincian donasinya sudah cukup transparan."

"Bukan soal angkanya," Dave tersenyum tipis, sebuah senyum yang kini lebih sering muncul. "Tapi soal visinya. Bisakah kita mendiskusikannya sambil makan siang? Ada sebuah tempat kecil yang tenang, bukan restoran mewah, saya tahu kamu tidak terlalu suka itu."

Shafira terdiam. Ia melihat kesungguhan di mata Dave. "Pak Dave, jika ini soal pekerjaan, saya bersedia. Tapi jika ini... cara Bapak untuk membalas budi atas apa yang terjadi pada Ayah saya, tolong jangan lakukan."

Dave sedikit tertawa, suara rendahnya terdengar sangat hangat. "Ini bukan balas budi, Shafira. Ini adalah upaya seorang pria yang sedang mencoba memahami dunia yang kau yakini. Dunia yang jauh lebih indah daripada angka-angka di layar ini."

Perjuangan Dave tidak berhenti di situ. Ia mulai belajar bahwa memenangkan hati Shafira berarti memenangkan prinsip-prinsipnya.

* Langkah 1: Menghargai Batasan. Dave memerintahkan renovasi kecil di lantai keuangan untuk menyediakan ruang shalat yang lebih luas dan nyaman, tanpa menyebutkan itu atas permintaan siapapun.

* Langkah 2: Perhatian pada Detail. Saat lembur, Dave tidak lagi memesan steik mewah. Ia akan memesan kudapan tradisional kesukaan Shafira dan meletakkannya di meja depan melalui sekretarisnya dengan catatan kecil: "Bekerja keraslah, tapi jangan lupa bahwa tubuhmu memiliki hak untuk beristirahat."

* Langkah 3: Pendekatan Keluarga. Dave sering mampir ke rumah sakit untuk menemui Pak Rahman, bukan hanya sebagai bos, tapi sebagai murid yang ingin belajar tentang kesabaran.

Suatu sore, saat kantor mulai sepi, Dave mendapati Shafira masih berkutat dengan berkasnya. Ia mendekat, membawa satu cup kopi hangat dan satu cup cokelat hangat untuk Shafira.

"Kenapa Bapak masih di sini?" tanya Shafira heran.

"Saya sedang menghitung probabilitas," ujar Dave santai sambil menyandarkan bahunya di pilar dekat meja Shafira.

"Probabilitas apa?"

Dave menatap Shafira dalam-dalam. "Probabilitas bagi seorang pria yang memiliki masa lalu yang berantakan, untuk bisa berjalan di samping wanita yang memiliki masa depan yang bercahaya seperti kamu. Dalam logikaku, variabelnya adalah C (Cinta) dibagi dengan G (Gengsi)."

Probabilitas \= \frac{C}{G} \times \text{Keberanian}

Shafira tersipu, rona merah tipis muncul di pipinya. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Pak Dave... rumus Bapak salah. Variabel terpentingnya bukan keberanian, tapi Ketentuan-Nya."

Namun, di tengah benih cinta yang mulai tumbuh, Mahesa Group tidak sepenuhnya aman. Meskipun Bu Sarah telah dinonaktifkan, pengaruhnya masih mengakar di beberapa direksi.

Seorang manajer senior, Pak Wijaya, yang merupakan tangan kanan Bu Sarah yang tersisa, sedang mengawasi interaksi Dave dan Shafira dari balik pintu kaca. Ia memegang sebuah berkas tentang rencana ekspansi yang selama ini dirahasiakan oleh Bu Sarah.

"Biarkan saja mereka bermesraan," bisik Pak Wijaya pada teleponnya. "Semakin Dave lengah karena gadis itu, semakin mudah bagi kita untuk mengeksekusi pengambilalihan aset di Singapura. Bu Sarah mungkin di penjara, tapi kerajaan ini tetap milik kami."

Saat Shafira hendak pulang, hujan deras mengguyur Jakarta. Dave sudah menunggu di lobi dengan sebuah payung hitam besar.

"Saya antar," ujar Dave.

"Pak Dave, saya bisa naik taksi online," tolak Shafira halus.

"Ini bukan permintaan atasan, Shafira. Ini permintaan dari seorang pria yang ingin memastikan harta paling berharga di perusahaannya sampai ke rumah dengan selamat," Dave membukakan pintu mobilnya dengan sangat elegan.

Di dalam mobil, dalam keheningan yang ditemani suara rintik hujan, Dave bicara tanpa menoleh, suaranya sangat tulus. "Shafira, aku tahu jalan ini tidak mudah. Aku tahu perbedaanku denganmu seperti langit dan bumi. Tapi maukah kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diriku, selangkah demi selangkah, agar suatu saat aku layak berdiri di depan Ayahmu untuk memintamu secara benar?"

Shafira menoleh ke jendela, menyembunyikan detak jantungnya yang menggila. Ia menyadari satu hal: Dave Mahesa tidak sedang melakukan transaksi bisnis. Ia sedang menyerahkan seluruh hatinya untuk dinegosiasikan.

"Pak Dave," bisik Shafira pelan. "Laki-laki yang hebat bukan dia yang mampu membeli segalanya, tapi dia yang mampu menundukkan egonya di hadapan Tuhannya. Jika Bapak bisa melakukan itu, Bapak tidak perlu bertanya soal kesempatan."

Dave tersenyum. Ia tahu, perjuangannya baru saja dimulai, dan ia tidak akan pernah menyerah.

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!