NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Seminggu kemudian, sebuah kotak besar tiba di depan pintu apartemen Lia. Di dalamnya terdapat gaun midi berwarna biru dongker yang elegan namun tetap sederhana, lengkap dengan sepasang sepatu hak tinggi yang pas di kakinya. Regas benar-benar memperhatikan segalanya. Namun, saat Lia bercermin, ia tidak merasa seperti dirinya sendiri. Ia merasa seperti seorang penyusup yang mencoba masuk ke dalam kastil yang bukan miliknya.

"Kamu cantik sekali, Lia," puji Regas saat menjemputnya. Malam itu, Regas mengenakan setelan jas formal yang membuatnya terlihat sepuluh tahun lebih dewasa. Aura "Pangeran Teknik" yang dulu ramah di kantin sastra, kini berganti menjadi aura pengusaha muda yang penuh kuasa.

Perjalanan menuju rumah keluarga Adhitama dilewati Lia dalam keheningan yang menyesakkan. Saat mobil melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat, jantung Lia berdegup dua kali lebih cepat. Rumah itu bukan lagi sebuah rumah, melainkan istana dingin dengan pilar-pilar putih yang menjulang tinggi.

"Ingat janji aku, kan? Aku akan melindungimu," bisik Regas, menggenggam tangan Lia sesaat sebelum mereka turun.

Lia mengangguk lemah. Namun, saat melangkah masuk ke ruang makan yang luas, keberaniannya menciut. Di sana, di balik meja panjang yang dipenuhi peralatan makan kristal, duduk dua sosok yang wajahnya sering muncul di televisi. Tuan dan Nyonya Adhitama.

"Jadi, ini mahasiswi Sastra yang sering kamu bicarakan, Regas?" Suara Nyonya Adhitama memecah keheningan, nada suaranya sehalus sutra namun sedingin es.

Regas menarik kursi untuk Lia. "Iya, Ma. Ini Azzalia Caesarea. Dia mahasiswi terbaik di angkatannya."

Makan malam itu terasa seperti interogasi. Setiap denting garpu dan sendok yang beradu dengan piring porselen seolah menjadi penghitung mundur kehancuran Lia.

"Sastra..." Nyonya Adhitama meletakkan gelas anggurnya, matanya menatap Lia dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Jurusan yang indah untuk mereka yang memiliki banyak waktu luang. Tapi, di keluarga kami, kami butuh seseorang yang bisa membantu Regas mengelola aset, bukan seseorang yang hanya pandai menulis puisi."

"Mama," tegur Regas pelan, namun ibunya tetap melanjutkan.

"Lia, kudengar kamu sekolah dengan beasiswa? Dan orang tuamu sudah tidak ada?" tanyanya tanpa ekspresi.

Lia berusaha tetap tegar. "Benar, Tante. Saya hidup mandiri sejak SMA."

"Mandiri itu bagus. Tapi mandiri saja tidak cukup untuk masuk ke lingkaran kami," lanjut Nyonya Adhitama. "Regas baru saja lulus, masa depannya masih sangat panjang. Ia butuh koneksi, butuh pasangan yang setara agar perusahaannya semakin kuat. Bukan beban yang hanya bisa menunggunya di apartemen kecil setiap akhir pekan."

Lia merasa oksigen di ruangan itu menghilang. Ia menoleh ke arah Regas, berharap pria itu akan membela seperti janjinya. Regas memang mencoba mendebat ibunya, mereka sempat berselisih paham di depan meja makan, namun Lia sadar satu hal: di rumah ini, Regas tetaplah seorang putra yang harus patuh.

Malam itu, saat Regas mengantarnya pulang, keheningan di mobil terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang nyaman, tapi keheningan yang penuh dengan tembok besar.

"Maafkan Mama, Lia. Dia cuma butuh waktu—"

"Tidak, Kak," potong Lia pelan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. "Beliau benar. Aku hanya mahasiswi sastra yang hidup dari beasiswa. Kita... kita memang berbeda dunia."

Sejak malam itu, Lia mulai menarik diri. Ia mulai mematikan ponselnya saat jam sarapan tiba. Ia sengaja menghindari perpustakaan. Dan tepat saat ia merasa dunianya hancur, sebuah email masuk ke kotak pesannya:

"Selamat, Anda Diterima Sebagai Penerima Beasiswa Sastra di London."

Itu adalah mimpinya. Mimpinya sebelum ia bertemu Regas. Kini, beasiswa itu terasa seperti pelarian yang Tuhan berikan tepat pada waktunya. Lia menatap layar laptopnya dengan perasaan hancur sekaligus mantap. Ia akan meletakkan tanda titik di sini, demi menjaga harga dirinya yang tersisa.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!