Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Tatapan di Balik Rak Buku
Suasana perpustakaan siang itu sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding dan gesekan lembaran kertas. Karline duduk di pojok ruangan, di meja yang paling tersembunyi, berusaha menenangkan pikirannya setelah insiden gerbang kemarin. Ia sedang asyik membaca buku Kimia Organik saat sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupi cahaya lampunya.
Karline tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum maskulin yang segar namun kuat itu sudah cukup menjadi penanda.
"Hebat juga ya. Satu sekolah masih heboh soal tendangan maut itu, dan orangnya malah santai baca buku di sini," suara berat Dean memecah keheningan.
Karline tetap diam, matanya tidak beralih dari barisan rumus di hadapannya.
"Lo beneran nggak punya rasa takut, ya?" Dean menarik kursi di depan Karline tanpa izin, duduk dengan posisi santai namun mengintimidasi. "Arlan masih nggak masuk sekolah hari ini. Kayaknya dia butuh waktu buat... menyembuhkan harga dirinya."
Karline menghela napas pelan, lalu menutup bukunya dengan suara yang cukup keras. Ia menatap Dean datar di balik maskernya. "Apa Kak Dean mau ditendang juga?"
Dean tidak terkejut. Ia justru menyunggingkan senyum sinis yang terlihat menantang. "Coba aja kalau berani. Gue bukan Arlan yang gerakannya gampang ditebak."
"Kalau begitu, silakan pergi. Saya sedang sibuk," sahut Karline dingin.
Namun, Dean tidak bergerak. Ia justru mulai mengoceh, mengejek cara berpakaian Karline yang masih saja tertutup meski semua orang sudah tahu rahasia bentuk tubuhnya. Dean terus memancing emosi Karline, berbicara tentang betapa anehnya seseorang yang terus bersembunyi di balik kain hitam.
Karline kembali membuka bukunya, mengabaikan setiap kata yang keluar dari mulut Dean seolah cowok itu hanyalah suara bising di latar belakang. Sikap cuek Karline yang luar biasa ini membuat darah Dean mendidih. Sebagai kapten voli yang selalu dipuja, ia tidak terbiasa diabaikan sebegini rupa.
Brak!
Dean menggebrak meja dengan sangat keras menggunakan telapak tangannya. Beberapa siswa di rak seberang tersentak kaget, bahkan ada yang diam-diam mengeluarkan ponsel untuk merekam kejadian langka itu dari balik tumpukan buku.
"Dengerin kalau gue lagi ngomong!" bentak Dean rendah, matanya berkilat marah. "Lo pikir karena lo bisa bela diri, lo bisa seenaknya cuekin orang? Gue bisa bikin hidup lo di sekolah ini jauh lebih sulit dari yang Clarissa lakuin."
Karline perlahan berdiri. Meskipun posturnya lebih pendek dari Dean yang menjulang tinggi, ia tidak terlihat gentar sedikit pun. Ia menantang tatapan Dean dengan mata yang tajam.
Pada saat itulah, Dean terpaku. Dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari betapa indahnya mata gadis di depannya. Bulu mata Karline yang hitam, lentik, dan sangat panjang membingkai mata yang terlihat jernih namun penuh tekad. Ada getaran aneh yang mendadak menyerang jantung Dean saat melihat detail itu, namun ia dengan cepat menepisnya dengan amarah.
"Aku tidak takut padamu sedikit pun," ucap Karline dengan penekanan di setiap kata. Ia sengaja tidak menyebut nama Dean, seolah cowok itu tidak cukup penting untuk diingat namanya. "Bahkan sekalipun kamu membawa gengmu yang nakal dan tidak teratur itu, aku tidak peduli. Kamu mau jadi kapten voli atau apalah, itu urusanmu. Yang terpenting, jangan urus hidupku. Urus saja hidupmu sendiri yang membosankan itu."
Wajah Dean memerah. "Apa lo bilang? Membosankan?"
"Ya. Hidup yang cuma berisi pujian dan mencari masalah dengan orang lain itu membosankan," lanjut Karline tajam.
Emosi Dean meledak. Ia secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Karline dengan kuat, mencegah gadis itu pergi. "Lo nggak tahu apa-apa soal gue!"
Karline meringis kecil. Cengkeraman tangan atlet voli itu benar-benar kuat seperti lilitan besi. "Lepas. Sakit."
Dean tidak melepaskannya. Ia justru menarik Karline sedikit lebih dekat, merundukkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Nafas Dean terasa hangat di dahi Karline yang tertutup topi.
"Jangan pernah ngeremehin gue lagi, Karline," bisik Dean dengan nada mengancam yang sangat dalam, matanya menatap tajam ke dalam mata Karline yang jernih. "Gue bakal pastikan lo nggak akan bisa lupain nama gue mulai hari ini."
Karline menatap balik dengan kebencian yang nyata. Dengan satu sentakan kasar dan teknik melepaskan diri yang ia pelajari, ia menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman Dean.
"Jangan pernah sentuh aku lagi," desis Karline.
Tanpa menunggu balasan, Karline menyambar bukunya dan berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Dean yang masih berdiri mematung di tengah perpustakaan. Dean mengepalkan tangannya yang terasa kosong, menatap punggung Karline yang menghilang di balik pintu.
Di sudut lain, sekelompok siswa yang sejak tadi merekam kejadian itu saling berbisik penuh semangat. Video "Pertarungan Kapten Voli vs Gadis Misterius" dipastikan akan menjadi berita paling panas di grup angkatan malam ini.
Dean tidak peduli dengan penonton. Ia hanya merasa kesal pada dirinya sendiri karena sempat terpesona oleh bulu mata lentik milik gadis yang baru saja menghinanya itu.