NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 6

Mira melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu, membiarkan udara panas Jakarta menerpa wajahnya yang kaku. Ia tidak langsung pulang. Kakinya membawanya menuju kawasan Sektor Tujuh—pemukiman padat di balik tembok beton proyek Nusantara Group. Di sana, bau masakan rumahan dan suara tawa anak-anak yang berlari di gang sempit terasa begitu kontras dengan keheningan mematikan di ruang rapat tadi.

Baru saja ia melewati gapura kayu yang mulai rapuh, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingnya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah Arkan yang tampak cemas.

"Mira! Kenapa kau di sini sendirian? Romano bisa saja mengirim orang untuk mengawasimu," Arkan keluar dari mobil, mencoba meraih lengan Mira, namun gadis itu secara refleks menghindar.

Mira menatap Arkan dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. "Data yang kau kirim semalam, Arkan... ada selisih nilai valuasi tanah di blok utara. Kenapa angka dari kantormu jauh lebih rendah dari nilai pasar yang baru saja aku cek di lapangan?"

Arkan terdiam sejenak, matanya berkedip cepat. "Itu... itu angka konservatif, Mira. Aku ingin melindungimu. Jika kau mengajukan angka terlalu tinggi, direksi akan langsung menolakmu. Aku mencoba membuat rencanamu terlihat masuk akal di mata para hiu itu."

"Atau kau mencoba membuat warga merasa ganti rugi kecil adalah pilihan terbaik agar mereka segera menyerah?" suara Mira merendah, dingin.

"Mira, apa yang kau katakan? Aku di pihakmu!" Arkan menaikkan nada suaranya, tampak terluka. "Siapa yang memberimu ide gila itu? Romano? Dia sedang meracuni pikiranmu agar kau tidak mempercayai siapa pun kecuali dia!"

Mira teringat pesan singkat dari nomor tidak dikenal itu. Jangan percaya pada pengacara itu. Ia ingin bertanya, namun suara klakson keras dari arah belakang mengejutkan mereka berdua. Sebuah SUV mewah berwarna gelap—milik Romano—berhenti beberapa meter dari mereka. Romano tidak turun, namun keberadaannya terasa seperti predator yang sedang mengawasi wilayahnya.

Arkan mendengus kasar. "Lihat? Dia selalu mengikutimu. Mira, ikut aku sekarang. Kita bisa membicarakan ini di tempat yang aman. Aku punya bukti bahwa Romano sengaja memalsukan izin lingkungan proyek ini."

Mira menoleh ke arah mobil Romano, lalu kembali ke Arkan. Ia merasa terjepit di antara dua kekuatan yang sama-sama ingin mengendalikannya. Satu menggunakan rantai emas, yang lain menggunakan jubah pahlawan.

"Simpan buktimu, Arkan. Aku akan menemuimu besok di kantormu," ucap Mira tegas. "Tapi hari ini, aku ingin bicara dengan warga sebagai diri sendiri. Bukan sebagai direktur, bukan sebagai informanmu."

Mira berbalik dan masuk ke dalam labirin gang Sektor Tujuh, meninggalkan Arkan yang terpaku di pinggir jalan. Dari kejauhan, ia bisa merasakan sorot mata Romano yang terus mengikuti punggungnya dari balik kaca mobil yang gelap.

Saat ia sampai di depan rumah tuanya yang catnya sudah mengelupas, ia melihat ayahnya sedang duduk di teras, memandangi tanaman cabai dalam pot. Sang ayah menoleh, tersenyum lemah. "Mira... kau pulang? Ayah dengar orang-orang besar itu mulai mengirim surat lagi. Apakah kali ini kita benar-benar harus pergi?"

Mira berlutut di depan ayahnya, menggenggam tangan pria tua yang kasar itu. "Tidak, Ayah. Kali ini, kita yang akan memiliki mereka."

Ponsel Mira bergetar. Sebuah pesan baru masuk, kali ini dengan lampiran foto: Arkan sedang berjabat tangan dengan salah satu direktur saingan Nusantara Group di sebuah restoran mewah. Keterangan fotonya singkat: Dia tidak menyelamatkan rumahmu, dia sedang menegosiasikan komisinya.

Mira mematikan layar ponselnya. Napasnya memburu. Ia menyadari bahwa di papan catur ini, ia tidak punya sekutu. Jika ia ingin menang, ia harus menjadi lebih kejam dari Romano dan lebih licik dari Arkan.

Mira mengeratkan pegangan pada ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Foto di layar itu bukan sekadar informasi; itu adalah belati yang menghujam sisa-sisa kepercayaannya pada dunia. Arkan, pria yang selama ini menjadi tempatnya mengadu tentang kekejaman Romano, ternyata hanyalah pemain lain yang menunggu giliran untuk berpesta di atas tanah ayahnya.

Sebuah bayangan panjang jatuh menutupi kakinya. Mira mendongak dan menemukan Romano sudah berdiri di sana, hanya beberapa langkah dari teras rumah ayahnya. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, menatap rumah kecil itu dengan pandangan yang tidak lagi menghina, melainkan penuh perhitungan.

"Kenyataan memang pahit, bukan?" suara Romano memecah keheningan, rendah dan tanpa nada mengejek yang biasanya. "Si pahlawan hukum itu ternyata hanya pedagang yang menggunakan moralitas sebagai etalasenya."

Mira berdiri, menyeka debu di blazernya. "Kau yang mengirim foto itu."

"Aku hanya mempercepat proses pendewasaanmu, Mira," Romano mendekat, mengabaikan tatapan bingung ayah Mira yang masih duduk di kursi kayu. "Arkan bekerja untuk kompetitorku. Jika Nusantara Group gagal mengambil lahan ini karena masalah hukum yang dia ciptakan, perusahaan lawan akan masuk dengan harga yang lebih rendah dan menggusur warga tanpa ampun. Dia mendapatkan komisi, dan kau tetap kehilangan rumahmu."

Mira menoleh ke arah ayahnya, lalu kembali ke Romano. "Lalu apa bedanya kau dengannya? Kau juga ingin menggusur mereka."

"Bedanya adalah," Romano berhenti tepat di depan Mira, "aku memberimu kesempatan untuk membuktikan bahwa rencanamu bisa berhasil. Aku tidak butuh komisi receh, Mira. Aku butuh ekosistem bisnis yang stabil. Jika 'investasi manusia'-mu itu memang bisa menghasilkan uang, aku akan mendukungnya. Tapi jika kau hanya bicara kosong..."

"Aku tidak bicara kosong," potong Mira tajam. Ia kemudian berpaling kepada ayahnya. "Ayah, panggil Pak RT dan tokoh masyarakat lainnya. Aku ingin bicara dengan mereka sekarang. Di sini, di teras ini."

Ayah Mira mengangguk ragu, lalu berjalan meninggalkan mereka untuk memanggil para tetangga.

Romano menaikkan sebelah alisnya. "Kau ingin memulai sekarang? Di tempat kumuh ini?"

"Tempat kumuh ini adalah bentengku, Romano. Kau ingin aku mendapatkan tujuh puluh persen suara? Perhatikan baik-baik."

Dalam waktu singkat, teras itu penuh sesak. Warga dengan wajah lelah dan penuh kecurigaan menatap Mira—gadis yang mereka kenal sejak kecil, namun kini tampak seperti orang asing dengan pakaian mewahnya.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu," Mira memulai, suaranya lantang namun bergetar oleh emosi yang tertahan. "Mereka ingin membayar rumah kita dengan uang yang akan habis dalam sebulan. Setelah itu, kita tidak punya tempat tinggal dan tidak punya pekerjaan. Saya di sini bukan untuk menawarkan uang itu. Saya di sini untuk menawarkan masa depan."

Mira menjelaskan skema sahamnya—tentang bagaimana dapur-dapur di rumah mereka akan menjadi bagian dari rantai pasokan kuliner Nusantara Group, tentang bagaimana mereka akan memiliki bukti kepemilikan atas kemajuan proyek itu sendiri.

"Bagaimana kami bisa percaya?" teriak salah satu warga. "Kau bekerja untuk pria itu!" ia menunjuk Romano yang berdiri bersandar di mobilnya.

Mira terdiam sejenak, lalu ia mengambil map emas yang ia bawa dan membantingnya ke meja kayu. "Karena jika saya gagal, saya adalah orang pertama yang akan menandatangani surat penggusuran rumah ayah saya sendiri. Saya mempertaruhkan rumah saya, sama seperti kalian."

Keheningan menyelimuti gang itu. Romano memperhatikan dari jauh, matanya berkilat penuh minat. Ia melihat bagaimana api di mata Mira mulai membakar keraguan warga.

Tiba-tiba, Arkan muncul di ujung gang, wajahnya merah padam. "Mira! Jangan dengarkan dia! Ini jebakan Romano!"

Mira menoleh, menatap Arkan dengan tatapan yang membuat pria itu membeku. "Arkan, aku sudah melihat fotomu dengan direktur Globalindo. Jangan pernah sebut namaku lagi."

Arkan terperangah, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Warga mulai berbisik-bisik, memandang Arkan dengan sinis.

Romano berjalan perlahan menembus kerumunan warga, yang secara otomatis memberi jalan karena aura dominasinya. Ia berdiri di samping Mira, lalu mengeluarkan sebuah pena dari saku jasnya dan meletakkannya di atas map emas itu.

"Tawaran ini hanya berlaku dua minggu," kata Romano pada warga, namun matanya tetap tertuju pada Mira. "Gadis ini telah mempertaruhkan segalanya untuk kalian. Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah kalian cukup berani untuk bertaruh padanya?"

Mira mengambil pena itu, memutarnya di jemarinya, lalu menatap Romano dengan senyum tipis yang mematikan. "Jangan khawatir, Romano. Aku baru saja mulai membangun kerajaanku. Dan kau mungkin benar... aku memang akan terikat padamu. Tapi sebagai pemilik modal yang setara, bukan sebagai tawananmu."

Romano tertawa rendah, sebuah bunyi yang jarang terdengar. "Aku tidak sabar melihat bagaimana kau akan 'menjatuhkan' rajamu besok, Sayang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!