NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#26

Perjalanan dari Berlin menuju London, lalu menyusuri jalanan berliku menuju Oxford, seharusnya menjadi perjalanan yang melelahkan bagi raga mana pun. Namun, bagi Lucky Caleb, rasa lelah itu telah menguap bersama sisa-basi harga dirinya yang ia tinggalkan di marmer rumah orang tuanya.

Selama di dalam pesawat, ia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia berkedip, bayangan Alistair dan raut wajah Freya yang teduh muncul sebagai pengingat betapa banyak waktu yang telah ia sia-siakan.

Ia kembali bukan sebagai sang bintang pop dunia. Ia kembali tanpa cincin di jarinya—benda terkutuk itu telah ia lempar di depan kaki Allen sebelum ia melangkah keluar dari penjara emas itu. Ia telah membatalkan semua dokumen pra-nikah, menghancurkan aliansi politik ayahnya, dan memilih untuk menjadi "bukan siapa-siapa". Statusnya kini menggantung, proses hukum pembatalan pernikahannya mungkin akan memakan waktu lama, namun Lucky tidak peduli. Ia hanya ingin menjadi Lucky yang dulu—pria yang hanya memiliki gitar dan cinta yang tulus untuk asistennya.

Sore itu, Oxford diguyur hujan gerimis yang dingin. Kabut tipis menyelimuti perumahan elit di kawasan pinggiran itu. Mobil sewaan Lucky berhenti tepat di depan gerbang rumah berpintu cokelat itu. Kali ini, ia tidak hanya berdiam diri di dalam mobil.

Dengan langkah yang berat namun pasti, Lucky turun. Ia tidak membawa payung. Pakaiannya segera basah oleh tetesan air langit yang seolah ingin membasuh semua dosa dan kepalsuannya selama lima tahun terakhir.

Ia melangkah menuju pintu. Tangannya gemetar saat menyentuh bel.

Ting tong.

Keheningan sempat merayap selama beberapa detik yang terasa seperti ribuan tahun. Hingga akhirnya, pintu itu terbuka perlahan.

Freya berdiri di sana. Ia mengenakan kardigan wol tipis dan celana kain santai. Matanya yang tadi tampak tenang, seketika membelalak saat melihat sosok pria yang berdiri di depannya. Pria yang seharusnya sedang berada di Berlin untuk merayakan hari-hari pengantin sebagai suami orang lain.

"Lucky?" bisik Freya, suaranya nyaris hilang ditelan suara rintik hujan.

Tanpa sepatah kata pun, Lucky melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang pewaris keluarga Caleb atau seorang megabintang. Di hadapan Freya, di atas teras rumah yang basah, Lucky menekuk lututnya. Ia bersujud, menempelkan keningnya di atas ubin dingin yang basah.

"Frey..." suaranya pecah, bercampur dengan isak tangis yang tertahan. "Maafkan aku. Maafkan pengecut ini."

Freya mematung. Dadanya bergemuruh melihat pria yang ia cintai bersujud di kakinya dengan kondisi yang sangat berantakan.

"Lucky, apa yang kau lakukan? Kau harusnya di Berlin... kau sudah menikah," Freya mencoba menyentuh bahu Lucky, namun pria itu tidak bergeming.

"Aku sudah membatalkannya, Frey. Aku membuang semuanya," ucap Lucky dengan kening yang masih menempel di ubin. "Aku tidak membawa cincin, aku tidak membawa status, aku tidak membawa harta. Aku datang hanya sebagai Lucky yang bodoh, yang merindukanmu hingga hampir mati. Aku baru tahu tentang Alistair... dan aku merasa sangat hina karena membiarkanmu melewatinya sendirian."

Hati Freya seolah dicubit. Ia melihat ketulusan yang mentah di depan matanya. Kemarahan yang sempat ia pupuk selama lima tahun terakhir, rasa kecewa karena merasa dibuang, perlahan-lahan mencair. Freya menyadari satu hal: mereka berdua hanyalah korban dari ambisi keluarga mereka yang terlalu besar.

Freya berlutut di depan Lucky, memegang kedua pipi pria itu dan memaksanya untuk mendongak. Ia melihat mata Lucky yang merah, melihat air mata yang bercampur dengan air hujan.

"Bangunlah, Luck," ucap Freya lembut, matanya sendiri mulai berkaca-kaca. "Aku tidak pernah membencimu. Aku tahu... aku tahu keluargamu di Berlin dan keluargaku di Los Angeles yang membuat kita seperti ini. Mereka yang memisahkan kita, bukan hati kita."

Lucky menatap Freya dengan pandangan memohon. "Bisakah aku kembali, Frey? Bisakah kita mulai lagi? Bukan sebagai Direktur dan Bintang, tapi sebagai ayah dan ibu untuk Alistair? Aku tidak ingin mengambilnya darimu, aku bersumpah. Aku hanya ingin berada di sampingmu, menjagamu, dan melihatnya tumbuh."

Freya mengulas senyum tipis—senyum yang sangat dirindukan Lucky. "Dia sedang tidur di dalam, Luck. Dia sangat mirip dengamu saat tidur."

Mendengar itu, tangis Lucky kembali pecah. Freya menarik Lucky ke dalam pelukannya, membiarkan pakaian mereka berdua basah kuyup. Di bawah langit Oxford yang kelabu, dua jiwa yang sempat terpisah oleh samudra dan ego keluarga itu akhirnya bertemu kembali.

"Masuklah. Kau akan sakit jika terus di sini," ajak Freya.

Saat Lucky melangkah masuk ke dalam rumah yang hangat itu, ia merasa seolah ia baru saja pulang dari medan perang yang sangat panjang. Ia melihat mainan kecil berserakan di lantai, melihat foto-foto pertumbuhan Alistair di dinding—foto-foto yang tidak ada dirinya di dalamnya.

"Frey, orang tuaku... mereka sempat berpikiran licik untuk mengambil Alistair," aku Lucky saat mereka duduk di ruang tamu dengan selimut menyelimuti bahu Lucky.

"Tapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menjadi tameng bagi kalian berdua, bahkan jika aku harus kehilangan segalanya."

Freya menggenggam tangan Lucky dengan erat. "Aku tahu, Luck. Itulah sebabnya aku menerimamu kembali. Karena aku tahu pria yang kucintai di Berlin dulu tidak pernah berubah. Kau tetaplah pria yang lebih mementingkan perasaan daripada kekuasaan."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Lucky Caleb tidur dengan tenang. Bukan di hotel mewah, bukan di apartemen Berlin yang dingin, tapi di sofa kecil di ruang tamu Freya, dengan aroma kayu manis dan kehadiran wanita yang menjadi seluruh dunianya.

Di luar, badai mungkin masih akan datang dari Los Angeles dan Berlin, namun di dalam rumah itu, untuk sementara waktu, hanya ada kedamaian. Lucky telah memilih jalannya: ia melepaskan mahkota untuk mendapatkan kembali "rumah"-nya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!