NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Hujan di luar rumah milik Julian semakin menggila, suaranya menghantam atap seperti ribuan peluru yang mencoba menembus pertahanan kayu tua itu. Di dalam ruang tengah yang hangat oleh api perapian, Kenzie menyesap teh melatinya, namun pikirannya berkelana jauh ke balik kabut London.

Berpikir bahwa mungkin di sudut lain kota London, Lyana sedang berdiri di kegelapan, memelihara kebencian yang telah dipupuk selama puluhan tahun.

Lyana kecil, yang saat itu merupakan bocah berusia tujuh tahun, duduk diam di depan jendela besar yang menghadap ke jurang es. Di belakangnya, suara langkah sepatu hak tinggi yang tajam menghantam lantai marmer. Itu adalah Stefanny, istri dari Dereck, anak tunggal Julian dari pernikahan pertamanya. Saat itu adalah hari kedua setelah kepergian Dereck.

Stefanny adalah wanita dengan kecantikan yang dingin dan ambisi yang melampaui kewajaran manusia. Baginya, menikahi putra seorang Aethern adalah tiket menuju keabadian. Namun, kecelakaan tragis merenggut nyawa Dereck, meninggalkan Stefanny sendirian dengan rahasia besar keluarga Julian dan juga keberadaan Lyana.

"Lihat dirimu, Lyana." suara Stefanny mengalun seperti bisa ular yang manis. Ia berdiri di belakang Lyana, jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar mengelus rambut pirang gadis kecil itu. "Kau begitu pucat. Kau gemetar lagi, bukan?"

Lyana tidak menjawab. Tubuhnya memang bergetar. Sebagai seorang Aethern, ia seharusnya merasakan aliran energi murni yang stabil di dalam selnya. Namun, di dalam dada Lyana, ada kekosongan yang menganga. Energinya bocor. Ia adalah sebuah wadah yang retak.

"Itu karena kau dianggap cacat, Sayang." bisik Stefanny lagi, sengaja menekankan kata itu tepat di telinga Lyana. "Darahmu tidak bersih. Kau adalah kegagalan biologis dari seorang pria yang menyebut dirinya sebagai ayah kandungmu."

Lyana mendongak, matanya yang biru, warna yang sama persis dengan milik Julian terlihat berkaca-kaca. "Ayah bilang, dia mencintaiku. Tapi Papa Dereck lebih menyayangiku karena dia tidak bisa punya anak secantik diriku. Itu sebabnya Ayah memercayai Papa Dereck untuk mengurusku."

Stefanny tertawa, suara tawa yang kering dan mengejek. Ia memutar kursi Lyana agar mereka berhadapan. "Mencintaimu? Ayahmu tidak pernah mencintai siapa pun selain dirinya sendiri dan obsesinya pada eksperimen darah dagingnya. Kau tahu kenapa dia menikah dengan ibumu? Bukan karena cinta. Dia hanya ingin melihat apakah darah Aethern-nya bisa menciptakan ras baru yang sempurna melalui rahim manusia. Sementara dengan istri pertamanya dia tidak bisa lagi memiliki keturunan karena istrinya yang mempunyai masalah dengan rahimnya. Papa mu juga tidak mewarisi ras itu, itu sebabnya Ayahmu mencari mangsa lain untuk mendapatkan keinginannya."

Stefanny berlutut, mencengkeram bahu Lyana hingga gadis kecil itu meringis. "Tapi kau lahir dengan kesalahan. Kau lahir dengan cacat yang dianggap menjijikkan. Kau abadi, tapi kau akan selalu merasa takut. Kau akan selalu merasa sakit. Itulah sebabnya Julian membuangmu. Dia memberikanmu pada Papa dan Mama karena dia tidak tahan melihat kegagalannya sendiri setiap hari."

Kalimat itu adalah racun yang disuntikkan Stefanny ke dalam hati Lyana setiap hari, selama sepuluh tahun. Stefanny tidak membawa kabur Lyana karena kasih sayang. Ia membawa Lyana karena ia tahu darah cacat Lyana adalah kunci untuk mimpinya yang paling gila, Serum Keabadian. Atau yang ia sebut sebagai "Proyek Vita Aeterna".

Tiga tahun kemudian.

Di ruang bawah tanah mansion itu, Stefanny membangun sebuah laboratorium yang jauh dari jangkauan hukum manusia. Di sanalah, rencana pembuatan serum keabadian diperkenalkan kepada Lyana.

Stefanny menjelaskan teorinya. Darah Lyana yang cacat memiliki kemampuan untuk menyerap esensi kehidupan lain secara agresif, sesuatu yang tidak dimiliki Julian karena Julian bersifat mandiri. Jika darah Lyana bisa dijenuhkan dengan esensi kehidupan yang cukup murni, darah itu bisa diolah menjadi serum yang sempurna.

"Julian menganggapmu sampah." Stefanny memprovokasi sambil menusukkan jarum ke lengan Lyana untuk mengambil sampel darah. "Dia sekarang bahagia di rumahnya, bermain rumah-rumahan dengan Elena yang sudah tua renta dan si kecil Clara. Kau tahu? Clara adalah anak yang dia anggap sempurna. Kau hanyalah draf yang dia buang ke tempat sampah."

Lyana menatap tetesan darahnya yang masuk ke dalam botol kecil. Kebencian mulai mengkristal di hatinya. Setiap kali rasa sakit akibat kebocoran energi itu menyerang tubuhnya, ia membayangkan wajah Julian. Lyana membayangkan ayahnya sedang tersenyum pada Clara, sementara ia di sini menjadi kelinci percobaan bagi Stefanny.

"Apa yang harus kulakukan, Mama?" tanya Lyana suatu hari, suaranya tidak lagi terdengar seperti anak kecil. Suaranya telah berubah menjadi dingin, datar dan penuh dengan aura predator.

Stefanny tersenyum puas. "Kita butuh zat yang lebih kuat dari sekadar darah manusia biasa. Kita butuh sesuatu yang bersifat murni, sesuatu yang tidak berasal dari penciptaan manusia. Kita butuh sosok yang ada di dalam dimensi lain."

Stefanny menunjukkan sebuah sketsa kuno tentang seorang gadis yang tidak pernah berubah selama berabad-abad, sosok yang memegang kunci keseimbangan waktu.

"Temukan dia, Lyana. Ambil esensinya. Sembuhkan dirimu dan hancurkan pria yang telah membuangmu."

Lyana berdiri di bawah pohon pinus yang gelap, menatap rumah Julian dari kejauhan. Ia bisa merasakan keberadaan Kenzie di dalam sana. Aroma kemurnian Kenzie tercium hingga ke tempatnya berdiri, membuat sel-sel cacat di dalam tubuh Lyana berteriak menuntut kepuasan.

Lyana tahu Julian juga ada di sana. Ia tahu pria yang ia panggil Ayah dalam hatinya, namun ia benci dengan seluruh jiwanya sedang berusaha melindungi Kenzie.

"Kau membuangku karena aku cacat, Ayah." gumam Lyana, suaranya tertelan suara petir. "Kau menikah dengan Ibu hanya untuk membuat eksperimen dan kau gagal padaku. Sekarang, kau mencoba menjadi pahlawan bagi orang lain?"

Lyana mengepalkan tangannya. Di bawah pengaruh Stefanny, Lyana percaya bahwa keberadaan Clara adalah penghinaan baginya. Clara adalah bukti bahwa Julian bisa mendapatkan anak yang sempurna, sementara Lyana dibiarkan menderita dengan rasa takut yang tak pernah padam.

Stefanny selalu berpesan, "Jangan bunuh Julian. Biarkan dia melihat saat kita mengambil Kenzie. Biarkan dia melihat saat kegagalannya yang paling besar menjadi penguasa keabadian yang baru."

Serum keabadian itu bukan lagi sekadar impian Stefanny. Bagi Lyana, serum itu adalah pembalasan dendam. Dengan serum yang dibuat dari darah murni Kenzie, Lyana tidak perlu lagi merasa sakit. Ia akan menjadi lebih kuat dari Julian. Lyana akan membuktikan bahwa si cacat ini bisa melampaui penciptanya.

...•••...

Kenzie meletakkan cangkir tehnya. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Sebagai seorang pemegang keabadian selama empat ratus tahun, instingnya sangat tajam. Ada kebencian yang sangat pekat sedang mengintainya. Kebencian yang diarahkan bukan hanya padanya, tapi pada seluruh penghuni rumah ini.

Julian menyadari perubahan ekspresi Kenzie. Ia menoleh ke arah jendela yang tertutup tirai, matanya berkilat biru sesaat.

"Dia ada di luar, bukan?" tanya Kenzie dengan suara yang sangat rendah agar tidak terdengar oleh Elena dan Clara.

Julian mengangguk pelan. "Dia tidak sendirian, Kenzie. Ada bayangan lain di belakangnya. Seseorang yang memberinya perintah."

Julian mengepalkan tangannya di atas lutut. Ia tahu bahwa masa lalu yang ia coba kubur dalam-dalam kini sedang menggali jalannya keluar, menuntut bayaran atas dosa-dosa dan kesalahpahaman yang telah dipupuk oleh kebohongan Stefanny.

"Dia putriku, Kenzie." bisik Julian pedih. "Tapi dia adalah putri yang sudah diracuni oleh kebencian yang tidak bisa aku sembuhkan hanya dengan kata-kata."

Kenzie menatap Julian, lalu menatap Elena yang tersenyum tenang pada Clara di kursi rodanya. Di rumah ini, cinta sedang berjuang melawan waktu. Di luar sana, kebencian sedang menunggu untuk menghancurkan segalanya demi sebuah serum yang menjanjikan keabadian yang palsu.

Babak baru telah dimulai. Dan kota London tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!