Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA BELAS
Tak kunjung mendengar suara sahutan dari Bastian, Darian pun mendongak melirik kearah tuannya itu dari kaca spion.
Terlihat Bastian tengah bersandar sambil memejamkan kedua matanya dan memijat pelan pangkal hidungnya.
"Tuan..." Darian mencoba memanggilnya lagi
"Dar".
"Ya tuan?"
"Apa pendapatan mu tentang rencana penobatan itu? Jujur, kau juga tau bukan jika aku tidak ada hubungan darah dengan mereka? Tapi mereka justru mempercayakan aku untuk menjadi pemimpin Klan mafia blood stone". Ucap Bastian mencoba mengutarakan semuanya yang sedari tadi terus mengganjal di hati.
Mendengar itu, Darian terdiam sejenak mencoba memikirkan jawaban yang logis untuk rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bastian itu.
“Ekhemm…” Darian berdehem pelan.
“Tuan, menurut saya tak ada salahnya jika Anda menerima penobatan itu.” Ujarnya memberikan saran
Bastian membuka kedua matanya perlahan, namun tetap pada posisi bersandarnya.
“Karena kekuasaan?” tanya Bastian datar.
“Bukan tuan, tapi karena legitimasi.” Sahut Darian cepat
Mendengar itu, Bastian langsung menegakkan tubuhnya, menatap kearah Darian dengan alis yang sedikit terangkat.
“Anda mungkin tidak memiliki hubungan darah dengan mereka, tuan. Tapi Anda memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit didapatkan yaitu kepercayaan.” Ucap Darian menjelaskan
Bastian terkekeh pelan. “Kepercayaan di dunia seperti ini rapuh, Dar.”
“Benar, Tuan. Tapi selama ini mereka mengikuti perintah anda tanpa banyak bantahan. Itu bukan karena darah, itu karena kemampuan.” Kata Darian
Hening sejenak, hanya terdengar suara deru mesin mobil yang melaju stabil, juga sinar lampu jalan yang berkilat silih berganti menembus kaca jendela.
Sampai Bastian kembali membuka suara.
“Dan jika suatu hari mereka mengungkit soal asal-usulku?" tanya Bastian lagi, kali ini nada suara nya terdengar seperti penuh kekhawatiran.
Darian terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Maka itu bukan masalah darah, Tuan. Itu masalah ambisi.”
Hening lagi.
“Jika Anda menolak penobatan ini,” lanjut Darian pelan, “justru akan memberi celah bagi orang-orang yang menunggu kesempatan. Dan itu jauh lebih berbahaya.”
Bastian kembali menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit mobil.
“Jadi menurutmu aku harus menerimanya?”
“Saya pikir,” Darian menjeda ucapannya melirik sekilas pada Bastian lewat kaca spion, “Anda sudah lama memimpin mereka. Penobatan itu hanya pengakuan resmi.”
Sunyi menyelimuti mobil beberapa detik. Terdengar helaan nafas panjang yang terasa begitu berat Bastian hembuskan.
“Aku tidak takut memimpin, Dar,” ucapnya rendah. “Aku hanya tidak ingin dianggap merebut sesuatu yang bukan milikku.”
Darian tersenyum tipis mendengar kegelisahan yang dirasakan oleh tuannya itu.
“Tuan, kadang yang paling layak memang bukan yang lahir dari darah, tapi yang bertahan sampai akhir.”
"Huhhh....." Bastian kembali mendesahkan nafas panjang. Kali ini seperti mencoba meneguhkan hatinya.
"Dar..." panggilnya
"Ya tuan?" Sahut Darian
"Katakan pada daddy dan kakek, aku akan menemui mereka tapi tidak dalam waktu dekat. Kau pasti tau alasan ku bukan?" ujar Bastian.
Darian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya paham. "Saya paham tuan". Jawabnya seraya melirik sebentar kearah Bastian sebelum akhirnya kembali fokus pada jalanan.
Sejujurnya, Darian paham dan mengerti semua kegelisahan yang dirasakan oleh Bastian. Dia bukan anak kandung Harvey, ia hanyalah anak angkat yang menjadi bagian keluarga Grayson karena bentuk tanggung jawab.
Kehadiran Bastian pun sebenarnya tak diharapkan oleh Delta juga Violet. Karena bagi mereka Bastian bisa menjadi sumber ancaman yang besar untuk kedua nya.
Sebab, Delta dan Violet berencana untuk menguasai seluruh kekayaan keluarga Grayson. Rencana mereka pun terasa begitu sulit untuk diwujudkan semenjak kehadiran Bastian.
Hal itu membuat Bastian memilih menjauh daripada membuat keluarga Grayson bertengkar hanya karena dirinya.
Tapi, tanpa Bastian tau jika ternyata Delta maupun Violet sepakat memprovokasi Harvey agar pria itu mau membuang lagi nya ke jalanan. Tapi, Harvey dengan tegas menolak. Ia sudah berjanji untuk menjadikan Bastian putra angkatnya dan menjadi bagian dari keluarga Grayson. Apalagi ditambah kakek Hercu yang ternyata juga menyukai Bastian, hal itu membuat Delta dan Violet sedikit kesusahan untuk menjalankan rencana mereka.
Disaat Harvey sedikit lengah, Delta mencoba kembali menghasutnya dan kali ini berhasil. Harvey mengasingkan Bastian ke negara lain tapi tetap memberikan fasilitas yang terbaik untuk putra angkatnya itu. Tapi, sesekali Harvey juga datang menengok memastikan laki-laki itu baik-baik saja.
Apalagi kakek Hercu juga menugaskan beberapa anak buahnya untuk menemani juga menjaga Bastian.
.
Mobil yang dikemudikan Darian berbelok melewati gerbang besi hitam tinggi dengan sistem keamanan otomatis yang langsung terbuka setelah sensor mengenali plat kendaraan.
Di baliknya berdiri sebuah bangunan modern bergaya minimalis yang dominan dengan kaca gelap dan beton abu-abu.
Aura bangunan itu terasa begitu tegas, sunyi dan juga terasa bagaikan terisolasi.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal bagi Bastian, melainkan sebagai benteng.
Lampu taman menyala redup, menerangi jalur masuk yang panjang. Beberapa pria bersetelan hitam berdiri di titik-titik tertentu, mengangguk hormat saat mobil melintas.
Mobil berhenti di depan pintu utama.
Darian turun lebih dulu, membukakan pintu untuk tuannya.
Bastian keluar tanpa banyak bicara. Tatapannya lurus, dingin seperti biasa. Namun sorot matanya masih menyimpan sisa percakapannya dengan Darian dimobil tadi.
Rumah ini ia bangun sendiri. Tanpa nama Grayson. Tanpa bantuan Harvey.
Dan, tanpa bisikan bahwa ia hanya “anak angkat”.
Di sinilah ia membentuk dirinya sendiri.
Di sinilah semua orang mulai mengenal siapa dirinya dan benar-benar mulai tunduk padanya.
“Tuan, apakah saya tetap menyampaikan pesan Anda malam ini?” tanya Darian hati-hati.
Bastian berhenti sejenak sebelum melangkah masuk.
“Sampaikan, aku akan datang tapi bukan dalam waktu dekat". Jawabnya
Darian menunduk hormat. “Baik, Tuan.”
Setelah itu, Bastian melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tapi, baru saja sampai diambang pintu ia berhenti dan berbalik badan.
"Dar..." panggil Bastian
Darian yang hendak melangkahkan kakinya kembali ke mobil seketika berhenti dan berjalan cepat menghampiri Bastian.
"Ya tuan?"
"Bagaimana proposal kerjasama dengan Cyber Tech, apa kau sudah mengirimnya?" tanya Bastian
Darian mengangguk, "Sudah saya kirimkan tuan. Hanya tinggal menunggu persetujuan".
"Aku ingin segera jawaban persetujuan itu secepatnya". Kata Bastian
Darian yang mendengar itu terdiam sejenak seraya mengusap-usap tengkuk nya. Ia seolah ragu untuk mengatakan hal ini pada Bastian.
"Tuan, maaf tapi saya tidak bisa menjamin anda bisa segera mendapatkan jawaban persetujuan kerjasama itu". Ucap Darian pelan
"Kenapa?" tanya Bastian seraya mengerutkan dahinya penasaran
"Hmm... Karena asisten Han mengatakan pada saya jika tuan Rakhes sedang melakukan perjalanan bulan madu dengan istrinya. Jadi semua pihak perusahaan yang ingin bekerjasama dengan cyber tech harus menunggu beliau pulang dulu". Jawab Darian lirih dan hati-hati
"Ck! Dasar pengantin baru". Gerutu Bastian
"Berapa lama mereka berbulan madu?" ujar nya bertanya
"Asisten Han bilang tidak bisa dipastikan kapan tuan Rakhes akan kembali, bisa jadi sampai berbulan-bulan tuan". Jawab Darian
Bastian yang mendengar itu berdecak kesal.
"ck! Apa suami Jelita ini tidak butuh uang sampai mengajak bulan madu saja sampai berbulan-bulan? Atau kejar target, huh..."
.
.
.
Haii temen-temen jangan lupa dukungannya... Like, vote dan komen... Terimakasih 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut