Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Omelan Lea
Vanya memesan bubur ayam kepada Pak Joko. Setelah Pak Joko pergi, kini tinggalah Vanya dan Raza saja di sana.
"Makasih ya Za" ucap Vanya tulus. Senyuman yang jarang ia perlihatkan pada orang lain kini terukir jelas di wajahnya.
"Hah? Em i-iya Vanya sama-sama" Raza yang tak pernah melihat senyum itu langsung salah tingkah. Apalagi selama ini Vanya selalu cuek dan berkata ketus padanya. Tidak seperti sekarang ini.
"Bentar lagi istirahat, lo ngga balik ke kelas aja?"
"Gw pengen nemenin lo aja. Apa lo keberatan?" tanya Raza dengan tatapan penuh harap.
"Yaudah terserah lo" ucap Vanya cuek.
20 menit kemudian, bel istirahat pertama telah berbunyi. Rain dan Lea langsung berlari menuju ke ruang UKS tanpa memperdulikan guru olahraga yang belum menutup pelajaran itu.
Sesampainya di ruang UKS, kedua sahabat Vanya itu langsung tersentak kaget dengan pemandangan di depan mereka. Seorang Vanya sedang di suapi oleh Raza dengan wajah cemberut.
"Ini? Apa otaknya geser ya gara-gara pingsan? Ini gw lagi nggak salah liat kan?" Lea mengucek matanya beberapa kali.
"Lebay lo ah" Rain berjalan begitu saja melewati Lea yang tadi sempat terhenti karena kaget.
"Gimana keadaan lo Van?"
"Udah lebih baik kok Rain" tepat saat itu bubur di mangkok yang di pegang Raza telah tandas tanpa sisa.
"Minum dulu Van, habis itu obat nya di minum ya" ucap Raza sambil menyodorkan segelas air putih.
"Duh, perhatian banget sih" Lea senyum-senyum tidak jelas melihat Vanya yang diperhatikan oleh Raza.
Setelah Vanya meminum obat, Lea langsung meluncurkan kata-kata yang sedari tadi sudah ia rangkai untuk memarahi sahabat bandelnya ini.
"Kata Raza lo pingsan gara-gara maagh. Lo nggak sarapan ya? Makan nya ga usah sok-sokan ngekost deh lo. Udah mah enak di rumah malah milih tinggal sendiri. Kapok gak lo?"
"Enggak" jawab Vanya dengan santai.
"Emang bener-bener ya nih anak. Lo tuh kekurangan duit apa gimana sih kok sampe nggak sarapan? Perlu gw pinjemin hah?"
"Gw tadi sebenarnya mau sarapan di sekolah, tapi gara-gara insiden tadi pagi jadinya lupa mau ke kantin" ucap Vanya jujur.
"Pokoknya besok-besok lo harus sarapan dari rumah. Gw tau lo itu pelupa. Atau kalo nggak hp lo sini gw pasangin 100 alarm pengingat makan. Gw hampir jantungan liat lo di gendong Raza kayak tadi. Gw pikir lo is dead "
"Wah parah, pala lo sini gw sleding" ucap Vanya kesal.
"Bodo, gw nggak takut. Gw lebih takut kehilangan sahabat gilak kaya elo" ucap Lea dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Iya iya ah. Bawel banget lo ngelebihin nyokap gw" gurau Vanya.
"Tapi yang dia bilang bener Van, gw juga khawatir banget waktu liat lo tadi" Rain ikut menimpali.
"Iya gw minta maaf. Sebenarnya gw udah nggak enak badan dari semalem, gw pikir di bawa tidur besoknya enakan. Eh malah makin gak enak, ditambah lagi tadi pagi gw nggak jadi sarapan gara-gara cewek tuh cewe" jelas Vanya dengan wajah bersalah.
"Yaudah lain kali gw bakalan pastiin di grup kalo lo sebelum berangkat sarapan dulu. Atau di sekolah gw bakal seret lo langsung ke kantin tanpa babibu lagi"
"Udah Lea udah. Kasian Vanya belum juga pulih udah lo omelin"
"Ciah di belain tuh sama calon ayang" ledek Lea dengan wajah menyebalkan.
"Apaan sih lo! Pergi sana! Pasti ayang lo udah nangis-nangis tuh nyariin lo" ledek Vanya balik.
Dan benar saja, Tian tiba-tiba datang ke ruang UKS sambil berlari. Di belakangnya ada Radit dan Vano yang setia mengekori.
"Sayanggggggg, aku nyariin kamu di kantin sama kelas kamu tau. Ternyata kamu disini. ishhh kok nggak chat ngasih tau aku sih" rengek Tian dengan nada sangat manja.
Semua mata menatap ke arahnya, namun Tian seolah sudah tidak punya urat malu. Untung saja beberapa murid yang sakit lainnya sudah kembali ke kelas setelah bel istirahat berbunyi, sehingga hanya mereka saja yang mendengar. Bahkan Dokter Raja pun entah pergi kemana.
"Apasih? Sahabat aku lagi sakit, jangan berisik" omel Lea. Sepertinya hari ini Lea sedang full energi, sehingga dari tadi ia terus mengomel tanpa henti.
"Ih sayang, kok aku di marahin sih" ucap Tian dengan wajah yang di buat sedih.
"Makan nya jangan berisik! Ini UKS tau" omel Lea lagi.
"Iya sayang maaf"
"Haha mampus, liatin tuh mukanya udah kaya tikus kecebur got. Kasian banget" bisik Vano kepada Radit.
"Eh, gw denger ya kalian bisik-bisik" Tian menoleh ke arah Vano yang berada di belakang nya dengan wajah kesal.
"Kalian para cowok-cowok mending pergi. Jujur gw terganggu dengan kehadiran kalian semua. Sumpek tau nggak!" omel Vanya.
"Cewek-cewek lagi pada kenapa sih? Hari ini kok pada suka ngomel deh" celetuk Vano.
"Tuh pada nggak denger apa kalo Vanya terganggu. Pergi kalian semua! Lo juga deh Za" usir Lea.
"Kok gw juga sih?" protes Raza.
"Za, balik kelas dulu sana. Lo belum ganti baju. Nanti pulang sekolah temuin gw di parkiran ya, gw kayanya mau di UKS aja sampe pulang" ucap Vanya sedikit ramah.
"Kok lo ngomong sama dia nggak ketus kaya ngomong sama gw sih!" Vano ikut-ikutan protes.
"Yaudah, gw balik dulu ya Van" pamit Raza dengan nada lembut dan senyuman manis.
"Iya" balas Vanya.
Raza pun beranjak dari kursinya lalu pergi meninggalkan ruang UKS.
"Udah sana lo bertiga pergi. Kamu juga Zal, nanti ketemu aja waktu pulang sekolah" usir Lea lagi.
"ishh yaudah deh. Nanti jangan lupa chat aku loh. Kalo nggak aku samperin langsung ke kelas kamu"
"Iya iya sayang. Bye"
"Dih males banget liat drama percintaan begini" Vano pun menyeret kerah seragam Radit untuk pergi dari ruangan UKS.
"Woiiii tunggu!" teriak Tian sambil menyusul langkah kedua sahabatnya.