NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 MOGOK TANPA TAU KONDISI

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di pasar Suasana ramai dengan pedagang menata dagangan Aroma sayur dan buah segar menguar di udara Ibu turun dari motor memegang tas belanja.

Lalu mereka mengelilingi pasar untuk mencari sayur terlebih dahulu setelah sampai di kios sayur langganan ibu dari Ara kecil sampai sekarang masih tetap gak berubah

“Ayo Nak… pilih sayur yang bagus jangan asal ambil” ujar Ibu sambil menatap Ara

“Eh… ini siapa Bu” tanya wanita itu suaranya hangat tapi penasaran sambil menunjuk Ara

Ara menoleh kaget ketika seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah mendekat sambil menunjuk ke Ara

Ibu Adis menoleh sebentar tersenyum sambil mengangkat tangan pelan “Oh ini anak saya Bu”

Ara sedikit tersenyum kikuk menunduk pelan “Iya… selamat pagi Bu”

Wanita itu menatap Ara dengan mata hangat, kemudian tersenyum lebih lebar “Oh, anaknya yang pulang dari Jakarta ya? Wah… senangnya bisa ketemu langsung”

Ibu Adis menepuk bahu Ara pelan “Nak… ini Bu Rini, pedagang sayur yang biasanya langganan dulu waktu kamu kecil belanjanya selalu disini dari duli”

Ara membalas senyum itu, sedikit canggung “Senang bertemu, Bu Rini”

Bu Rini mengangguk ramah “Senang juga, Nak. Wah… sudah lama ya nggak pulang ke kampung yah?”

“Iya ada sekitar tujuh tahun, Bu… sejak lulus kuliah,” jawab Ara pelan. Matanya menatap ke lantai mencoba mengingat-ingat semuanya

“Wah, lama sekali ya… Jakarta pasti menyita banyak waktu makanya sampai gak sempat pulang ke kampung halaman” komentar Bu Rini

"Iya" ucap Ara diikuti senyuman yang sopan sambil menunduk

“Wah… pulang kali ini mau nikah atau mau liburan aja Nak?” lanjutnya Bu Rini setengah bercanda, matanya berbinar hangat

Ara tersentak sebentar, lalu tersipu “Eh… eng… enggak, Bu… cuma pulang aja…” jawabnya terbata-bata.mencoba menenangkan diri

Ibu Adis tertawa kecil dari belakang “Nak jangan malu-malu… Bu Rini cuma bercanda”

Bu Rini ikut tertawa. “Iya, iya… cuma iseng, Nak tapi lihat kamu sekarang… sudah besar cantik, beda banget sama waktu kecil dulu”

Ara menunduk, memegang sayuran yang diambilnya sambil tersenyum tipis “Terima kasih, Bu….”

Setelah memilih sayur dan sudah sesuai apa yang habis mereka akhirnya membayar lalu pamit pulang dan berkeliling lagi mencari bahan bahan yang dibutuhkan

Setelah berkeliling pasar kurang lebih dari satu jam, memilih sayuran, buah, dan beberapa bahan kebutuhan sehari-hari sesekali Ibunya menawar barang-barang yang dibelinya sambil tersenyum,

Akhirnya Ara dan Ibu Adis mulai menuju tempat motor untuk pulang. Tas belanjaan yang penuh menggantung di sisi motor dan di tangan Ara membuat perjalanan sedikit hati-hati.

“Wah… capek juga ya Nak” Ibu Adis berseru sambil menahan tas belanja di jok belakang “Tapi senang rasanya bisa beli semua yang kita butuhkan”

Ara tersenyum lelah tapi puas, sesekali menatap tas yang penuh di tangannya. “Iya, Bu… tapi seru juga. Rasanya beda banget sama belanja di kota besar”

Suasana jalan pagi masih sejuk, aroma tanah basah dan dedaunan segar yang tersisa dari hujan semalam ikut menenangkan hati. Burung-burung berkicau pelan di sepanjang jalan, dan beberapa tetangga menyapa mereka dari kejauhan.

Mereka melaju pelan, sesekali berhenti sebentar ketika jalanan ramai dengan pedagang atau warga yang menyeberang. Meskipun lelah, wajah Ara terlihat puas dan hatinya hangat. Perjalanan pulang itu memberinya waktu untuk menikmati aroma kampung, suara pasar, dan momen sederhana bersama Ibu Adis.

Sesampainya di rumah, Ara segera menurunkan tas belanjaan. Ibu Adis membantu menata di meja dapur dan lemari, sementara Ara tersenyum lelah tapi puas. “Hmm… ternyata capek tapi menyenangkan juga ya, Bu” katanya sambil mengelap keringat di dahinya

Ibu Adis menepuk bahu Ara, tersenyum hangat “Nah Nak… itu dia. Kadang hal sederhana seperti ini justru bikin hati terasa penuh. Kamu sudah mulai merasakan hangatnya kampung kan?”

Ara menatap sekeliling dapur, aroma sayur dan buah segar yang baru dibeli, suara kecil langkah Ibu Adis, dan sinar matahari yang menembus jendela semua itu membuatnya tersenyum puas “Iya Bu… rasanya… nyaman banget”

Setelah masuk ke dapur, Ara mulai menata belanjaan. Ia memisahkan sayur, buah, dan bumbu ke dalam keranjang dan lemari. Tomat diletakkan di nampan, cabai di wadah kecil, dan daun-daunan segar di kulkas agar tetap awet. Ibu Adis berdiri di sampingnya, sesekali memberi saran.

“Jangan lupa simpan daun bawangnya di wadah tertutup ya, Nak. Biar lebih tahan lama” ucap Ibu Adis sambil tersenyum

Ara mengangguk, tersenyum tipis “Iya Bu… aku ingat”

Tak lama setelah semuanya rapi, Ara menarik kursi dan duduk di meja makan. Nafasnya masih terasa sedikit capek, tapi hatinya ringan. Ibu Adis pergi sebentar ke ruang tamu, lalu kembali dengan beberapa plastik kecil berisi jajanan pasar yang sempat mereka beli tadi.

“Ini Nak… biar sambil santai kita makan dulu. Nanti baru siapin buat sarapan siang” ucap Ibu Adis sambil meletakkan jajanan di meja

Ara menatap jajanan itu dengan mata berbinar. Ada klepon, lemper, dan beberapa kue tradisional lain yang masih hangat “Wah… ini… favorit aku semua, Bu!” ujarnya sambil tersenyum lebar

Ibu Adis tertawa kecil “Ya ampun, Nak… jangan habisin semuanya sekaligus ya. Kita makan sama-sama”

Mereka mulai menyuap kue dan jajanan satu per satu. Suara gigitan kecil, aroma manis jajanan, dan hangatnya suasana membuat pagi itu terasa nyaman. Sesekali, Ara melempar komentar lucu.

“Bu… klepon ini rasanya beda di jakarta adis nggak pernah nemu yang seenak ini” kata Ara sambil tersenyum nakal

Ibu Adis terkekeh “Hah… Tapi iya, Nak… kue di pasar sini memang beda, lebih hangat rasanya”

Ara tertawa kecil, lalu mengambil lemper “Kalau ini, kayaknya bisa bikin aku kangen terus sama kampung” ujarnya sambil mengunyah pelan

Sore harinya Ara berjalan ke arah Ibu untuk pamit

“Bu aku ke IndoApril sebentar ya… stok jajanan favoritku habis” ucap Ara sambil menggenggam tas dompet kecil “Yang biasa aku makan kalau lagi nonton drakor udah habis”

Ibu Adis tersenyum hangat “Hati-hati di jalan Nak Jangan lama-lama mau magrib”

Ara mengangguk, kemudian kedepan dan menyalaka motornya ke toko yang di tuju. Sesampainya di IndoApril, ia memasuki lorong jajanan, menatap rak-rak penuh warna. Ada kue, biskuit, snack manis, semua tertata rapi.

Ia mulai memilih satu per satu, memasukkan ke keranjang. Satu keranjang kecil itu segera penuh dengan jajanan favoritnya dari cokelat, biskuit, hingga snack yang biasanya ia makan saat menonton drakor. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat membayangkan nanti bisa menikmati semuanya sambil santai di rumah.

Setelah selesai memilih, ibu kasir menghitung belanjaannya. Ara menyerahkan uang, lalu keluar dari toko dengan keranjang penuh.

Perjalanan pulang terasa ringan di awal. Namun, di tengah jalan yang sepi, motornya tiba-tiba tersendat dan mati.

“Eh… enggak… nggak bisa jalan…” gumam Ara jantungnya berdebar. Jalanan itu sepi, lampu jalan jarang dan magrib sudah mulai menyelimuti langit

Ia mencoba menyalakan motor beberapa kali, tapi mesin tetap diam. Frustrasi mulai muncul, dan mata Ara terasa panas “Ya ampun… kenapa sekarang?” bisiknya hampir menangis.

1
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!