Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 PASAR
Tiba-tiba pintu diketuk dan Ibu Adis muncul sambil tersenyum lebar
“Mama mu nyariin loh Raina apa gak inget pulang ya” ucap Ibu Adis sambil menepuk bahu Raina pelan
Raina masih duduk di tepi kasur tangannya cepat mengambil beberapa snack jajan di depannya lalu memasukkannya ke mulut
“Iya… nanti Tante ini lagi ngobrol panjangnya belum selesai” gumamnya sambil tersenyum nakal
Setelah itu ibu pergi lagi ke ruang Tv
Ara menatap Raina dengan campuran geli dan kagum
“Ya ampun Mba Raina… makan sambil ngomong juga ya”
Raina terkekeh ringan
“Ya masa diem aja kan lagi ngobrol sama besti dari orok gak afdol kalo gak ngabisin jajannya”
Beberapa menit kemudian terdengar suara dari luar yang memanggil kedua kalinya Raina Ia menoleh sebentar lalu tersenyum lebar ke Ara
“Eh Dek… aku pamit dulu ya Nanti Tante ngomel kalo aku gak pulang soalnya kalo Mama udah marah bisa gawat”
Ara tersenyum tipis
“Iya… hati-hati di jalan”
Raina melambai sambil mengambil tasnya
“Siap nanti kita ngobrol lagi ya”
Ia pun keluar dari kamar meninggalkan Ara dengan senyum hangat dan rasa rindu yang aneh Sore itu meski kamar kembali sepi suasana tetap terasa hangat karena tawa dan cerita yang baru saja mengisi ruang kecil itu
Ara duduk di tepi kasur menatap Raina yang baru saja pergi Ia menarik napas panjang lalu menoleh ke jendela melihat langit mulai jingga
“Hari ini agak beda ya” gumamnya pelan
Pagi itu, matahari baru saja menembus celah jendela dapur. Ara baru selesai salat subuh dan mandi. Ia masuk ke dapur dengan rambut masih agak basah, handuk masih disampirkan di bahu. Di dapur, Ayah dan Ibu sedang duduk sambil menyeruput teh hangat.
“Ayo makan Ara Ibu cuma buat nasi goreng pagi ini” ucap Ibu sambil tersenyum
“Iya Bu” jawab Ara sambil menata kursi
Mereka duduk bersama aroma nasi goreng sederhana tapi hangat memenuhi dapur
"Eh lihat nih… Ara udah pulang baru kemarin pagi-pagi udah kelihatan seger" celoteh Ayah sambil mengaduk teh
Ara tertawa pelan “Iya Yah… ”
Ibu mengambilkan nasi goreng ke piring Ara “Makan yang banyak ya nanti kalo kamu males ibu gak mau masakin”
“Tenang Bu Ara lapar” jawabnya sambil mengambil sendok
Mereka makan bersama Suasana dapur sederhana itu terasa hangat suara sendok canda dan aroma masakan bercampur jadi pagi yang menyenangkan
Setelah selesai sarapan, Ayah menepuk bahu Ara. “Ayah pamit dulu, mau ke kandang. Anak sapi perlu dicek. Jangan sampai ada yang sakit atau kelaparan”
“Iya Yah. Hati-hati di kandang” kata Ara sambil tersenyum.
Ayah mengangguk mengambil topi dan keluar rumah
Setelah Ayah pergi, Ibu mulai membereskan piring dan gelas sambil menepuk meja
Mereka bekerja sama sambil sesekali bercanda Ara mengelap meja Ibu mencuci piring sambil bekerja Ibu tiba-tiba menoleh ke Ara dengan tatapan serius tapi hangat "Nanti anterin ibu ke pasar soalnya stok sayur sama ikan udah pada abis"
Ara yang sedang merapikan taplak meja langsung memutar badan dengan ekspresi setengah kaget, setengah malas.
“Ah… males ah, Bu. Pagi-pagi banget…” ucapnya sambil mengerucutkan bibir.
Ibu mengangkat alis, lalu tersenyum tipis
“Iya iya… Ibu ngerti” katanya lembut “Tapi kalau nggak pagi, nanti sayurnya sudah habis semua, Nak. Kamu kan tahu pasar pagi-pagi itu paling lengkap dan sayurnya masih seger seger dan ikannya masih fresh semua”
Ara menghela napas panjang dramatis, lalu bersandar di meja.
“Tapi kan masih bisa siang dikit Bu…”
Ibu terkekeh kecil “Siang dikit itu artinya pilihannya tinggal sisa-sisa. Emang kamu mau makan ikan yang sudah nggak segar?”
Ara langsung menggeleng cepat “Ih… jangan dong”
“Nah makanya sekalian jalan pagi. Hitung-hitung olahraga” goda Ibu
Ara menghela napas panjang menatap Ibu sambil setengah mengeluh “Yaudah deh Bu… aku ikut tapi janji ya aku nyetir”
Ibu tersenyum sambil menggeleng “Iya iya…Lagian selama kamu nggak ada, Ayah juga biasanya yang nemenin, kan?”
"Iya" ucap Ara
Setelah selesai bersih bersih meraka siap siap. Setelah kurang lebih lima menit mereka siap siap mereka berjalan ke depan. Ara memanasi motor sedangkan ibu mengunci pintu rumah.
Kemudian ibu naik jok belakang
Ara menepuk stir motor sambil tersenyum kecil “Tenang aja, Bu. Ara kan udah biasa”
Mereka mulai melaju ke pasar, jalanan pagi itu sejuk. Burung-burung berkicau pelan, aroma tanah basah masih tersisa dari hujan semalam. Ara menatap jalanan di depan, sesekali menoleh untuk memastikan Ibu nyaman di belakang.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di pasar Suasana ramai dengan pedagang menata dagangan Aroma sayur dan buah segar menguar di udara Ibu turun dari motor memegang tas belanja.
Lalu mereka mengelilingi pasar untuk mencari sayur terlebih dahulu setelah sampai di kios sayur langganan ibu dari Ara kecil sampai sekarang masih tetap gak berubah
“Ayo Nak… pilih sayur yang bagus jangan asal ambil” ujar Ibu sambil menatap Ara
“Eh… ini siapa Bu” tanya wanita itu suaranya hangat tapi penasaran sambil menunjuk Ara
Ara menoleh kaget ketika seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah mendekat sambil menunjuk ke Ara
Ibu Adis menoleh sebentar tersenyum sambil mengangkat tangan pelan “Oh ini anak saya Bu”
Ara sedikit tersenyum kikuk menunduk pelan “Iya… selamat pagi Bu”
Wanita itu menatap Ara dengan mata hangat, kemudian tersenyum lebih lebar “Oh, anaknya yang pulang dari Jakarta ya? Wah… senangnya bisa ketemu langsung”
Ibu Adis menepuk bahu Ara pelan “Nak… ini Bu Rini, pedagang sayur yang biasanya langganan dulu waktu kamu kecil belanjanya selalu disini dari duli”
Ara membalas senyum itu, sedikit canggung “Senang bertemu, Bu Rini”
Bu Rini mengangguk ramah “Senang juga, Nak. Wah… sudah lama ya nggak pulang ke kampung yah?”
“Iya ada sekitar tujuh tahun, Bu… sejak lulus kuliah,” jawab Ara pelan. Matanya menatap ke lantai mencoba mengingat-ingat semuanya
“Wah, lama sekali ya… Jakarta pasti menyita banyak waktu makanya sampai gak sempat pulang ke kampung halaman” komentar Bu Rini
"Iya" ucap Ara diikuti senyuman yang sopan sambil menunduk
“Wah… pulang kali ini mau nikah atau mau liburan aja Nak?” lanjutnya Bu Rini setengah bercanda, matanya berbinar hangat
Ara tersentak sebentar, lalu tersipu “Eh… eng… enggak, Bu… cuma pulang aja…” jawabnya terbata-bata.mencoba menenangkan diri
Ibu Adis tertawa kecil dari belakang “Nak jangan malu-malu… Bu Rini cuma bercanda”
Bu Rini ikut tertawa. “Iya, iya… cuma iseng, Nak tapi lihat kamu sekarang… sudah besar cantik, beda banget sama waktu kecil dulu”
Ara menunduk, memegang sayuran yang diambilnya sambil tersenyum tipis “Terima kasih, Bu….”