Tiga tahun mengabdi sebagai seorang istri yang patuh dan di jadikan pengasuh anaknya. Marissa akhirnya menyerah setelah tahu dia di khianati. Bahkan putra sambung yang dia rawat selama ini tak lagi memihaknya.
Marissa marah, Dia yang seorang artis terkenal takkan akan diam dan akan balas semuanya.
Di sisi lain, Mendengar kakak angkat sekaligus wanita yang di cintainya terkhianati. Tentu saja Dylan murka. Pria itu takkan pernah mengampuni siapapun yang berani menyakiti Marissa, Wanita yang sejak dulu diam-diam ia sukai.
•••••
"Kau mencintaiku? Aku kakak mu..." Marissa Nugroho
" Kita sudah menjadi pasangan kakak beradik, Apa salahnya kita menjadi pasangan suami istri..." Dylan Sean Abraham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan tegas Dari Icha
Mau di bujuk seperti apa Kenan tetap tidak mau pergi ke sekolah. Bocah itu takut menjadi olok olokan para teman-temannya. Belum lagi ada yang mengatakan secara terang-terangan bahwa beberapa dari orang tua dari mereka melarang berteman dengan Kenan lagi karena anak itu berubah menjadi anak yang nakal.
Gilang pun juga tidak bisa memaksa putranya itu. Sepertinya masalah ini harus di urus agar Kenan mau bersekolah lagi.
"Okey.. Sekarang kamu boleh gak sekolah. Tapi untuk besok.. Kamu masuk ya.." Kenan diam tak menjawab. Mungkin sekarang dia bebas karena tidak masuk sekolah. Tapi besok?
"Kenapa diam? Kamu gak mau sekolah lagi?"
"Pa.. Bisa gak Papa ke sekolah. Bilang sama kepala sekolah supaya teman-teman Kenan berhenti ngolok-olok Kenan lagi.." Gilang mengangguk.
"Okey.. Papa akan bicarakan masalah ini.." Usai mengatakan itu, Gilang berdiri.
"Sekarang kamu mandi sana, Abis itu sarapan.." Kenan mengangguk dan patuh akan ucapan Papa nya.
Tak lama, Gilang keluar dari kamar sang putra. Seperginya sang Papa, Kenan membuka lemarinya. Dia melihat pakaiannya yang berada dalam lemari itu tak serapi dulu.
"Dulu kalau ada Bunda, Bunda yang selalu beresin lemari ini. Kamarku juga rapi, Tapi sekarang udah gak lagi.." Gumam Kenan. Dia mulai merasa kalau ketidak adanya Icha semua berubah, Dan itu nyata adanya.
"Ya gapapa meski gak ada Bunda.. Kan masih ada tante Lula. Tante Lula pasti mau beresin kamar ini nanti kalau tante Lula udah jadi Mama baru aku.." Ucapnya dengan penuh percaya diri. Sepertinya hasutan dari Lula sudah masuk dan mengarah daging dalam diri Kenan. Tidak tahu saja bocah itu kalau ia pasti akan menyesal nantinya.
Mungkin anak kecil memang bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang bukan. Namun perlu di ingat, Tidak semua bocah seperti itu. Terkadang ada anak yang gampang sekali hasutannya, Contohnya Kenan. Kenan bertemu Lula bukan sekali dua kali, Wanita itu punya banyak rencana agar bisa memiliki Gilang serta merebut hati bocah itu.
Sementara Gilang, Seperti biasa pria itu sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya dan putranya. Jika kemarin pria itu memasak, Untuk kali ini Gilang lebih memilih memesan saja.
"Huuuffft.. " Gilang menghembuskan nafas kasarnya. Semenjak Icha pergi dari rumah ini Gilang menjadi semakin kerepotan. Apalagi sekarang pembantunya pulang kampung dan tidak tahu kapan akan kembali.
"Tapi katanya bunda tuh jahat Pa, Persis Kayaknya ayahnya jahat..
Gilang terdiam kembali mengingat perkataan Kenan tadi. Apakah benar Lula berkata seperti itu? Gilang mengenal Lula karena wanita itu adalah sahabat baik mendiang istrinya. Saat istrinya sakit, Lula lah yang sering datang ke rumah ini memasak dan merawat Mama Kenan dengan baik. Meski terkadang Ibunya tak suka dengan kedekatan Lula dan Nara, Mendiang istrinya.
"Aku kenal Lula sebelum aku kenal Icha.. Dan aku tahu kalau Lula itu adalah wanita yang baik. Rasanya tidak mungkin dia bicara seperti itu pada Kenan.." Gumam Gilang yang merasa kalau Lula tak mungkin bicara seperti itu. Gilang tidak berpikir saja, Mana ada wanita baik mau dengan suami orang.
"Papa.. Kenan Lapar..." Lamunan pria itu bayar ketika melihat putranya datang.
"Ya sudah, Sekarang kita sarapan dulu..." Sepasang ayah dan anak itu pun mulai sarapan hanya berdua saja.
...****************...
Usai sarapan pagi, Kenan kembali masuk ke dalam kamarnya. Bocah itu sibuk dengan benda pipihnya.
"Kenan kok malah main ponsel? Gak belajar? Sebentar lagi ujian loh.." Ucap Gilang pada sang putra. Kenan hanya menoleh dan seolah abai terhadap teguran Papanya.
"Kenan, Kamu denger Papa tak sih?
"Kenan denger kok Pa.. Cuma kan sekarang Kenan lagi libur sekolah.. Ngapain belajar.." Gilang cukup terkejut dengan jawaban putra nya. Dulu bocah itu selalu menurut dengan apa yang dia katakan Gilang dan Icha. Tapi sekarang Kenan banyak membantah.
"Ya tapi kan, Mending kamu belajar.. Sebentar lagi kamu itu ujian. Gimana kau gak dapat juara." Kenan menatap Papanya.
"Pa, Kenan itu udah pintar.. Tanpa belajar pun Kenan pasti dapat nilai tinggi dan akan jadi juara.. Papa tenang saja.." Gilang sudah tak bisa berkata apapun lagi. Pria itu keluar dari kamar sang putra.
Pria itu meraih benda pipihnya berniat menghubungi Icha. Gilang harus bicara tentang masalah berita yang semakin hari semakin mencuat itu.
"Akan lebih baik kalau Icha yang bicara mengurus tentang berita ini. Agar berita sialan ini reda dan Kenan mau pergi bersekolah...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dylan masuk ke ruang rawat Icha. Meski kondisinya sudah membaik tapi Brian dan Arumi tak membiarkan putrinya itu keluar dari rumah sakit sebelum sehat total.
"Kak...
Icha tersenyum melihat adiknya yang datang membawa buah. Icha meletakkan benda pipihnya di atas nakas.
"Aku bawakan kakak buah.. Di makan ya kak.." Dylan duduk di kursi sebelah brangkar icha di rawat.
"Mau jeruk nya dong.. " Dylan dengan senang hati mengupas buah jeruk itu, Dengan telaten pria berusia dua puluh lima tahun itu membersihkan buah bulat itu.
"Aa.. Aku suapi kak.." Icha membuka mulutnya menikmati segarnya buah itu hingga suara dering telfon terdengar..
"Siapa?" Icha mengambil ponselnya, Wanita itu mengernyit heran melihat nama Gilang di layar ponselnya.
"Siapa kak?
"Gilang..
"Ngapain?
"Gak tahu..." Icha tolak panggilan itu. Dan kembali memakan buah jeruk itu. Dan lagi, Benda pipih itu kembali berdering. Tak hanya sekali dua kali tapi berkali-kali Gilang menelfon padahal sudah berkali-kali Icha tolak.
"Apasih?? Halo...
"Halo..
Icha tak menjawab, Ia ingin mendengar apa yang akan pria itu katakan. Dan Icha juga ingin tahu ada apa gerangan sehingga membuat pria itu menghubunginya berkali-kali.
"Icha..
"Ada apa!" Jawab Icha ketus.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan..
"Apa? Apa kau ingin membicarakan masalah perceraian kita? Kau tidak perlu khawatir.. Aku su..
"Bukan itu yang ingin aku katakan..
"Lalu?
"Kenan tidak mau masuk sekolah..." Icha memutar bola matanya malas.
"Lalu? Apa hubungannya denganku?
"Icha...Dengarkan aku.. Berita tentang perselingkuhan itu tidak benar.. Aku dan Lula hanya teman biasa.. Dia adalah sahabat dekat Mama kenan. Dia juga teman ku mengajar.. Dan kau tahu...Karena berita itu. Kenan di olok-olok oleh temannya.. Sekarang dia tidak mau masuk sekolah.. Aku ingin kau datang berikan klasifikasi di media sosial tentang rumor itu.. Atau begini saja, Kau datang ke sekolah Kenan besok dan datang ke kepala sekolah agar Kenan jangan di bully lagi...
Icha tersenyum sinis mendengar permintaan Gilang. Memangnya siapa dia? Dasar tidak waras..
"Memangnya siapa kau berani meminta seperti itu padaku. Soal berita itu, Benar atau tidak yang jelas kau bukan suami yang baik. Kau suami yang tak berguna dan tak tahu diri. Suami yang lebih memilih membela wanita lain dan menyakiti istri sendiri. Perkara itu semua bukan urusan ku lagi.. Dan satu lagi, Kau itu adalah ayah kandung Kenan. Dia bukan putra ku.. Jadi mau dia di bully atau tidak tidak ada hubungannya denganku paham!!
Icha langsung mematikan sambungan telepon nya. Wanita itu yang baru saja kehilangan bayinya itu menatap Dylan.
"Dylan..
"Ya kak..
"Mau melakukan sesuatu untukku?
"Apa?
Icha tersenyum penuh arti. Dylan yang mengerti pun langsung mengangguk.
"Okey.. Aku paham... Akan segera terlaksanakan.
•
•
•
TBC
hancur kan siaoa saja yg pernah menyakiti mu Icha.
lanjut thor