Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - BERDIRI DI DEPAN CERMIN
Lily memindahkan semuanya hari itu juga. Bukan karena panik ... karena kalkulasi. Tante Sari sudah masuk ke kamarnya dan mengambil foto. Apa yang difoto dan dikirimkan ke siapa, Lily belum tahu. Tapi ada satu prinsip sederhana yang sudah Lily pelajari dari dua minggu terakhir ini. Jangan biarkan sesuatu yang penting ada di tempat yang sudah dikompromikan.
Kotak kayu kecil, surat Mama, kertas-kertas catatan, amplop dari Hendra, fotokopi dokumen dari Pak Syarif. Semua Lily bungkus di dalam kain lap dapur yang sudah usang dan tidak akan dicari siapa pun, lalu dibawa ke gudang dengan alasan membuang barang lama.
Di gudang, semuanya masuk ke dalam ruang rahasia.
Ruang itu menerimanya tanpa perlu penjelasan. Pintu terbuka begitu Lily menyentuhnya, dan di dalam, di sudut yang tidak ada kursi atau meja, ada semacam ceruk kecil di dinding batu yang sebelumnya Lily tidak pernah perhatikan. Cukup besar untuk menyimpan satu bungkusan kain.
Lily menaruh semuanya di sana.
"Jaga ini," katanya ke ruangan itu.
Tidak ada jawaban suara. Tapi cahaya di sudut atas berkedip sekali... pendek, seperti konfirmasi yang tidak butuh kata-kata.
Lily keluar. Menutup pintu kecil di belakangnya. Dan kembali ke dapur untuk menyelesaikan persiapan makan siang.
Sore itu Reinaldo tidak datang lagi, tapi bekasnya masih ada di rumah dalam bentuk ketegangan yang lebih tipis dari biasanya di cara ayahnya bergerak. Lebih sering di ruang kerja. Lebih sering di telepon. Dan satu kali, waktu Lily lewat di lorong dan suara dari dalam ruang kerja bocor keluar, dia menangkap satu kalimat.
"Aku bilang sudah aku handle---"
Lalu pintu ruang kerja ditutup lebih keras dari perlu.
Lily melanjutkan langkahnya ke dapur.
Handle apa. Lily di posisi yang tidak bisa tahu... belum. Tapi ada satu hal yang sekarang lebih jelas dari sebelumnya, ayahnya bukan pelaku utama dalam semua ini. Dia lebih ke orang yang sudah terlanjur masuk ke dalam sesuatu yang lebih besar dari kemampuannya untuk keluar. Dan sekarang kehabisan cara untuk menyeimbangkan antara Reinaldo yang menekannya dari satu sisi dan Lily yang mulai bergerak dari sisi lain.
Orang yang terjepit biasanya melakukan salah satu dari dua hal, menyerah ke tekanan yang lebih kuat, atau mencari cara untuk menghilangkan salah satu tekanannya.
Lily tahu ke mana ayahnya akan condong.
Yang berarti waktunya semakin terbatas.
Malam itu Lily tidak langsung ke gudang.
Dia duduk di kamarnya yang sekarang terasa lebih kosong karena semua yang penting sudah dipindahkan. Hanya baju, buku usang, dan kasur tipis yang sudah lama butuh diganti tapi tidak pernah ada yang mengganti. Dia duduk di tepi kasur dan tidak melakukan apa-apa selama beberapa menit.
Hanya duduk.
Ada hal-hal yang dalam dua minggu terakhir tidak sempat dia beri ruang karena selalu ada yang lebih mendesak untuk dipikirkan, lebih penting untuk direncanakan, lebih berbahaya untuk diabaikan.
Tapi malam ini, di kamar yang sepi ini, beberapa hal itu mengetuk dari dalam.
Dia memikirkan Dimas, bukan dengan cara yang menyakitkan, lebih dengan cara yang dingin dan memeriksa. Tiga tahun yang dibangun di atas fondasi yang dari awal sudah miring. Setiap momen yang dulu terasa tulus sekarang punya lapisan kedua yang Lily harus putuskan apakah mau dia gali atau biarkan.
Dia memilih tidak menggali. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak perlu. Dimas sudah jadi sesuatu yang berbeda dalam hitungannya sekarang. Bukan mantan kekasih yang disakitinya. Bukan musuh yang perlu ditakuti. Lebih ke variabel yang belum selesai ditentukan nilainya.
Dia memikirkan Nindi dengan cara yang lebih rumit. Nindi bukan hanya antagonis yang sederhana. Nindi adalah perempuan yang tumbuh di bawah bayangan ibunya, yang pilihan-pilihannya mungkin tidak sepenuhnya pilihannya sendiri, yang sekarang hamil dengan laki-laki yang bahkan di saat terbaiknya tidak cukup hadir.
Lily tidak mengampuni Nindi. Tapi dia juga tidak menghabiskan energinya untuk membenci perempuan itu.
Ada perbedaan antara menjadikan seseorang musuh dan menjadikan seseorang bagian dari masalah yang perlu diselesaikan. Nindi ada di kategori kedua.
Dia memikirkan ayahnya dan ini yang paling lama.
Mama pernah menulis... bukan orang jahat, tapi orang yang lemah. Lily sudah menerima itu secara intelektual. Tapi ada bagian dari dirinya yang masih ingin kata-kata berbeda dari ibunya. Kata-kata yang memberikan izin untuk marah tanpa kualifikasi, untuk membenci tanpa harus memahami dulu.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Lily menghela napas panjang dan berdiri dari kasur.
Di gudang, pintu kecil terbuka seperti biasa.
Tapi malam ini Lily tidak langsung duduk di kursi kayu. Dia berdiri di depan cermin bundar itu ... berdiri, bukan duduk dan menatap pantulan wajahnya dengan cara yang belum pernah dia lakukan sebelumnya di ruang ini.
Bukan mencari gambar. Bukan menunggu kalimat.
Hanya melihat.
Perempuan di cermin itu... dua puluh dua tahun, rambut yang belum sempat dipotong sejak sebulan lalu, lingkaran tipis di bawah mata yang tidak akan hilang dengan tidur semalam. Tangan yang tahu cara mengiris bawang dan menyapu lantai dan menyimpan dokumen di bawah tatakan panci tanpa ketahuan.
Perempuan yang dua minggu lalu dikurung di gudang malam sebelum pernikahannya.
Perempuan yang sekarang punya pengacara, punya paman, punya saksi potensial, punya dokumen pertama yang bisa digunakan, dan punya ruang di balik dinding batu yang belum pernah dimengertinya sepenuhnya tapi sudah cukup dipercayainya.
Lily tidak tahu kapan persisnya pergeseran itu terjadi. Dari perempuan yang berlari di halaman gelap dengan lutut yang kemudian berdarah ke perempuan yang sekarang berdiri di sini dengan langkah yang lebih berat dan lebih yakin. Mungkin tidak ada satu momen tunggal. Mungkin memang begitu cara berubah bekerja... pelan, tidak kelihatan, sampai tiba-tiba kamu berdiri di tempat yang berbeda dan tidak ingat persis kapan kakimu mulai bergerak ke arah itu.
"Aku tidak akan minta maaf karena masih hidup," kata Lily ke pantulannya.
Keras. Cukup keras untuk terdengar nyata, bukan hanya di kepala.
Cermin tidak beriak. Tidak menampilkan kalimat. Tidak memberikan cahaya ekstra.
Hanya memantulkan wajah Lily yang menatap balik dengan mata yang ... untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama, tidak sedang menunggu izin dari siapa pun untuk ada.
Lily berdiri di sana sampai kata-kata itu selesai menetap di dalam dirinya. Bukan sebagai kalimat motivasi yang dipinjam dari buku atau film, tapi sebagai sesuatu yang tumbuh dari dalam, dari semua yang sudah dia lalui dalam dua minggu ini, dari surat Mama dan dokumen Pak Syarif dan anggukan Bibi Rah dan cara Hendra berkata aku sudah mencarimu sangat lama.
Dari rasa sakit yang tidak dia minta tapi terpaksa dia terima.
Dari amarah yang sudah dia pelajari cara memakainya alih-alih dipakai olehnya.
Lily keluar dari ruang rahasia jam sebelas malam.
Di kamarnya, sebelum tidur, dia membuka ponsel dan melihat satu pesan dari Hendra yang masuk tadi sore dan belum sempat dia baca.
[Lily, aku dapat informasi soal Reinaldo Mahendra. Ini lebih dalam dari yang kita kira. Dia bukan hanya investor properti. Ada kaitan ke kasus lama yang melibatkan nama ibumu, kasus yang pernah dilaporkan tapi tidak pernah sampai ke pengadilan. Aku perlu waktu dua hari untuk kumpulkan semuanya dengan rapi. Sabtu kita ketemu Pak Syarif lagi.]
Lily membaca dua kali.
Kasus yang pernah dilaporkan tapi tidak pernah sampai ke pengadilan.
Mama tidak hanya meninggalkan warisan yang dicuri. Mama meninggalkan kasus yang sengaja dihentikan sebelum selesai.
Dan seseorang ... Reinaldo atau orang di belakangnya, atau keduanya... sudah dua belas tahun memastikan kasus itu tetap tidak selesai.
Lily meletakkan ponselnya di meja.
Dua hari.
Sabtu.
Banyak hal yang bisa terjadi dalam dua hari di rumah ini, Lily sudah cukup belajar itu. Tapi untuk pertama kalinya sejak malam di gudang itu, dua hari terasa seperti waktu yang cukup, bukan waktu yang terlalu pendek.
Karena perempuan yang sekarang menunggu Sabtu bukan perempuan yang sama dengan yang dikurung di gudang dua minggu lalu.
Dan semua orang yang perlu tahu itu ... belum tahu.
Belum...