Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kontrak, Awal masalah
Hari berikutnya, Sakira bangun lebih pagi dari biasanya. Kepala terasa berat, tapi pikirannya dipenuhi wajah Rafael. Ia menelan rasa gugup yang tak bisa dijelaskan. Kontrak ini—yang seharusnya formal—tiba-tiba terasa rumit.
Bagaimana mungkin hatinya bisa mulai berdebar setiap kali mengingat pria itu?
Setelah bersiap, ia melangkah keluar apartemen dan menuju mobil. Rafael sudah menunggunya, berdiri dengan jas hitam rapi, matanya tajam menatap jalanan yang sibuk. Tak ada sapaan hangat, hanya tatapan yang membuat Sakira menelan ludah.
Siap untuk hari ini?” tanya Rafael, suara datarnya seperti biasa.
Sakira mengangguk. “Siap, Pak Rafael.”
Perjalanan menuju kantor klien hari itu sunyi, hanya suara mobil yang terdengar. Tapi ada sesuatu di udara—ketegangan yang aneh, seolah kata-kata tidak perlu diucapkan. Sakira merasa semakin sulit mengendalikan diri.
Di gedung klien, Rafael langsung menjadi pusat perhatian. Setiap gerak-geriknya mencerminkan kepercayaan diri seorang CEO yang sudah terbiasa mengendalikan dunia.
Sakira menyalin catatan, memperhatikan setiap detail, mencoba menyesuaikan diri.
“Jangan terlalu kaku,” bisik Rafael tiba-tiba, ketika Sakira terlihat tegang menghadapi salah satu klien.
Sakira menatapnya, terkejut. “Maaf, Pak Rafael…”
Rafael tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. “Aku hanya ingin kamu terlihat alami. Tidak harus sempurna.”
Sakura menelan kata-kata. Suara itu… berbeda. Lembut tapi tegas, dan membuat hatinya berdebar lebih cepat.
Acara makan siang di restoran mewah menjadi tantangan tersendiri. Rafael berbicara dengan klien, sementara Sakira mencoba menyesuaikan diri, tertawa sopan, dan menyisipkan komentar kecil. Setiap kali matanya bertemu Rafael, ia merasa panas di pipi, tak tahu harus menatap ke mana.
“Bagus,” kata Rafael di sela-sela percakapan, ketika Sakira menanggapi pertanyaan klien dengan tepat. “Kamu mulai mengerti.”
Sakura tersenyum tipis, hati berdebar. Kata itu sederhana, tapi membuatnya merasa dihargai. Lebih dari sekadar “pasangan kontrak,” ia merasa dirinya diakui.
Hari itu selesai tanpa masalah besar. Namun, di perjalanan pulang, Rafael tiba-tiba berhenti di tepi jalan, mematikan mobil. Sakira menatapnya bingung.
“Kamu tahu, Sakira,” kata Rafael pelan, menatap jalanan lampu kota yang mulai terang, “kontrak ini… bukan hanya tentang aku. Ini tentang kamu juga.”
Sakira menelan ludah. “Maksudnya…?”
“Ini akan sulit. Banyak yang akan menilai, mengomentari, bahkan mencoba menghalangi. Aku tidak ingin kamu terluka.”
Sakura menunduk, merasakan campuran takut dan penasaran. “Tapi… aku sudah menandatangani kontrak ini, Pak Rafael. Aku siap.”
Rafael menoleh, matanya menatap Sakira dalam-dalam. “Kamu yakin?”
“Yakin,” jawabnya, suara sedikit bergetar.
Rafael tersenyum tipis, namun ada sesuatu di matanya yang membuat Sakira berpikir lebih dalam. Ada rasa khawatir yang ia sembunyikan, tapi juga sesuatu yang lebih… pribadi.
Beberapa hari berikutnya, Sakira mulai terbiasa dengan ritme kehidupan baru. Ia menghadiri acara, menemani Rafael ke rapat penting, dan belajar membaca cara dunia bisnis bekerja. Tapi ada satu hal yang tak bisa ia lupakan: tatapan Rafael yang selalu membuat hatinya berdebar.
Suatu sore, setelah rapat panjang, Rafael menatap Sakira saat mereka keluar dari gedung. “Kamu bekerja keras hari ini,” katanya, nada suaranya berbeda dari biasanya. Lebih… hangat.
Namun ketika mereka berjalan menuju mobil, seorang reporter tiba-tiba muncul dari arah lain, kamera siap memotret. “Pak Rafael! Siapa wanita ini? Apa hubungannya dengan Anda?”
Sakira menatap Rafael panik. Ia belum siap menghadapi sorotan publik.
Rafael menatap reporter dengan tajam, kemudian menoleh ke Sakira. “Ikuti aku.”
Dalam hitungan detik, Rafael menarik Sakira ke lorong sempit di samping gedung, menjauh dari pandangan publik. Hatinya berdetak kencang—tak hanya karena takut, tapi juga karena ketegangan yang muncul antara dirinya dan Rafael.
“Ini… sering terjadi?” tanya Sakira, masih terengah.
“Tidak,” jawab Rafael singkat, matanya menatapnya dalam-dalam. “Tapi kamu harus siap. Kontrak ini bukan hanya soal tampil di depan publik. Kadang… kita harus berhadapan dengan dunia yang tidak ramah.”
Sakira menelan kata-kata. Dunia Rafael… lebih rumit dari yang ia bayangkan. Dan ia mulai menyadari sesuatu yang menakutkan sekaligus menggoda: ia tidak bisa lagi menjaga jarak dari pria ini.
Malam itu, Sakira duduk di balkon apartemennya, memikirkan hari yang baru saja berlalu. Kontrak ini… bukan sekadar perjanjian formal. Setiap tatapan, setiap kata dari Rafael, membuat hatinya bergetar. Ia bertanya-tanya, apakah ia bisa menjaga hatinya tetap aman, atau kontrak ini justru akan menjeratnya lebih dalam… ke perasaan yang tak pernah ia rencanakan.
Di sisi lain kota, Rafael menatap kota dari kantornya, memikirkan Sakira. Ia tahu kontrak ini hanyalah kesepakatan formal, tapi ada sesuatu tentang wanita itu—ketenangan di tengah kekacauan, keberanian menghadapi dunia yang keras—yang membuatnya sulit menjaga jarak.
Dan saat lampu kota berkelap-kelip, Rafael tersenyum tipis. Ia sadar satu hal: kontrak ini hanyalah awal. Sesuatu yang lebih besar, dan lebih berbahaya, baru saja dimulai.
Sakira menutup pintu apartemen dengan pelan, masih terasa jantungnya berdebar kencang. Ponselnya bergetar, tapi ketika ia melihat nama pengirim—seorang teman kerjanya—ia menunduk dan membiarkannya. Ia tidak ingin membahas hari ini dengan siapapun. Yang ada di pikirannya hanyalah Rafael, tatapan matanya, dan… sensasi yang aneh yang muncul setiap kali berada di dekatnya.
Ia duduk di sofa, menatap langit-langit, mencoba menenangkan diri. Namun pikirannya terus kembali pada reporter itu.
“Bagaimana kalau… besok ada yang lebih parah?” gumamnya pelan. Rasa takut mulai merayap, tapi di balik itu ada sesuatu yang membuatnya merasa hidup—getaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Rafael.
"Jangan khawatir. Aku akan selalu melindungimu, Sakira. Tapi kamu harus belajar menghadapi dunia ini. Besok akan ada latihan kecil."
Sakira menatap pesan itu. Hatinya campur aduk—lega tapi juga semakin bingung. Rafael… melindunginya, tapi kata-katanya terdengar tegas, hampir menuntut. Ia menutup ponsel, mencoba mengatur napas.
Keesokan harinya, Rafael menjemputnya lebih awal dari biasanya. Pagi itu langit berwarna abu-abu, dan hujan tipis mulai turun. Mobil bergerak perlahan, tapi suasana di dalam terasa tegang.
“Tadi malam kamu terlihat sedikit… resah,” kata Rafael tiba-tiba, matanya menatap Sakira melalui kaca samping.
Sakira menelan ludah, mencoba tersenyum. “Hanya lelah, Pak Rafael.”
Rafael menggeleng. “Aku tahu itu bukan sekadar lelah. Aku bisa membaca orang.”
Sakira terdiam, jantungnya berdebar. Pria ini… tidak hanya tajam dalam bisnis, tapi juga… dalam membaca perasaan orang lain.
Rasanya menakutkan dan memikat sekaligus.
Mereka tiba di sebuah gedung latihan public speaking yang disewa Rafael khusus untuk Sakira.
“Latihan kecil,” kata Rafael sambil menatapnya serius. “Hari ini kamu akan belajar menghadapi pertanyaan sulit, gosip, dan pengawasan publik. Anggap ini simulasi sebelum kita menghadapi dunia nyata.” “Hanya lelah, Pak Rafael.
Selama sesi itu, Rafael bertindak sebagai pengawas sekaligus “klien sulit.” Ia mengajukan pertanyaan yang memojokkan, memberi komentar yang membuat Sakira harus berpikir cepat. Setiap kali Sakira hampir tersandung kata-kata, Rafael menatapnya tajam, lalu tersenyum tipis ketika ia berhasil menjawab dengan baik.
“Bagus,” katanya di sela latihan. “Kamu mulai mengerti.”
Sakira tersenyum tipis, merasa lega. Tapi ada rasa malu yang aneh—setiap kali Rafael menatapnya, hatinya berdebar kencang. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apakah ini rasa takut, kagum, atau… sesuatu yang lebih?
Sore itu, setelah latihan selesai, mereka berjalan ke mobil. Hujan mulai reda, tapi trotoar masih basah. Rafael menatap Sakira dengan tajam.
“Perlu aku beri tahu sesuatu?” tanyanya.
Sakira mengangguk, penasaran sekaligus takut.
“Di dunia ini, tidak semua orang akan menerima kontrak kita. Beberapa mungkin iri, beberapa ingin mencampuri urusan kita. Kamu harus siap,” kata Rafael, nada suaranya serius. “Dan… jangan terlalu mudah percaya orang lain, terutama yang berpura-pura ramah.”
Sakira menelan kata-kata, hatinya sedikit menegang. “Aku… aku mengerti, Pak Rafael.”
Rafael menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Bagus. Tapi jangan salah paham. Aku bukan ingin menakut-nakuti. Aku hanya ingin kamu kuat. Karena… aku tidak ingin ada yang menyakitimu.”
Sakira terdiam, hatinya berdebar. Kata-kata itu… terdengar hangat, tetapi juga… membuatnya semakin sulit menjaga jarak.
Di perjalanan pulang, mereka melewati taman kota yang basah setelah hujan. Hujan meninggalkan aroma tanah dan daun basah yang segar. Rafael berhenti sejenak, menatap Sakira.
Kamu lelah?” tanyanya, lebih lembut dari biasanya.
Sedikit tersipu, Sakira mengangguk. “Sedikit, tapi baik-baik saja.”
Rafael menunduk, menatapnya lama. “Kamu… berbeda dari yang kubayangkan. Tidak hanya cantik, tapi juga kuat. Itu membuatku… tidak bisa acuh.”
Sakira membeku. Kata-kata itu membuat hatinya berdebar kencang. Ia tahu ia harus menjaga profesionalisme, tapi… sulit menahan perasaan yang mulai muncul.
Rafael tersenyum tipis, lalu membuka pintu mobilnya. “Naiklah. Masih ada beberapa hal yang perlu kita bahas sebelum kontrak berjalan sepenuhnya.”
Sakira masuk ke mobil, masih terdiam. Hatinya campur aduk—takut, penasaran, tapi juga ada rasa hangat yang belum pernah ia rasakan. Ia menyadari sesuatu: kontrak ini bukan hanya tentang pekerjaan atau penampilan. Ini juga tentang perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.
malam itu, Sakira duduk di balkon apartemennya, menatap lampu kota yang berkelap-kelip. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi pikirannya terus kembali pada Rafael. Tatapan matanya, senyum tipisnya, kata-katanya… semuanya terasa seperti magnet yang menarik hatinya tanpa ia sadari.
Dan saat hujan ringan turun lagi, Sakira tahu satu hal: kontrak ini baru saja dimulai, tapi hatinya sudah mulai terjerat.
Di sisi lain kota, Rafael menatap gedung tinggi dari kantornya, memikirkan Sakira. Ia tahu kontrak ini hanyalah formalitas, tapi ada sesuatu tentang wanita itu—keberanian, ketenangan, dan… perasaan yang muncul setiap kali mereka bersama—yang membuatnya sulit menjaga jarak.
Dan di situ, di balik lampu kota yang berkelap-kelip, Rafael tersenyum tipis. Ia sadar satu hal: kontrak ini hanyalah awal. Sesuatu yang lebih besar dan lebih rumit baru saja dimulai.
Sakira mulai merasakan perasaan yang tidak bisa ia kontrol.
Rafael mulai menunjukkan sisi emosionalnya yang jarang terlihat orang lain.
Tantangan nyata menunggu: gosip, pengawasan publik, dan tekanan dunia bisnis yang bisa menguji hubungan kontrak mereka.
bersambung...