NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Istri Kontrak Pewaris Terkaya Yang Diremehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laskar Bintang

Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.

Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.

Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah yang Tidak Bisa Ditarik

Hujan turun sejak subuh.

Butiran air menghantam jendela kamar seperti ketukan tak sabar, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Tiga puluh hari yang dijanjikan Alina kepada dewan kini tersisa dua puluh enam.

Dan ancaman dari pamannya tidak lagi sekadar bayangan.

Alina berdiri di depan meja kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan arsip lama Ardhana Capital. Dokumen-dokumen digital yang sebagian besar belum pernah disentuh publik.

Arsen masuk tanpa suara, membawa dua cangkir kopi.

“Kau belum tidur?” tanyanya pelan.

Alina tersenyum tipis. “Sedikit.”

Arsen meletakkan kopi di sampingnya, lalu berdiri di belakang kursinya, membaca sekilas layar.

“Laporan audit tahun itu?” tanyanya.

Alina mengangguk. “Tahun ketika perusahaan ayahku dituduh manipulasi laporan keuangan.”

Ia memperbesar satu file.

“Lihat ini,” katanya.

Arsen mencondongkan tubuh.

“Transfer dana ke perusahaan konsultan eksternal. Jumlahnya besar. Tapi tidak ada rincian jasa.”

“Perusahaan cangkang?” tebak Arsen.

“Kemungkinan besar.”

Alina membuka dokumen lain.

“Dan ini… tanda tangan persetujuan ada di bawah nama ayahku. Tapi pola tanda tangannya berbeda.”

Arsen mengernyit. “Dipalsukan?”

“Bisa jadi.”

Hujan di luar semakin deras.

“Jika kita mengungkap ini, kita menuduh langsung anggota dewan lama. Termasuk pamanmu,” kata Arsen hati-hati.

Alina menatap layar tanpa berkedip.

“Dia sudah memulai dengan mengancam ayahku lagi. Aku hanya membela diri.”

Arsen diam sejenak.

“Aku tidak meragukan niatmu,” katanya lembut. “Aku hanya ingin memastikan kita tidak masuk perangkapnya.”

Alina memejamkan mata sebentar.

Ia tahu Arsen benar.

Pamannya licik. Jika ia cukup berani mengulang ancaman lama, berarti ia sudah menyiapkan perlindungan untuk dirinya sendiri.

“Apa saranmu?” tanya Alina akhirnya.

“Kita jangan langsung menyerang,” jawab Arsen. “Kita kumpulkan bukti lebih kuat. Dan sebelum bergerak, kita pastikan pasar dan dewan melihatmu sebagai pemimpin stabil, bukan pewaris emosional.”

Alina tersenyum samar. “Jadi kita mainkan citra.”

“Kita kelola narasi,” koreksi Arsen.

Siang itu, Alina menghadiri konferensi pers mendadak.

Media sudah menunggu, haus akan drama terbaru antara dua keluarga besar.

Arsen berdiri di sampingnya.

“Apakah benar Ardhana Capital berencana mengambil alih Wijaya Group?” teriak salah satu wartawan.

Alina tersenyum tenang.

“Tidak ada rencana pengambilalihan,” jawabnya jelas. “Yang ada adalah pembahasan kerja sama strategis yang masih dalam tahap evaluasi.”

“Bagaimana dengan rumor konflik internal keluarga Anda?”

Ia berhenti sejenak.

“Keluarga besar pasti memiliki perbedaan pandangan,” katanya diplomatis. “Namun keputusan final tetap melalui mekanisme resmi dan profesional.”

Arsen meliriknya sekilas.

Nada suaranya mantap. Tidak ada getar.

Wartawan lain mengangkat tangan.

“Apakah pernikahan Anda murni karena cinta atau bagian dari strategi bisnis?”

Beberapa orang tertawa kecil.

Alina tidak tersenyum kali ini.

“Pernikahan saya bukan komoditas untuk dianalisis,” jawabnya tegas. “Dan saya harap media menghormati batas antara kehidupan pribadi dan keputusan korporasi.”

Keheningan singkat tercipta.

Arsen menambahkan, “Kami berdiri di sini sebagai dua individu yang menjalankan tanggung jawab profesional masing-masing. Spekulasi tidak akan mengubah fakta.”

Konferensi itu berakhir tanpa sensasi besar.

Namun pesan tersampaikan.

Mereka solid.

Malamnya, Alina menerima telepon dari pamannya.

“Konferensi pers yang bagus,” suara pria itu terdengar santai. “Kau belajar cepat.”

“Aku selalu belajar,” balas Alina dingin.

“Kau pikir dengan tampil manis di depan kamera kau bisa menghentikanku?”

“Aku tidak mencoba menghentikan Paman. Aku hanya memastikan semua orang tahu siapa yang membuat keputusan.”

Tawa kecil terdengar dari seberang.

“Kau semakin mirip kakekmu. Keras kepala.”

“Dan Paman semakin putus asa.”

Suara di ujung sana berubah tajam.

“Hati-hati, Alina. Rahasia lama ayahmu bisa muncul kapan saja.”

“Kalau itu terjadi,” jawab Alina tenang, “aku juga punya sesuatu yang bisa kubagikan.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, ia mendengar keraguan tipis dalam napas pamannya.

“Kau berani mengancamku?”

“Aku hanya mengingatkan bahwa permainan ini tidak satu arah.”

Ia menutup telepon tanpa menunggu jawaban.

Tangannya sedikit gemetar, tapi bukan karena takut.

Melainkan karena ia tahu langkah barusan tidak bisa ditarik kembali.

Arsen menemukannya berdiri di balkon, memandangi hujan yang belum juga berhenti.

“Kau bicara dengannya?” tanyanya.

Alina mengangguk.

“Aku memberinya peringatan.”

Arsen mendekat, berdiri di sampingnya.

“Dan sekarang?”

“Sekarang kita lihat siapa yang lebih dulu bergerak.”

Angin malam membawa udara dingin.

Arsen melepaskan jasnya dan menyelimutkannya di bahu Alina.

“Kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian,” katanya pelan.

Alina menoleh.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kalimat itu bukan sekadar basa-basi.

Ia benar-benar tahu.

Namun ketenangan itu kembali retak keesokan paginya.

Salah satu portal berita besar mempublikasikan artikel lama yang diangkat kembali tentang dugaan manipulasi laporan keuangan perusahaan ayah Alina.

Judulnya provokatif.

Pasar bereaksi cepat.

Saham perusahaan kecil ayahnya anjlok.

Alina membaca berita itu dengan wajah pucat.

“Dia bergerak lebih cepat,” gumamnya.

Arsen segera menelepon tim hukumnya.

“Kita keluarkan pernyataan resmi dan ajukan klarifikasi,” katanya tegas.

“Terlambat,” bisik Alina. “Narasi sudah terbentuk.”

Arsen menatapnya.

“Kalau begitu kita ubah narasinya.”

Alina mengangkat wajahnya.

“Apa maksudmu?”

“Kita tidak menyangkal,” jawab Arsen. “Kita buka penyelidikan independen. Transparansi penuh. Dan jika ada bukti pemalsuan tanda tangan, kita seret ke ranah hukum.”

Itu langkah besar.

Skandal keluarga akan benar-benar terbuka.

Alina terdiam beberapa detik.

Lalu ia mengangguk.

“Baik.”

Ia meraih ponselnya, menghubungi sekretaris dewan Ardhana.

“Siapkan rapat luar biasa,” katanya mantap. “Aku ingin audit forensik atas laporan keuangan lima tahun terakhir sebelum kasus itu muncul.”

Ia menutup telepon dan menatap Arsen.

“Kalau Paman ingin membuka masa lalu, maka kita buka semuanya.”

Hujan di luar mulai mereda.

Langit masih kelabu, tapi cahaya samar mulai menembus awan.

Alina tahu, setelah ini tidak ada lagi ruang untuk setengah langkah.

Ia bukan lagi gadis yang menyembunyikan identitas.

Bukan lagi istri kontrak yang berusaha bertahan.

Ia adalah pewaris yang memilih berdiri di garis depan.

Dan bersama Arsen di sisinya, ia siap menghadapi badai yang akan datang—

Meski badai itu mungkin menghancurkan lebih dari sekadar reputasi keluarga.

(BERSAMBUNG)

1
Osie
mampir nih..baca sipnosis sepertinya seru..so lanjut baca dan moga ini cerita gak ngegantung kayak jemuran 🙏🙏
Nia nurhayati
mampirrr thorr
Lusi Sabila
kayaknya seru nih.. buat bucin yaa Thor tuh yg dingin kayak kulkas 10 pintu Arsen 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!