Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di dalam aula, suasana mendadak hening, hanya menyisakan deru napas yang berat.
Di hadapan penghulu dan saksi, Adnan mengucapkan kalimat sakral itu dengan satu tarikan napas yang mantap, tanpa ragu sedikit pun.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kinan Kinara Putri binti Almarhum Prayoga dengan mas kawin tersebut, tunai karena Allah Ta'ala!"
"Sah!" suara saksi bergema, diikuti doa yang melangit.
Air mata Kinan jatuh tak terbendung saat mendengar kata 'Sah'.
Ia yang terbiasa mendengar musik bising dan makian, kini mendengar namanya disebut dalam sebuah perjanjian agung dengan Sang Pencipta.
Namun, di sudut lain pesantren, kesucian akad itu berbalas kepedihan yang kelam.
Di dalam kamar asrama yang tertutup rapat, Fauziah tersungkur di lantai.
Isak tangisnya pecah, menyatu dengan tangisan beberapa santriwati lain yang selama ini memuja Adnan dalam diam.
Dengan tangan gemetar karena amarah dan patah hati, Fauziah meraih selembar foto Adnan yang selama ini ia simpan rapi di dalam kitabnya.
Srek! Srek!
Ia merobek kertas itu menjadi kepingan tak berbentuk, seolah dengan begitu ia bisa menghapus rasa sakit yang menghujam jantungnya.
"Kenapa harus dia, Ustadz? Kenapa harus pendosa itu!" raungnya lirih di sela isak tangis yang menyesakkan.
Kembali ke aula, Adnan perlahan mendekati istrinya yang masih bersimpuh.
Ia mengulurkan tangan, membimbing Kinan untuk berdiri, lalu dengan penuh takzim, Adnan mendaratkan kecupan lembut di kening Kinan—tepat di atas perban yang menutupi luka akibat lemparan batu tadi.
Kinan terpaku saat mendapatkan sentuhan dari suaminya yang sangat berbeda dengan sentuhan-sentuhan kasar yang pernah ia terima selama ini. Namun, beban mental yang luar biasa, rasa malu, trauma serangan batu, dan kelelahan fisik yang mencapai puncaknya membuat pandangan Kinan tiba-tiba menggelap.
Tubuh Kinan langsung limbung. Sebelum jatuh ke lantai, Adnan dengan sigap menangkapnya.
Kinan yang jatuh pingsan tepat di pelukan suaminya.
"Kinan! Kinan, bangun!" panggil Adnan cemas.
Tanpa mempedulikan tatapan mata orang-orang di aula atau bisik-bisik yang mungkin kembali muncul, Adnan langsung membopong tubuh kurus istrinya itu dengan kedua tangannya.
Ia membawa Kinan keluar dari aula, melewati selasar menuju kamar pribadinya.
Di bawah temaram lampu pondok dan sisa-sisa isak tangis dari asrama putri, Adnan berjanji dalam hati bahwa mulai malam ini, tidak akan ada lagi batu yang boleh melukai wanita ini.
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela kayu yang berukir ayat-ayat suci.
Bau harum kayu cendana dan minyak wangi khas sajadah memenuhi ruangan yang didominasi oleh rak-rak buku kitab kuning yang menjulang tinggi.
Kinan perlahan membuka matanya. Langit-langit kamar itu putih bersih, jauh berbeda dari langit-langit kamarnya yang penuh noda lembap di rumah kos lama.
Kepalanya terasa sangat berat, dan denyutan di keningnya masih terasa nyata.
Ia mencoba menggerakkan tangan kirinya untuk menyeka keringat di pelipis, namun sebuah tarikan kecil menghentikannya. Kinan menoleh dan tertegun.
Di punggung tangannya, sebuah jarum infus tertanam rapi, terhubung ke botol cairan yang tergantung di tiang besi samping tempat tidur.
"Jangan bangun dulu, Kinan. Tubuhmu masih sangat lemah," sebuah suara rendah dan lembut menghentikan gerakannya.
Kinan menoleh ke arah sumber suara. Adnan sedang duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang.
Wajah suaminya itu tampak sedikit lelah, guratan hitam tipis menghiasi bawah matanya, tanda bahwa ia tidak tidur sepanjang sisa malam demi menjaganya.
Adnan sudah mengganti jubahnya dengan baju koko biru langit yang sederhana.
"Ustadz..." suara Kinan serak, nyaris tak terdengar.
"Panggil Mas saja jika kita hanya berdua.Tadi subuh dokter pondok datang. Katanya kamu mengalami syok berat dan kelelahan akut. Cairan ini akan membantumu pulih."
Kinan menatap selang infus itu, lalu menatap sekeliling kamar yang sangat asing baginya.
"Jadi, ini bukan mimpi? Kejadian semalam... batu-batu itu dan pernikahan itu?"
Adnan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih sebuah gelas berisi air putih dari meja nakas, lalu perlahan mendekat ke arah Kinan.
Dengan sangat lembut, ia menyisipkan lengannya di bawah leher Kinan, membantu istrinya itu untuk sedikit bersandar di bantal.
"Minumlah dulu sedikit," ucap Adnan sambil mengarahkan gelas itu ke bibir Kinan.
Kinan meneguk air itu perlahan. Dinginnya air terasa membasahi tenggorokannya yang kering, namun hangatnya perlakuan Adnan jauh lebih meresap ke dalam hatinya.
Ia melihat Adnan yang begitu telaten mengurusnya, seorang lelaki yang derajatnya setinggi langit, kini sedang melayani wanita yang dianggap sampah oleh dunia.
"Kenapa Anda melakukan ini? Anda bisa saja meninggalkan saya setelah saya pingsan. Anda bisa saja membatalkan semuanya." bisik Kinan setelah menghabiskan setengah isi gelas.
Adnan meletakkan kembali gelas itu, lalu menatap Kinan dengan pandangan yang dalam.
"Karena mulai semalam, separuh dari jiwaku ada padamu, Kinara. Aku tidak hanya menikahimu karena nazar, tapi karena aku ingin membuktikan padamu bahwa Allah tidak pernah tidur saat hambanya ingin kembali."
Kinan menunduk, air matanya kembali jatuh mengenai sprei tempat tidur.
Di luar, suara santri yang sedang mengaji terdengar sayup-sayup, mengingatkannya bahwa badai di luar sana belum benar-benar reda, namun di dalam kamar ini, ia merasa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memiliki tempat untuk pulang.
Ketukan lembut di pintu kayu jati itu memecah keheningan pagi yang syahdu.
Seorang wanita paruh baya, abdi dalem sepuh yang biasa dipanggil Bibi, melangkah masuk dengan kepala menunduk takzim.
Di tangannya, sebuah nampan kayu membawa semangkuk bubur ayam hangat yang uapnya masih mengepul, menebarkan aroma kaldu yang menggugah selera.
"Punten, Ustadz. Ini sarapan untuk Mbak Kinan," ucap Bibi dengan suara halus.
Ia meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Tatapan matanya sempat mencuri pandang ke arah Kinan.
Adnan mengangguk pelan. "Terima kasih, Bi. Biar saya yang menyuapinya."
Setelah Bibi pamit keluar, Adnan meraih mangkuk bubur itu.
Ia meniupnya perlahan, memastikan suhunya pas sebelum mengarahkannya ke bibir Kinan.
"Makanlah sedikit, Kinan. Tubuhmu butuh tenaga untuk melawan trauma ini," bujuk Adnan.
Kinan menatap sendok di depan matanya dengan ragu.
Tenggorokannya terasa tercekat, bukan karena sakit fisik, melainkan karena rasa haru yang menyesakkan dada.
Di tempat kerjanya dulu, ia sering melihat lelaki memesankan makanan mewah hanya untuk memamerkan harta, namun baru kali ini ada seorang lelaki yang meniupkan doa pada setiap suapan bubur sederhana untuknya.
"Aku bisa sendiri, Mas," bisik Kinan canggung, mencoba meraih sendok itu dengan tangan yang tidak terpasang infus.
Adnan menjauhkan mangkuk itu sedikit sambil tersenyum tipis.
"Biarkan suamimu ini mencari pahala di pagi pertama kita. Bukankah menyuapi istri adalah sedekah yang paling indah?"
Kinan akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan pertama itu.
Rasa hangat bubur itu seolah mengalir hingga ke sudut-sudut hatinya yang selama ini beku dan mati rasa. Namun, di tengah ketenangan itu, sayup-sayup dari balik jendela kamar, Kinan masih bisa mendengar bisik-bisik dari arah lapangan pondok.
Suara-suara ketidaksukaan para santri masih ada di sana, bagaikan guntur yang mengancam di balik awan cerah.
"Apa Mas tidak menyesal? Di luar sana, mereka pasti sedang membicarakan keburukan Mas karena memilihku."
Adnan meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk.
Ia menatap Kinan dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.
"Biarkan mereka bicara dengan lisan mereka, Kinan. Kita akan menjawabnya dengan perubahan hidupmu. Surga itu luas, cukup luas untuk menampung hamba yang bertaubat, tapi terlalu sempit untuk mereka yang sombong dengan amalnya."
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅