NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

Si bungsu menatapku dengan mata berbinar. “Kakek… aku mau bikin kumis besar di kue Raka biar lucu!”

Aku menahan tawa, menepuk meja. “Hahaha… jangan, nanti aku jadi kue paling menyeramkan di dunia!”

Dina tertawa pelan sambil menatapku. “Hahaha… aku penasaran, Raka… lihat nanti anak-anak bikin versi kamu seperti apa. Rumah ini makin hidup aja.”

Si sulung menempelkan potongan buah untuk mata kue versi Dina, lalu menambahkan topi mini dari cokelat yang terlalu besar. “Ini, Bunda… biar terlihat seperti ratu super lucu!”

Aku menahan tawa keras. “Hahaha… topi itu terlalu gede! Kalau dipakai, Bunda nggak akan kelihatan cantik, tapi super lucu!”

Ma menatap kami sambil tertawa ngakak. “Hahaha… anak-anak… kalian nakal banget. Rumah ini hidup karena tawa kalian semua!”

Anak-anak mulai berlomba menempelkan hiasan ekstra ke kue Raka dan Dina—ada mata terlalu besar, hidung aneh, bahkan lidah mini dari cokelat.

Dina menatapku, menahan tawa. “Raka… kita bakal kalah versi kue lucu nih. Rumah ini penuh tawa karena kreativitas anak-anak.”

Aku tersenyum lebar. “Iya… tapi lihat ini… momen kayak gini bikin rumah terasa hidup. Semua orang ikut tertawa, semua ikut bahagia. Tidak ada yang lebih indah.”

Si bungsu menatapku sambil mengangkat kue mini versi Raka. “Kakek… ini lucu banget! Lihat kumisnya!”

Aku terkikik, pura-pura sedih. “Hahaha… baiklah… aku menyerah. Rumah ini hidup karena kalian nakal, kreatif, dan penuh tawa!”

Ma menepuk tangan sambil tertawa lepas. “Hahaha… benar! Anak-anak menang versi konyol! Tapi Ma senang… rumah ini hangat karena kita semua saling bercanda, mencintai, dan bahagia bersama!”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku, tersenyum hangat. “Raka… selamanya, ya? Rumah ini, keluarga ini, tawa konyol kayak gini… kita jaga terus.”

Aku menggenggam tangannya erat. “Selamanya, Dina… dan besok kita bikin versi kue lucu lagi kalau Ma siap. Rumah ini hidup, hangat, dan penuh cinta… karena kita semua ikut terlibat.”

Anak-anak tertawa, Ma ikut tertawa, dan aku serta Dina saling tersenyum. Meja penuh kue kacau tapi lucu, aroma sarapan masih tersisa, dan rumah tetap hidup—penuh tawa, cinta, dan momen hangat yang membuat semua bahagia.

---

Setelah semuanya selesai menertawakan kue-kue mini yang kacau, aku menghela napas panjang sambil menatap meja penuh hiasan cokelat dan buah.

“Raka… lihat deh, meja ini kayak medan perang kue mini,” kata Dina sambil menahan tawa.

Aku terkikik. “Iya, tapi aku suka… rumah ini terasa hidup banget. Semua ikut tertawa, semua ikut berantakan, tapi bahagia!”

Ma menatap anak-anak sambil tersenyum lebar. “Hahaha… anak-anak nakal semua! Tapi Ma senang… rumah ini hangat karena kita semua bisa bercanda bareng.”

Si sulung menatapku sambil serius. “Kakek… besok kita bikin kue lagi, tapi versi monster!”

Aku pura-pura panik. “Monster? Hahaha… nanti aku diserang kue monster versi anak-anak nih!”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku, tersenyum. “Raka… lihat mereka, Ma… semua ikut kreatif dan bahagia. Rumah ini penuh tawa karena momen kecil kayak gini.”

Si bungsu mulai membereskan potongan buah yang berserakan, sambil berkata polos, “Tapi aku senang, rumah kita nggak pernah sepi, kan?”

Aku tersenyum hangat, menggenggam tangannya sebentar. “Iya… rumah ini nggak pernah sepi. Penuh tawa, cinta, dan perhatian. Dan semua ini karena kita semua saling peduli.”

Ma ikut menepuk punggung anak-anak. “Benar! Rumah ini hidup karena kita saling menghargai dan saling mencintai. Dan kalau kalian terus kreatif kayak gini… Ma bahagia banget.”

Dina menatapku, tersenyum lembut. “Raka… rumah ini sempurna. Anak-anak bahagia, Ma senang… dan kita semua bisa bercanda bareng. Momen sederhana kayak gini bikin semua hangat.”

Aku menggenggam tangannya, tersenyum penuh rasa syukur. “Iya… selamanya, Dina. Rumah ini hidup, hangat, dan penuh cinta. Kita semua bikin rumah ini istimewa.”

Anak-anak bertepuk tangan sambil tertawa. “Yeay! Rumah kita paling seru!”

Aku ikut tertawa. “Iya, rumah ini memang paling seru… karena kita semua ada di sini, bahagia, dan siap bikin momen lucu setiap hari!”

Ma menutup dengan tertawa lepas. “Hahaha… benar! Rumah ini penuh tawa, cinta, dan kreativitas. Tidak ada yang bisa menggantikannya!”

Dan pagi itu, rumah tetap hangat, hidup, dan penuh tawa—momen sederhana tapi penuh cinta yang membuat semua orang bahagia dan tersenyum lebar.

---

Setelah anak-anak dan Ma pergi sebentar ke halaman belakang untuk membersihkan meja makan, aku dan Dina duduk di sofa, menyeruput sisa teh hangat.

Aku menatap Dina sambil tersenyum nakal. “Dina… kalau besok Ma nggak siap, kita bikin versi kue monster lagi, ya? Aku sudah siap jadi ‘Raja Kue Monster’.”

Dina terkikik. “Hahaha… Raka, kau ini ide gilanya nggak habis-habis. Tapi serius, rumah ini hidup banget karena momen konyol kayak tadi. Aku suka banget.”

Aku mencondongkan tubuh, menggenggam tangannya lembut. “Aku juga. Rasanya hangat… bukan cuma karena teh atau kue, tapi karena kita semua bisa tertawa bareng, bercanda, dan tetap saling peduli.”

Dina menatapku dengan mata berbinar. “Iya… Raka. Rumah ini sempurna karena kita bisa santai, bahagia, dan tetap dekat. Anak-anak bahagia, Ma senang… dan kita bisa punya momen seperti ini.”

Aku tersenyum, mengelus tangannya. “Dan aku janji… selamanya kita bikin rumah ini hidup, hangat, dan penuh cinta. Tidak peduli berantakan atau konyolnya momen itu, selama kita semua bahagia, itu yang penting.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku sambil tersenyum lembut. “Selamanya, Raka… rumah ini, keluarga ini, semua tawa konyol dan hangat… kita jaga terus.”

Aku membisikkan pelan, sambil tersenyum hangat, “Selamanya, Dina… dan besok, kita lihat siapa yang paling kreatif bikin kue mini lagi. Aku yakin anak-anak akan bikin hal lebih gila lagi.”

Dina tertawa pelan, menepuk bahuku. “Iya… dan Ma pasti akan ikut teriak bahagia juga. Rumah ini hidup karena kita semua ikut bermain, tertawa, dan saling peduli. Aku senang banget.”

Aku menatapnya, tersenyum hangat. “Aku juga, Dina… rumah ini hidup, hangat, dan penuh cinta. Semua orang terlibat… dan itu yang bikin rumah kita spesial.”

Kami duduk beberapa saat, menikmati keheningan, aroma teh dan sisa kue hangat, dan cahaya pagi yang masuk dari jendela. Rumah tetap hidup, hangat, dan penuh tawa—momen sederhana tapi penuh cinta yang menegaskan bahwa kebahagiaan terbesar adalah saling mencintai dan tertawa bersama.

---

Beberapa jam kemudian, rumah mulai ramai lagi. Anak-anak sudah tidak sabar ingin memulai “misi kreatif” berikutnya.

Si sulung masuk ke ruang tamu sambil membawa cat air dan kuas kecil. “Bunda… Kakek… kita mau bikin lukisan wajah semua orang di rumah!”

Aku menatap Dina sambil tersenyum nakal. “Waduh… ini bakal kacau, tapi aku penasaran hasilnya nanti.”

Dina menahan tawa. “Raka… aku ikut! Tapi jangan sampai wajah kita jadi terlalu jelek, ya. Anak-anak pasti kreatif banget.”

Si bungsu sudah membawa topeng kertas. “Aku mau bikin topeng Raka! Tapi Raka harus pura-pura kaget pas lihat!”

Aku mengangkat alis sambil tersenyum. “Hahaha… oke… aku siap jadi model. Rumah ini hidup karena kita semua bisa main dan tertawa bareng.”

Ma masuk sambil membawa camilan, ikut mengawasi. “Hahaha… anak-anak… jangan sampai rumah jadi ‘galeri kacau’ ya. Tapi Ma senang lihat kalian kreatif.”

Anak-anak mulai mewarnai wajah Raka di kertas dengan warna yang terlalu mencolok—hijau untuk rambut, ungu untuk mata, dan merah besar untuk bibir.

Aku pura-pura panik. “Hahaha… aduh! Aku jadi monster versi kertas! Tapi seru banget!”

Dina menahan tawa sambil menempelkan cat di kertas wajahnya sendiri. “Hahaha… lihat, Raka… kita semua jadi versi super konyol. Rumah ini hidup banget.”

Si sulung menatap wajah mini versi Ma. “Ini wajah Ma versi super lucu! Lihat, telinganya terlalu besar!”

Ma tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… anak-anak… kalian nakal banget. Tapi Ma senang… rumah ini penuh tawa karena semua ikut kreatif!”

Aku menatap Dina sambil tersenyum hangat. “Dina… rumah ini hidup, hangat, dan penuh tawa. Semua orang ikut bahagia… momen sederhana kayak gini yang bikin rumah spesial.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Selamanya, Raka… rumah ini, tawa konyol, dan semua momen hangat… kita jaga terus.”

Aku menggenggam tangannya erat. “Selamanya, Dina… dan besok kita bikin misi kreatif baru lagi. Rumah ini hidup karena kita semua ikut main, tertawa, dan bahagia.”

Anak-anak tertawa, Ma ikut tertawa, dan aku serta Dina saling tersenyum. Rumah tetap ramai, hangat, dan penuh tawa—momen sehari penuh kekacauan lucu tapi hangat yang membuat keluarga semakin dekat dan bahagia.

---

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!