NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Memory Labyrinth

Keheningan di dalam jet pribadi menuju Swiss terasa sangat menyesakkan. Di luar jendela, awan-awan kelabu seolah mencerminkan perasaan Jennie yang carut-marut. Kata-kata Vasco tentang "Proyek Chronos" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Jika benar kembalinya ia ke masa lalu adalah hasil eksperimen, maka seluruh hidupnya saat ini—termasuk keberadaan Arkano—mungkin hanyalah bagian dari sebuah rencana besar yang belum ia pahami.

Rahasia di Pegunungan Alpen

Limario duduk di depan Jennie, jemarinya sibuk membolak-balik dokumen lama milik ayahnya. Wajahnya tampak lebih keras dari biasanya.

"Lim," panggil Jennie pelan. "Jika ternyata aku... aku hanyalah subjek eksperimen ayahmu, apakah kau akan tetap melihatku sebagai istrimu?"

Limario meletakkan dokumen itu. Ia pindah duduk ke samping Jennie, menarik istrinya ke dalam pelukan yang protektif. "Dengar, Jennie. Aku tidak peduli apakah kau kembali karena keajaiban, teknologi, atau sihir hitam sekalipun. Yang aku tahu, kau adalah wanita yang berdiri di depanku saat ini. Kau ibu dari anak-anakku. Itu satu-satunya kenyataan yang aku akui."

Pesawat mendarat di Zurich. Mereka segera menuju sebuah bank bawah tanah paling aman di dunia. Di sana, di dalam brankas nomor 0116 (tanggal kelahiran Limario), tersimpan sebuah koper perak kecil.

Saat koper itu dibuka, isinya bukanlah tumpukan uang atau perhiasan, melainkan sebuah drive memori dan sebuah buku catatan bersampul kulit tua dengan inisial V.V.—Vittorio Vincentius, ayah Limario.

Jennie membuka halaman pertama. Tulisan tangan di sana tampak terburu-buru:

"Memori adalah energi yang tidak bisa dihancurkan. Jika kita bisa mengirimkan kesadaran kembali ke titik di mana penyesalan belum terjadi, maka Vincentius akan menjadi abadi. Subjek pertama: Kegagalan. Subjek kedua: Sempurna."

Jennie gemetar. "Siapa subjek pertamanya, Lim?"

Limario memutar data di dalam drive ke laptopnya. Sebuah video hitam putih muncul. Di sana terlihat seorang pria di dalam laboratorium, dan pria itu adalah Vasco.

"Vasco bukan hanya letnan ayahmu," bisik Jennie. "Dia adalah subjek gagal yang mencoba kembali tapi ingatannya hancur. Itu sebabnya dia gila."

Kenzhi: Sang Putri yang Berubah

Sementara itu, di Mansion Vincentius, suasana terasa berbeda tanpa kehadiran Jennie dan Limario. Kenzhi, yang baru berusia 8 tahun, berdiri di ruang latihan menembak bawah tanah bersama Hans.

Kenzhi memegang pistol glock yang sudah dimodifikasi untuk ukuran tangannya. Ia memakai pelindung telinga besar yang membuatnya tampak mungil, namun sorot matanya sangat dingin.

DOR! DOR! DOR!

Tiga peluru tepat mengenai pusat sasaran. Hans terpaku. Ia belum pernah melihat anak berusia 8 tahun dengan ketenangan seperti itu setelah mengalami trauma di dapur malam itu.

"Nona Kecil, cukup untuk hari ini. Anda harus istirahat," ucap Hans.

Kenzhi menurunkan senjatanya, menatap Hans dengan datar. "Hans, Daddy bilang musuh tidak akan menunggu aku sampai beristirahat. Jika aku tidak lebih cepat dari mereka, aku tidak bisa melindungi Arka."

Ny. Maurel yang mengintip dari balik pintu merasa hatinya tersayat. Ia melihat cucu perempuannya yang manis kini mulai kehilangan senyumnya, digantikan oleh beban berat dunia Vincentius. Maurel segera menelepon Jennie.

"Jennie... kau harus segera pulang. Kenzhi... dia bukan lagi anak kecil yang suka bermain balet. Dia mulai menyerupai Limario di masa mudanya. Aku takut kita akan kehilangan jiwanya."

Kejutan di Swiss

Kembali ke Swiss, saat Jennie dan Limario hendak meninggalkan bank, alarm gedung tiba-tiba berbunyi. Seluruh pintu keluar terkunci secara otomatis.

"Ada yang menyabotase sistem bank," geram Limario, segera mengeluarkan senjatanya.

Dari pengeras suara di lorong, terdengar suara wanita yang sangat tenang, suara yang membuat Jennie teringat pada seseorang di masa lalunya yang seharusnya sudah tidak berdaya.

"Selamat siang, Jennie. Terima kasih sudah mengambilkan koper itu untukku. Aku butuh data itu untuk menyempurnakan kepulanganku yang berikutnya."

Jennie membelalak. "Sarah? Bagaimana mungkin? Kau seharusnya dipenjara!"

"Penjara hanya untuk mereka yang tidak punya koneksi, Sayang. Proyek Chronos membutuhkan otak yang cerdas, dan aku telah ditunjuk sebagai pengawas baru oleh 'Tuan Besar'. Sekarang, serahkan koper itu, atau gedung ini akan menjadi makam kalian berdua."

Limario menarik Jennie ke balik pilar batu. "Dia tidak akan mendapatkan apa-apa."

Tiba-tiba, sebuah ledakan meruntuhkan dinding samping bank. Namun, yang muncul dari balik reruntuhan bukan hanya pasukan Sarah, melainkan sosok pria misterius bertopeng yang langsung menghabisi anak buah Sarah dengan kecepatan luar biasa.

Pria itu menoleh ke arah Jennie. "Ikut aku jika kau ingin hidup. Aku tahu siapa yang mengirimmu kembali, Jennie Ruby Jane."

Limario segera menarik Jennie merapat ke dinding saat baku tembak meletus antara pasukan Sarah dan pria misterius bertopeng itu. Suasana bank yang elegan kini berubah menjadi medan jagal yang penuh kepulan asap dan serpihan marmer.

Harga Sebuah Kebenaran

"Siapa kau?!" teriak Limario sambil melepaskan tembakan pelindung ke arah anak buah Sarah yang mencoba mengepung mereka.

Pria bertopeng itu tidak menjawab. Ia bergerak dengan presisi militer yang mengerikan, menjatuhkan dua orang bersenjata hanya dengan pisau taktis sebelum berdiri di depan Limario dan Jennie.

"Nama tidak penting sekarang, Limario. Jika Sarah mendapatkan koper itu, dia tidak hanya akan menghancurkan masa depanmu, tapi dia akan menghapus eksistensi istrimu dari garis waktu ini," ucap pria itu dengan suara berat yang terdistorsi oleh topengnya.

Jennie menatap koper perak di pelukannya. Menghapus eksistensinya? Jantungnya berdegup kencang. Ia menyadari bahwa data di dalam koper ini adalah "jangkar" yang menahan jiwanya di masa sekarang.

"Lim, kita harus pergi lewat jalur ventilasi belakang!" Jennie menarik lengan Limario, mengandalkan ingatannya tentang denah bank yang pernah ia pelajari sekilas di kehidupan sebelumnya.

"Ikuti dia!" perintah Limario pada pria bertopeng itu, meski ia masih menaruh curiga yang amat besar.

Mata-Mata di Dalam Rumah

Sementara itu, ribuan kilometer dari Swiss, Kenzhi (8 tahun) sedang berjalan dengan tenang di lorong mansion. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet kecil yang terhubung ke kamera CCTV tersembunyi yang ia pasang sendiri—sebuah proyek "mainan" yang ia minta pada Hans bulan lalu.

Ia berhenti di depan pintu kamar pelayan senior. Kenzhi melihat melalui layar tabletnya bahwa pelayan tersebut, Bi Inah, sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon satelit.

"Ya, Tuan... Tuan Muda Arkano sedang tidur. Saya akan memberikan dosis penenang malam ini agar Anda bisa membawanya keluar lewat gerbang belakang saat penjagaan berganti."

Mata Kenzhi menyipit. Amarah dingin seperti milik ayahnya merayap di wajah mungilnya. Ia tidak langsung berteriak memanggil pengawal. Ia tahu jika ia berteriak, Bi Inah mungkin akan nekat mencelakai Arkano.

Kenzhi meraba saku gaunnya, menggenggam pisau perak pemberian Limario. Ia masuk ke dalam kamar Arkano secara diam-diam melalui pintu penghubung rahasia.

"Arka, bangun..." bisik Kenzhi sambil menutup mulut adiknya agar tidak bersuara.

Arkano yang berusia 3 tahun terbangun dengan mata mengantuk. "Kak Kenzhi? Main?"

"Sstt... kita main petak umpet. Arka harus sembunyi di dalam lemari besi Daddy dan jangan keluar sampai Kakak jemput, oke?"

Setelah memastikan Arkano aman di dalam brankas besar di ruang kerja Limario yang kedap suara, Kenzhi kembali ke kamar adiknya. Ia meletakkan boneka besar di bawah selimut agar terlihat seperti anak kecil yang sedang tidur, lalu ia sendiri bersembunyi di balik tirai balkon, memegang pisaunya dengan tangan yang sedikit gemetar namun tekad yang membaja.

Pertarungan di Salju

Kembali di Zurich, Jennie, Limario, dan si pria misterius berhasil keluar melalui saluran pembuangan yang menuju ke pinggiran sungai Limmat yang tertutup salju.

Sarah sudah menunggu di sana dengan helikopter yang mendarat rendah. "Kalian pikir bisa lari dariku?" teriak Sarah dari pintu helikopter yang terbuka. "Jennie, serahkan koper itu atau aku akan meledakkan mansionmu sekarang juga! Aku punya orang di dalam!"

Jennie mematung. Orang di dalam? Ia langsung teringat pada Kenzhi dan Arkano.

"Lim... dia punya mata-mata di rumah," bisik Jennie dengan wajah pucat pasi.

Tiba-tiba, pria bertopeng itu maju ke depan. Ia melepas topengnya, menampakkan wajah yang membuat Limario dan Jennie ternganga. Wajah itu identik dengan Limario, namun terlihat lebih tua sepuluh tahun dan memiliki bekas luka bakar di pipinya.

"Kau..." Limario kehilangan kata-kata.

"Aku adalah kau dari garis waktu yang gagal, Limario," ucap pria itu pahit. "Aku adalah subjek pertama Proyek Chronos yang berhasil kembali, tapi dengan harga yang mahal. Jangan biarkan Sarah mendapatkan data itu, karena itulah yang ia gunakan untuk membunuh Jennie di masa depanku."

Pria itu kemudian berlari ke arah pasukan Sarah dengan membawa beberapa granat aktif, melakukan serangan bunuh diri untuk memberikan jalan bagi Limario dan Jennie untuk kabur.

BOOM!

Ledakan besar menghancurkan helikopter dan pasukan Sarah, memberikan kesempatan bagi Limario untuk menarik Jennie menuju mobil pelarian.

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!