Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Algoritma Hati Yang Retak
Ruang putih itu tidak memiliki gema. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan kosong yang membuat mata perih, kecuali ribuan jam saku yang melayang pasif seperti fosil di dalam air. Kala berdiri di depan Arumi kecil yang memegang payung kuning. Arumi menatapnya dengan mata yang terlalu tua untuk anak seusianya.
“0,01%, Kak,” suara Arumi kecil pelan, tapi terasa menghujam jantung Kala. “Satu memori terakhir. Jika Kakak memilih memori teknis, Kakak akan tahu cara mematikan mesin ini dan kembali ke dunia nyata. Tapi Kakak akan melihat aku sebagai orang asing selamanya. Rasa cinta itu akan hilang, menguap seperti embun.”
Kala mengepalkan tinjunya. Jemarinya gemetar. “Dan kalau aku memilih memori cinta?”
“Kakak akan ingat setiap detik perasaan kita. Kakak akan ingat alasan kenapa Kakak mau mati ribuan kali untukku. Tapi... Kakak tidak akan tahu cara keluar dari sini. Kakak akan terjebak di detik ke-601 selamanya. Menjadi hantu di antara waktu.”
Kala menunduk, menatap jam di tangannya. Cairan hitam di dalam tabung jam itu mulai mendidih, mengeluarkan uap tipis yang berbau karat. Di dalam otaknya, ia merasakan sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, ada kunci untuk menyelamatkan dunia. Tapi di samping pintu itu, ada sebuah jendela kecil yang menampilkan memori tentang senyum Arumi, wangi rambutnya, dan janji-janji yang pernah mereka ucapkan di bawah hujan.
Ia harus memilih antara Logika atau Perasaan.
“Vera bilang, Arumi adalah kiamat,” gumam Kala. “Kenapa, Arumi? Kenapa dunia harus hancur hanya karena kamu hidup?”
Arumi kecil tersenyum sedih. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh dada Kala. “Karena aku bukan manusia dari garis waktu ini, Kak. Aku adalah ‘kesalahan’ yang Kakak buat sepuluh tahun lalu saat pertama kali Kakak mencoba mencuri waktu. Aku adalah gema yang seharusnya tidak ada. Semakin lama aku ada, semakin besar lubang yang Kakak buat di dunia.”
Kala terkesiap. Jadi selama ini, dialah penyebabnya. Arumi bukan pusat kiamat karena dirinya sendiri, tapi karena cinta egois Kala yang memaksanya tetap ada di dunia yang tidak menginginkannya.
Tiba-tiba, ruang putih itu retak. Langit putih di atas mereka pecah seperti kaca, menampilkan kegelapan total di baliknya. Suara ledakan dari markas Vera terdengar lagi, lebih keras. Pasukan Pemulih sedang mencoba menjebol dimensi ini.
“Cepat, Kak! Pilih!” teriak Arumi kecil.
Kala memejamkan mata. Air mata jatuh di pipinya yang kasar. Ia teringat catatan di sakunya: “Arumi. Gadis yang suka latte tanpa gula.” Catatan itu hanya tinta, tapi hatinya berteriak ingin merasakan kembali kehangatan di balik tulisan itu.
“Aku...” Kala menarik nafas panjang. “Aku pilih Memori Teknis.”
Arumi kecil tertegun. Ada kilatan kekecewaan di matanya, tapi juga rasa bangga.
“Kenapa?” tanya Arumi lirih.
“Karena kalau aku terjebak di sini bersamamu dengan semua rasa cinta itu, itu tetap saja egois,” ujar Kala tegas, meski suaranya bergetar. “Aku mencintaimu, Arumi. Dan karena aku mencintaimu, aku harus membiarkan dunia ini berjalan sebagaimana mestinya, meskipun itu artinya aku harus kehilanganmu... dan kehilangan perasaanku padamu.”
ZAPP!
Cahaya ungu meledak dari jam saku Kala. Informasi raksasa membanjiri otaknya. Kode-kode mesin, frekuensi kuantum, titik lemah transmisi dimensi—semuanya masuk seperti air bah. Pintu di otaknya hancur, memberikan kunci yang ia butuhkan.
Namun di saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang lain. Seperti ada tangan yang merogoh ke dalam dadanya dan mencabut sebuah akar yang dalam. Rasa hangat, rasa rindu, rasa pedih saat melihat Arumi... semuanya ditarik keluar.
Kala melihat Arumi kecil. Wajahnya masih sama cantik, tapi ia tidak lagi merasakan apa pun. Arumi sekarang hanyalah sebuah objek. Sebuah variabel dalam persamaan yang harus ia selesaikan.
“Eksekusi Protokol Penutupan,” suara mekanik jam itu terdengar dingin.
Kala bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Jarinya menari di atas layar jam, memasukkan koordinat destruksi diri. Ia tidak lagi menangis. Matanya kosong, hanya berisi kalkulasi.
“Maafkan aku,” ucap Kala datar. Kata-katanya tidak lagi mengandung nyawa.
Ia memutar tuas jamnya ke arah yang berlawanan sepenuhnya. Ruang antara waktu itu mulai menyusut. Arumi kecil mulai memudar menjadi butiran cahaya biru.
“Terima kasih, Kak Kala,” bisik Arumi sebelum ia benar-benar lenyap. “Terima kasih sudah membebaskanku.”
BOOM!
Ledakan energi putih membutakan segalanya.
Kala terbangun di tengah reruntuhan Gedung Arsip. Asap hitam menyelimuti ruangan. Vera tergeletak tidak jauh darinya, tubuhnya mulai menghilang menjadi data yang rusak. Tiga pasukan Pemulih berdiri di depannya, senjata mereka diarahkan ke kepala Kala.
Namun, jam di tangan Kala sudah mati. Logamnya sudah mendingin, warnanya berubah menjadi hitam pekat yang mati.
“Anomali telah dinetralkan,” salah satu sosok berjubah perak itu bersuara. Suaranya seperti ribuan radio yang digabungkan. “Garis waktu kembali stabil.”
Mereka menurunkan senjata dan perlahan-lahan menghilang ke dalam udara, meninggalkan Kala sendirian di tengah puing.
Kala berdiri. Ia merogoh sakunya, menemukan buku catatan kecilnya yang terbakar sebagian. Ia melihat tulisan: “Arumi. Gadis yang suka latte tanpa gula.”
Kala mengerutkan kening. Ia membaca nama itu berulang kali.
“Arumi?” gumamnya pelan. “Siapa itu Arumi?”
Ia menutup buku itu, melemparkannya ke dalam api yang masih menyala di sudut ruangan. Ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa kehilangan. Ia hanya merasa... kosong.
Kala berjalan keluar dari gedung yang runtuh itu. Di luar, matahari mulai terbit di ufuk timur Jakarta. Orang-orang mulai berlalu lalang menuju tempat kerja. Hidup berjalan normal. Dunia tidak jadi kiamat.
Di seberang jalan, seorang gadis dengan payung kuning berdiri di halte bus. Ia sedang tertawa sambil menelpon seseorang. Gadis itu menoleh, matanya sempat bertemu dengan mata Kala selama satu detik.
Kala tidak berhenti. Ia terus berjalan melewati gadis itu tanpa menoleh lagi. Baginya, gadis itu hanyalah salah satu dari jutaan manusia di kota ini.
Kala Danuarta telah menyelamatkan dunia. Tapi ia tidak pernah tahu, bahwa harga yang ia bayar adalah bagian terbaik dari dirinya yang kini telah abu.