Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Getar Notifikasi di Meja Redaksi
Pagi itu lagi nggak bersahabat. Langit mendung dari pagi. Sama kayak mood gue yang masih berantakan gara-gara revisi semalam. Gue masuk kantor dengan mata agak sembab, bukan karena habis nangis, tapi karena nekat begadang demi namatin bab terbaru novel gue di NovelToon.
“Pagi, Na. Kok lesu amat? Kurang asupan kafein atau kurang asupan kasih sayang, nih?” goda Maya. Teman sekantor gue yang satu ini emang mulutnya nggak bisa diam kalau lihat muka gue udah kayak cucian kusut.
Gue naruh tas di meja.
buk!!!
Bunyinya yang lumayan keras. Luapan emosi kecil. “Dua-duanya, May. Mana habis ini gue harus setor revisi yang kemarin dibilang ‘sampah’ sama si Lord Genta,” gerutu gue sambil mencet tombol power komputer.
“Sabar, Sayang. Genta emang mulutnya pedas, tapi di kantor ini cuma dia editor yang otaknya paling encer,” sahut Maya santai.
“Jenius sih iya, May. tapi gue curiga hatinya itu pasti pakai kabel. Dasar robot!” balas gue ketus. Baru juga mau buka file kerjaan, HP gue di atas meja getar. Ada notifikasi DM dari NovelToon.
Kaka’s: Senja, gue baru baca bab yang lo upload tadi subuh. Lo beneran lagi patah hati ya? Feel-nya dapet banget sampai gue ngerasa sesek bacanya.
Gue senyum-senyum sendiri. Cuma cowok misterius ini yang bisa jadi "pelindung gaib" gue di dunia maya. Entah kenapa, gue langsung ngerasa lebih ringan. Gue langsung balas:
Senja_Sastra: Makasih, Kaka’s. Gue cuma lagi kesel banget sama ‘monster’ di dunia nyata. Lo sendiri gimana? Udah nggak pusing sama kerjaan lo yang kaku itu?
Baru aja jempol gue mau nekan tombol kirim, suara dehaman berat terdengar tepat di belakang telinga gue.
“Aruna. Ke ruangan saya. Sekarang. Bawa naskahnya.”
Gue kaget, hampir loncat dari kursi. Jantung rasanya mau copot. Gue gercep membalikkan HP di meja biar layarnya nggak kelihatan. Genta berdiri di sana dengan kemeja navy yang licinnya minta ampun, menatap gue seolah gue habis ketangkap basah nyolong jemuran.
Begitu masuk ruangannya, gue langsung nggak nyaman. Bau kayu cendana mahal yang biasanya tenang malah bikin gue makin deg-degan. Gue duduk kaku kayak terdakwa, sementara Genta membolak-balik kertas revisi gue pelan, sengaja bikin gue makin panas dingin.
“Kenapa kamu ganti dialog di halaman dua belas?” tanya dia tanpa menoleh.
“Biar karakter ceweknya kelihatan lebih punya perasaan, Pak. Dia kan manusia biasa yang lagi jatuh cinta,” jelas gue, berusaha membela diri.
Genta menaruh naskah itu lalu menatap gue lurus-lurus. “Jatuh cinta bukan berarti kehilangan akal sehat, Aruna. Jangan bikin karakter saya kelihatan lemah cuma karena urusan emosi.”
“Emosi itu bukan kelemahan, Pak. Itu normal.!” Gue mulai kepancing. Rasanya pengen banget gue teriakin di depannya. “Bapak mungkin nggak paham karena nggak pernah ngerasain peduli sama orang sampai logika jadi nomor dua!”
Suasana mendadak hening. Ada kilatan pantulan layar HP di balik kacamata Genta, tapi sedetik kemudian dia balik jadi kulkas lagi.
Tepat saat itu, HP gue yang gue taruh di meja Genta bunyi: Ting!
Gue panik mau ambil HP, tapi di saat yang bersamaan, HP Genta yang baru saja diletakkan di samping naskah juga getar dengan bunyi yang persis sama.
Ting!
Kita berdua membeku. Gue menatap HP gue, lalu beralih ke HP Genta. Kok barengan? batin gue. Apa dia juga main NovelToon? Nggak mungkin, paling cuma notifikasi email atau bank.
Genta buru-buru menyambar HP-nya dan memasukkannya ke saku celana. Gerakannya cepat banget. Kayak nggak mau gue lihat.
“HP kamu, bawa keluar. Suaranya ganggu fokus saya,” perintah Genta. Tapi gue sadar, suaranya agak goyah. Nggak sedatar biasanya.
Gue keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Pas gue buka pesan dari Kaka’s, isinya bikin gue melotot:
Kaka’s: Hahaha, monster ya? Kadang monster itu cuma kesepian, Senja. Dia nggak tahu cara komunikasi yang bener selain jadi galak. Sori telat balas, tadi ada ‘gangguan’ sedikit di kantor.
Gangguan? Gue langsung teringat getaran HP Genta tadi. Gue menggelengkan kepala kuat-kuat. Jangan halu, Na. Mana mungkin si robot itu bisa sepuitis dan sehangat Kaka’s? Nggak mungkin!
Siang harinya, pas hujan mulai turun rintik-rintik, gue ketemu Genta di pantry lagi nyeduh teh. Entah keberanian dari mana, gue iseng nanya, “Bapak nggak pernah kepikiran buat nulis? Bapak kan jago ngeritik naskah orang.”
Genta diam sebentar sambil mengaduk tehnya pelan. “Menulis itu melelahkan. Kamu harus membelah diri jadi orang lain.”
“Tapi pernah punya keinginan jadi penulis?” kejar gue.
Genta menatap ke luar jendela yang mulai basah. “Dulu. Tapi dunia nyata nggak seindah fiksi, Aruna. Di fiksi kamu bisa atur ending-nya mau gimana, di dunia nyata kamu cuma bisa nerima apa yang terjadi.”
...“Dulu. Tapi dunia nyata nggak seindah fiksi, Aruna. Di fiksi kamu bisa atur ending-nya mau gimana, di dunia nyata kamu cuma bisa nerima apa yang terjadi.”...
Untuk pertama kalinya, dia kelihatan capek..
“Bapak salah,” sahut gue pelan. “Justru karena dunia nyata ini seringnya berantakan, kita butuh fiksi buat sekadar bertahan hidup.”
Genta menatap gue lama banget. Hening, tapi nggak bikin gue pengen kabur kayak biasanya. Hening kali ini terasa... beda. Tapi momen itu langsung ambyar pas Bagas masuk ke pantry sambil teriak-teriak soal pengumuman kompetisi Valentine di NovelToon.
Genta langsung balik badan dan pergi begitu saja.
Di tempat parkir, di dalam mobilnya yang sepi, Genta membaca pesan terbaru dari gue: “Kaka’s, gue jatuh cinta sama isi kepala lo, bukan sama bungkus lo.”
Genta menyandarkan kepalanya di setir sambil memejamkan mata.“Kalau kamu tahu siapa aku sebenarnya, Aruna…” gumamnya pelan.
“Kamu pasti bakal benci gue.”
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻