NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Definisi Sempurna yang Salah

Teeet! Teeet! Teeet!

Suara bel sekolah yang nyaring memecah keheningan di antara kami, seolah menjadi sinyal bahwa waktu "dunia mimpi" di bawah pohon akasia telah habis. Pukul 10.00 pagi tepat. Waktunya kembali ke realitas.

Zea melepaskan tautan jari kelingking kami dengan enggan. Dia merapikan sedikit rambut pendeknya yang tertiup angin, lalu menatapku dengan senyum yang masih tersisa.

"Udah bel," katanya ceria, seolah kami baru saja selesai piknik, bukan habis berdebat emosional tentang pertemanan. "Ayo balik ke kelas, Cal. Nanti Pak Bambang marah kalau kita telat balikin sapu."

Aku mengangguk, mengambil sapu lidi dan pengki yang tergeletak di tanah. "Ayo."

Kami berjalan beriringan meninggalkan area belakang sekolah yang sepi.

Perjalanan kembali ke gedung utama terasa berbeda. Jika tadi pagi aku merasa seperti tawanan yang diseret paksa, sekarang langkahku terasa lebih ringan. Namun, radar waspadaku mulai menyala begitu kami memasuki koridor utama.

Suasana sekolah sudah berubah. Siswa-siswa yang tadi sibuk kerja bakti kini sudah santai, duduk-duduk di depan kelas sambil mengipas-ngipas badan dengan buku tulis. Bau pembersih lantai dan keringat bercampur di udara.

Dan seperti dugaanku, mata mereka tertuju pada kami.

Lebih tepatnya, tertuju pada Zea—si primadona angkatan—yang berjalan santai di samping cowok "rata-rata" sepertiku. Jarak kami cukup dekat, terlalu dekat untuk ukuran teman biasa. Bahu kami sesekali bersenggolan saat menghindari siswa lain yang lewat.

"Liat tuh, Zea masih sama dia." "Ngapain sih Zea? Kena guna-guna kali ya?" "Sayang banget, padahal Kevin tadi nyariin dia."

Bisik-bisik itu terdengar samar, seperti dengungan nyamuk yang mengganggu. Aku melirik Zea. Dia tampak cuek, bersenandung pelan sambil memainkan ujung seragam olahraganya. Tapi aku tahu dia pasti dengar.

Aku tidak tahan lagi.

Saat kami melewati lorong sepi menuju gudang peralatan, aku berhenti melangkah.

Zea ikut berhenti. Dia menoleh, menatapku bingung. "Kenapa berhenti, Cal? Berat bawa sapunya? Sini aku bantu—"

"Zea," potongku datar.

Aku menatap wajahnya lurus-lurus. Cahaya matahari dari ventilasi koridor jatuh tepat di wajahnya, membuatnya terlihat bersinar. Terlalu bersinar untuk berada di dekat bayangan sepertiku.

"Kenapa kamu begitu dekat denganku?" tanyaku langsung, tanpa basa-basi.

Zea mengerjap. "Hah? Maksudnya?"

"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Atau ada sesuatu yang mau kamu katakan?" desakku. Suaraku tenang, tapi mataku menelisik mencari jawaban logis. "Kalau cuma mau berteman, kita nggak perlu sedekat ini, kan? Jalan beriringan, bisik-bisik, sentuhan fisik... itu berlebihan buat sekadar 'rekan kelompok'."

Aku menghela napas, lalu menunjuk samar ke arah kerumunan siswa di ujung lorong dengan daguku.

"Kamu sadar nggak? Banyak tatapan aneh dari anak-anak lain. Mereka ngomongin kamu."

Aku melangkah sedikit mendekat, menurukan nada suaraku agar lebih serius.

"Aku sama sekali nggak mempermasalahkan kalau kamu mau dekat denganku. Aku cowok, dan di sekolah ini aku nggak punya reputasi yang perlu dijaga. Kalaupun aku digosipin, besok juga orang lupa," jelasku logis. "Tapi yang aku khawatirkan itu kamu, Zea."

Zea terdiam, matanya menatapku lekat.

"Kamu populer. Kamu punya citra yang bagus. Kalau kamu terus nempel sama aku, bakal muncul gosip aneh-aneh. Nanti temen-temen elitmu ngejauh. Nanti si Kevin atau siapa pun itu bakal gangguin kamu. Apa itu sepadan?"

Hening sejenak.

Aku menunggu dia sadar. Menunggu dia bilang, "Oh iya ya, Cal. Kamu bener. Kita jaga jarak aja di sekolah." Itu reaksi yang rasional. Itu yang seharusnya terjadi.

Tapi Zea malah melakukan hal yang di luar dugaan. Dia menggembungkan pipinya, bibirnya manyun, lalu dia menghentakkan kakinya pelan ke lantai.

"Ish! Kamu tuh ya!" gerutunya gemas. "Ngedumel mulu kayak kakek-kakek!"

"Aku serius, Zea," tekanku.

"Aku juga serius!" balas Zea, kali ini dengan nada ngambek yang lucu. Dia melipat kedua tangannya di dada. "Denger ya, Tuan Logika. Aku sama sekali nggak masalah sama gosip itu. Biarin aja mereka ngomong sampai mulutnya berbusa. Emangnya mereka yang bayarin uang sekolahku?"

Dia mendengus, lalu menatapku dengan pandangan yang melembut.

"Lagian... menurutku, kamu itu orang yang sangat hebat, Cal. Jauh lebih hebat dari mereka semua yang cuma bisa nyinyir."

Aku menaikkan alis sebelah. "Hebat?"

Otakku berputar cepat. Hebat dari mana? Nilai matematikaku rata-rata. Aku tidak ikut ekskul. Aku tidak pernah pamer kekayaan. Satu-satunya 'kehebatan' yang kutunjukkan padanya cuma analisis parit kemarin. Masa cuma gara-gara parit dia menganggapku hebat?

"Aku hebat dalam bidang apa, Zea?" tanyaku skeptis. "Kalau soal parit drainase itu, tukang bangunan juga bisa."

Zea tersenyum misterius. Senyum yang menyembunyikan ribuan rahasia.

Dalam kepalanya, Zea sedang memutar ulang semua cerita Tante Genevieve. Tentang Callen yang juara karate dewasa di usia 9 tahun. Tentang Callen yang menguasai tiga bahasa. Tentang Callen yang pernah terlihat sangat keren dengan rambut biru di Paris. Tentang Callen yang rela meredupkan sinarnya demi ketenangan mental.

Itu bukan sekadar hebat. Itu luar biasa.

"Itu rahasia..." jawab Zea sambil menjulurkan lidahnya sedikit, mengejek rasa penasaranku.

Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara kami lagi. Kali ini dia tidak menyentuhku, tapi tatapannya begitu intens seolah sedang menantangku.

"Intinya..." ucap Zea pelan, penuh penekanan di setiap kata. "Bagi aku, kamu itu sempurna, Cal."

Aku terpaku. Kata 'sempurna' adalah kata yang paling kubenci. Itu kata yang selalu dikejar Papa. Kata yang membuat masa kecilku hancur. Tapi saat keluar dari mulut Zea, kata itu terdengar... berbeda. Tidak menuntut, tapi menerima.

"Sempurna?" ulangku sangsi. "Kamu butuh kacamata baru kayaknya."

Zea tertawa renyah. "Mungkin. Tapi aku serius. Di mata aku, kamu sempurna dengan caramu sendiri. Dan aku..."

Dia menggantung kalimatnya. Matanya berkilat penuh tekad.

"...aku bakal buktiin ke kamu, dan ke semua orang di sekolah ini, kalau pilihanku buat deket sama kamu itu nggak salah."

Sebelum aku sempat membalas argumennya yang tidak masuk akal itu, Zea sudah berbalik badan. Dia berjalan menuju pintu kelas X-A yang sudah dekat.

"Ayo buruan, Cal! Nanti bangkunya diambil orang!" serunya tanpa menoleh.

Aku berdiri diam sejenak di koridor, menatap punggung gadis itu.

Sempurna, katanya? Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang dia hadapi. Dia tidak tahu monster macam apa yang bersembunyi di balik kacamata ini.

Tapi, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sudut bibirku terangkat membentuk senyum tipis yang tulus.

"Dasar keras kepala," gumamku pelan, lalu melangkah menyusulnya masuk ke dalam kelas.

Di dalam sana, pelajaran hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!