NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Menghindar

Malam pun tiba, seperti biasa keluarga Wiratmadja akan makan malam pukul 7 tepat. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan.

"Makan yang banyak sayang" perintah Sinta kepada Vanya.

"Papa denger-denger ada tiga murid baru di sekolah kamu. Kamu udah liat semua nya sayang?" tanya Danu.

"Udah pa. Salah satu dari mereka itu tunangan nya Lea. Yang dua lagi sahabatnya" jelas Vanya.

"Apa kamu tertarik sama salah satunya?" tanya Danu lagi.

"ishh apaan sih pa? Tumben banget papa kaya gitu" rengek Vanya.

"Ya ngga papa sayang. Papa ngga akan ngelarang kamu kalau mau pacar-pacaran" gurau Danu.

Vanya melirik sekilas ke arah Fian yang sedang meminum air putih, "Kalau aku suka salah satunya berarti boleh dong pa?"

Uhuk uhuk

Seketika Fian langsung tersedak oleh minuman nya. Sang mama dengan perhatian meng elus-elus punggung nya.

"Pelan-pelan dong nak, minum nya" peringat Sinta dengan nada lembut.

"Boleh dong sayang. Tapi kenalin dulu sini ke rumah" balas Danu menjawab pertanyaan Vanya.

"Nanti deh kalo beneran jadi aja" ucap Vanya santai.

'Kamu nggak mungkin se cepet itu kan Vanya suka sama cowo lain?' kesal Fian dalam hati.

"Kalau aku ngekost aja boleh ngga pa? ma?" tanya Vanya tiba-tiba.

Kedua orangtua Vanya seketika menghentikan makan nya.

"No! Ngga boleh sayang. Lagian kenapa sih tiba-tiba banget kamu mau ngekost?" tanya Sinta dengan nada serius.

"Biar totalitas aja. Kan selama ini ngga ada yang tau aku anaknya siapa" balas Vanya dengan santai. Bahkan ia berucap sambil menyuap sebuah semangka potong.

"Ngekost itu gak enak sayang. Bahaya juga buat anak gadis seperti kamu. Papa nggak akan setuju" ucap Danu dengan mantap.

"Hem. Yaudah aku ngga mau makan selama sebulan" ancam Vanya sambil bersedekap dada. Piring buah potong tadi ia dorong menjauh.

"Jangan gitu dong sayang" mohon Sinta. Putri nya ini tak pernah main-main dengan ancaman nya.

"Yaudah makan nya bolehin dong aku ngekost. Ya.... plisss.... Ya ma? Pa?" rengek Vanya.

"Ya sudah" pasrah Danu.

"Pa!" tegur Sinta sambil menatap tajam ke arah suaminya.

"Biarkan lah ma. Kamu tau sendiri putri kita se nekat apa kan?" ucap Danu.

"Tapi kan pa, nanti kalau.... "

"Sudah tenang saja sayang" Danu menenangkan istrinya.

"Papa bolehin kamu ngekost dengan dua syarat. Pertama, papa yang pilihkan tempat kostnya. Kedua, kamu harus mau di jaga oleh orang-orang pilihan papa" putus Danu tanpa ingin di bantah.

"Aaaa boleh pa? Yeyyy makasiihhh" teriak Vanya sambil mendekat ke arah papanya.

"Iya deh aku setujuin semua syaratnya, tapi untuk bodyguard, aku mau dia ngawasin aku diem-diem. Jangan sampe keliatan orang, jangan terlalu mencolok aku nggak suka" lanjutnya.

"Iya sayang, nanti akan papa atur sesuai keinginan kamu" ucap Danu pasrah.

Vanya langsung memeluk erat papanya karena terlalu senang.

"Mama nggak di peluk nih?" tanya Sinta. Vanya pun ahirnya memeluk mamanya juga.

"Kamu yakin Van, mau ngekost?" tanya Fian memastikan. Sedari tadi ia hanya diam saja.

"Iya" jawab Vanya singkat. Seolah tak perduli.

"Ma, pa, aku mau naik dulu ya. Aku mau lusa besok udah pindah ke tempat kost. Nanti aku chat papa aja aku mau kost yang kayak gimana. Oke? Bye semua" pamit Vanya dengan nada ceria.

"Papa yakin ini keputusan yang tepat?" tanya Fian. Raut wajahnya terlihat sangat resah.

"Mau bagaimana lagi Fian. Anak itu kalau sudah ada kemauan susah untuk di halangi" jawab Danu apa adanya. Sebenarnya ia juga sangat berat, apalagi Vanya adalah putri satu-satunya. Namun mau bagaimana lagi, daripada putrinya melakukan hal-hal nekat lagi.

"Ya sudah kalau gitu pa" Fian pun ahirnya pamit juga ingin kembali ke kamar dengan alibi ada pekerjaan yang belum di selesaikan.

Setelah Fian naik ke lantai 3, bukan nya menuju ke kamar ia malah menuju ke kamar Vanya.

Tok tok tok

Vanya pun membukakan pintu kamarnya. Hampir semua ruangan di rumah mewah ini kedap suara.

"Kenapa kak?" tanya Vanya jutek. Ia tidak mempersilahkan Fian masuk dan malah berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Boleh kakak masuk?" tanya Fian dengan lembut.

"Mau apa?" tanya Vanya dengan nada datar tanpa ekspresi.

"Kakak mau ngomong sesuatu" balas Fian penuh harap.

"Disini aja" jawab Vanya cepat.

"Ini penting Vanya!" ucap Fian sedikit menaikkan intonasinya tapi tidak sampai membentak.

"Kalau nggak penting-penting amat disini aja deh kak. Aku ngantuk mau tidur" ucap Vanya sambil pura-pura menguap.

Dengan cepat, Fian mendorong Vanya masuk ke dalam kamarnya lalu sebelah kakinya ia gunakan untuk menutup pintu. Ia dorong Vanya pelan ke dinding di sisi pintu kamar. Kedua tangan nya ia letakkan di kedua sisi pinggang Vanya untuk mengunci pergerakannya.

"Liat kakak Vanya!" perintah Fian. Vanya masih saja menunduk tak mau menatap kearahnya.

"Zevanya!" panggil Fian dengan nada tegas.

Mau tidak mau, Vanya pun mendongak kan kepala nya. Kini jarak wajah mereka hanya satu jengkal saja.

"Lepas kak! Mau kakak apa sih?" sentak Vanya.

"Kenapa kamu tiba-tiba pengen ngekost? Kamu mau hindarin kakak?" tanya Fian.

"Kalau iya kenapa? Untuk apa aku terus disini? Apalagi kalau pacar kakak dateng, aku harus liat gitu kemesraan kalian?" sinis Vanya.

"Ya nggak gitu juga Van. Kakak nggak mau kamu ngekost. Kakak takut kamu kenapa-kenapa" bisa Vanya lihat kekhawatiran di wajah Fian.

"Kak plis! Kak Fian udah nolak aku. Sekarang kakak nahan aku untuk ngga pergi. Maksut kakak itu apa? Dan lihat, yang kakak lakukan sekarang ini, itu apa? Apa pantas seorang kakak men....."

Cup

Fian mengecup kening Vanya tiba-tiba. Ucapan Vanya langsung terhenti seketika. Tubuhnya membeku karena terlalu kaget dengan serangan tiba-tiba dari Fian.

"Kamu nggak akan ngerti Vanya. Kakak.....kakak.... " Fian tidak bisa melanjutkan kata-kata nya.

Saat lengah, Vanya mendorong tubuh Fian dengan kencang. Kungkungan di tubuhnya seketika terlepas.

"Keluar! Aku mau tidur" sentak Vanya.

Dengan langkah pelan dan wajah tertekuk, Fian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Vanya.

Setelah Fian benar-benar pergi, Vanya langsung mengunci pintu lalu merebahkan diri di atas ranjang king size miliknya. Ponsel mahal di meja langsung ia ambil dengan cepat.

               

 GenZ Girl👀

Vanya : Gw mau ngekost aja

Rain : Astaga Vanya! Apaan lagi sih ini?

Lea : Gebrakan apalagi ini Ya Allah

Vanya : Kalo di sini terus gw nggak bisa move on yang ada

Rain : Mau jadi orang misqueen beneran lo?

Lea : Lo mau cosplay jadi orang misqueen totalitas amat sih anjir

Lea : Shik Shak Shok gw bacanya sumpah

Rain : Gabisa apa sehari aja lo nggak bikin gebrakan baru?

Vanya : kak Fian cium gw

Lea : Hah?

Rain : Hah?

Vanya : Cium kening doang, tenang.

Lea : Tenang tenang pala bapak kau tenang

Rain : Kamera mana kamera? Gw udah nggak kuat dengan gebrakan makhluk satu ini yang sayangnya adalah sepupu gw

Lea : Plis Ceritain sekarang juga!

Rain : Sumpah gw nggak jadi ngantuk

Vanya : Besok aja di sekolah

Vanya : Gw yang ngantuk

Rain : Brengshake lu ye

Lea : Kebiasaan lo ah

Lea : Seneng banget bikin orang mati penasaran

Vanya : Ini lo masih hidup sampe sekarang

Lea : Sini pala lo gw headshot

Vanya : Berani lo?

Lea : Hehe nggak beb, canda doang elah

Vanya : Bye girl. Gw mau tidur biar mimpi ketemu Zhang Linghe

Rain : Heh itu suami gw!

Vanya tak menghiraukan banyak spam pesan di grup itu dari kedua sahabatnya. Matanya sudah tinggal 5 watt lagi. Ia pun memejamkan matanya untuk menuju ke alam mimpi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!