NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:27.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Jamuan pemutusan rantai.

Hari Sabtu tiba dengan langit yang perlahan meredup menuju jingga. Di apartemennya, Nana berdiri di depan cermin besar. Tidak ada lagi gaun bunga-bunga sederhana atau pakaian cosplay yang biasa ia pakai untuk mencari perhatian Tris. Kali ini, ia mengenakan setelan blazer berwarna abu-abu gelap dengan celana senada, pemberian Ria yang katanya adalah "seragam tempur untuk wanita mandiri". Rambutnya diikat kuda dengan sangat rapi, menonjolkan garis wajahnya yang kini tampak lebih tegas dan dewasa.

"Kau siap?" tanya Aska yang sudah berdiri di pintu, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu sengaja datang untuk menjemput Nana, menjalankan 'tanggung jawab moral' yang sempat disinggung Ria.

Nana mengangguk mantap. Ia menyambar sebuah kotak beludru kecil dari meja rias dan sebuah buket bunga lili putih yang segar. "Ayo, Bang."

Rumah keluarga Tris tampak terang benderang. Dari luar, sayup-sayup terdengar suara tawa Ibu Tusi dan suara manja Elli yang sangat khas. Nana menarik napas panjang, menstabilkan detak jantungnya yang sempat berulah. Ia tidak takut, ia hanya sedang mempersiapkan diri untuk membuang beban yang selama setahun ini menggelayuti pundaknya.

Begitu pintu dibuka oleh asisten rumah tangga, langkah Nana dan Aska yang beriringan langsung mencuri perhatian di ruang tengah.

"Nana! Akhirnya kau datang juga," seru Ibu Tusi dengan wajah sumringah. Namun, langkahnya terhenti saat melihat penampilan Nana. "Loh, kok pakaianmu begini? Kamu tidak langsung ke dapur? Ibu sudah siapkan bahan-bahan untuk saus carbonara-mu."

Nana tersenyum tipis, langkahnya tenang saat mendekati Ibu Tusi. Ia menyerahkan buket bunga lili itu dengan sopan. "Maaf, Bu. Nana datang sebagai tamu malam ini, jadi rasanya kurang sopan jika Nana mengacaukan dapur Ibu. Ini bunga untuk Ibu."

Ibu Tusi menerima bunga itu dengan wajah bingung. Di sofa, Tris yang sedang duduk bersandar di samping Elli langsung menegakkan punggung. Matanya menatap Nana dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan tidak percaya.

"Na, mana jaketku?" tanya Tris ketus, mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan arogansi. "Dan kenapa ponselmu susah sekali dihubungi? Kau tahu berapa kali aku mengirim pesan?"

Nana menoleh ke arah Tris. Tidak ada kilat amarah, tidak ada air mata. Hanya ada tatapan datar yang membuat Tris merasa asing. "Jaketmu masih di tempatnya, Tris. Di dalam lemari apartemenku. Kalau kau butuh, kau bisa mengambilnya sendiri lewat petugas keamanan."

"Apa-apaan kau ini? Aku kan sudah bilang mau pakai malam ini!" Tris berdiri, suaranya meninggi. "Kau sengaja ya? Karena marah soal kemarin?"

"Marah?" Nana terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat ringan namun menyakitkan. "Tris, marah itu butuh energi. Dan jujur saja, aku sudah tidak punya energi lagi untuk hal-hal yang tidak penting bagiku."

Elli, yang merasa suasana mulai tidak menguntungkan baginya, menyela dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Nana, jangan begitu. Tris kan cuma butuh jaketnya. Lagipula, bukankah kau memang selalu senang membantu Tris?"

Nana beralih menatap Elli. "Dulu, Elli. Dulu sekali. Tapi orang berubah, bukan?"

Meja makan sudah tertata, Tedi, sang ayah pun telah turun dan duduk di bangku kepala keluarga. Tedi adalah sosok pendiam, apalagi ada Aska di ruangan itu sehingga ia tidak berani banyak bicara.

Tedi menatap tajam Nana, sebenarnya ia lebih menyukai Elli daripada Nana. Nana yang ia ingat adalah gadis ceria yang selalu tersenyum seperti orang bodoh.

Ibu Tusi mengajak mereka semua duduk, meski suasana terasa sangat kaku. Aska duduk di samping Nana, kehadirannya yang dominan seolah menjadi benteng pelindung bagi gadis itu. Sepanjang makan malam, Tris berkali-kali mencoba memancing pembicaraan untuk merendahkan Nana, berharap Nana akan kembali menjadi gadis penurut yang meminta maaf.

"Oh ya, Bu. Nana sekarang sudah tidak punya kegiatan, kan? Makanya dia banyak waktu untuk mengurung diri di apartemen," sindir Tris sambil melirik kakaknya. "Mungkin dia butuh dicarikan kursus menjahit atau apa, supaya otaknya tidak kosong."

"Aku sudah bekerja, Tris," potong Nana tenang sebelum menyuap makanannya.

Denting garpu Tris yang menghantam piring terdengar nyaring. "Kerja? Kerja apa? Jadi kasir lagi?"

"Aku diterima sebagai Line Artist di Stellar Komik Studio. Mulai Senin depan," jawab Nana tanpa melihat ke arah Tris.

Ibu Tusi tampak terkejut namun senang. "Wah, benarkah Nana? Studio besar itu?"

"Iya, Bu. Gaji pertamaku nanti akan kugunakan untuk mentraktir Ibu makan di luar," ucap Nana tulus, benar-benar mengabaikan Tris yang kini wajahnya memerah padam karena merasa diabaikan.

Setelah makan malam selesai, sebelum mereka pindah ke ruang tengah, Nana berdiri. Ia merogoh saku blazer-nya dan mengeluarkan kotak beludru kecil yang ia bawa. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di depan Tris.

"Apa ini? Kau mau memberiku hadiah karena merasa bersalah?" ejek Tris, meski tangannya sedikit ragu untuk meraih kotak itu.

"Buka saja," kata Nana.

Tris membuka kotak itu. Di dalamnya, melingkar sebuah cincin tunangan yang selama setahun ini melingkar di jari manis Nana. Cincin yang dulu Nana banggakan, namun kini tampak seperti besi tua yang tidak berarti.

"Nana, apa maksudnya ini?" Suara Ibu Tusi gemetar.

"Aku mengembalikannya, Tris," ujar Nana dengan suara yang sangat jernih. "Status tunangan ini sudah berakhir. Sejak kau menghancurkan kalung Ibuku, kau juga menghancurkan satu-satunya alasan kenapa aku tetap tinggal."

"Kau memutuskan aku hanya karena kalung tua itu?!" Tris berteriak, ia berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. "Nana, kau gila! Aku cuma pinjam untuk Elli, dan itu tidak sengaja!"

"Bukan soal tidak sengaja, Tris. Tapi soal bagaimana kau menganggap kenanganku sebagai barang sampah yang pantas dibuang," Nana menatap Tris lekat-lekat. "Kalau kenanganku saja sampah bagimu, maka aku tidak bisa membayangkan bagaimana kau akan memperlakukan masa depanku."

Nana menoleh ke arah Aska. "Bang, ayo antarkan aku pulang. Aku harus istirahat untuk hari Senin."

Aska berdiri, ia menatap adiknya dengan tatapan yang sangat rendah. "Lain kali, kalau kau ingin mengikat seseorang, pastikan kau punya cukup nyali untuk menghargainya, Tris. Jangan jadi pengecut yang bersembunyi di balik kata 'tidak sengaja'."

Nana berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, ia mendengar suara Ibu Tusi yang memanggil namanya dan suara Tris yang memaki karena harga dirinya terluka di depan Elli. Namun, bagi Nana, suara-suara itu kini hanyalah angin lalu.

Begitu masuk ke dalam mobil Aska, Nana menyandarkan kepalanya dan mengembuskan napas panjang. Beban itu benar-benar hilang.

"Kau melakukannya dengan baik," ucap Aska singkat sambil menyalakan mesin.

"Terima kasih sudah menemaniku, Bang," bisik Nana.

"Jangan berpikir ini gratis," sahut Aska tetap dengan nada kaku. "Kau harus bekerja keras di studio itu. Aku tidak mau reputasiku rusak karena menjamin seseorang yang gagal di masa percobaan."

Nana tersenyum. Ia tahu, di balik kata-kata kasar itu, Aska adalah satu-satunya orang yang memegang tangannya saat ia jatuh. Dan bagi Nana, itu sudah lebih dari cukup.

Bersambung....

1
Kayla Callista
jangan2 bener Nana d ikuti orang jahat
Ayu
kok jadi tegang gini sih /Sleep/
jekey
sapa weh
Desi Santiani
thor boleh double up ga klo perlu tiap hr, ak suka kisah mereka
jekey
🥰🥰🥰
jekey
gitu dong , kecewa putus asa boleh , tapi tetap harus bangkit lagi , dunia tidak akan berhenti hanya karena kamu patah hati .
Arieee
nana💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Ayu
akan ada konsekuensi dari setiap langkah yg diambil,, yaudah Bang As nikmati aja ... emang itu kan yg Kamu inginkan dari Nana
jekey
perempuan terkadang harus merasakn sakit dahulu biar dia tau kalau mereka berharga dgn caranya ,, jgn memaksakan harus sempurna jika itu harus mengorbankan harga diri .
Yuli Yulianti
bagus Nana kamu sekarang berjuang untuk harga diri mu sendiri
Maya Sari
😍😍😍😍
jekey
mak othor lagi mudik lebaran jd gk up" 🤨
Ayu
akhirnya... bagaimana kisah selanjutnya ayo sempetin up Akakk.. lebarannya skip dulu 🤣
Yuli Yulianti
bagus Nana kamu punya harga diri menghilang dari hidup mereka lebih baik
jekey
karya elit , up banyak syulitttt 😌
Maya Sari
gereget bnget thooorrr
Yuli Yulianti
ud lah Nana buat ap bertahan pergi dan menghilang lah dari hidup Aska
jekey
up bnyak" dong thor
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗎𝗌𝗂, 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝖻𝖺𝗌𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗄𝖾𝗌𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝖽𝖺𝗄𝗐𝖺𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺?
Ayu
yowis Na tinggal tidur aja drpd pusing udah puasa terakhir malah disuruh sedih sedih sama Akak Othor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!