Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Kopi yang Salah
Pukul 04.45 pagi. Jakarta masih dibalut sisa udara dingin semalam, namun Adelia sudah berdiri di depan pintu kaca studio dengan napas tersengal. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena lari dari parkiran, melainkan karena bayangan wajah Arlan yang akan meledak jika ia terlambat satu detik saja.
Ia segera menuju pantry. Tugas pertamanya: Kopi Hitam 80 Derajat.
Adelia mengeluarkan termometer digital yang sengaja ia beli semalam dari saku celananya. Ia tidak mau mengambil risiko. Arlan bukan hanya seorang sutradara; pria itu adalah penguasa absolut yang memiliki indra perasa setajam lidah iblis. Air mendidih ia tuang ke cangkir keramik yang sudah dipanaskan terlebih dahulu—teknik yang ia pelajari dari video barista di YouTube hingga larut malam.
"Pas. 79,8 derajat," gumam Adelia puas.
Ia membawa nampan kecil itu menuju ruang kerja pribadi Arlan yang terletak di lantai dua studio, tepat saat jam digital di dinding menunjukkan pukul 05.00.
Tok, tok.
"Masuk," suara berat itu terdengar serak, menandakan sang pemilik suara mungkin tidak tidur sama sekali.
Adelia masuk dan mendapati Arlan sedang tenggelam di depan papan storyboard raksasa. Kemeja hitamnya yang kemarin sudah berganti dengan kaos polo berwarna biru dongker yang ketat, menonjolkan bahunya yang tegap. Di bawah lampu meja yang temaram, Arlan tampak lebih manusiawi, meski lingkaran hitam di bawah matanya tetap terlihat.
Adelia meletakkan kopi itu di meja kayu jati yang penuh dengan tumpukan skrip. "Selamat pagi, Pak Arlan. Kopi hitam Anda. Suhu 80 derajat."
Arlan tidak menjawab. Ia hanya meraih cangkir itu, menyesapnya sekali, lalu terdiam. Adelia menahan napas. Apakah ada yang salah? Apakah biji kopinya kurang sedap?
"Ini bukan kopi yang saya mau," ujar Arlan dingin. Ia meletakkan cangkir itu dengan denting yang cukup keras hingga isinya sedikit terciprat.
Adelia tertegun. "Maaf, Pak? Saya sudah mengukurnya dengan termometer, hitam tanpa gula, persis seperti yang Anda minta kemarin."
Arlan berdiri, tingginya yang mencapai 185 cm membuat Adelia harus mendongak. Ia mendekat, aroma maskulin yang bercampur dengan bau kertas baru menyeruak. "Kemarin saya butuh kopi untuk tetap bangun. Pagi ini, saya butuh kopi untuk berpikir. Ini terlalu asam. Kamu pakai biji Arabika?"
"I-iya, Pak. Arabika kualitas premium dari—"
"Ganti. Saya mau Robusta Lampung. Tanpa ampas, tanpa rasa buah-buahan konyol ini. Dan suhu 80 derajat itu diukur saat sampai ke meja saya, bukan saat kamu menuangnya di pantry." Arlan menunjuk jam tangannya.
"Kamu punya lima menit sebelum briefing kru dimulai. Jika gagal lagi, jangan harap kamu boleh memegang papan clapper hari ini."
Adelia menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali ia membalas bahwa ia adalah asisten produksi, bukan barista pribadi. Namun, ia tahu berdebat dengan Arlan di pagi buta adalah cara tercepat untuk menganggur.
"Baik, Pak. Segera."
Adelia berlari kembali ke bawah. Ia mengaduk-aduk lemari stok bahan makanan hingga menemukan bungkus kopi Robusta yang dimaksud. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyeduh ulang. Sambil menunggu, ia mengutuk dalam hati. Si Tukang Marah ini benar-benar gila! Bagaimana dia bisa tahu perbedaan jenis biji kopi hanya dalam satu sesapan?
Lima menit kemudian, Adelia kembali dengan napas memburu. Ia menyodorkan cangkir baru.
Arlan menyesapnya. Kali ini matanya terpejam sejenak. "Lebih baik. Sekarang, kumpulkan semua kepala departemen di set utama. Kita punya masalah dengan lighting untuk adegan hujan sore nanti."
Sepanjang pagi itu, Adelia merasa seperti bola pingpong. Ia berlari dari satu sudut studio ke sudut lain. Mengambilkan kabel cadangan, memastikan katering tidak telat, hingga menjadi penengah saat tim dekorasi dan tim kamera bersitegang soal penempatan properti.
Dan di pusat badai itu selalu ada Arlan.
"Gobl*k! Saya bilang backlight-nya jangan terlalu kuning! Kita sedang membuat iklan elegan, bukan suasana warung remang-remang!" teriak Arlan melalui pengeras suara.
Tim lighting gemetar. Adelia segera menghampiri mereka, memberikan botol air mineral dingin untuk meredam emosi mereka, lalu berbisik, "Coba turunkan temperaturnya ke 3200 Kelvin, dia suka warna yang lebih dingin."
Berhasil. Arlan tidak berteriak lagi untuk sepuluh menit berikutnya.
Namun, ketegangan mencapai puncaknya saat siang hari. Iklan ini membutuhkan adegan di mana botol parfum jatuh ke dalam air dengan gerakan slow motion yang sempurna. Sudah lima belas kali mereka mencoba, dan Arlan belum juga puas.
"Lagi! Percikannya tidak dramatis!"
"Lagi! Sudut jatuhnya salah!"
"Lagi! Kalian ini kru profesional atau anak TK?!"
Staf special effect mulai frustrasi. Air di dalam tangki kaca sudah mulai keruh karena terlalu sering diaduk. Adelia melihat Arlan mulai memijat pangkal hidungnya, tanda bahwa ledakan besar akan segera datang.
Adelia mendekat dengan handuk kecil di tangan, berniat menawarkan bantuan atau sekadar memberikan jeda. Namun, kakinya yang kelelahan tersandung kabel kamera yang melintang.
PRANG!
Nampan berisi gelas-gelas air yang dibawa Adelia jatuh tepat di samping kaki Arlan. Air membasahi sepatu kulit mahal sang sutradara dan beberapa lembar skrip penting di lantai.
Studio mendadak sunyi senyap. Semua orang menahan napas. Mereka tahu apa yang akan terjadi.
Arlan perlahan menunduk, melihat sepatunya yang basah, lalu beralih menatap Adelia. Matanya berkilat marah, urat di lehernya menonjol. "Adelia..." suaranya rendah, namun lebih menakutkan daripada teriakannya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Ma-maaf, Pak. Saya tidak sengaja, saya akan segera bersihkan—"
"Keluar."
"Pak, tolong beri saya satu kesempatan—"
"SAYA BILANG KELUAR!" Arlan menggebrak meja monitor hingga suaranya bergema di seluruh ruangan. "Kamu mengganggu fokus saya! Kamu merusak peralatan! Kamu tidak kompeten!"
Adelia merasakan matanya memanas. Bukan karena takut, tapi karena ia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan semua orang. Ia telah bekerja keras sejak jam 5 pagi, memastikan semua kebutuhan pria itu terpenuhi, dan sekarang ia diusir hanya karena satu ketidaksengajaan?
Adelia menarik napas dalam. Ia tidak lari sambil menangis seperti asisten-asisten sebelumnya. Ia justru berdiri tegak, memandang tepat ke mata Arlan yang menyala.
"Saya akan keluar, Pak Arlan. Saya akan membersihkan kekacauan ini dulu, lalu saya akan keluar selama sepuluh menit agar Anda bisa tenang," ujar Adelia dengan suara yang bergetar namun tegas.
"Tapi perlu Anda tahu, semua orang di sini bekerja keras karena mereka menghormati visi Anda, bukan karena mereka takut pada teriakan Anda. Sepatu Anda bisa dikeringkan, tapi semangat tim ini tidak bisa Anda beli lagi kalau sudah patah."
Tanpa menunggu balasan Arlan yang nampak terpaku karena baru pertama kali ada yang berani melawannya, Adelia berlutut dan memunguti pecahan gelas dengan tangan kosong. Ia tidak peduli saat jempolnya teriris kaca dan mulai mengeluarkan darah.
Arlan hanya diam, memperhatikan punggung kecil Adelia yang gemetar namun tetap tegar. Ada sesuatu yang aneh bergejolak di dada sang sutradara—sesuatu yang bukan kemarahan, tapi rasa bersalah yang asing.
Sepuluh menit kemudian, Adelia benar-benar menghilang dari set. Studio terasa sepi tanpa kehadirannya yang gesit. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kariernya, Arlan merasa kopinya yang tadi terasa pas, mendadak berubah menjadi sangat pahit.