Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poligami
Pagi itu, ritual rutin Arman dimulai dengan suara tangisan Aldi yang merengek tak mau mandi. "Ayo, Nak, nanti telat!" seru Rani sambil mengejar anak mereka yang berlari ke balik sofa.
Arman, dengan setengah mata masih mengantuk, sudah berseragam lengkap: jaket hijau aplikasi, celana jeans, sepatu boots. Sarapannya cuma segelas teh manis dan sepotong roti tawar sisa semalam.
"Gue anter Aldi dulu," katanya sambil menggendong anak lelaki lima tahun itu yang sudah berseragam TK merah putih.
"Jangan lupa amplop SPP-nya udah aku taruh di meja. Cuma uang pas ya, Man," ingat Rani, yang sudah sibuk mengatur dagangan di warung depan.
Arman mengangguk, mengambil amplop cokelat tipis itu dan menyimpannya di saku jaket dalam, tepat di dekat jantungnya yang berdebar. Setiap mengantarkan amplop itu, rasanya seperti mengantarkan potongan hidupnya yang lain.
Perjalanan ke TK hanya lima menit. Ia mencium kening Aldi, berjanji akan jemput nanti, lalu meluncur ke jalanan yang sudah mulai padat. Targetnya hari ini: mengejar kekurangan 150 ribu untuk SPP plus setoran harian.
Pikirannya masih diselubungi kabut lamunan tentang poligami, tapi tuntutan perut mengemudikannya kembali ke mode bertahan hidup.
Berjam-jam ia berkeliling, mengais orderan. Siang bolong, ketika panas mulai menyengat dan setoran masih jauh dari kata cukup, dapatlah ia penumpang.
Seorang perempuan paruh baya, mungkin awal 50-an, berdiri di pinggir jalan dengan tas kain besar di pundak. Ia mengenakan gamis panjang warna lavender yang sederhana namun rapi, dengan kerudung motif bunga kecil-kecil.
"Tujuan ke mana, Bu?" tanya Arman membuka aplikasi.
"Ke Masjid Al-Ikhlas, dekat Lapangan Banteng, Mas," jawab sang ibu dengan suara lembut.
"Oke, Bu. Naik ya."
Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, Arman mengobrol seperti biasa untuk mengusir kejenuhan. "Lagi pengajian ya, Bu? Ramai nih kayaknya."
"Iya, Mas. Ada kajian khusus ibu-ibu. Ustazahnya dari Bandung, terkenal."
"Wah, bagus tuh. Ibu rajin ikut kajian?"
"Alhamdulillah, kalau ada waktu. Cari ketenangan jiwa, Mas. Di dunia yang makin ruwet ini," jawab si ibu, bijak.
Arman mengangguk dalam hati. Ketenangan jiwa. Barang yang rasanya sangat mahal baginya.
Ketika mereka mendekati Lapangan Banteng, bangunan masjid putih yang megah mulai terlihat. Dan di pagar depannya, terbentang sebuah spanduk besar berwarna hijau dan kuning:
“KAJIAN KHUSUS MUSLIMAH: POLIGAMI DALAM TIMBANGAN SYARIAT & PSIKOLOGI MODERN.
Bersama: Ustazah Dr. Hj. Siti Marhamah, M.Psi.
Ahad, 12.30 WIB. GRATIS.”
Kata POLIGAMI itu seperti petir di siang bolong bagi Arman. Matanya membelalak, hampir saja ia tak memperhatikan jalan. Jantungnya berdegup kencang. Ini pertanda. Ini jawaban dari kegelisahannya yang bersemi.
Motor berhenti di depan gerbang masjid. "Sudah sampai, Bu," ucap Arman, suaranya sedikit serak.
"Terima kasih, Mas." Si ibu turun dan membayar lewat aplikasi.
Biasanya, Arman akan langsung mencari penumpang berikutnya. Tapi hari ini tidak. Matanya tertambat pada spanduk itu, lalu pada ibu-ibu berkerudung yang berduyun memasuki masjid.
Pikirannya bekerja cepat.
Ini kesempatan. Belajar langsung.
Dengan sedikit gemetar, ia membuka aplikasi ojolnya dan mematikan mode ‘online’. Lalu ia mengirim pesan ke Rani: “Lagi nunggu penumpang barang di daerah Lapangan Banteng. Mungkin agak lama.” Sebuah kebohongan kecil pertama terkait obsesi barunya.
Ia memarkirkan motornya di tempat yang agak tersembunyi di bawah pohon, menghadap ke pintu keluar masjid. Dari sini, ia bisa mengamati. Untuk menghabiskan waktu, ia membuka lagi Instagram Budi.
Foto-foto kebahagiaan itu kini terasa lebih nyata, seolah disahkan oleh spanduk kajian di depan matanya.
Dua jam berlalu. Arman hampir tertidur, kepanasan di dalam jaketnya, ketika akhirnya jemaah mulai keluar. Kebanyakan perempuan. Wajah-wajah mereka tampak serius, ada yang berdiskusi dalam kelompok kecil. Ia mencari sosok ibu penumpang tadi. Dan ia menemukannya, sedang berbicara dengan seorang ibu lain yang usianya sebaya, sambil memegang buku catatan.
Tanpa pikir panjang, Arman menghidupkan motornya dan mendekat. "Bu! Ibu tadi yang ke sini kan?" panggilnya, berusaha tersenyum ramah.
Ibu itu menoleh, sedikit bingung. "Oh, Mas driver tadi?"
"Iya, Bu. Eh, kebetulan saya dapat order di sekitar sini lagi. Kalau ibu mau pulang, mau numpang lagi? Saya antar, tarifnya sama kayak tadi, langsung tunai aja. Gak pake aplikasi biar ibu hemat," tawar Arman, mencoba terdengar membantu.
Ibu itu bertukar pandang dengan temannya. "Wah, kebetulan. Saya juga mau pulang ke Cempaka Putih. Oke, Mas. Tapi teman saya ini ikut ya, ke arah yang sama. Tambah ongkosnya gimana?"
"Gak usah ditambah, Bu. Santai aja. Anggep saja sedekah buat ibu-ibu yang rajin mengaji," jawab Arman cepat, terlalu bersemangat.
Mereka pun naik.
Ibu penumpang pertama—yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Ibu Sari—duduk di belakang Arman. Temannya, Ibu Dewi, duduk di paling belakang, memegang pinggang Ibu Sari.
Motor melaju pelan, sangat pelan, menyusuri jalanan yang sudah mulai lengang. Arman menarik napas dalam-dalam. Ini saatnya.
"Tadi… kajiannya seru ya, Bu?" buka Arman, mencairkan suasana.
"Seru dan berat, Mas," jawab Ibu Sari. "Membuka pikiran."
"Tentang poligami itu ya, Bu? Saya lihat spanduknya." Arman berusaha membuat suaranya terdengar biasa, sekadar penasaran.
"Iya, Mas. Ternyata banyak sisi yang perlu dipahami. Bukan cuma hakikatnya di agama, tapi juga dampaknya ke psikologi perempuan, anak-anak, bahkan keuangan keluarga."
"Wah… berarti gak cuma bahagia-bahagia aja ya, Bu?" tanya Arman, mencoba memancing.
Ibu Sari tertawa kecil, terdengar getir.
"Bahasanya Ustazah tadi, poligami itu ibarat masuk ke rumah sakit. Bukan untuk dinikmati, tapi untuk diobati. Untuk menyembuhkan ‘penyakit’ tertentu yang memang tidak bisa diobati dengan monogami. Itu pun dengan ‘syarat rawat inap’ yang sangat berat."
Arman mengerutkan kening. Penyakit? Ia merasa tidak sakit. Ia hanya ingin… lebih bahagia, lebih sukses. "Maksudnya penyakit apa, Bu?"
"Misalnya, istri mandul dan suami sangat ingin keturunan. Atau istri sakit kronis sehingga tidak bisa menjalankan kewajiban. Bukan sekadar karena bosan atau merasa hidup kurang warna," jelas Ibu Dewi dari belakang, suaranya tegas.
"Tapi… kan katanya kalau dijalani dengan baik, bisa memberkahkan rezeki?" protes Arman halus, mengutip kata-kata Budi.
Kedua ibu itu terdiam sejenak. "Itu mitos yang berbahaya, Mas," ujar Ibu Sari akhirnya.
"Ustazah bilang, justru yang sering terjadi adalah sebaliknya. Rezeki harus sudah lebih dulu lapang sebelum memutuskan poligami. Bukan poligami yang melapangkan rezeki. Itu ujian keadilan, baik keadilan finansial, emosional, maupun waktu. Bisa bayangkan, satu suami bagi untuk dua rumah, dua kebutuhan, dua biaya sekolah anak? Itu bukan matematika sederhana."
Perkataan itu seperti pukulan telak di ulu hati Arman. Ia membayangkan amplop SPP Aldi di sakunya. Bayangkan jika harus menggandakannya. Belum lagi listrik, air, belanja…
"Tapi… saya lihat ada yang berhasil, Bu. Di media sosial. Kedua istrinya akur, sukses," bantahnya lemah.
"Ah, media sosial." Ibu Dewi mendesah. "Itu hanya cuplikan 1% kebahagiaan, Mas. 99% pergumulan, air mata, kecemburuan, perasaan tidak adil, itu tidak di-posting."
"Ibu saya dulu istri pertama. Saya melihat langsung penderitaannya. Beliau diam saja, tapi sakit hatinya merasuk ke tulang, sampai akhir hayat. Ayah saya kelihatan bahagia punya dua, tapi sebenarnya hidupnya terbelah, capek mental. Kami, anak-anaknya, juga jadi korban."
Cerita itu menggumpalkan suasana. Arman tak tahu harus berkata apa. Ia mengemudi semakin pelan, menyerap setiap kata.
"Lalu, kenapa ibu tertarik ikut kajian seperti ini?" tanya Arman penasaran pada Ibu Sari.
Ibu Sari terdiam lama. Suaranya lirih ketika akhirnya berbicara.
"Suami saya, almarhum… dulu pernah berniat menikah lagi. Saat itu ekonomi kami sedang naik. Saya sakit hati sekali. Saya merasa tidak cukup, usaha saya selama ini tidak dihargai. Saya ancam cerai. Akhirnya batal. Tapi hubungan kami rusak sudah."
"Sekarang, bertahun setelah dia wafat, saya ingin memahami. Mencari closure mungkin"
Apakah saya yang egois waktu itu? Ataukah memang naluri seorang perempuan untuk mempertahankan rumah tangganya?"
Suara Ibu Sari bergetar. Arman merasa seperti menyelami kedalaman lautan yang tak pernah ia bayangkan. Ia hanya melihat permukaan yang indah dari perahu Budi, tanpa menyelam untuk melihat karang tajam dan arus deras di bawahnya.
"Hasilnya, Bu? Setelah ikut kajian?" tanyanya hampir berbisik.
"Saya sadar, waktu itu saya tidak egois. Saya hanya manusia. Dan poligami… ia adalah ujian tingkat tinggi. Bukan untuk semua orang. Bukan untuk laki-laki yang sekadar ingin mengatasi kebosanan atau mengejar fantasi. Ia untuk yang benar-benar kuat, secara iman, ilmu, mental, dan finansial. Dan kesiapan itu harus dimulai dari diri sendiri dulu, sebelum mencari istri kedua."
Motor akhirnya sampai di depan sebuah rumah sederhana di gang sempit Cempaka Putih. "Ini sudah, Mas," kata Ibu Sari turun, membayar ongkos dengan uang pas.
Sebelum pergi, Ibu Sari menatap Arman.
Matanya penuh empati, seolah bisa membaca kegelisahan di balik pertanyaan-pertanyaan intrusifnya.
"Maaf saya banyak bicara, Mas. Tapi saya rasa, orang yang banyak bertanya tentang poligami biasanya sedang ada di persimpangan. Hati-hati, ya, Mas. Lihat dulu ke dalam. Sudah adilkah ke istri yang pertama? Sudah cukupkah bekalnya untuk anak-anak? Jangan sampai keluarga yang sudah dibangun, rusak karena mengejar bayangan kebahagiaan yang belum tentu nyata."
Arman hanya bisa mengangguk, lidahnya terasa kelu. "Terima kasih, Bu. Ilmunya."
Kedua ibu itu pun pergi, meninggalkan Arman sendirian di atas motornya yang masih menyala. Pikirannya berdesir. Kajian tadi, bukannya menguatkan niatnya, malah memberinya gambaran yang lebih gelap dan lebih rumit.
Ia membayangkan Rani, dengan gelang emasnya dan tuntutan SPP yang realistis. Apakah ia sudah adil padanya? Apakah ia sudah cukup?
Dengan gerakan lamban, ia menghidupkan kembali mode ‘online’ di aplikasinya. Notifikasi pertama yang muncul adalah pesan dari Rani: “Aldi minta jemput pake motor.
Bilang mau keliling. Hati-hati di jalan.”
Pesan sederhana itu, yang datang tepat
setelah hantaman realita dari Ibu Sari, terasa seperti sebuah jangkar. Ia melihat sekeliling. Rumah-rumah padat penduduk, kehidupan yang sama-sama pas-pasan. Spanduk tentang poligami di masjid megah tadi terasa sangat jauh, seperti milik dunia lain.
Namun, benih keraguan yang ditanamkan Ibu Sari masih kalah dengan gambar indah di Instagram Budi. Konflik dalam diri Arman bukan berkurang, malah bertambah. Dua narasi kini berebut di kepalanya: narasi kesuksesan dan kebahagiaan dari Budi, dan narasi peringatan serta penderitaan dari Ibu Sari.
Dengan muka masam, ia menerima orderan pertama setelah ‘pengabdian’ intelektualnya: mengantar makanan dari restoran cepat saji ke sebuah perkantoran.
Saat melaju, kata-kata terakhir Ibu Sari terus bergema: “Jangan sampai keluarga yang sudah dibangun, rusak karena mengejar bayangan kebahagiaan.”
Tapi, bisakah sebuah bayangan dikejar? Atau justru, seperti fatamorgana di aspal panas, ia akan terus menjauh, meninggalkan kita kehausan di padang pasir realita yang tak tergoyahkan?
Pertanyaan itu belum terjawab. Yang jelas, perjalanan Arman mencari jawaban tentang poligami baru saja mendapatkan sebuah tikungan tajam, dan ia belum siap untuk membanting setir.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.