Kultivator setengah abadi Yan Biluo harus hidup sebagai Beatrice Nuo Vassal, karakter kecil dalam novel erotika yang seharusnya mati di awal cerita. Karena hal ini, ia pun merayu tunangan lisannya—Estevan De Carlitos, Grand Duke paling kejam dalam cerita tersebut.
Tujuannya sederhana—memperbaiki plot yang berantakan sambil terus merayu tunangannya yang tampan. Namun semuanya berubah saat tokoh utama antagonis tiba-tiba saja meninggal. Sejak itu, fragmen ingatan asing dan mimpi-mimpi gelap mulai menghantuinya tanpa henti.
Beatrice mengira tidur dengan tunangan tampannya sudah cukup untuk menikmati hidup sampai akhir cerita. Namun ia malah terseret dalam emosi, ingatan, dan trauma dari pemilik tubuh aslinya.
Apakah dunia ini benar-benar hanya novel?
Atau sebenarnya ia sedang menghidupi tragedi yang pernah dialami oleh karakter yang ia gantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar Mesum!
Ternyata Paula lah dalang di balik semuanya. Diam-diam, ia telah merencanakan setiap langkah dengan teliti. Bukan hanya para penjaga yang ia bius dengan obat tidur kuat, bahkan Charls pun terlelap pulas di tendanya tanpa menyadari apa pun.
Begitu suasana benar-benar tenang, Paula menyelinap menuju tenda putra mahkota. Dibutuhkan kesabaran untuk menghindari seluruh penjaga dari kelompok Grand Duke Carlitos. Pada akhirnya, ia berhasil mencapai pintu masuk tenda Julio tanpa siapa pun yang melihatnya.
Saat cahaya lembut dari lentera gantung menyorot tubuh Julio di ranjang, Paula menahan napas. Julio, dengan wajah tampannya dan tubuh berotot yang menggoda, terbaring tak berdaya. Meskipun dadanya terbalut kain karena luka, garis otot kuat itu tetap terlihat jelas.
Seberapa beruntung Alicia bisa menikah dengan pria luar biasa ini di kehidupan sebelumnya? Pikiran itu membuat rasa iri menggerogoti hatinya.
“Pangeran … saya akan membuat Anda merasa lebih nyaman~” bisiknya manis, namun mengandung keserakahan.
Dengan penuh nafsu yang tersamarkan di balik senyuman, Paula mulai bergerak. Tangannya menyusuri perut Julio yang keras dan hangat, merasakan setiap otot yang menegang. Tanpa rasa malu atau ragu, ia meraih pinggiran celana sang pangeran dan mencoba melepaskannya.
Ketika tubuh bawah Julio bereaksi—jelas bukan karena keinginannya, melainkan efek obat—jantung Paula berdebar semakin kencang.
Hanya sedikit lagi. Sedikit lagi dan malam ini akan menjadi miliknya. Setelah itu, Julio pasti akan jatuh cinta padanya.
Seorang pangeran yang belum pernah menyentuh wanita mana pun … tentu akan terikat padanya setelah pengalaman “pertama” yang ia berikan.
Dia sudah membayangkan bagaimana Julio akan mencarinya lagi dan lagi setelah malam ini. Betapa mudahnya pria jatuh dalam perangkap seperti ini.
Untungnya, parfum memabukkan yang ia semprotkan pada tubuh Julio hanya bekerja pada pria. Efeknya tidak akan menimpa dirinya sendiri—itulah sebabnya Paula tidak khawatir mencium aromanya.
Dengan mata berkilat penuh obsesi, Paula merendahkan tubuhnya, siap mengambil langkah berikutnya.
Malam ini, ia yakin, akan mengubah nasibnya.
Julio yang berkeringat dingin semakin waspada. Kesadarannya perlahan-lahan kembali, meski tubuhnya bergetar akibat panas yang membakar dari dalam. Tepat ketika wanita itu berhasil membuka celananya dan hendak menyentuh bagian yang seharusnya tak tersentuh, Julio benar-benar murka.
Dengan segenap tenaga yang tersisa, ia mencengkeram pergelangan tangan Paula erat-erat. Pandangannya kabur, namun ia tahu betul niat wanita itu—dan itu membuat darahnya mendidih.
“Cari mati!” geramnya, suaranya serak dan menahan amarah.
Tak ingin memberi kesempatan Paula melakukan sesuatu yang lebih buruk, Julio memaksa tubuhnya bangkit. Gerakan itu menyakitkan, namun ia tidak peduli. Dalam satu hentakan cepat dan terlatih, ia memukul titik lemah di leher wanita itu. Sebagai ahli pedang yang memahami titik vital, satu pukulan saja sudah cukup.
Paula terjatuh dari ranjang, tubuhnya limbung sebelum akhirnya tak bergerak sama sekali. Ia pingsan.
Julio mengatur napas berat, memastikan bahwa wanita itu tidak akan bangun dalam waktu dekat.
“Sial … obat apa yang diberikannya padaku? Kenapa tubuhku panas seperti ini …?” desisnya frustrasi.
Syukurlah, luka di dadanya tidak terbuka kembali. Dengan langkah gontai, ia turun dari tempat tidur dan memaksakan diri meninggalkan tenda. Setiap langkah terasa berat.
Begitu keluar, Julio mengumpat pelan. Semua penjaga di sekitar tenda terkapar tertidur pulas—jelas akibat obat bius yang berbeda.
Aku pasti akan berurusan dengan wanita itu! Dia tidak akan lolos begitu saja! Pikirnya
Berusaha menenangkan tubuhnya yang terus memanas, Julio berjalan ke sungai terdekat. Ia masuk ke air hingga setengah tubuhnya terendam. Dinginnya air sedikit membantu meredakan panas di kulitnya.
Baru saja ia hendak membasuh wajah, suara percikan tiba-tiba terdengar. Dari permukaan sungai yang terpantul cahaya bulan, seseorang muncul dari dalam air.
Julio terkejut. Wanita itu sama kagetnya dan hampir berteriak. Dengan refleks, Julio menutup mulutnya dengan telapak tangan. Namun bukannya bekerja sama, wanita itu justru menampar pipinya sekuat tenaga.
“Dasar mesum!” Suara wanita itu melengking marah.
Julio mundur beberapa langkah. Pipi kirinya panas akibat tamparan tersebut. Dalam 28 tahun hidupnya, belum pernah ada wanita yang berani menamparnya—apalagi di tengah malam—di sungai dalam kondisi seperti ini.
Namun … suara itu … sangat familiar.
Di bawah cahaya bulan yang redup, ia melihat rambut pirang panjang yang basah menempel di bahu seorang wanita.
Wanita itu tidak memakai apa pun dari pinggang ke atas—sementara bagian lain tubuhnya tersembunyi di balik air sungai yang dingin.
Julio terdiam sebentar sebelum matanya melebar. “Alicia…?!”
Wanita itu langsung menutupi dadanya. Napasnya terengah, wajahnya merah bukan karena malu saja—tapi juga karena marah.
“Apakah itu kamu?” Julio memastikan, meski ia sudah yakin. Kesadarannya masih berjuang melawan efek obat, namun penglihatannya kini cukup jelas untuk mengenali sosok itu.
Alicia menatapnya dengan wajah antara kaget dan tertegun. Sementara air sungai menetes dari ujung rambutnya.
Alicia sama sekali tidak menyangka ada orang yang datang ke sungai di tengah malam seperti ini. Ketika melihat pria yang baru saja ia tampar adalah putra mahkota, rasa bersalah langsung muncul. Rambut perak panjang yang khas … mana mungkin ia salah mengenali Julio?
“Ini saya, Pangeran. Tapi … mengapa Anda datang ke sungai malam-malam seperti ini? Luka di dada Anda tidak boleh terkena air,” ujarnya cepat.
Begitu mengingat bahwa tubuhnya tidak berbalut apa pun, Alicia buru-buru membalikkan badan. Wajahnya memanas. “Maafkan saya, Pangeran. Saya tidak bermaksud menampar Anda. Saya kira … seseorang sengaja ingin melecehkan saya.”
Julio mengembuskan napas berat, namun bukan karena marah. “Tidak apa-apa. Itu salahku karena tidak tahu ada orang di sini. Tapi kamu, kenapa berada di sungai saat larut begini? Tubuhmu penting. Jangan sampai masuk angin.”
“Saya hanya mandi. Tidak nyaman mandi saat siang hari, jadi saya melakukannya ketika semua orang tidur. Lalu … bagaimana dengan Anda?”
Julio terdiam. Ia tak bisa menjelaskan semuanya tanpa mempermalukan dirinya sendiri. Ia hanya melihat sekilas punggung Alicia yang basah oleh air dan … memikirkan apa yang baru saja ia lihat ketika wanita itu muncul dari sungai. Tubuhnya langsung bereaksi semakin keras, efek obat bius kembali menyerangnya.
Ia menggertakkan gigi. “Alicia, maukah kamu membantuku?”
Alicia menegang. “Pangeran … apa Anda membutuhkan sesuatu?”
“Saya dibius oleh obat musim semi.” Suaranya terdengar menahan rasa sakit. “Tubuh saya tidak nyaman.”
Alicia tercengang. “Saya tidak membawa obat penawar untuk masalah seperti itu, Pangeran.”
Julio memalingkan wajah, berusaha mempertahankan kewarasannya. Dia adalah pria lurus yang tidak pernah menyentuh wanita sepanjang hidupnya. Namun melihat Alicia di bawah cahaya bulan, rambut pirangnya basah dan kulitnya yang pucat—entah kenapa ia merasa wanita itu ditakdirkan untuknya.
“Apa Anda tidak bisa meminta dokter di kamp meracik penawarnya?” tanya Alicia yang cemas.
Julio menggeleng kuat. “Tidak boleh ada yang tahu aku diberi obat ini. Kalau berita itu menyebar, semuanya akan kacau.”
“Jadi …” Alicia sudah bisa menebak, tapi tetap sulit mempercayainya.
“Tidurlah denganku. Itu satu-satunya cara.” Julio akhirnya membuat keputusan itu dengan suara rendah dan mantap.
Alicia spontan menoleh, panik. “Pangeran, saya hanyalah seorang janda. Bagaimana mungkin saya menodai tubuh Anda dengan tubuh kotor saya?”
“Janda apa? Kau hanya bercerai, bukan menjadi j*lang!” Julio berkata dengan tajam. Ia benci mendengar wanita ini merendahkan dirinya sendiri.
“Apa salahnya menjadi janda? Banyak wanita bangsawan menikah kembali dan tetap dihormati. Ini bukan aib, Alicia.”
“Saya—” Alicia menggigit bibirnya. “Saya hanya … tidak memiliki pikiran seperti itu tentang Anda, Pangeran. Anda pantas bersama wanita yang lebih baik.”
“Kamu ini—” Julio menggeram pelan. Efek obat di tubuhnya semakin menggila, dan air sungai jelas tak membantu apa pun. “Kamu mau atau tidak? Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku pasti ingin melakukannya denganmu malam ini.”
“Pangeran … apakah Anda tidak takut menyesalinya setelah efek obatnya habis?"
“Tidak. Aku pasti akan bertanggung jawab sampai akhir.”
Julio perlahan mendekatinya dari belakang. Ia menyentuh bahu Alicia—kulitnya yang halus membuat tubuhnya merespons lebih keras. Nafasnya berat. Ia akhirnya memeluk Alicia dari belakang, menahan tubuhnya agar tidak goyah.
“Alicia … tolong bantu aku.” Suaranya pecah, nyaris putus asa. “Aku tidak bisa menahannya lagi. Efek obatnya terlalu kuat.”