NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Panggung Sosial

Langit mulai gelap, warna jingga di ujung kota pelan-pelan hilang. Malam akhirnya tiba—hari ini adalah hari ulang tahun Azmi.

Mungkin bukan malam yang begitu dinantikan oleh seorang remaja lelaki di dalam mobil keluarga rosyid saat ini.

Dio duduk di kursi belakang mobil, satu tangan menopang dagu, matanya menatap keluar jendela.

Lampu-lampu taman mulai terlihat dari kejauhan. Rumah keluarga Azmi berdiri besar dan terang—jenis rumah yang selama ini cuma Dio lihat di film.

“Gila,” gumam Dio pelan.

“Ini rumah atau Istana Presiden?”

Dari kursi depan, ayah Siva tertawa kecil.

Ibu Siva yang duduk di sebelahnya ikut menoleh ke belakang, lalu berkata santai,

“Namanya juga rumah orang kaya nomer tiga di negara ini,” ujarnya.

“Pasti besar besar, wajar saja.”

Dio mengangguk, meski ayah Siva tidak melihatnya.

Ia melirik ke samping Kanan.

Siva duduk tegak dengan gaun gelap yang jatuh rapi di tubuhnya. Potongannya sederhana, tapi tegas—sama seperti sikapnya. Wajahnya serius, seolah sedang bersiap memimpin rapat, bukan menghadiri pesta ulang tahun.

Di kursi kiri, Diana duduk santai seperti biasa. Saudara kembar Siva itu memang selalu terlihat lebih tenang—gaunnya rapi, rambutnya tertata, gerak-geriknya kalem.

Wajahnya nyaris identik dengan Siva, tapi auranya terasa jauh berbeda.

Dio menghela napas kecil.

Mode ketua OSIS belum dimatikan, pikir Dio.

“Lu kenapa kaku banget,” bisik Dio.

“Ini pesta keluarga penting,” jawab Siva singkat.

“Jaga sikap.”

Dio mendengus pelan.

“Tenang. Gue cuma nebeng, bukan pewaris perusahaan.”

Diana yang duduk di sebelah ikut menoleh sedikit.

“Makanya justru jangan bikin malu,” katanya sambil tersenyum.

Dio nyengir.

“Siap,Diana.”

Mobil melambat.

Dio merapikan jas hitam yang ia pakai.

Dio melirik sekelilingnya.

“Jadi ini acaranya…” gumamnya.

“Lumayan juga.”

Setibanya di sana, Dio tidak banyak basa-basi.

Pandangannya langsung menyapu meja hidangan, lalu kakinya otomatis melipir ke arah sana.

Tangannya sigap mengambil satu kue kecil dengan hiasan yang terlihat mahal, dan tanpa ragu langsung memasukkannya ke mulut.

“Hmm… lumayan juga,” gumamnya santai.

Alih-alih mencari Azmi atau menyapa tamu lain, Dio langsung menuju meja hidangan. Seakan bagian itu yang paling menarik perhatiannya sejak datang.

Siva masih merapikan baju, sementara Diana yang turun di sisi satunya memperhatikan tingkah Dio sekilas.

“Kamu itu ya,” katanya, “baru datang, bukannya salaman sama yang punya acara, malah langsung makan.”

Dio nyengir.

“Hehe, sorry. Makanannya kelihatan terlalu menggoda.”

Siva ikut menimpali sambil menggeleng.

“Makan terus yang kamu pikirin. Padahal sebelum berangkat juga udah makan di rumah.”

“Beda,” jawab Dio cepat.

“Ini gratis.”

Ibu Siva menoleh sambil tersenyum tipis.

“Sudah, jangan ribut. Itu keluarga Azmi sudah menunggu di depan. Ayo, kita ke sana.”

“Baik, Tante,” jawab Dio sopan, refleks.

“Iya, Ma,” sahut Siva dan Diana hampir bersamaan.

Mereka kemudian berjalan mendekat, menuju keluarga Azmi yang sudah berdiri di depan untuk menyambut para tamu.

Dari kejauhan, keluarga Azmi terlihat mendekat.

Keluarga Siva dan keluarga Pratama mulai saling bersalaman, obrolan basa-basi terdengar sopan dan teratur.

“Selamat datang, Pak Rosyid, beserta keluarga. Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung malam ini,” sapa ayah Azmi sambil menjabat tangan dengan ramah.

“Terima kasih atas undangannya. Kami yang merasa terhormat bisa hadir di hari spesial putra Anda,” jawab ayah Siva sopan.

Ibu Azmi ikut mendekat, senyumnya ramah saat menyapa satu per satu.

“Silakan dinikmati suasananya. Anggap saja seperti di rumah sendiri. Kami berharap malam ini bisa jadi momen yang menyenangkan untuk semua.”

Namun perhatian Dio tidak ada di sana.

Pandangan matanya justru tertahan pada satu sosok.

Azmi.

Jas yang dikenakan pas di badannya, rapi tanpa terlihat pamer. Wajahnya terlihat terlalu tenang seperti biasa.

Di tengah keramaian itu, entah kenapa Azmi tetap terlihat menonjol dengan caranya sendiri. Bukan karena paling ramai, tapi justru karena dia tampak paling santai.

Ia tidak ingin mengakuinya, tapi Setiap ia melihat Azmi berdiri di tengah keramaian—rasanya seperti ia sudah kalah duluan.

So ganteng banget nih orang.batinnya, kesal.

Ia mendecakkan lidah pelan, lalu memalingkan wajah.

Dari jarak yang lebih dekat, Dio melihat keluarga Rosyid sedang memperkenalkan putri-putri mereka kepada keluarga Azmi.

Senyum sopan, jabat tangan rapi, percakapan ringan yang terdengar formal.

Dio tidak ikut berdiri terlalu lama di belakang.

Ia melangkah maju, mendekati Azmi lebih dulu, lalu menyodorkan kotak kado yang sejak tadi ia pegang.

"DBD, bro,” ucap Dio santai sambil menyodorkan kotak hadiah.

Siva langsung menoleh tajam.

“DBD? Maksud lu HBD, woy. DBD itu penyakit.”

Dio terkekeh. “Ya kan hampir.”

Urusannya selesai—setidaknya untuk saat itu.

Namun saat ia mundur setengah langkah, pandangannya kembali tertarik ke arah sekitar.

Pesta ini baru saja dimulai… dan entah kenapa, ia merasa malam ini tidak akan sesederhana kelihatannya.

Saat obrolan masih berlangsung, pandangan Dio tanpa sengaja tertarik ke arah pintu masuk.

Sebuah mobil berhenti, dan sesaat kemudian Gina turun dari dalamnya.

Gaun hitam itu membalut tubuh Gina dengan Pas—jatuh rapi tanpa berlebihan, tapi tetap menonjolkan kesan elegan. Potongannya sederhana, namun terlihat mahal dari cara kainnya mengikuti setiap gerak.

Rambutnya digulung rapi ke atas, seperti gaya pramugari—bersih, teratur, dan memberi kesan dewasa.

Beberapa perhiasan melengkapi penampilannya.

Anting kecil yang berkilau, gelang tipis di pergelangan tangan, serta kalung sederhana yang memantulkan cahaya tiap ia bergerak.

Dio sempat terdiam.Bukan karena gaunnya saja.Tapi karena ini pertama kalinya ia melihat Gina datang bersama orang tuanya.

Selama ini, Dio tahu Gina anak orang kaya.

Mobil mahal, gaya hidup rapi, semuanya kelihatan.

Tapi anehnya, Gina tidak pernah mengajak siapa pun—termasuk dirinya—main ke rumah.

Dio tidak pernah benar-benar memikirkannya.

Sampai malam ini.Tatapan Dio beralih ke ayah dan ibu Gina.

Wajah mereka tenang, dingin, nyaris tanpa ekspresi. Cara berdiri mereka tegak, jaraknya rapi—bahkan saat berada di tengah pesta.

Dio menghela napas kecil.

Oh...pantes, gumamnya dalam hati.

Tatapannya berhenti pada kumis tebal pria itu.

Entah kenapa, di kepalanya langsung muncul satu kesimpulan sederhana—

orang berkumis tebal begini… biasanya orang kaya yang tegas.

Pemikiran yang asal, tapi cukup buat Dio mengangguk sendiri seolah masuk akal.

Tak lama kemudian, Dio melihat keluarga Azmi yang tadi mengobrol dengan keluarga Rosyid mulai berpindah arah.

Mereka berjalan menuju keluarga Gina.

Dio mendengus pelan.

Cepat juga ganti target, pikirnya.

Dari sudut pandangnya… semuanya terlalu mulus. Terlalu rapi..

Cara mereka berdiri, cara menyapa, bahkan jaraknya terasa pas.

Dan justru itu yang bikin Dio tidak nyaman.

Bahkan Azmi yang tadinya santai, kini ikut ditarik mendekat, seolah memang sudah waktunya diperkenalkan secara resmi.

“Ayo,” ucap Siva sambil melirik ke arah Gina.

“Kita ke sana. Gina sudah datang.”

Dio mengangguk singkat. Tidak menolak, tapi juga tidak terlalu antusias.

Ia melangkah mengikuti Siva dan Diana.

Dari kejauhan, Dio menangkap sosok Azmi yang sedang berbincang dengan Gina. Keduanya berdiri cukup dekat. Gina tersenyum lepas—bukan senyum sopan seperti saat menyapa orang tua tadi, tapi senyum yang terlihat lebih ringan, lebih akrab.

Seolah jarak di antara mereka sudah lama hilang.

Langkah Dio tanpa sadar melambat. Pandangannya tertahan di sana, memperhatikan tanpa benar-benar ingin terlihat memperhatikan.

“Yah,” ucap Diana pelan pada orang tuanya, “keluarga Wijaya sudah datang.”

Ayah dan ibu Siva mengangguk, lalu ikut menyusul dari belakang dengan langkah tenang.

Dio berjalan di barisan paling belakang.Matanya kembali tertuju pada Gina—yang kini berdiri di antara kedua orang tuanya, senyumnya rapi, posturnya sempurna.

“Uh, cantikku akhirnya datang juga,” ucap Siva sambil langsung memeluk Gina dan mencium pipinya singkat.

“Hai, Semuanya.” balas Gina sambil tersenyum.

Matanya menyapu mereka satu per satu, berhenti sebentar saat bertemu pandangan dengan Dio.

Dio menatap Gina dari ujung rambut sampai ujung gaunnya.

“Wah…” Dio mengangguk-angguk pelan.

“Apa ini? Temanya black swan, ya?”

“Ssst,” Gina menegurnya sambil menahan senyum.

“Gak usah bacot deh.”

Tawa kecil muncul di antara mereka. Singkat, ringan—dan terasa normal.

Ayah dan ibu Siva melangkah mendekat, senyum sopan tetap terjaga.

“Selamat malam, Pak, Bu. Senang akhirnya bisa bertemu langsung,” sapa ayah Siva sambil mengulurkan tangan.

Ayah Gina menjabat sekilas. Singkat. Formal.

“Malam.”

Ibu Siva ikut menimpali dengan nada hangat, mencoba mencairkan suasana.

“Kami sering dengar tentang keluarga Anda. Senang bisa hadir di acara yang sama malam ini.”

Ibu Gina membalas dengan senyum tipis—sekadar formalitas.

“Ya.”

Tidak ada pertanyaan balik. Tidak ada tawa kecil. Percakapan berhenti di situ saja, seperti tembok yang tak terlihat.

Hening beberapa detik.

Ayah Siva masih berusaha ramah.

“Putri Anda terlihat sangat anggun malam ini.”

“Memang seharusnya begitu,” jawab ayah Gina datar.

Nada bicaranya rapi, tapi dingin. Tidak benar-benar membuka ruang untuk dilanjutkan.

Ibu Siva mengangguk pelan, senyumnya tetap terjaga meski suasana terasa kaku.

Di samping mereka, Dio memperhatikan.

Rahangnya mengeras sedikit, menangkap jelas bagaimana sapaan hangat itu… dipantulkan kembali dengan jarak.

Tidak ada tawa. Tidak ada basa-basi hangat.Berbeda sekali dengan saat keluarga Gina berbincang dengan keluarga Azmi tadi.

Wajah ayah dan ibu Gina kini datar. Dingin. Nada bicara mereka rapi, tapi kaku—seperti sedang berada di ruang rapat, bukan pesta ulang tahun.

Dio mengepalkan rahangnya pelan.

Ia tahu betul keluarga Rosyid seperti apa. Hangat. Sopan. Tidak pernah merendahkan siapa pun. Tapi di hadapan keluarga Gina, semua itu seperti tidak berarti.

Pandangan Dio beralih ke Gina.

Gina berdiri di sana dengan senyum yang masih terpasang, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Bahunya sedikit menegang. Tatapannya turun sesaat, seolah ada sesuatu yang ia telan sendiri.

Dan entah kenapa, itu bikin dadanya ikut panas.

1
Kaka's
bakalan ada cinta"annya nih. 🤭🤭
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa gina ini anak pertama 🤔
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
Hunk: Betul banget, Kak. Gina itu anak pertama, punya adik laki-laki yang masih SD namanya Ginan. Dan selama ini Gina memang sering merasa orang tuanya lebih memihak ke adiknya. Terima kasih sudah membaca🙏
total 1 replies
Agryena
aku mampir thor/Hey/
Agryena: sama sama kak!😁
total 4 replies
Kaka's
ih malah ngatain.. 🤣🤣
Kaka's
🤣🤣🤣 yo gass
Kaka's
permen marshmallow ini yang kenyal yah??🤭
Serena Khanza
dio tipe cowok yang sering banget ditemui jaman real kek nya dimana-mana ada yg kek dio.. kadang suka gak bisa ditebak dia bercanda atau serius..
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Rahmalia harus bisa beda kan antara rasa suka atau cuma sebatas kagum
Fra
Ik He's Siva son, i just can't prove it
Serena Khanza
dari keseluruhan bab ini kayak ada sesuatu ya rahmalia sama dio terus gina sama azmi..
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Serena Khanza: iya kak ku menunggu 🥰💪🏻💪🏻
semangat kak 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Azmi dan Rahmalia cocok deh thor 🤭🤭
Hunk: Udah yakin nih milih kapal mereka.🤣
total 1 replies
Kaka's
😑😑 pasalnya udah ampe 300 an.. pake ayat lagi.. rinci amat tuh anggota dewannya buat aturan. 🤣
Hunk: Terima kasih sudah membaca kak, semoga suka dengan cerita saya🤣
total 1 replies
Kaka's
udah telat masih aja lirik waketosnya 🤣🤣..
Fra
Ini bukan menyemengati ya pren, ancaman halus ini 😩😩
Fra
Orang tua semacam ini bener-bener bisa bikin anak stres berat dan tertekan. Padahal tempat yang diduduki anaknya sekarang bisa aja juga diinginkan orang lain yang belum bisa ngeraih itu semua. Keep Strong, Gina💪🏻 🥹
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
gina baru di tatap gitu aja sama Azmi langsung salting 🤣🤣
Hunk: Wkwk Gina emang gampang salting kalau udah ditatap Azmi langsung 😭
total 1 replies
Fra
Awal-awal aku pikir cuma cerita remaja biasa ih, ternyata ada intrik kaum elite. Aku suka kakak ini dan karyanya 😋
Fra
Dio x Gina juga manis ihh
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
Panda
masih slice of life khas anak sekolah

slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat

cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔
Panda: kann gueeee baca yeeee hueheheheh

oke sep sama sama
total 4 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
sikap Dio ini bisa bikin cwek salah sangka dan akhir nya baper 🤭🤭
Hunk: Iya, Dio memang tipenya gitu—kadang tanpa sadar sikapnya bikin orang lain salah nangkep. Niatnya biasa aja, tapi kesannya jadi beda 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!