NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gorengan Rese

Pukul 07.00 pagi Dewa menjemput Dian seperti biasa Namun pagi ini ada yang berbeda perempuan itu duduk di boncengan dengan tangan mengepal longgar di tasnya — bukan defensive, tapi... tenang. Sesekali matanya melayang ke kanopi pepohonan yang mereka lewati, dan senyum tipis muncul tanpa dia sadari.

Dewa melirik dari spion. "Ibu mimpiin apa sih?"

Ia menoleh. Matanya lembut, tapi ada jarak di dalamnya — seperti sedang melihat sesuatu yang jauh. "Mimpiin..." ia berhenti sejenak, "mimpiin kalau hidupku lima belas tahun lalu punya teman-teman kayak mereka."

Dewa nggak menjawab tapi tangannya spontan mengendur menarik gas

"Dan itu... karena kamu."

Laki laki itu langsung salah tingkah, helmnya terasa tiba-tiba sempit. Lampu berubah hijau motor kembali melaju.

---

Pukul 08.00, parkiran kampus.

Pemandangan yang sama seperti kemarin gerobak gorengan, terlalu banyak.

Namun hari ini ada tambahan baru — sebuah spanduk besar yang mencolok:

"GORENGAN SPESIAL: BAKWAN KRESS – ENAKNYA BIKIN DOSEN KETAGIHAN!"

Dewa hampir kehilangan keseimbangan. "Bu... ini udah bukan usaha tapi propaganda."

Dian malah tertawa kecil — "Bakwan Kress?"

"Bakwan Kress," Dewa mengulang pasrah. "Dan 'bikin dosen ketagihan.'"

"Siapa yang bikin?"

"Budi."

Dian mengangguk, masih tersenyum. "Dia... kreatif."

"Ibu mau beli?"

"Saya malah semakin penasaran, " Nanti ya."

Dewa membeku di tempat. Ibu Dian mau beli gorengan dengan spanduk ajaib Dora Emon

Dunia memang sudah tidak baik-baik saja.

---

Pukul 08.15, Grup WA "EKONOMI 23 – TANPA DOSEN"

Rina [08.16]: Tim, Bu Lastri stress — Pak Dekan pesan goreng hampir setiap hari.

Budi [08.19]: Rahasia dapur 😎 Sekarang gue bisa masuk ruang dekan kapan aja.

Rina i [08.20]: Lo bisa masuk ke ruangan eksekusi ?!

Budi [08.24]: Dia minta gue anter langsung biar hangat."

Joko [08.27]: Hati-hati, Bud, pak Dekan punya piaraan Jin, ntar Lo kesambet malah jadi anaknya pak Hadi.

Rina, : Hahaha

Budi [08.28]: Besok gue dengerin.

---

Pukul 10.00, ruangan Ibu Dosen

Dewa masuk sambil membawa map tebal berisi berkas akreditasi yang sudah ia susun rapi.

Langkahnya terhenti melihatnya sedang asik membaca buku novel.

"Ibu... baca novel?" tanyanya ragu, seolah takut itu hal ilegal di dunia perdosenan.

Dian menutup buku perlahan. "Romance cinta segitiga."

"Ibu suka genre gituan?"

"Nggak sih.. tahu baru pertama kali baca lagi setelah..." ia berhenti, "setelah sekian lama."

Dewa mengangguk, fokus ke berkas.

"Tapi lucu ya ," lanjutnya ringan menatap "Tokohnya seorang laki laki muda nggak sadar dia disukai, padahal...

" Padahal apa, Bu?"

" Signal sudah diberikan, tapi mungkin dia laki laki polos."

Dewa merasa tenggorokannya kering. " Apa karakternya... buta Bu, sampai oon begitu."

"Bukan buta," Dian tersenyum tipis. "Cuma mungkin dia takut, kalau itu cuma perasaannya sendiri."

Dewa memilih diam tubuhnya tiba-tiba menyempit.

---

Pukul 12.00, kantin.

Meja mereka penuh. Dewa, Roby, Rina, Joko, dan Budi duduk melingkar. Di tengah meja — sekantong gorengan gratis dari Budi.

Rina menepuk meja. "Oke, tim! Operasi Gorengan masuk fase dua!"

"Fase dua apaan ?" Joko mengernyit.

"Budi sekarang punya akses ke ruang dekan!"

"Serius, Bud?"tanya Roby serius.

Ia mengangguk bangga. "Udah tiga hari ini, Pak Hadi meminta gue anter langsung goreng an."

"Dia ngomong apa?"tanya Dewa mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Kemarin... dia sempat telepon seseorang."

Semua langsung terdiam.

"Gue cuma denger dikit," lanjut Budi. "Pak Hadi cuma bilang... 'Sabar masih ada waktu, jangan bergerak dulu.'"

Tubuh Rina langsung menegang. "Itu pasti soal Ibu Dian."

"Atau..." Joko pelan, "Kita gak tahu...bisa jadi Pak Dekan patah hati ikut jodoh talent."

" Lo ngawur, " Roby menyepak kakinya, "Kita mesti selidikin Pak Hadi ngomong sama siapa."

Budi mengangguk. "Besok pagi gue coba denger lagi."

---

Pukul 14.00, taman kampus.

Mereka berkumpul lagi kali ini lebih serius.

Rina menyilangkan tangannya. "Kita butuh alat."

"Alat apa?" tanya Joko curiga.

"Perekam."

Budi langsung mundur selangkah "Lo gila, Rin? Itu ilegal!"

"Ini demi kebenaran!"

"Tapi..bisa bisa kita di keluarkan dari kampus sahut Joko cepat.

Suasana langsung berat mencekik

Dewa menggeleng tegas "Gue nggak mau kalian kenapa-napa gara-gara gue."

"Ini bukan gara-gara lo, Dewa, ke ge-eran Lo tapi untuk Bu Dian."

Hening.

Roby tiba-tiba angkat suara. "Gue punya ide."

Semua menoleh.

"Lo nggak usah bawa alat apa-apa, Bud," katanya tenang. "Lo cukup denger inget. Begitu keluar — langsung catet."

" Tapi otak Budi tinggal separuh," kata Rina dengan polosnya. " Mana dia ingat."

"Setan Lo pada, " Pria bertubuh kecil itu meradang, " Gue bisa lakuin ini"

"Itu lebih aman," tambah Joko tersenyum .

"Lo bisa main cantik " timpal Roby

"Besok pagi bakal gue coba."

---

Pukul 19.00, parkiran apartemen.

"Dewa."

"Iya, Bu?"

Ia menatapnya lamat"Teman-temanmu... mereka baik sekali."

"Iya, Bu, mereka tulus membantu."

" Tapi apa maksud mereka ? "

" Gak pa pa, Bu, bukan karena nilai atau cari muka didepan ibu. Saya jamin mereka."

Dian tersenyum manis, membuat laki laki itu salah tingkah, kalau enggak mengingat dia Ibu Dosen, pipinya udah kena cium.

"Hati-hati ya. Jangan sampai mereka kenapa-napa."

"Saya pantau Bu."

" Baik, Dewa, saya mau masuk dulu, kamu mau masuk minum teh ?"

Dewa tergagap, tawaran mantap, tapi..situasi sedang tidak baik baik saja," Terimakasih Bu, lain kali saja."

Ia tersenyum mengerti apa yang dirasakannya, masuk, pintu tertutup perlahan.

---

Pukul 08.00 pagi Ruang Dekan.

Budi berdiri di depan pintu dengan bungkusan gorengan di tangannya kantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ia mengetuk.

"Masuk."

Budi melangkah masuk.

Prof. Hadi duduk di kursi, wajahnya lebih tenang, tapi matanya... masih menyimpan sesuatu.

"O, Budi, sini."

Budi meletakkan gorengan di meja. "Masih hangat, Pak."

Prof. Hadi mengambil bakwan. Menggigit sekali. Matanya terpejam — bukan kenikmatan, tapi seperti sedang menghitung sesuatu.

"Kamu ini jagoan, Budi."

Budi tersenyum canggung. "Makasih, Pak."

Hening terlalu lama.

"Kamu tahu," Prof. Hadi meletakkan bakwan, belum habis. "Saya punya masalah."

"Masalah apa, Pak?"

Prof. Hadi menatapnya lurus, dingin di balik senyuman "Cinta dan kekuasaan." Ia berhenti. "Orang yang nggak tahu tempatnya."

Budi menelan ludah. "Bapak mau cerita?"

"Nanti." Prof. Hadi kembali ke bakwannya. "Belum waktunya. Tapi waktu itu... cepat datang."

Laki laki itu merasa ada tangan dingin di pundaknya. Bukan dari ruangan ber-AC.

---

Grup WA

Budi : Gue baru saja keluar.

Rina : Gimana ?

Budi : "Belum waktunya, tapi waktu itu cepat datang."

Joko : Apaan tuh?

Budi : Nggak tau. Tapi feeling gue... Pak Dekan bakal nyiapin sesuatu. Dan gue mungkin jadi targetnya.

Rina: Waduh, kita mesti waspada

Sari : Gue ikut!

Budi : Besok gue masuk lagi.

Joko: Hati-hati, Bud.

Budi : Tenang. Demi Ibu Dian... gas terus.

---

Pukul 22.00, kosan Depok.

Dewa membaca chat itu dalam diam.

Roby duduk di sampingnya. "By..." suara Dewa pelan. "Gue takut."

"Takut apa?"

"Takut mereka kenapa-napa." Ia menunduk. "Ini semua... gara-gara gue."

Roby menepuk pundaknya. "Dengar ya."

Dewa menoleh.

"Mereka lakuin ini bukan karena lo nyuruh. Mereka lakuin ini karena mereka peduli." Roby berhenti. "Lo tahu bedanya temen sama kenalan?"

Dewa menggeleng.

"Kenalan itu — lo seneng kalo ketemu. Temen itu — lo seneng kalo mereka baik-baik aja, meski lo nggak ketemu."

Dewa menatap layar ponsel. Chat dari Rina, Joko, Budi, Sari, teman teman dekatnya.

"...Makasih, By."

Roby nyengir, tapi matanya serius. "Santai. Lo juga temen gue. Dan gue gak mau melihat teman gue susah."

Dewa tersenyum kecil dadanya, sesuatu mengganjal — hangat dan rasa waswas.

Karena dia tahu: teman sebaik ini hanya ada dua kemungkinan ditemukan sekali seumur hidup atau... diambil lagi.

1
D_wiwied
sayang Dewa apa kekayaannya?? dasar cewek licik bin matre
D_wiwied
loe sendiri msh perawan ga Sha,, bertanya dg nada selembut dering hp nokia jadul 🤭🤭
Ddie: mba wied masih ingat hape Nokia jadul ya...heheh. Sasha itu cewek opurtunis, mencari celah agar bisa dekat mba 😄
total 1 replies
D_wiwied
Si tepung bumbu ini tipe oportunis, deketin Dewa lg krn tau kalo Dewa anak org kaya.. nyesel kan kau sekarang sha, sukuriiiin 😆🤣
Ddie: hahahah...mba wied ..eneg banget
ama Sasha ...padahal dia cantik lho mba. 😄
total 1 replies
ALWINDO BM
yes
Ddie: terimakasih sobatku 🙏
total 1 replies
D_wiwied
jauh banget ya jarak antara apartemen dg kampus, berangkat jam 6 pagi nyampe kampus jam 7.30 ga pegal tu pulang pergi tiap hari 🤭😆😁
Ddie: Itulah mba Wid ...kampus ibu Dian itu di planet mars, tapi demi ayang biby ...jarak tidak terasa hehe
Trims mba Wid koreksinya...emang benar...satu jam setengah...kalau author mungkin udah capek duluan 😄😄🙏
total 1 replies
D_wiwied
yg masih jd tanda tanya, kenapa bisa tiba-tiba sekonyong-konyong Sasha tepung bumbu pindah ke kampusnya Dewa, siapa yg nyuruh.. apakah pak dekan ato si mantan 🤔🤔
D_wiwied: kakk.. mlh ngajak berteka teki 😁
total 2 replies
D_wiwied
rasanya spt belum ditembak tp udah ditolak duluan ya Wa 🤭😆
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja
Ddie: Dewa takut kalau rahasia cincin nya tertukar mba..apa yng terjadi kalau Ibu dosen tahu cincin itu untuk Sasha
total 3 replies
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!