NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak bisa membuka pintu

Indira hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, Nia emang kalo bicara sukanya ceplas ceplos. Nia sendiri juga tidak suka jika Indira berhubungan dengan Wisma tapi ia juga ingin sahabatnya bahagia dengan pasangannya, oleh karena itu dirinya tidak pernah melarang Indira untuk bersama dengan Wisma.

"Kok bisa ya lelaki yang item, dekil, gendut kayak gitu selingkuh. Heran juga kenapa ada orang yang mau jadi selingkuhan lelaki itu," Ucap Nia sambil berpikir.

"Ya gimana lagi kalo dua duanya emang gatal, ulat bulu kan emang cocok sama ulat bulu, biar sama sama gatal. Mana ada sih barang murah nggak laku? Jelas lakunya lah," Ucap Indira yang juga ikut kesal melihatnya.

"Iya juga sih,"

"Tidak akan ada namanya orang ketiga jika tidak ada salah satu dari mereka yang membuka hati untuk orang lain, mana ada tamu bisa masuk kalo tuan rumah tidak mengizinkannya, kecuali emang sudah diizinkan untuk masuk saja."

"Iya juga sih, rata rata pelakor mah gitu. Nggak perlu cantik penting gatal aja, cowok juga gitu nggak perlu ganteng asal pandai ngegombal aja. Mana ada orang selingkuh kalo nggak sama sama mau,"

"Lah iya, kita juga nggak bisa menyalahkan wanita itu, kali aja emang Wisma sendiri yang terpincut sama dia, kalo dilihat lihat sih emang dia cantik, Nia. Mangkanya aku kalah cantik daripada dia,"

"Cantik apa'an noh dempulnya aja sekilo."

******

Beberapa hari kemudian, sore hari itu Indira tengah asik bermain ponselnya didalam rumah itu, dirinya pun menunggu Ana datang untuk mengunci pintu rumah sebelum dirinya benar benar tertidur lelap. Ia hanya takut apabila dirinya sudah tertidur dan Ana belum datang, nanti ada seseorang yang masuk kedalam rumah dengan sengaja.

Oleh karena itu, Indira tidak mau terlelap sebelum Ana datang mengunci pintu rumah itu, dan dirinya harus terus terjaga sampai pintu rumah itu dikunci oleh Ana. Hingga akhirnya Ana pun telah tiba dirumah itu, namun dirinya tidak langsung mengunci pintu itu, melainkan mendatangi Indira terlebih dahulu.

"Ada apa Bude?" Tanya Indira ketika melihat Ana mendekat kearahnya.

"Bude capek kalo harus bolak balik buat ngunci pintu, mending kamu bawa saja kuncinya," Ucap Ana yang sudah lelah jika harus bolak balik dari rumahnya ke rumah lamanya hanya untuk membuka dan mengunci pintu saja.

"Terus bagaimana Bude?"

"Emang pintunya agak sulit kalo dibuka, tapi kamu belajar dulu caranya membuka pintu biar Bude awasi, soalnya kaki Bude sakit kalo dipake buat jalan jauh,"

Ana juga menyadari mengenai kondisi kakinya saat ini yang tidak memungkinkan untuk berjalan jauh, apalagi ia sudah tidak muda lagi dan ditambah dengan kolesterol yang membuatnya kesulitan untuk berjalan jauh. Oleh karenanya lebih baik dirinya menyerahkan kunci itu kepada Indira, agar Indira bisa keluar masuk rumah tersebut tanpa harus menunggu kedatangannya.

"Ayo ikut Bude," Ucap Ana sambil menarik tangan Indira.

"Baik Bude," Jawab Indira.

Indira langsung bangkit dari duduknya untuk mengikuti kemana perginya Ana, dan keduanya berhenti tepat didepan pintu rumah tersebut. Ana lalu memberikan kunci rumah itu kepada Indira, dan menyuruh Indira mencoba bagaimana caranya membuka dan mengunci rumah tersebut.

"Kalo mau buka pintunya, agak ditarik dikit gagang pintunya ini. Agak sulit sih, tapi bagaimana caranya kamu bisa kalo tidak mencobanya terlebih dahulu," Ucap Ana.

"Nanti kalo nggak bisa buka gimana, Bude?" Tanya Indira.

"Ya nanti panggil Bude saja, mudah kok kalo kamu sudah bisa caranya,"

"Iya Bude,"

"Kamu belajar dulu,"

Indira lalu belajar bagaimana caranya untuk membuka pintu itu, dan diawasi oleh Ana supaya Indira mudah sekali belajarnya. Indira terus mengikuti arahan dari Ana tanpa menoleh sedikitpun, ia lalu mencobanya beberapa kali hingga dirasa bahwa dirinya sudah bisa untuk membuka pintu itu sendiri tanpa bantuan dari Ana.

"Sudah bisa kan?" Tanya Ana yang sedikit kelelahan karena harus mengajari Indira sampai bisa membuka pintu itu sendiri tanpa bantuannya.

"Bisa Bude," Jawab Indira senang karena dirinya sudah bisa menguncinya sendiri.

"Baiklah Bude mau pulang dulu,"

"Mau dianterin Bude?"

"Nggak, nggak usah. Bude jalan kaki aja,"

"Baiklah kalo begitu,"

"Iya, yaudah buruan dikunci pintunya habis itu istirahat besok kerja."

"Iya Bude."

Ana langsung pergi meninggalkan Indira disana, Indira sendiri langsung masuk kedalam rumah itu dan langsung mengunci pintu itu dari dalam rumah. Dirinya lalu menggabungkan kunci rumah dengan kunci motornya agar tidak tertinggal, setelahnya dirinya langsung masuk kedalam kamarnya untuk istirahat.

Indira yang sudah mengantuk sejak tadi pun bisa dengan mudah langsung tertidur saat itu juga, bahkan tanpa melihat kearah ponsel lagi, karena biasanya dirinya harus melihat ponsel terlebih dahulu agar bisa tertidur. Namun kali ini berbeda karena dirinya bisa langsung tertidur saat itu juga, dan beberapa menit saja dirinya langsung terlelap.

Selama tinggal ditempat itu sendirian, Indira tidak pernah ke ruangan lain hanya langsung masuk kedalam kamarnya karena takut. Ia juga harus menahan rasa ingin pipis apabila malam hari karena tidak ada yang mengantarnya, dan itu berlangsung hingga saat ini karena takut.

Meskipun dirinya sudah terbiasa didalam rumah itu sendirian, namun ia belum terbiasa ketika malam hari telah tiba. Entah sampai kapan dirinya akan seperti ini hingga rasa keberanian itu muncul dari dalam dirinya sendiri, dan hingga saat ini juga belum ada rasa berani itu.

******

Keesokan paginya Indira sedikit santai karena ia menganggap bahwa ia tidak perlu menunggu Ana untuk membukakan pintu rumah. Ia merasa tenang karena kunci rumah itu sudah berada ditangannya saat ini, tidak seperti biasanya dirinya harus panik apabila rumah itu belum juga dibuka oleh Ana.

Ceng kling....

*Bentar ya Ra, aku masih sarapan* Sebuah pesan masuk yang dikirim oleh Nia kepada Indira.

Indira hanya melihat sekilas kearah pesan tersebut, dirinya sendiri masih males jika harus berangkat kerja sekarang karena kasurnya seperti tidak membiarkan dirinya untuk berangkat kerja. Rasanya ia lelah jika harus pergi bekerja, namun tanpa bekerja dirinya tidak memiliki uang untuk bisa jajan dan membeli apapun yang dia inginkan.

Indira anak perempuan terakhir didalam keluarganya, namun ia harus berusaha sendiri untuk bisa mencapai semua keinginannya tanpa bantuan dari kedua orang tuanya. Sejak kecil apa apa yang dia mau dia harus berusaha sendiri, oleh karenanya jika dirinya tidak bekerja maka dia tidak akan punya penghasilan.

*Habis ini otw* Indira lalu membalas pesan tersebut.

Indira melihat kearah jam yang terpampang jelas di layar ponselnya itu, dirinya pun bersiap siap untuk berangkat kerja dari mulai membenarkan pakaiannya hingga mengisi botol minumnya. Setelah semuanya selesai, dirinya lalu mengambil kunci dan mencoba untuk membuka pintu rumah tersebut.

Ceklek...

Kunci sudah diputar hingga berbunyi, namun kejanggalan mulai terasa bagi Indira, bahwa pintu itu tidak bisa dibuka olehnya dan masih tertutup dengan rapatnya. Indira ingat bahwa semalam dirinya bisa membuka pintu itu dengan mudah, namun pagi ini dirinya sendiri kesulitan untuk bisa membuka pintu itu kembali.

"Kok nggak bisa sih!" Ucap Indira panik.

Indira terus berusaha untuk bisa membuka pintu rumah itu, namun hasilnya tetap nihil dan pintu itu tidak bisa dibuka olehnya dengan mudah. Dirinya pun berniat untuk pergi kerumah Budenya, namun ia berpikir ulang bahwa waktunya tidak akan sempat untuk mengajak Budenya kerumah itu untuk membukakan pintu tersebut.

*Nia, nanti dulu ya berangkatnya. Aku nggak bisa buka pintu, kuncinya sulit,* Indira lalu mengirim pesan kepada Nia melalui ponselnya itu.

*Lah kok bisa sih? Terus gimana lo?* Balasan dari Nia.

*Nggak tau, aku nggak bisa buka kuncinya. Kalo nggak bisa juga ya terpaksa aku nggak masuk kerja dulu hari ini*

*Gimana kalo aku jemput saja?*

*Lah gimana caraku keluar? Kalo lewat pintu belakang terus siapa yang ngunci dari dalam? Orang pintu belakang cuma searah doang dan bisa dibuka hanya dari dalam.*

Indira pun kebingungan sendiri dengan pintu rumah tersebut, kemarin menurutnya pintunya sangat mudah untuk dibuka tapi kenapa pagi ini justru sangat sulit untuk dibuka olehnya. Ditambah lagi jam masuk kerja sudah sangat mepet, tidak tau lagi bagaimana nasibnya nanti jika pintu itu tak kunjung bisa terbuka.

"Apa kuncinya salah kali ya? Tapi kemaren aku nyoba pake ini kok masih bisa," Guman Indira dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.

Indira hampir berputus asa karena tidak kunjung bisa membuka pintu rumah itu, ia juga mencoba membukanya dari depan namun hasilnya tetaplah nihil. Pintu itu tak bisa juga dibuka olehnya, ingin sekali dirinya menangis saat ini, namun tidak akan ada yang mendengarkan suaranya ataupun tidak akan menciptakan perubahan apapun baginya.

"Emakkk tolong!!" Teriak Indira frustasi. Indira lalu menendang keras pintu rumah itu karena marahnya sejak tadi tidak bisa dibuka.

Ceklek...

Tiba tiba terdengar suara dari dalam engsel pintu itu, Indira pun terdiam termenung mendengar suara itu, ia tidak tau kenapa pintu tersebut berbunyi seperti itu. Ia mengira bahwa ada seseorang yang tengah berusaha untuk membuka pintu itu, namun ketika ia memanggil orang itu ternyata sama sekali tidak ada sahutan dari luar.

Ia pun mencoba untuk membukanya, dan ternyata pintu itu dapat terbuka setelahnya. Memang sebuah emosi tidak akan mampu untuk menyelesaikan suatu masalah, namun masalah masalah tertentu juga bisa terselesaikan apabila sebuah hati merasa lega. Begitupun yang dialami oleh Indira saat ini, ketika hatinya lega karena melampiaskan amarahnya akhirnya pintunya terbuka juga.

"Eh bisa terbuka juga," Guman Indira.

Indira langsung mengeluarkan motornya dari dalam rumah tanpa berpikir panjang, setelah itu dirinya langsung melajukan motor itu untuk melesat meninggalkan rumah tersebut dengan cepat karena takut terlambat masuk kerja. Tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya sampai juga ditempat kerja bersama dengan Nia.

"Tadi bagaimana caranya buka pintunya? Apa ada yang membantumu? Kok bisa se sampai tidak bisa membuka pintu?" Tanya Nia.

"Banyak deh pokoknya ceritanya, untung saja tidak sampai terlambat masuk kerja," Ucap Indira.

"Kalo terlambat mungkin kamu nggak kerja, terus nggak dapat uang,"

"Ya janganlah. Aku butuh uang kok,"

Indira pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada sahabatnya itu, mungkin hanya Nia saja yang bisa menjadi teman curhatnya namun tidak semua masalah yang dirinya hadapi ia ceritakan kepada Nia. Indira biasanya memendam masalahnya sendiri jika masalah itu berat, namun akan menceritakan masalahnya kepada Nia apabila masalah itu mudah ia atasi sendiri.

"Pusing juga denger ceritamu, Ra." Ucap Nia sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

"Apalagi aku yang ngalamin," Ucap Indira.

Indira kalau cerita selalu belibet entah kenapa, dirinya tidak bisa bercerita seperti orang orang pada umumnya yang mudah langsung dipahami oleh orang lain. Sementara dirinya kalau cerita selalu saja orang lain tidak paham dengan ceritanya, itulah sebabnya dirinya agak malas apabila harus mengulangi ucapan yang sama.

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!