"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Yang Terancam
Bagi Salena Blair Ashford, hidup adalah tentang reputasi, dan mempertahankan nama besar keluarga di tengah dinginnya persaingan bisnis Islandia.
Sebagai mahasiswi paling berpengaruh di kampusnya, ia tidak punya waktu untuk gangguan.
Aula utama islandia University & Business yang biasanya tenang, mendadak riuh pagi itu. Di tengah kerumunan mahasiswa yang berbisik, berdiri seorang pria setinggi 190 cm dengan jaket denim belel dan sepatu bot yang tampak kotor terkena salju.
Zane Sebastian Vance, 21 tahun. Mantan bintang dari kampus Ivy League di New York, kini berdiri di sini, di jantung Islandia, dengan raut wajah bosan yang justru membuatnya terlihat sangat angkuh.
"Dewa dari New York sudah datang," bisik seorang mahasiswi di barisan depan dengan mata berbinar.
Salena Blair Ashford yang sedang berjalan menuju ruang seminar hukum bisnis, mendengus keras hingga terdengar oleh teman-temannya. "Dewa? Yang benar saja. Dia lebih terlihat seperti gelandangan yang salah masuk gedung," gumamnya sinis.
Sebagai putri tunggal dinasti Ashford yang menguasai jalur logistik, Salena adalah ratu di kampus ini. Baginya, pendidikan adalah tentang prestasi dan ketertiban, bukan tentang pamer pesona murah seperti yang dilakukan pria pindahan itu.
Pertemuan pertama mereka terjadi di kelas Global ekonomi. Profesor Magnus sedang menjelaskan tentang pasar saat Zane tiba-tiba mengangkat tangan tanpa melepaskan kacamata hitam yang tersampir di kerah kaosnya yang agak longgar.
"Teori itu tidak akan bekerja di New York, Prof. Anda terlalu fokus pada stabilitas, padahal pasar adalah tentang kekacauan yang terkendali," suara berat Zane memecah keheningan.
Salena langsung memutar kursinya, menatap Zane dengan tatapan menghina. "Ini Islandia, Vance. Bukan Wall Street. Di sini kami menggunakan etika dan struktur, bukan sekadar nyali anak jalanan yang kebetulan punya otak."
Zane menatap Salena, menyunggingkan senyum tipis yang tampak seperti ejekan. "Ah, si Nona Ashford. Aku sudah membaca jurnal mu semalam. Isinya terlalu rapi sampai-sampai aku merasa sedang membaca buku panduan memasak, bukan strategi bisnis. Kau terlalu takut mengambil risiko, Salena."
"Aku tidak takut risiko, aku hanya tidak bodoh," balas Salena dengan suara tertahan.
"Di New York, kita menyebut orang sepertimu si kaku yang membosankan," Zane berdiri saat bel berbunyi, menyampirkan tas punggungnya hanya di satu bahu. "Terima kasih atas kuliahnya, Prof. Dan untukmu, Salena... jangan terlalu sering cemberut, nanti kecantikanmu yang mahal itu cepat pudar."
Salena menatap punggung Zane yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Ia benci bagaimana pria itu menjadi pusat perhatian hanya dalam waktu beberapa jam. Zane tampak urakan, dingin, dan menurut pengamatan Salena, pria itu punya aura playboy yang kental, tipe pria yang biasa mematahkan hati wanita dalam semalam.
"Dasar alay. Dewa dari New York? Yang benar saja," umpat Salena pelan.
Namun, ada satu hal yang mengusik pikiran Salena. Meskipun Zane terlihat seperti bad boy yang tidak punya aturan, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya adalah seri terbatas yang harganya setara dengan satu unit apartemen di pusat Reykjavik.
Siapa sebenarnya keluarga Vance ini? Dan mengapa seorang Dewa Manhattan memilih pindah ke negara terpencil di tengah samudera Atlantik ini?
Kafetaria kampus pagi itu terasa seperti zona perang bagi Salena. Bukan karena makanannya, tapi karena topik pembicaraan di mejanya yang hanya berputar pada satu nama: Zane Sebastian Vance.
"Kalian lihat tidak cara dia menyugar rambutnya saat mendebat Profesor Magnus tadi?" Freya, sahabat Salena, menopang dagu dengan mata yang hampir berubah jadi bentuk hati. "Sangat... effortless. Dia benar-benar punya aura The God of Manhattan yang dibicarakan orang-orang."
"Dan suaranya! Berat, serak, dan ada aksen New York yang sangat kental," sahut Ingrid, teman mereka yang lain, sambil sibuk men-scroll ponselnya. "Lihat ini! Aku baru masuk ke grup chat 'Vance-Islandia'. Anggotanya sudah tembus dua ratus orang dalam tiga jam!"
Salena meletakkan cangkir espresso nya ke meja dengan dentingan yang cukup keras, berharap teman-temannya sadar bahwa dia sedang muak. Namun, usahanya sia-sia.
"Kalian sadar tidak, sih? Dia itu cuma cowok urakan yang tidak tahu aturan," potong Salena tajam. "Jaketnya belel, sepatunya kotor, dan dia tidak punya sopan santun. Panggilan Dewa itu... Ya Tuhan, kalian benar-benar alay. Itu memalukan."
Freya tertawa kecil, menyenggol bahu Salena. "Oh, ayolah, Sal! Akui saja, dia itu bad boy paling tampan yang pernah menginjakkan kaki di kampus ini. Kau hanya kesal karena dia satu-satunya orang yang berani mendebat argumenmu di depan kelas."
"Aku kesal karena dia merusak standar akademik kita dengan sikap sok tahu-nya itu!" balas Salena ketus.
"Tapi dia benar soal teori pasar itu, kan?" goda Ingrid. "Lagipula, rumornya dia dari keluarga yang sangat berada di New York. Misterius, tampan, dan dingin... benar-benar tipe pria idaman."
Salena memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut. "Aku ingin menghilang saja dari planet ini kalau setiap hari harus mendengar kalian memuja pria asing yang bahkan mungkin tidak tahu cara mencuci bajunya sendiri."
Tepat saat itu, suasana kafetaria mendadak sunyi sesaat, sebelum berubah menjadi bisik-bisik yang riuh. Di pintu masuk, Zane muncul. Dia tidak memakai seragam formal seperti mahasiswa lain; hanya kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya dan celana kargo.
Zane berjalan melewati meja Salena tanpa menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis seolah dia tahu sedang dibicarakan.
"Lihat! Dia melirik ke sini!" pekik Freya tertahan, wajahnya memerah.
Salena memejamkan mata rapat-rapat. "Tuhan, kalau kau ingin menjatuhkan meteor di kafetaria ini sekarang juga, aku tidak akan keberatan," batinnya frustasi.
Baginya, pesona Zane bukan seperti dewa, tapi lebih seperti wabah penyakit yang membuat semua orang pintar di sekitarnya mendadak jadi bodoh dan... alay.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰