Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak seharusnya
Jehan terdiam di ambang pintu kantornya, membiarkan jemarinya diam di gagang pintu yang setengah terbuka. Di atas sofa kulit yang biasanya kaku dan formal, kini terbentang pemandangan yang meluluhkan hatinya.
Putranya dan Sebria duduk berdampingan, tenggelam dalam candaan yang membuat bahu mereka berguncang hebat.
Ruangan yang biasanya penuh dengan tumpukan berkas itu mendadak terasa hidup oleh gelak tawa. Ia memperhatikan bagaimana sang mantan kekasih bercerita dengan ekspresi jenaka, sementara putranya mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali menyahut dengan celotehan polos yang mengundang tawa lebih keras.
Senyum pria itu tak kunjung surut ada kehangatan yang menjalar di dadanya melihat dua orang favoritnya bisa begitu akrab di dunianya yang sibuk. Di antara aroma kopi kantor dan samar wangi bunga yang terbawa dari pakaian wanita itu, ia menyadari bahwa kebahagiaan paling mewah justru hadir di atas sofa sederhana dalam ruang kerjanya.
"Kalian sudah lama?"
"Papa." Byan berlari lalu menabrak tubuhnya ke dalam dekapan sang ayah.
"Sekitar lima menit." Sahut Sebria. Sambil meraih tali tas nya menyampirkan ke bahu. "Aku sudah antar Byan kesini. Jadi aku pamit dulu mau ke toko." Ucapnya sambil berdiri.
"Kita makan dulu ya." Jehan menatap lembut sambil melangkah mendekat. "Kalian belum makan siang, 'kan?"
"Kamu sama Byan saja. Aku bisa makan di toko nanti."
Jehan menggeleng. "Ayo kita keluar atau mau makan disini saja biar kita pesan makanan nya."
Sebria menarik nafas pelan. "Disini saja." Ia tahu pria itu tidak menerima penolakannya. "Kamu pasti capek habis meeting lama. Jadi kita makan disini saja." Sebria duduk kembali.
Jehan memanggil sekretaris nya sambil melepas jas nya. Ia mendaratkan tubuh di sisi Sebria. Tidak lama seorang gadis cantik masuk dengan langkah anggun.
"Delia, tolong pesankan makan siang." Suara Jehan memecah keheningan ruangan. Ia memesan makanan favorit Byan dan juga Sebria.
Delia, sang sekretaris yang baru saja melangkah masuk dengan buku catatan di tangan, mengangguk siap. Namun, kalimatnya tertahan di ujung lidah saat matanya menangkap pemandangan di sofa sudut ruangan. Di sana, seorang wanita cantik sedang tertawa lepas sembari merapikan kerah baju Jehan yang tidak rapi karena melepas jas nya. Sebuah gestur bahkan Delia, yang sudah bertahun-tahun mendampingi bosnya, tidak berani lakukan.
Seketika, senyum profesional di wajah Delia luruh. Kerutan tipis muncul di dahinya dan binar matanya meredup berganti tatapan dingin yang sulit diartikan. Ada sengatan tidak nyaman melihat keakraban yang begitu intim itu. Sebuah wilayah yang selama ini ia pikir hanya ia yang mampu memahaminya.
"Baik, Pak. Ada lagi atau ada permintaan khusus dari tamu Anda?" Tanya Delia dengan nada yang sedikit lebih kaku dari biasanya, sementara matanya tak lepas dari sosok wanita yang kini balas menatapnya dengan senyum tipis.
"Selain itu kamu mau apa?" Jehan bertanya lembut dengan tatapan berbeda saat menatap Delia.
"Itu saja, Byan mau apa?" Sebria tidak ingin makan apa-apa lagi tapi tetap bertanya apa yang ingin Byan makan selain makan siang.
"Cukup itu saja tante."
"Itu saja." Tambah Jehan lagi.
Delia berdiri mematung di ambang pintu. Jemarinya mencengkeram pinggiran map dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di depannya, sang atasan yang biasanya kaku dan bicara seperlunya, kini tampak begitu cair bahkan nada nya lebih lembut.
Udara di ruangan itu mendadak terasa menyesakkan bagi Delia. Ada rasa tidak puas yang merayap di dadanya melihat sisi 'manusiawi' sang bos yang selama ini tersembunyi, kini dipamerkan begitu saja di depan orang asing. Kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan itu terasa seperti tamparan bagi dedikasi profesionalnya selama ini.
"Baik, Pak. Segera saya pesankan," Jawab Delia pendek. Ia berbalik dengan gerakan patah-patah, menyembunyikan gurat kekecewaan dan tatapan tajam yang sempat tertuju pada punggung Sebria sebelum pintu tertutup rapat.
Pintu ruangan itu kembali tertutup, namun suasana di dalam berubah menjadi begitu hangat, kontras dengan hawa dingin yang ditinggalkan Delia.
Jehan menggeser meja kecil ke hadapan Sebria. Begitu pesanan datang, ia tidak langsung makan, melainkan sibuk memastikan semuanya sempurna. Dengan telaten, ia membuka bungkus alat makan dan menyusun piring-piring itu seolah ini adalah jamuan di restoran berbintang, bukan sekadar makan siang di ruang kerja.
"Ayo makan." Ucap nya mendaratkan tubuh di sofa.
Sebria tersenyum manis, mengambil potongan kecil daging dari piringnya dan menyuapkannya langsung ke mulut Byan.
...----------------...
Delia menunggu hingga Sebria keluar dari ruang kerja Jehan. Begitu pintu kayu jati itu tertutup, Delia berdiri, menghalangi jalan menuju lift dengan sikap tubuh yang kaku dan dagu yang terangkat sedikit terlalu tinggi.
"Permisi, Bu," Suara Delia terdengar datar, seprofesional robot. "Saya hanya ingin mengingatkan demi kenyamanan semua pihak di kantor ini."
Wanita pemilik toko bunga itu berhenti, tampak sedikit terkejut.
Delia melirik dari atas sampai bawah seolah memindai seorang Sebria. "Pak Jehan adalah pria yang sangat sibuk dan putranya, Levin masih sangat kecil. Mereka cenderung ramah kepada siapa saja, tapi itu bukan berarti anda bisa melupakan batasan." Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memberikan tatapan yang tidak menyentuh bibirnya yang tersenyum formal. "Keakraban yang berlebihan di lingkungan kerja terutama di depan anak-anak bisa menimbulkan persepsi yang salah. Saya sarankan Anda tetap pada urusan profesional anda tidak lebih. Saya tidak ingin melihat jadwal atau emosi mereka terganggu karena kehadiran yang... tidak seharusnya."
Setelah mengatakan itu, Delia kembali ke mejanya tanpa menunggu jawaban, meninggalkan suasana yang seketika berubah menjadi sangat dingin.
Sebria tertegun, langkahnya terhenti seolah menabrak dinding yang tak kasat mata. Ia menatap Delia dengan binar mata yang semula hangat kini meredup karena bingung sekaligus terkejut. Kata-kata 'Tidak seharusnya' bergema di telinganya, terasa jauh lebih tajam daripada duri mawar yang biasa ia tangani.
Sebria meremas pelan tali tas tergantung di pundaknya, merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa keramahannya pada Byan yang baginya terasa sangat tulus atau tawa singkatnya bersama Jehan dianggap sebagai sebuah pelanggaran batas oleh orang lain. Di bawah tatapan menghakimi Delia, ia merasa seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
Bibir Sebria sedikit terbuka, ingin membela diri atau setidaknya menjelaskan bahwa ia tidak memiliki niat buruk, namun tenggorokannya mendadak kering. Atmosfer di depan meja sekretaris itu terasa begitu menindas, membuatnya merasa seperti orang asing yang tak diinginkan di sebuah wilayah terlarang.
Sebria hanya bisa mengangguk pelan, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ia membalikkan badan dengan langkah terburu-buru menuju lift, merasa setiap pasang mata di kantor itu kini tengah menghakiminya.