NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 KEPULANGAN SANG KUPU-KUPU DAN DEKAPAN HANGAT KELUARGA

​Kamis, 2 April 2025, Musim Semi

​Pagi di London menyambut dengan udara dingin yang menusuk tulang, namun di dalam apartemen Olive, suasana terasa begitu terburu-buru. Setelah percakapan telepon tengah malam dengan Marcus, tekad Olive sudah bulat. Ia tidak akan membiarkan rasa takut menghalangi kesembuhan Alex. Dengan gerakan tangan seorang ibu yang cekatan, ia mulai memasukkan pakaian-pakaian mereka ke dalam koper besar.

​Di kamar mandi, suara air gemericik berhenti. Tak lama kemudian, Leon Alexander keluar tanpa sehelai benang pun, tubuh kecilnya masih basah kuyup dan tampak menggigil. Dengan tawa renyah, Alex berlari dan langsung memeluk pinggang ibunya dari belakang, membasahi dahi dan baju rajut yang dikenakan Olive.

​"Mama sedang apa? Kenapa baju Alex dimasukkan ke kotak besar?" tanya Alex dengan suara mungilnya yang menggemaskan.

​Olive tidak marah meski bajunya basah. Ia berbalik, berlutut untuk menyamai tinggi putranya, lalu mengeringkan tubuh Alex dengan handuk lembut. Ia memakaikan baju setelan wol yang cukup tebal pada Alex. Mata bulat Alex terpaku pada kopernya yang sudah rapi di sudut ruangan. Ia heran, biasanya mereka hanya pergi ke taman atau kantor desain, tapi kenapa hari ini ada persiapan sebesar ini?

​Olive memegang tangan mungil Alex, menatap dalam mata hazel anaknya yang sangat mirip dengan pria itu. "Sayang, hari ini kita akan melakukan perjalanan jauh. Kita akan pulang ke rumah Nenek, Kakek, dan Paman."

​Mendengar kata-kata itu, wajah Alex langsung cerah. Selama ini ia hanya melihat foto-foto samar yang disimpan mamanya. "Benarkah, Ma? Alex punya Kakek dan Nenek?"

​"Iya, Sayang. Mereka sudah sangat merindukanmu," bisik Olive, hatinya bergetar hebat. Ia tidak tahu apakah orang tuanya akan menerimanya atau justru mengusirnya, namun melihat Alex yang melompat-lompat kegirangan di atas ranjang yang empuk, Olive merasa keberaniannya kembali. Apapun hasilnya, ia harus pulang.

​Perjalanan dari London menuju Paris, lalu dilanjutkan dengan jet pribadi menuju wilayah dekat Monako terasa seperti mimpi panjang bagi Olive. Sesampainya di bandara, Olive menarik napas panjang. Ia mengenakan masker hitam dan kacamata besar untuk menutupi wajahnya yang kini jauh lebih cantik dan matang dibandingkan lima tahun lalu.

​Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan kartu SIM lamanya yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. Ia menekan nomor Brian.

​Di kantor pusat Aurevyn Global Group, Brian Sterling Aurevyn sedang duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan berkas dengan tatapan dingin. Namun, sebuah getaran di ponsel pribadinya membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Nama "OLIVE" muncul di layar.

​Tanpa memedulikan rapat penting yang seharusnya ia hadiri, Brian mengangkat telepon itu. "Olive...?" suaranya parau, penuh dengan luka dan harapan yang selama ini terkubur.

​"Kak... jemput aku di bandara. Sekarang," isak Olive pecah saat mendengar suara kakaknya.

​Hanya butuh waktu kurang dari satu jam bagi Brian untuk memacu mobil sport mewahnya menuju bandara. Saat ia melihat sosok wanita ramping yang menggandeng seorang anak laki-laki di pintu kedatangan, Brian langsung keluar dan berlari.

​"Olivia!" teriak Brian.

​Olive melepaskan koper dan maskernya, lalu berlari ke pelukan Brian. Mereka berpelukan erat, menangis sejadi-jadinya di tengah keramaian bandara. Tangis Brian pecah, membuktikan betapa hancurnya pria itu selama lima tahun kehilangan adiknya.

​Alex, yang bingung melihat pemandangan itu, akhirnya ikut memeluk kaki Brian. "Mama, jangan menangis..." ucap Alex lirih.

​Brian melepaskan pelukannya dan menatap ke bawah. Ia tertegun melihat anak kecil yang begitu tampan, dengan garis wajah yang sangat kuat dan mata yang sangat cerdas. "Olive... ini?"

​Olive menunduk, air matanya masih mengalir. "Nanti, Kak. Aku akan jelaskan semuanya di rumah. Tolong bawa kami pulang."

​Sesampainya di mansion mewah keluarga Aurevyn, suasana haru yang lebih besar menyambut. Brian telah memberi kabar kepada orang tua mereka. Bramasta dan Feli sudah berdiri di depan pintu dengan tubuh yang gemetar.

​Saat Olive turun dari mobil, Feli langsung menghambur memeluk putrinya. "Anakku... maafkan Ibu, Olive! Maafkan kami!" Feli menangis pilu melihat putrinya yang dulu pergi sebagai gadis remaja, kini kembali sebagai wanita dewasa yang tampak sangat tangguh namun menyimpan banyak luka.

​Bramasta mendekat, memeluk Olive dengan tangan tuanya yang masih kokoh. "Selamat datang di rumah, Kupu-kupu kecilku."

​Namun, suasana hening sejenak saat mereka menyadari kehadiran Alex. Brian turun dari mobil sambil menggendong Alex dengan lengan kekarnya yang berotot. Ia membawa Alex masuk ke ruang tamu yang megah.

​Semua orang, termasuk lebih dari lima puluh pelayan yang berdiri berbaris memberikan penghormatan, menatap Alex dengan pandangan bingung sekaligus gemas. Wajah Alex benar-benar memukau, visualnya seperti pangeran kecil dari negeri dongeng.

​Alex, dengan kepolosan yang luar biasa, menatap satu per satu wajah orang di sana. Ia melihat Bramasta. "Kakek?" tanyanya ragu.

​Bramasta tertegun, lalu matanya berkaca-kaca. "Iya, Sayang. Ini Kakek."

​Lalu Alex menatap Feli. "Nenek?"

​Feli langsung menutup mulutnya, menangis bahagia sambil mengangguk. Dan terakhir, Alex menatap Brian yang menggendongnya. "Paman?"

​"Iya, Pangeran kecil. Aku pamanmu," sahut Brian dengan suara yang diusahakan tetap tenang meski dadanya sesak oleh rasa bersalah.

​Di ruang keluarga yang hangat, Olive akhirnya menceritakan semuanya. Ia menunduk, menceritakan malam pahit lima tahun lalu yang membuatnya ketakutan dan memilih kabur ke London. Ia menceritakan penderitaannya saat harus kuliah sambil bekerja sebagai pelayan restoran demi membiayai Alex, hingga perjuangannya membangun karier sebagai desainer.

​"Aku takut kalian akan malu... aku takut dunia akan menghujat nama Aurevyn karena kehamilanku," bisik Olive sambil menunduk dalam.

​Feli menangis semakin kencang, ia memeluk Olive erat. "Tidak, Olive! Kami tidak peduli dengan apa kata dunia! Kami hanya peduli padamu! Maafkan kami yang tidak becus menjagamu sampai kau harus berjuang sendirian di negeri orang!"

​Bramasta pun tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru merasa bangga melihat betapa hebatnya putri kecilnya membesarkan cucu pertamanya. Ia memanggil Alex ke arahnya. "Alex, kemari, Nak. Mari duduk bersama Kakek."

​Alex dengan antusias berlari ke arah Bramasta, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi penuh kasih sayang. Keluarga Aurevyn menerima Alex dengan tangan terbuka. Tidak ada cacian, tidak ada hinaan. Bagi mereka, kembalinya Olive adalah keajaiban terbesar.

​"Mulai hari ini, buang semua identitas palsumu, Olive," tegas Brian sambil mengusap air mata adiknya. "Kau adalah Olivia Elenora Aurevyn. Dan Alex adalah bagian dari keluarga ini. Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani merendahkan kalian."

​Olive mengangguk lemah. "Aku setuju untuk membuang nama Aurel, Kak. Tapi aku mohon, jangan umumkan keberadaan Alex ke publik secara terbuka untuk sementara waktu. Kondisi mentalnya sedang tidak baik karena ia tidak memiliki figur ayah. Aku tidak ingin ia tertekan oleh lampu kilat kamera dan pertanyaan wartawan."

​Keluarga Aurevyn semakin sedih mendengar kondisi psikologis Alex. Anak sekecil itu sudah harus memikul beban mental yang berat. Mereka berjanji akan memberikan segalanya untuk kesembuhan Alex.

​Malam itu, Olive tidur di kamar lamanya yang ternyata tetap dijaga bersih oleh pelayannya. Ia melihat cermin, melihat dirinya yang kini sudah menjadi "Olive yang asli". Identitas palsunya sebagai Aurel Natasha Clarissa telah ia tinggalkan di London.

​Namun, di balik kebahagiaan itu, Olive tahu ada satu janji yang harus ia tepati: Bekerja sama dengan Valerius Defense. Ia harus bertemu dengan Liam Maximilian pria yang tanpa sengaja telah membawanya pulang ke rumah ini.

​"Besok... aku akan menemuinya sebagai Olivia Aurevyn," bisik Olive pada kegelapan malam, tidak menyadari bahwa di sisi lain kota, Liam sedang menantikan kedatangan desainer "Aurel" dengan rencana yang sangat berbeda.

​Satu hal yang Olive ketahui adalah, sahabat-sahabatnya sudah menjalani hidup baru. Brian kini menjalin kasih dengan Vera, dan Zee sudah bertunangan dengan Kenzo. Dunia telah berubah, dan sang Kupu-kupu Emas kini telah kembali ke sarangnya untuk memulai perjuangan yang sebenarnya.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!