"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menata Hati
Suara dering mati, tak ada getaran lagi di ponsel Aya. Sayangnya, Karin masih syok melihat nama yang tertulis di layar yang sudah menghitam.
Suara notifikasi pesan masuk. Layar kembali menyala. Nama 'PakSu Rama' muncul di layar terkunci, tapi Karin masih bisa membaca isi pesan itu dengan jelas.
[Aya, nanti di jemput dimana? Abang baru keluar kantor vendor ke rumah sakit dulu tengok Papa dan Mama.]
Tangan Karin mendadak lemas, nafasnya satu-satu, ia menelan saliva--berat.
"Apa ini halusinasi? " gumamnya lirih.
Ia kembali meletakkan ponsel Aya ke atas meja, tepat setelah Aya baru saja berdiri di depan meja menatapnya cemas.
"Karin, kenapa kamu mengambil ponselku? " tanya Aya khawatir.
Setelah mendengar suara Aya, Karin menatapnya dan tersadar dari lamunan.
"Aya... kamu..menikah dengan pak Rama? " tanya Karin terbata.
Aya menarik nafas panjang. 'Akhirnya ada yang tahu juga, ' batin Aya.
Anggukan kecil Aya cukup membuat tubuh Karin tersandar ke kursi. Ia makin syok, tak menyangka sahabatnya menikah dengan rekan kerjanya, bahkan orang yang ia kagumi beberapa bulan terakhir.
"Kenapa? Kenapa dirahasiakan? Kenapa tiba-tiba? "
Aya duduk dengan tenang, mengambil gelas Karin dan memberikannya.
"Minum, dulu. Mukamu syok banget kayak habis dapat kabar buruk, " sindir Aya.
Karin menarik nafas--lemah. Syoknya diluar prediksi Aya. Ia letakkan kembali gelas ke atas meja setelah menyeruput beberapa kali.
"Mau ku pesankan air lagi? " tawar Aya. Karin menggeleng.
"Jelaskan aja semuanya, mungkin itu yang bisa membuatku merasa lebih baik."
Aya mengangguk.
"Oke, ekhem... Jadi, tamu yang berkunjung ke rumah ku waktu itu. Pak Jaka, Bu Harum dan Bang Rama. Mereka ke rumah untuk menyampaikan tawaran perjodohan ku dengan Bang Rama. Hanya untuk menunaikan amanat pada almarhum Abaku. Aku sebenarnya berniat menolak. Naas.. sepulang dari rumah ku, mereka kecelakaan. Dan yang paling parah Bu Harum. "
"Sebelum pingsan, kata Bang Rama, Bu Harum sempat menyebut namaku. Rama paham maksudnya, akhirnya dia mengajariku untuk segera ke rumah sakit saat itu juga. Dia membujuk ku untuk menyetujui pernikahan itu, dan dia yakin ini juga yang akan membantu mamanya sembuh. Aku tak tega, akhirnya aku setuju dengan syarat beberapa permintaan padanya."
Karin masih mendengarkan tanpa menyela.
"Dia setuju dengan syarat ku dan kami menikah sederhana di rumah sakit besoknya. Di depan Mamanya yang masih belum sadar waktu itu. Semua tiba-tiba Karin, aku juga sampai sekarang masih tak percaya."
"Lalu, kenapa di rahasiakan? "
"Karena orang tuanya belum pulih, tapi selain itu...Karena bang Rama sendiri sebenarnya sudah punya pacar tapi tidak mendapat restu. Bisa di bilang kami sama-sama terpaksa melakukan pernikahan ini. Bang Rama masih sangat mencintai pacarnya. Begitu juga pacarnya tak terima diputus. Aku hanya orang ketiga dari hubungan mereka disini. Aku malu, dan aku tak mau keluargaku terluka. Jadi, aku berusaha untuk menunda resepsi sampai mereka resmi berpisah. Sayangnya bujukan ku pada keluarganya tak berhasil. "
Aya menarik nafas dalam menenangkan dirinya.
"Kami sedang mempersiapkan resepsi. Sebenarnya pesan tadi, bang Rama mengirim E-katalog padaku. Aku sedang tidak mood karena ulahnya tadi, makanya ku abaikan pesannya. "
Karin akhirnya bernafas lega setelah mendengar penjelasannya.
"Jadi sekarang kamu tinggal di rumahnya? "
"Iya, baru beberapa hari. Waktu malam setelah akad, aku sempat tinggal di sana. Kami bertengkar, karena pacarnya mendesak mengajak bertemu. Dia meninggalkan aku sendirian di rumahnya yang besar. Besoknya, aku pulang ke rumah tanpa pamit."
Aya mengaduk air lemon di dalam gelas, seakan hati dan perasaannya juga teraduk mengingat posisinya yang di abaikan Rama.
"Aku menyedihkan, ya, " ujarnya lagi tersenyum meski mata berkaca-kaca.
Karin pindah ke kursi samping Aya, memeluknya. Ia melepas pelukannya menatap Aya serius.
"Saat ini mungkin iya, tapi kalau aku lihat bagaimana pak Rama tadi, dia sepertinya mulai tertarik padamu."
Aya menggeleng, "Dia hanya khawatir aku pergi lagi dan mendesaknya untuk meminta cerai. Aku tak yakin dia benar-benar tulus. Dan aku juga tak mau berharap. Aku hanya menunggu waktu, untuk ditinggalkan."
Karin mengelus pundak Aya, membesarkan hatinya. Bersamaan sentuhan itu, bulir air jatuh dengan cepat dari matanya. Air mata itu tak bisa dibendung lagi.
Aya menceritakan hal penting lainnya, seolah menjadikan Karin sebagai saksi hidup. Hingga tak terasa tiga puluh menit berlalu.
Suara notif pesan masuk terdengar. Aya mengambil ponsel setelah menyeka air matanya.
Ia membuka pesan, lalu mengirim share loc.
"Sebentar lagi dia menjemputku. Ayo kita selesaikan, supaya bisa segera ke kasir. "
Karin mengangguk lalu kembali ke kursinya menghabiskan makanan yang masih ada.
Selang beberapa menit, mereka berdua berdiri menunggu mobil Rama di pinggir jalan. Karin menolak pulang duluan karena ia ingin menyampaikan pesan khusus langsung pada Rama.
Fortuner hitam itu berjalan mendekat, berhenti beberapa meter dari tempat Aya berdiri. Rama masih tak tahu kalau Karin sudah tau semua, jadi dia ragu mendekat khawatir Aya akan mengamuk.
Saat Rama cemas di dalam mobil, Aya berpamitan dengan karin lalu berjalan menghampiri mobil.
TOKTOKTOK
Rama terkejut, Karin mengetuk kaca jendelanya.
JEGLEK
Aya membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
"Karin mau bicara dengan abang, dia sudah tahu."
BRAK
Rama mengangguk, lalu menekan tombol di pintu membuka kaca mobil.
"Pak Rama, Aya sudah cerita semuanya. Saya cuma pesan satu hal, kalau memang Pak Rama tak yakin bisa membuka hati untuk Aya, jangan berusaha masuk dan memberikan harapan palsu untuknya. Dia sahabat saya bahkan seperti saudara, saya tidak mau di terluka terlalu dalam. Terima kasih sudah bersabar dengan sikapnya. "
Rama mengangguk.
"Baik Karin, akan saya ingat. Tolong di rahasiakan dulu sampai acara resepsi kami nanti, Terima kasih. "
Karin mengangguk lalu menegakkan punggungnya.
Kaca jendela di tutup, Karin pergi meninggalkan mobil menuju motornya.
"Bagaimana dia bisa tahu? " tanya Rama masih keheranan.
"Waktu abang telpon, aku di toilet. Dia membantu mengecilkan volumenya karena mengganggu pengunjung lain."
Rama menatap Aya tak menyangka, hanya karena itu rahasia mereka terbongkar.
"Aku lupa mengatur volumenya. Lagian abang juga, untuk apa telpon kalau bisa kirim pesan? "
"Kamu nggak jawab-jawab pesannya, makanya ku telpon."
Aya mendengus kesal, terasa di kekang.
Rama memutar stir dan menginjak gas setelah tak melihat Karin di sana.
Sepanjang jalan, Aya hanya diam. Tak berminat bercerita apapun, apalagi membahas katalog.
Rama berkali-kali menghela nafas, ia jadi ikut kesal. Masih beruntung hanya Karin yang tahu, karena Aya baru beberapa hari ke depan pindah ke kantor baru. Ia tak ingin itu jadi masalah nantinya.
Jalanan tak terlalu sepi, bahkan terlihat lebih ramai karena hari itu hari jumat, hari terakhir kerja dalam pekan itu. Beberapa kafe di kanan dan kiri jalan penuh dengan orang-orang yang mengobrol santai.
Langit pun mendukung malam itu. Banyak bintang bertebaran menghias kegelapan angkasa. Bayang lampu berbaris seolah berjalan saat melewat mobil menimbulkan ilusi seolah lampu itu yang berjalan.
Suasana canggung di dalam mobil membuat perjalanan terasa semakin jauh, panjang dan menyesakkan. Aya dan Ram sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Aya mengelola hati dan pikirannya agar lebih kuat menghadapi hari-hari ke depannya menjadi istri yang statusnya masih abu-abu. Ia teringat pesan Karin.
"Aya, aku yakin kamu bisa meluluhkan hati pak Rama. Buka hatimu perlahan, kamu punya pesona tak kalah dengan pacarnya. Aku tahu Amelia Pramudya, model lokal itu. Dia memang cantik, tapi kamu punya aura yang berbeda. Aku yakin kalau kamu berikan perhatian, pelayanan, yang tak bisa wanita itu berikan, pak Rama akan berpindah hati sepenuhnya padamu. Bagaimana pun juga, dia pasti akan lebih memilih wanita baik-baik. Apalagi kamu memegang restu kedua orang tuanya."
"Kehidupan model itu tak selamanya bersih, aku yakin Amel juga sedikit banyak pasti terlibat. Berbeda dengan mu yang polos dan tulus. Kurang kamu itu cuma satu..keras kepala. "
Karin terkekeh sambil meringisi saat Aya mencubit lengannya.
"Entahlah Karin, apa aku bisa melakukan saran mu itu. Ketakutan ku terlalu besar untuk memulainya. Aku tak punya keyakinan yang kuat. Apalagi sudah dua kali aku ditinggalkan begitu saja. Seolah aku tak penting, cuma pajangan yang menglengkapi proses kehidupannya."
Karin memeluk Aya lagi sebelum akhirnya mobil fortuner itu berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Aya, " panggil Rama.
Aya tersadar.
"Sudah sampai, kamu mau tidur di mobil? " tanya Rama tersenyum mencoba mencairkan suasana.
Aya masih bersikap dingin, ia membuka pintu dan keluar dari mobil tak menghiraukan pertanyaan itu. Dan masih seperti biasa, dia hanya berdiri di depan pintu menunggu Rama yang membukanya. Karena sampai saat ini, dia masih merasa bahwa dia hanyalah seorang tamu yang bisa pergi kapan pun saat waktu berkunjungnya sudah selesai.